
"Memang udah sadar dia? Di kamar apa dia sekarang?" tanya Adi kemudian.
Giska duduk di kursi makan seberang tempat ayahnya, lalu ia memainkan ponselnya untuk mencari tahu keberadaan kekasihnya.
Adi terlihat begitu frustasi, karena lib*donya tengah tinggi-tingginya. Sedari tadi ia membujuk istrinya. Namun, ada saja yang membuat Adinda begitu repot di pagi menjelang siang ini. Adi sampai enggan berangkat berladang, karena keinginannya pada istrinya belum terpenuhi.
"Aku udah tau nih, Pah. Ayo berangkat." ajak Giska, dengan memperhatikan ayahnya yang tengah memijat pelipisnya.
"Kau tak jadi sakitnya?" tanya Adi pada anaknya, membuat Adinda yang tengah membolak-balikkan masakannya ikut terkekeh geli.
"Apa sih Papah tuh? Bikin kesel aja! Ganggu kali kah aku? Sampek Papah nanya-nanya macam itu?" ketus Giska dengan menghentak-hentakkan kakinya kembali menuju kamarnya.
"Tak paham dia, kalau Papahnya butuh relaksasi." ucap Adi dengan menyugar rambutnya.
Adi terbiasa menggeluti istrinya, jika ia merasa banyak beban pikiran dan mulai merasa kaku di tengkuknya. Adinda pun sudah mengetahui perihal kebiasaan suaminya tersebut, ia juga selalu mencoba memenuhi kebutuhan biologis suaminya.
Adinda memindahkan masakannya yang talah siap. Lalu ia berjalan ke arah suaminya, setelah menyimpan hasil masakannya.
Adinda merengkuh pundak suaminya, lalu mendaratkan kecupan ringan di pipi kanan suaminya.
"Nanti malam, aku usahain. Kalau para bungsu bisa dikendalikan." bisik Adinda yang mengalun lembut di telinga suaminya.
Adi mengangguk mantap, "Abang pengen mainan juga, Dek. Kenapa sih Adek jadi tak mau Abang colok pakek jari?" tanya Adi lirih. Agar obrolannya tak terdengar sampai ke telinga Ghavi, Canda dan kedua anak balita Adinda, yang tengah duduk di ruang keluarga.
"Misalkan aku kl*maks tuh, kalau pakek jari kek kurang puas. Kurang besar gitu barangnya, kurang bikin ganjel. Tak penuh, tak enak." jawab Adinda, yang masih bergelayut manja di leher suaminya.
Adi terkekeh geli, mendengar pengakuan istrinya.
"Kan kalau Adi's bird, tak seelastis jari Dek. Abang gemes betul, bikin Abang tambah gila. Kalau liat di depan mata, kontraksi otot m*ki Adek. Fantasi Abang udah tinggi betul pokoknya. Seneng, bangga, melayang. Pokoknya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata deh." sahut Adi dengan menyentuh tangan istrinya, yang masih memeluk lehernya.
"Udah mau 50 tahun padahal. Masih aja hobi mainan m*ki." gerutu Adinda dengan helaan nafas panjangnya.
Lalu ia melepaskan dekapannya pada leher suaminya. Kemudian beralih ke perkakas masak yang kotor.
"Pah...." rengekan samar Giska, yang sampai ke telinga Adi dan Adinda.
__ADS_1
Adi menghela nafasnya. Mau tidak mau, ia harus memenuhi keinginan Giska untuk menengok kekasihnya yang tengah terbaring lemah di rumah sakit.
"Abang anter Giska dulu ya, Dek? Malam janji loh?" ujar Adi dengan memperhatikan Adinda, yang tengah mencuci perkakas dapur yang kotor tersebut.
"Ya, Bang." sahut Adinda lirih. Kemudian Adi segera berlalu pergi. Untuk mengganti pakaiannya, bukan tetap mengenakan sarung seperti ini.
Sesampainya di tujuan mereka. Terlihat Zuhdi masih terbaring lemah, dengan infus dan perawatan rumah sakit yang terpasang di hidungnya.
"Kejadiannya kapan ini, Bu?" tanya Adi, pada ibu dari Zuhdi yang menemani Zuhdi seorang diri.
"Semalam, Teungku. Pas abis isya, orang yang punya rumah yang lagi dibangun Adi datang ke rumah. Tapi Adi dipanggil-panggil tak keluar-keluar. Pas kita buka pintunya, mulut Adi udah berbusa aja." jelas ibu Robiah bercerita singkat.
Adi mengusap keringat yang membasahi pelipisnya. Ruangan yang berisi tujuh pasien, yang disekat dengan tirai saja itu. Membuat Adi dan Giska bermandikan keringat, karena terlalu pengap.
Adi menoleh ke kiri dan ke kanan, 'Gimana mau cepet pulih. Oksigen aja rebutan gini.' gumam Adi dalam hatinya.
"Bapaknya ke mana, Bu?" tanya Adi lagi.
