
"Aku terserah Mas Givan aja Mah, Pah. Aku tak keberatan kok, lagian Giska, Ghava, Ghavi, Icut udah besar-besar." ucap Canda dengan senyum yang sudah mereka hafal.
"Masalah justru yang udah pada besar ini, yang susah diaturnya." tandas Adinda, dengan menjentikkan jarinya.
"Mah... Boleh minta pembalut?" suara seseorang, yang muncul dengan pakaian yang membuat mata Givan segar.
Adinda menegakkan pandangannya ke arah Kinasya, yang mengenakan hot pants dan tank top dengan seutas tali di bahunya.
"Mamah pakeknya cup, menstrual cup." sahut Adinda kemudian.
Kinasya cepat-cepat kembali ke kamarnya, saat mendapati kakak angkatnya memandangnya dengan penuh minat.
Adi menyenggol lengan istrinya, kemudian Adinda menoleh cepat ke arah suaminya.
"Tanyain dulu Kin butuh apa. Keknya kita tunda dulu liburan kita, Kin nampaknya kacau betul. Sampek lupa kakak angkat, bukan muhrim untuknya." ujar Adi lirih, kontan membuat Adinda menutup mulutnya karena tawanya.
Adinda mengangguk, ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah kamarnya. Ia mengambil salah satu benda yang masih dalam bungkus karton, yang masih utuh. Kemudian ia berjalan menuju kamar Kinasya, dengan membawa barang tersebut.
"Kau haid?" tanya Adinda, setelah dirinya menemukan Kin tengah duduk di dekat jendela dengan rokok elektrik di tangannya.
Kinasya mengangguk, kemudian membuang asap yang mengepul di mulutnya.
"He'em, baru keluar. Masih sedikit sih, baru noda aja. Tapi aku tak biasa pakek menstrual cup, aku perawan, takut sobek selaput dara aku." aku Kinasya kemudian.
"Kan katanya aman buat virgin, ada cup kecilnya juga. Nih, Mamah bawain cup kecil." jelas Adinda, dengan duduk di sebelah sofa dekat jendela, yang Kinasya duduki.
Kinasya mengambil benda yang berada di tangan ibu angkatnya, ia membaca tulisan berbahasa Inggris tersebut.
"Aku tak pernah masukin apapun ke milik aku, Mah. Sama pacar pun, aku petting aja, tak sampek penetrasi." ungkap Kinasya jujur.
Ia tak segan jika berhadapan dengan perempuan yang pernah menyebokinya tersebut. Berbeda dengan Alvi. Seseorang yang ia panggil bunda, terkadang memang seperti orang lain menurutnya.
"Ya udah, nanti Mamah ambilin pembalut Giska. Giska juga, pakeknya pembalut aja. Yang 35 ribu isi 5 itu, yang punya brand herbal. Kau cocok tak kira-kira? Kan ada tuh, yang tak cocok sama pembalut, sampek jadi gatal lecet-lecet." ujar Adinda, dengan menyandarkan punggungnya. Ia menikmati sapuan angin yang masuk, dari jendela kamar tamu tersebut.
"Aku mana aja, Mah. Yang 500 perak pun, aku aman aja." tutur Kinasya dengan kekehannya.
"Ya udah, nanti Mamah ambilin. Jadi... Apa masalahnya, sampek abi minta data penumpang di bandara? Kasian dia, nyariin kau semalaman suntuk. Sampek chat Mamah, telpon Mamah beberapa kali. Cuma memang, Mamah tak dengar. Baru tengok HP, pas Gibran bangunin Mamah buat bikin susu. Sekitar jam dua malam, kalau tak salah." tukas Adinda, ia tengah berusaha menciptakan suasana nyaman, agar Kinasya bercerita dengan tenang.
__ADS_1
Kinasya menaruh rokok elektriknya asal, kemudian ia memainkan jemari tangannya. Nafas beratnya, terdengar begitu jelas. Ia meluruskan pandangannya, memperhatikan wajah ibu angkatnya yang tengah menanti jawaban darinya.
"Sore itu...
"Kau yang sopan ya, Langi!!! Aku kakak kau!" Kinasya marah hebat, saat Langi menyodorkan kakinya di atas pahanya.
"Ya kan, aku minta tolong buat pijit kaki aku. Akak diam aja, tak mau dengar betul." sahut Langi tanpa rasa bersalah.
Kinasya menepis kasar kaki adiknya, lalu ia beringsut dari posisinya.
