Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS64. Matee aneuk meupat jeurat, matee adat pat tamita


__ADS_3

"Dek… kau gila? 20 tahun penjara, kau masih mau proses anak kau? Itu darah daging kau, anak laki-laki yang kau lahirkan pertama kali." ucap Adi yang dirundung emosi, karena keputusan dari istrinya.


"Biar dia ikuti proses dulu, sampek Canda lupa dari traumanya." sahut Adinda dengan memijat pelipisnya.


"Nyembuhin trauma itu lama, Dek. Harus lupa ingatan, biar dia cepet sembuh dari traumanya." timpal Haris, yang ikut berbaur dengan Adi dan Adinda.


"Biarin dulu, biar Givan punya otak. Orang hidup ngandelin nafsu aja, belum pernah kena penyakit kelamin keknya itu anak." balas Adinda dengan memainkan ponselnya.


"Canda di mana memang, Din?" tanya Alvi, yang keluar dengan minuman hangat di nampan yang ia bawa.


"Rumah sakit, dokter khusus yang nangani dia." jawab Haris, karena Adinda masih fokus pada ponselnya.


"Memang gimana, Bang? Dia kenapa?" tanya Alvi berlanjut.


"Pemerkosaan, tapi Canda berontak jadi Givan kasar. Apa lagi, dia ini virgin. Jadi... ya kau bayangkan aja, waktu pertama kali Abang paksa kau. Yang udah punya anak aja, tanpa lubricant bisa lecet. Belum lagi luka jahit di kepalanya, kejedot pas dirinya berontak. Givan juga udah di tangan polisi, dia langsung keciduk pas mau masuk tol." jawab Haris yang mendapat anggukan dari Adi.


"Ya Allah… ada-ada aja itu anak. Keknya ada yang tak beres deh. Maksudnya… mungkin dia dalam pengaruh alkohol gitu." ujar Alvi, dengan memberikan suaminya secangkir minuman hangat.


"Iya, nyabu plus masih dalam pengaruh alkohol. Makanya hukuman paling ringan, cuma 20 tahun penjara sama denda 1 M." jelas Haris yang membuat Alvi geleng-geleng tak percaya.


"Ngakunya baru akhir-akhir ini nyabu, tapi lagi ditindak lanjuti lagi." lanjut Haris yang membuat Alvi meringis ngeri.


"Ya ampun, setan apa yang ngerasukinya? Dulu kecil sering ngerengek sama aku, besar dia jadi kek setan gitu." gerutu Alvi, dengan pandangan menerawang jauh.


"Herannya sama ibunya. Abang bilang, dek cabut tuntutan kah. Ibunya kata, hana peureulee bang… biar aja dia mikir dulu, lepas ini juga segala apa yang dia punya mau aku sita dulu." ungkap Haris dengan menirukan gaya bicara Adinda.


Adi dan Alvi terkekeh, karena tingkah Haris tersebut.


"Makin kaya dia." sahut Adi yang langsung mendapat pukulan di lengannya.


Adi mengusap lengannya, dengan menolehkan kepalanya ke arah Adinda.


"Jangan tega-tega kali sama anak. Karena kita tua nanti, pasti cuma anak-anak yang paling peduli sama kita. Kalau mereka sakit hati karena tindakan kita, nanti tua nanti kita balik disiksa mereka loh." ujar Adi dengan merangkul mesra istrinya.

__ADS_1


Adinda bersandar pada bahu suaminya, dengan sudut bibir yang tertarik ke bawah.


"Aku tak tega sebetulnya, Bang. Tapi dengan tindakan dia kek gitu, aku malu sebagai orang tuanya. Lebih baik kehilangan anak, dari pada kehilangan kebaikan yang kita tanamkan pada anak." sahut Adinda dengan suara yang lirih bergetar.


"Jangan nangis…" balas Adi dengan mengusap kepala istrinya.


"Matee aneuk meupat jeurat, matee adat pat tamita." timpal Haris yang diangguki Adinda dalam tangisnya.


"Apa itu, Bang?" tanya Alvi yang tak mengerti bahasa daerah asal Adi tersebut.