"Bapak lagi ngurus surat keterangan tidak mampu, soalnya tak punya B*JS Teungku." jawab ibu Robiah sembari mengusap keringat anaknya.
"Hallo, Jef." ucap Adi, setelah dirinya menyambungkan panggilan telepon pada Jefri.
"Apa, Teungku haji? Aku tengah sibuk ini, kau perlu apa lagi?" jawab Jefri begitu ketus.
Adi terkekeh geli, ia sejujurnya tidak nyaman dengan panggilan teungku. Yang disandangnya delapan tahun lalu, saat dirinya sudah menunaikan rukun Islam yang kelima.
"Kau pun teungku haji juga! Kau aku hajikan juga waktu itu!" sahut Adi kemudian.
"Iya, iya. Apa lagi? Beli ladang yang di mana lagi? Apa mau beli-beli yang lain?" balas Jefri cepat.
"Buatkan B*JS kelas satu, data dirinya kau minta sama pak geuchik. Nanti aku telpon pak keuchiknya dari sini, kau tinggal ambil, terus buatkan aja." pinta Adi, yang membuat Jefri menghela nafas beratnya.
"Sungguh, Di. Tak mau aku seumur hidup bergantung sama kau. Kalau bukan karena uang, malas betul aku mondar-mandir begini." tutur Jefri, yang membuat Adi terkekeh geli.
"Minta jalur cepat aja, nanti aku kirim uangnya. Soalnya mau langsung dipakek." tukas Adi, tanpa meladeni celotehan Jefri.
__ADS_1
"Kau kaya, tapi pakek BP*S! Heran aku!" ucap Jefri kemudian.
"Kan setiap bulannya aku bayar juga, tetep ngeluarin uang. Selagi B*JS bisa digunakan, why not?" sahut Adi yang membuat Jefri teringat akan masa sekolahnya dulu. Adi yang benar-benar nol dalam bahasa Inggris, kini bisa berucap dengan bahasa itu.
"Yes, Sir. I not why-why, selagi I mantong sanggop." balas Jefri yang membuat Adi terkekeh geli.
"Ya udah, aku kirim uangnya sekarang. Kalau kurang bilang." ujar Adi yang membuat Jefri nyerocos hebat.
"Ya kau jangan bikin malu aku. Yang sekira-kiranya kau kirim itu lebihin buat ongkos aku. Bukan kau paskan juga. Kan tak mungkin aku tak ngasih ke pak keuchik, tak enak hati aku." tegas Jefri kemudian.
"Iya, iya. Nanti dilebihkan." tukas Adi, lalu dirinya langsung mematikan sambungan teleponnya.
[Bikin satu, buat Zuhdi aja. Masukkan ke BP*S ketenagakerjaan aja. Data PT, masukkan dia sebagai karyawan di pengolahan biji aja.] Tulis Adi dalam pesannya, lalu ia langsung mengirimkannya pada Jefri.
[Ok.] Balasan singkat dari Jefri, yang Adi dapatkan.
Adi kembali ke dalam ruangan Zuhdi. Ia mendapati anaknya tengah mengagumi wajah laki-laki yang terbaring lemah tersebut, dengan ibu Robiah yang hilang entah ke mana.
"Bilang ke maknya, tak usah bikin SKTM lagi. Udah lagi dibuatkan B*JS gitu." ucap Adi, yang mengagetkan Giska.
Giska langsung menarik tangannya, yang barusan berada di pelipis laki-laki tersebut.
"Kalau B*JS kan, sekeluarga Pah. Terus juga tak bisa langsung pakek, karena tak langsung jadi." sahut Giska, dengan bangkit dari tepian tempat tidur. Lalu ia mempersilahkan ayahnya, untuk duduk di satu kursi yang tersedia.
"Ayah Jefri kan banyak relasi calonya. Biar itu jadi urusan ayah kau." balas Adi enteng, dengan menduduki kursi yang Giska sediakan.
Adi beralih menatap wajah laki-laki, yang begitu dikagumi oleh anaknya.
Beralis tebal, tulang hidung yang kuat dan rahang tegasnya tercetak jelas di wajah Zuhdi. Belum lagi badannya yang gagah, dengan punggung lebarnya. Memberikan kesan bahwa Zuhdi bisa menjaga anaknya, dengan otot yang ia miliki.
Tutur kata yang Adi ingat, membuat Zuhdi terlihat memiliki adab yang cukup baik. Hingga, sifat cueknya pada Giska. Membuat Adi teringat akan dirinya dulu pada istrinya. Namun, sama halnya dengan dirinya. Zuhdi pun ternyata menyimpan khawatir, saat hari di mana Giska berjanji untuk datang ke rumahnya. Tetapi Adi yang malah datang ke rumahnya, mengganggunya yang sudah tertidur karena kelelahan bekerja seharian penuh.
......................
*Mantong, bisa berarti saja atau masih. tergantung kalimatnya.
__ADS_1