Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS89. Adi iri hati


__ADS_3

"Kau belum ngerasain punya anak perempuan. Kau bayangin aja! Anak yang kita penuhi kebutuhannya, kita emasin lehernya, telinganya, tangannya, jarinya, kakinya, pinggangnya. Terus kau sanggupin segala keinginannya, tiba-tiba dia dibawa laki-laki yang cuma pakek kaos partai dan celana pendek aja. Entah kalau tukang ojek yang nganternya pulang, kita bayar jasanya. Nah ini, Giska sampek cium tangan sama dia. Kau bayangin aja jadi Papah!" ucap Adi dengan suaranya yang ditekan. Adi menekan intonasi suaranya, agar istrinya tak mendengar perdebatannya dengan anaknya tersebut.


"Berarti Giska ini… bakal mahal ya, Pah?" sahut Ghavi, mencoba memahami arah pemikiran ayahnya.


Namun, ia tetap tidak bisa mengerti pikiran ayahnya. Adi menggeleng, saat Ghavi mengucapkan kalimat tersebut.


"Bukan masalah mahalnya. Setimpal kah? Pantas kah? Sungguh-sungguh kah? Masalahnya kan, kesungguhan laki-laki diliat dari besarnya emas yang kita patok. Papah matok jeulame tinggi buat Giska kelak, karena mau tau kesanggupan laki-lakinya nanti. Misal… Papah minta 50 mayam. Dia tak bisa nyanggupin, terus dia malah milih mundur. Nah, yang ada di pikiran Papah. 50 mayam aja dia tak bisa nyanggupin, apa lagi nanti buat kebutuhan hidupnya Giska yang mungkin lebih dari 50 mayam itu." jelas Adi yang diangguki Ghavi.


"Berarti kelak nanti aku pun dituntut harus bisa nyanggupin mahar dari pihak perempuan ya, Pah?" balas Ghavi setelah menyimak penjelasan ayahnya.


"Jelas." Adi menjawab begitu cepat.


"Mampu, tak mampu. Ya kau usahakan, kalau kau memang sungguh-sungguh." lanjut Adi kemudian.


Terdengar tangis Gibran secara tiba-tiba, "Pah… Gibran jatuh." teriak Gavin, yang berdiri tak jauh dari adiknya.


Adi langsung bangkit dari posisinya, kemudian berjalan cepat ke arah anak bungsunya.


"Ya dibangunin dong." sahut Adi dengan bergegas membangunkan tubuh Gibran, yang telungkup di atas tanah.


"Vi, jagain Gavin." lanjut Adi dengan menggendong anaknya masuk.


"Sini kau!" panggil Ghavi, pada adiknya yang tengah memperhatikan punggung ayahnya yang memasuki rumah tersebut.


"Apa, Bang?" tanya Gavin, dengan berlari ke arah kakaknya.


"Cuci tangan, cuci kaki, minum. Terus yuk jalan-jalan sama Abang, kita naik motor beli es krim. Tapi jangan bilang-bilang Gibran, nanti dia minta ikut. Abang susah nanti nyetirnya." ungkap Ghavi, yang mendapat anggukan semangat dari adiknya.


Gavin mengangguk, kemudian langsung melepas sendalnya.


"Tunggu aku, Bang." ujarnya dengan bergegas masuk ke dalam rumah.


"Oke, ditungguin." sahut Ghavi, dengan memperhatikan adiknya yang berlari ke dalam rumah tersebut.


"Giska aja digituin Papah, apa lagi aku nanti? Udah ah, fokus ke usaha aja dulu. Nanti juga perempuan pasti ngantri sendiri." Ghavi bermonolog seorang diri, kemudian menyalakan kembali puntung rokoknya.


"Ayo, Bang. Aku udah siap." ucap Gavin, dengan jaket hangat yang sudah ia kenakan.

__ADS_1


"MAU KE MANA, VI?" seru Adi dari dalam rumah.


"Nongkrong, Pah. Tak lama-lama kok." sahut Ghavi, sedikit berseru.


Lalu ia menggandeng adiknya, menuju ke motor besar keluaran terbaru miliknya tersebut.


Tak lama kemudian, Canda dan Giska diminta untuk beristirahat. Setelah acara sinetron Indonesia itu selesai.


Adinda mencari nama anak keempatnya, Ghavi. Dalam kontak ponselnya. Kemudian ia langsung melakukan panggilan telepon pada anaknya.


"Ya, Mah. Bentar lagi pulang." ucap Ghavi langsung, setelah panggilan telepon tersebut ia terima.


"Ya udah. Terus tidurin Gavin, ajak tidur ke kamar kau tak apa. Gibran udah tidur sama papah dari tadi." sahut Adinda kemudian.


"Ya, Mah. Biar nanti Gavin jadi urusan aku. Mamah tidur aja." balas Ghavi, lalu ia mematikan sambungan teleponnya. Setelah ibunya mengiyakan ucapannya.


Adinda mengecek kembali beberapa pintu keluar di rumahnya, tak luput jendela pun menjadi sasaran pengecekannya. Kemudian ia menuju ke kamar anak balitanya, yang berada di bagian dalam ruangan bermain.