"Orang asal daerah Adi, punya adat yang kuat. Jadi ada peribahasa asal daerah sana yang bunyinya kek gitu. Artinya… mati anak ada kuburan, mati adat dimana kita cari. Cerita rakyat dari sana, katanya anaknya Sultan Iskandar Muda namanya pangeran Meurah Peupok. Meurah Peupok dihukum sama ayahnya karena perzinahan. Dia dipenggal kepalanya sama ayahnya sendiri, karena ketentuan hukum yang berlaku. Begitulah kira-kira… makanya kalau wisata itu jangan cuma foto-foto aja. Beberapa kali wisata ke provinsi A, tapi tak belajar cerita sejarah apapun dari sana." jelas Haris bercerita.


"Ngeri, Bang. Kek mana itu darah tak banjir?" sahut Alvi dengan bergidikan.


"Sampek ngenain pakaiannya Sultan Perkasa Alam itu, Dek. Kuburannya juga dipisahkan, soalnya sultan tak mau kuburan Meurah Peupok berdampingan sama keturunan raja lainnya." balas Haris kemudian.


"Terus Dinda mau menggal kepala anaknya juga? Dinda kan dari Jawa, bukan asal sana asli. Bisanya ikut adat mereka?" ujar Alvi yang membuat Adinda terkekeh dalam isakan sedihnya.


"Icut kena hukum, Givan kena hukum. Hadeh… Adinda." sahut Alvi dengan mengalihkan pandangannya ke arah anak yang berseragam SMP, yang baru keluar masuk ke halaman rumahnya.


Alvi memperhatikan jam tangan yang ia kenakan. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore, tetapi Pallawarukka Rawallangi terlihat baru pulang dari sekolahnya.


"Tega siko pole?" tanya Alvi dengan menatap tajam anaknya.


"Pole ka bola na silokku." jawab Langi dengan berjalan menghampiri mereka semua. Lalu ia menundukkan punggungnya, untuk mencium tangan mereka satu persatu.


"Solle tongeng bawang jamammu." sahut Alvi, saat anaknya tengah mencium tangannya.


"Na de’ usolle bawang engka perluku." balas Langi dengan melepaskan sepatunya, lalu dirinya memasuki rumah begitu saja.


"Apa artinya, Ris?" tanya Adi dengan memperhatikan Haris, yang tengah asik merokok tersebut.


Haris menoleh ke arah Adi, yang masih memanjakan Adinda dalam dekapannya itu.

__ADS_1


"Tak tau. Nanti diartikan author di bawah cerita ini. Aku pun belum khatam, buat bahasa daerah Alvi." jawab Haris yang membuat mereka semua terkekeh kecil.


"Kalah sama Bang Adi. Dia udah bisa diajak ngomong pakek bahasa kota C." sahut Adinda dengan menggeser posisi duduknya.


"Bahasa sini sih gampang, Dek. Abang juga bisa. Coba kau bahasa daerah Alvi, apa ada yang kau pahami?" balas Haris kemudian.


"Ada… tadi kata Alvi kan, kau dari mana. Langi jawab, Aku dari rumah kawan aku. Terus kata Alvi lagi, keluyuran terus kerjaan kau. Terus Langi nyahutin, aku tak keluar macam itu aja kecuali ada keperluan. Seperti itulah, aku paham, tapi aku tak bisa ngomongnya." ungkap Adinda yang mendapat tepuk tangan dari suaminya.


"Sekolah bahasa aja gih, Abang sanggupin." ujar Adi kemudian.


"Mong… anak wis akeh, masih bae kongkon sekolah. Bli kiyeng nemen." tutur Adinda dengan melangkah masuk ke dalam rumah.


"Rabi ente, Di." timpal Haris sambil terkekeh geli.


"He'em, malah demen pisan kita e." tukas Adi yang membuat dua laki-laki tersebut saling beradu kekuatan tawanya.


~


Malam hari telah tiba. Adinda dipusingkan dengan Ghifar yang berceloteh tidak jelas, ditambah lagi keadaannya yang masih sangat lemah.


"Kin, tadi kau bilang Ghifar udah baik-baik aja." ucap Adinda, karena Adinda diminta untuk tetap di rumah. Saat dirinya membawa Ghifar ke rumah sakit, dengan ambulance yang diteleponnya.


......................


*Mong… anak wis akeh, masih bae kongkon sekolah. Bli kiyeng nemen : Gak mau... anak udah banyak, masih aja disuruh sekolah. Males banget.


*Rabi ente : Istri kamu.


Ente, bahasa di tempat tongkrongan laki-laki.


*He'em, malah demen pisan kita e : Iya, malah cinta banget akunya.


Bahasa kota C ya itu 😁

__ADS_1


__ADS_2