Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS167. Persunatan


__ADS_3

"Sini, Me." pinta Adinda dengan melambaikan tangannya pada Hamerra.


Anak itu memamerkan kedua giginya, lalu merangkak ke arah Adinda.


"Mah... Memei makannya rewel betul, tidurnya juga sebentar-sebentar terus." adu Icut, yang baru muncul dengan rambut acak-acakan.


"Jadi kapan mau jual monza? Memei biar sama Mamah aja." Adinda mengingatkan kembali, rencana usaha yang pernah Icut utarakan.


Icut cengengesan, kemudian membantu anaknya untuk naik ke pangkuan neneknya.


"Nanti deh, Mah. Masih milih-milih brand yang sekiranya aku bisa ambil murah." Adinda hanya mengangguk samar, kemudian fokus pada cucunya yang memainkan gelang tangan miliknya.


"Kak Kin, ini diapain? Kok macam dagunya bertelor, bagus." tanya Icut, dengan menyentuh dagunya sendiri.


"Suntik. Apa tuh namanya... Suntik filler." jawab Kinasya dengan mengingat-ingat sesuatu.


"Aku mau, Mah. Difiller, biar hidung aku tak pengek kali." ujar Icut, dengan menggoyangkan lengan ibunya.


"Ya sana, mau filler, mau implant p*y*dara. Kalau punya uang sih." ujar Adinda sedikit ketus.


"Biar apa coba, Kak?" tanya Aira, yang menyimak obrolan mereka.


"Biar tak pengek, muka aku macam mangkuk. Hidungnya ke dalam, dagu sama jidat ke depan." jawab Icut, dengan menunjukkan hidung, dagu dan jidatnya.


Mereka semua terkekeh samar, kemudian melanjutkan obrolannya seputar daster yang Aira bawakan.


~


Adi tengah menuju ke bandara, untuk menjemput Haris yang baru sampai di daerahnya. Adi dan Adinda, sengaja tak memberitahukan Kinasya, agar gadis itu tidak panik.


Adinda kini tengah galau, untuk menuliskan sebuah pesan agar anaknya mau pulang secepatnya.


"Lebaran masih lama lagi. Masa bang Adi jemputnya kalau lebaran tak balik aja? Aku mau dia di sini terus." ucap Adinda dengan menghapus kembali hasil ketikannya.


[Far... Tolongin Mamah urus adik-adik kau. Kin juga di sini, ada masalah sama keluarganya. Yang kasian sama Mamah sama papah.] tulis Adinda, mencoba mengambil rasa kasihan anaknya.


Lama Adinda memandang kolom chating tersebut, hingga centang berubah warna menjadi biru. Tanda pesan telah dibaca, oleh sang pemilik nomer.

__ADS_1


Jantungnya berdegup tak beraturan, ia menunggu balasan dari anaknya. Lima menit terlewat, centang hanya berubah menjadi biru tanpa balasan yang ia dapat.


Adinda menghela nafasnya, kemudian meninggalkan ponselnya begitu saja.


Ia berniat mengurus anak-anaknya saja, ketimbang menunggu balasan yang tak pasti.


"Mah... Kak cantik di mana?" tanya Gibran, yang berlari ke arah dirinya.


"Kak cantik siapa?" ujar Adinda bingung.


"Yang minta dipanggil anti itu." jelas Gibran dengan wajah polosnya.


"Aunty, bukan anti." Adinda memperjelas bahasa Inggris, yang menyebutkan untuk sebutan bibi.


"Iya. Aku tak mau tau, pokoknya kak cantik aja." tegas anak itu memaksa.


"Ya udah, ya udah terserah kau. Tak tau ke mana, Mamah kan abis mandi sholat. Adek ngaji belum? Ikut bang Gavin." ucap Adinda, dengan mengusap surai anaknya.


"Anter Mamah, abang udah berangkat." rengek manja anak bungsunya.


Adinda berlalu pergi, dengan menggandeng tangan Gibran. Mereka keluar dari pekarangan rumah, dengan iqro milik Gibran dalam tas kain khusus mengaji.


Giska berpapasan dengan ibunya, tetapi ia terlihat tak sedikitpun ingin menegur ibunya. Entah apa yang menjadi permasalahan hidupnya, ia seperti ingin memarahi semua orang.


Adinda mendengus sebal, "Biar tetap waras, biarin aja maunya itu anak kek mana." gerutunya berjalan ke arah masjid yang ia bangun untuk warga sekitar.


Hingga ia menunggu kedua anaknya selesai mengaji, ia baru kembali ke rumah lagi.