Adinda membuka satu-satunya pintu, yang berada di ruangan bermain tersebut. Adinda sengaja membuat ruang baru di tempat bermain tersebut, agar Gavin tak berkeliaran jika dirinya belum mengantuk. Lagi pula, Adinda tak mungkin menyekat ruang kamar lain untuk kedua balitanya. Ia berpikir untuk membuatkan kamar baru di lantai atas, jika kedua balitanya sudah bisa dipercaya untuk naik turun tangga seorang diri.


"Bang…" panggil Adinda, dengan menggoyangkan tubuh suaminya.


Adi menggeliat dalam tidurnya, lalu membuka matanya perlahan.


"Hmmm… sini bobo." sahut Adi dengan mengusap pelipis istrinya.


"Aku pengen. Sore tadi Abang ngajakin, tapi sekarang malah tidur di sini." rengek Adinda dengan wajah sedihnya.


"Pengen apa?" balas Adi pura-pura tak mengerti arah pembicaraan istrinya. Ia ingin istrinya seperti yang Mahendra ceritakan saat itu, Adinda yang selalu meminta jatah meski dirinya tengah dilanda kelelahan.


"Tau ah, kesel. Pura-pura tak paham, apa coba maksudnya?" ujar Adinda dengan mengalihkan pandangannya ke arah anaknya.


"Apa? Abang capek." tutur Adi yang membuat Adinda keluar dari kamar tersebut.


'Ck… cuma segitu? Sama mantannya dia maksa, minta ditunaikan batinnya. Sama suaminya yang lebih lama sama dia ini, dia malah kek gitu. Kesel betul sama Dinda.' gumam Adi dalam hati, saat tak mendapat serangan ekstra dari istrinya.


"Biarin aja mak kau nangis-nangis. Pengen tau seberapa butuhnya sama Papah." ujar Adi, dengan kembali memeluk anak bungsunya.

__ADS_1


Adi kembali memejamkan matanya, untuk melanjutkan waktu istirahatnya yang terganggu. Ia masih berharap, akan Adinda yang memberikan serangan lebih dalam menuntut nafkah batinnya.


~


Pagi telah tiba. Adi hanya berpangku dagu, melihat meja makan yang masih kosong melompong.


"YA ALLAH, GISKA…. MAK KAU NGAMBEK, KAU TAK CEPAT BUATKAN SARAPAN BUAT PAPAH. PAPAH BURU-BURU INI, MESTI KE BANK. MESTI URUS LADANG, MESTI URUS ADIK-ADIK KAU JUGA." seru Adi dengan suara seperti geledek.


Ia sebetulnya tengah menyindir istrinya, yang masih berada di dalam kamar dengan memeluk guling. Entah apa yang membuat Adinda tak membuatkan sarapan untuk anak dan suaminya. Namun, yang pasti ini semuanya masih menyangkut dengan masalahnya dengan suaminya semalam.


Canda yang menempati kamar Givan, langsung terburu-buru keluar dari kamar saat mendengar seruan ayah mertuanya. Tentu ia merasa tak enak hati, karena malah melanjutkan bacaan Al-Qur'annya selepas subuh. Bukannya beraktivitas di dapur, untuk membuatkan sarapan pagi ini.


"Maaf, Pah. Aku habis ngulang bacaan." ujar Canda, saat dirinya sudah berada di area dapur.


"Hmm, tak apa. Papah denger suara ngaji kau. Sana bujuk mak mertua kau, tanyain masak apa atau apa. Ngambek aja bisanya." sahut Adi dengan berjalan menuju lemari pendingin, berharap menemukan makanan yang bisa mengganjal perutnya.


Adi menemukan bolu lapis surabaya, yang masih tersisa beberapa potong di dalam kardus pembungkus bolu tersebut. Ia segera mengambil dua potong, dari tempatnya. Lalu melahapnya, tanpa memperdulikan menantunya yang tengah terburu-buru mencuci beras.


"Mamah tak usah kasih sarapan, kalau tak keluar-keluar kamar. Kenyangin perut kau, terus jagain itu Gavin sama Gibran sampek kakak-kakaknya bangun. Papah buru-buru, mesti ke Bank. Mak mertua kau udah tak punya uang, kasian nanti dia frustasi." ujar Adi dengan berlalu pergi.


Canda hanya menyahuti sekenanya, karena sejujurnya ia takut dengan raut wajah ayah mertuanya ketika tengah marah seperti ini.


"Masak apa ya? Aduh, gemetar aku." sahut Canda, setelah dirinya berhasil menaruh beras yang sudah bersih ke dalam penanak nasi.


"KAK…. KAK…" suara anak lima tahun, yang berlari semakin mendekat ke arah Canda.


"Aku mau bolu macam papah makan, Gibran juga mau. Tuh Gibran lagi liat TV." ujar anak tersebut, setelah berada di hadapan kakak iparnya.


Telunjuknya menunjuk, ke arah ruang keluarga yang berada di sebelah dapur tersebut.


"Ya, nanti Kakak bawa ke sana bolunya. Tunggu di depan TV aja, ok?" sahut Canda yang digelengi oleh Gavin.


"Di mana Akak simpan? Biar aku ambil sendiri." balas anak keras kepala tersebut, yang membuat Canda menghirup oksigen lebih banyak.


......................


Benih Adi yang tak banyak bertingkah itu siapa ya? karakternya kok beda-beda ya.

__ADS_1


__ADS_2