"Macam aku ini jijik kali, padahal Akak yang lebih menjijikkan." maki Langi dengan suara lantang.
"HEH!!! Jaga ya mulut kau, Langi!" bentak Haris, yang menampakkan dirinya di hadapan kedua anak gadisnya, dengan perubahan wajah yang amat mengerikan.
"Aku udah jaga, memang Akak aja yang nyiptain keributan terus. Lagian Abi ngapain sih, nampung anak ungsian? Anak hasil hamil di luar nikah juga, tak punya ayah dia." sisi kelam Haris yang teredam beberapa tahun lamanya, kini bangkit kembali.
Brakkk....
"ABI....."
"LANGIIII...."
"Akhhhhhh... Abi...." panggil Langi, saat merasa hantaman benda yang besar tersebut.
Ia terjepit di antara sofa single yang berada di atas tubuhnya, sedangkan sofa santai yang tengah ia duduki.
Alvi yang berada di dapur rumah tersebut, jelas melihat sofa single yang terbang mengenai anak semata wayangnya.
Ia dengan cepat berlari ke arah anaknya, kemudian membantu Kinasya untuk memindahkan sofa single yang masih menjepit tubuh Langi.
Setelah Langi terselamatkan, Alvi langsung memeluk tubuh anaknya yang kesakitan tersebut.
Air mata Alvi tak bisa memahami rasa kekhawatirannya, juga kemurkaannya pada suaminya.
"Kalau Langi salah, biar aku aja yang Abang hukum. Jangan kasar begini sama anak, Bang. Mereka bakal ngerasa takut sama sosok ayahnya sendiri." suara Alvi yang tidak stabil, terdengar memenuhi ruangan tersebut.
Haris berjalan cepat, dengan emosi yang menguasai dirinya. Tangannya terangkat dan mengepal, ia mengayunkan tangannya menyasar pelipis istrinya.
__ADS_1
"ABANG.... SAKIT....." seru Alvi setengah menjerit, dengan memegangi tangan suaminya yang mendarat di pelipisnya.
Tak sampai di situ, sorot tajamnya berpindah pada anak biang keladi di rumah itu.
Plakkk...
Tangan kiri Haris ikut andil, memberi warna merah di pipi Langi.
"ABI......."
panggil Kinasya ketakutan. Kinasya kecil tak mengetahui alasan seseorang yang tertulis sebagai ibunya, meninggalkan rumah mereka. Hanya Kenandra, yang mengetahui kekasaran ayahnya, yang membuat ibunya tega meninggalkannya juga adiknya.
Haris hanya menoleh, kemudian kembali fokus pada dua orang di hadapannya yang saling memeluk.
Tangan kirinya kini mencengkeram rahang anak bungsunya, dengan tangan kanan terulur dan memasang jari telunjuk di depan wajah Langi.
"Sekali lagi bilang kakak kau anak ungsian. Tak segan-segan Abi bakal ungsikan kau!" Haris memberikan peringatan dan juga memberikan pengalaman buruk pada anak dan istrinya.
Kemudian Haris menoleh pada Kinasya, yang bersandar pada tembok ukiran kayu, dengan memeluk tubuhnya sendiri. Tubuhnya bergetar, dengan suara tangis yang tertahan.
Kinasya amat tertekan dan ketakutan, dengan sosok figur ayahnya sendiri.
Kinasya mendapat usapan lembut di kepalanya, ia langsung membuka matanya dan melihat seseorang yang mengusap kepalanya.
"Masuk kamar!" pinta Haris, dengan cepat ia berlari menuju ke kamarnya dan mengunci kamar tersebut.
Kinasya duduk di dekat jendela, ia masih mencoba menenangkan dirinya sendiri. Perasaannya bercampur aduk, ia merasa amat takut dengan seseorang yang menjadi guru terbaik dan orang tua terhandal untuknya.
Suara mobil yang keluar dari halaman rumahnya, cukup menarik perhatian Kinasya. Ia melongok ke luar jendela, menyaksikan ayahnya yang pergi dengan mengendarai mobil.
"Bang Ken... Aku takut...." Kinasya kembali memeluk lututnya sendiri, dengan suara isakan sedihnya.
Tok, tok, tok....
Gedoran pintu cukup keras, berulang beberapa kali.
"HEH......
__ADS_1
......................
Yang sekandung aja ribut. Givan lain ayah, luar biasa. Kinasya sama Langi, lain ibu, gak akur juga ternyata.