Gavin tumbuh seperti kakak-kakaknya yang lain, memiliki rupa yang sama dengan keturunan ayahnya yang lain. Anak itu terlihat sedikit kurus, karena susah untuk diatur. Lepas sekolah, ia hanya tahu main, sampai orang tuanya mencarinya dengan sepotong dahan kayu.


"Mah... Sunat sakit tak? Kawan aku udah pada sunat, tapi aku belum mau, aku masih takut." ucap anak yang terlihat seperti melamuni sesuatu tersebut.


"Sakit, makanya cuma cukup sekali aja. Lepas itu tak diminta sunat lagi, tinggal Abang diminta buat rajin lima waktunya." sahut Adinda, tidak seperti kebanyakan orang tua pada umumnya.


"Kak cantik itu dokter kan, Mah? Aku sunat sama kak cantik aja." timpal Gibran, yang selalu menggandeng tangan ibunya, karena langkahnya yang gampang tersandung.


"Iya, dokter. Tapi tak tau bisa sunat tak. Sunat sama abi aja, nanti bentar lagi abi sampek di rumah. Mau kah sunat besok? Bang Gavin sama Adek Gibran, nanti sekolahnya libur sampek sembuh." tawar Adinda, yang sebetulnya belum berniat menyunat Gibran.

__ADS_1


"Katanya dapat uang banyak Mah kalau sunat?" timpal Gavin. Ia sudah menginginkan bersunat, tetapi anak itu masih takut untuk meminta pada orang tuanya.


"Itu bisa disesuaikan. Tapi tetap, uang banyak juga mesti kasih ke Mamah. Biar tak ilang, kan kau suka lupa nyimpen. Mamah juga mau belikan mobil aki besar, yang muat dua orang. Yang model J*ep itu, buat ke ladang." nego dari seorang Adinda, akhirnya membuahkan hasil.


Sayangnya, malah salah sasaran.


"Aku mau, Mah. Nanti aku sekolah naik mobil aja, Mamah tak usah anter jemput aku, kasian Mamah capek. Aku sekolah pakek mobil, biar nampak sombong." ungkap Gibran dengan begitu semangatnya.


"Masa biar nampak sombong? Adek tak betul kali, tak boleh sombong lah, kita harus setia kawan. Ajaklah Abang naik mobil itu, antar Abang sekolah, terus kau baru terus jalan ke arah TK kau." tandas Givan, yang membuat Adinda tertawa geli.


"Ok, bisa diatur." enteng Gibran, seolah sunat adalah keputusan yang enteng.


"Aku sunat besok, Mah. Tak mesti ada pesta, aku mau kawan-kawan aku tau semua kalau aku udah sunat." syarat Gibran, yang membuat ibunya geleng-geleng.


Adinda ingin Gavin yang bersunat, bukan adiknya Gavin.


"Ya, nanti bilang ke abi sama ke papah ya." ujar Adinda mengakhiri pembahasan seputar persunatan.


Saat mereka baru sampai di halaman rumahnya, terdengar tangis ketakutan dari seseorang yang berada di dalam rumah tersebut.


Adinda menoleh ke arah mobil suaminya yang telah terpakir, ia bisa menebak sesuatu. Kehadiran Haris, yang mungkin menciptakan tangis ketakutan dari seseorang yang ia anggap sebagai anak.


"Main di kamar dulu, ya. Jangan keluar kamar dulu, nanti Mamah bawain jelly ke kamar kalian." ungkap Adinda, agar anak-anaknya aman dari kejadian yang mungkin membuatnya takut.


"Yuk, masuk dari pintu samping aja." lanjut Adinda kembali, dengan berjalan ke pinggir halaman rumah tersebut.


Saat ia membuka pintu samping, terlihat Canda tengah berdiri di ambang pintu dengan menggendong Hamerra.


"Di kamar anak-anak aja, Canda. Ajak mereka masuk, Mamah mau ambil jelly, biar mereka anteng." pinta Adinda cepat.


Canda langsung mengangguk, kemudian mengarahkan Gavin dan Gibran ke kamar mereka. Hamerra terlihat anteng, dalam dekapan seseorang yang sudah ia kenal tersebut.


Tak lama Adinda datang, kemudian menaruh beberapa cup jelly di meja kamar anak-anak mereka.


"Memei kasih juga tak apa, Mamah buat sendiri. Diawasin aja, Canda." ucap Adinda, sebelum dirinya berlalu pergi menuju ke sumber keributan.


......................

__ADS_1


__ADS_2