
Maaf lama gak up. Dari tanggal 14 Juli, suami sakit. Persis mirip gejala covid, udah stress sendiri mikirin keadaannya yang semakin down. Alhamdulillahnya, tanggal 24 Juli udah sehat balik. Udah mulai kerja lagi, jadi ekonomi baru mulai stabil lagi setelah sekian lama.
Semoga kepala keluarga kalian di rumah sehat-sehat selalu ya 😁 Dilindungi dari wabah ini 😁 Juga jangan lupa berdoa dan bersyukur, atas segala sesuatu yang kalian bisa nikmati hari ini 😁
Aamiin
Rara menggeleng cepat, "Aku minta maaf, Mbak. Aku juga minta maaf sama Mbak Bena. Aku udah coba jauhin mas Edi, tapi dia datengin tempat kerja aku terus." ungkap Rara, dengan beralih memperhatikan Benazir yang terlihat begitu terawat.
"Kau asli mana?" tanya Adinda kemudian.
"Aku asli kota T, aku merantau di sini." jawab Rara beralih memperhatikan perempuan, yang mengajaknya untuk bangkit dari posisinya tersebut.
"Nah kalau kek gitu, ya kau balik kampung. Biar Edi tak bisa nemuin kau lagi." saran Adinda, dengan membawa Rara ke ruang tamu.
Ghavi menggiring kedua adik bungsunya, untuk masuk ke dalam kamar. Sedangkan keluarga yang lain, mengikuti langkah kaki Adinda menuju ruang tamu.
"Aku butuh uang, keluarga aku butuh uang. Kalau aku gak kerja, aku gak mungkin bisa bantu keuangan keluarga di rumah." ucap Rara, setelah dirinya duduk di samping Adinda.
"Semangat wanita hebat. Aku tau cari kerja itu susah. Aku pun pernah di posisi kau, tapi bedanya aku tak jadi perempuan yang ladenin suami orang. Kelas aku bujang semua, ada duda satu tapi aku jadikan kawan baik." sahut Adinda, dengan nada suara yang sudah normal kembali. Ia seperti ini, bermaksud agar Rara mau mengerti tentang segala ucapannya. Tanpa rasa sakit hati, atas makiannya barusan.
"Aku gak ladenin suami orang, Mbak. Aku jadi LC, mau gak mau aku harus nemenin mereka yang datang." jelas Rara kemudian.
Adinda mengangguk beberapa kali, "Mending buka online shop. Kau carilah barang-barang yang terjangkau, yang harganya di bawah tiga puluh ribu. Beberapa produk, kau beli buat mikat pembeli. Terus, biar mereka tergiur. Kau kasih tulisan di situ, serba 35 ribu. Karena orang-orang, aslinya tak tau bahwa harga aslinya kadang ada yang 10 ribu. Dijamin pasti ramai, asal barang kau update terus. Dari pada begini-begini, kau diraba sana-sini. Bikin sang* tak karu-karuan, mending ikuti saran aku."
"Nih, bukan aku nyogok. Aku kasih modal, tapi kau belanja di toko ini. Kau harus belanja di toko ini, buat ulakan kau. Asal kau pulang kampung, jangan stay di sini. Jagain keluarga kau, sambil kau cari uang. Ini tokonya udah ada di 3 kota. Kota C ada tiga cabang, kota T ada satu cabang, di kota I ada dua cabang."
Ungkap Adinda beruntun, dengan mengeluarkan beberapa lembar uang. Yang ia ambil, dari saku suaminya. Yang tengah duduk, persis di sisinya.
"Nih, ini kartu tokonya. Ada alamatnya di cabang-cabang kota terdekat." lanjut Adinda, dengan mengeluarkan kartu nama kakak iparnya dari bagian belakang ponselnya.
"Ini toko siapa, Mbak?" tanya Rara, dengan memperhatikan kartu nama yang ia pegang.
__ADS_1
"Punya kakak ipar." jawab Adinda dengan memperhatikan wajah Rara dari samping.
"Bukan, punya istri aku. Tuh, istri aku kaya raya. Kau mau tak jadi istri kedua aku?" tanya Adi, yang memang hanya bergurau saja.
Adinda langsung menoleh, dengan tatapan mematikan. Namun, sangat berbeda dengan Rara yang langsung menggeleng cepat. Ternyata ia tak mau mengambil resiko, untuk bersaing dengan perempuan yang memakinya tadi.
"Gurau aja, Dek." ucap Adi, dengan mencubit gemas pipi istrinya.
"Lagian Raranya juga tak mau sama kau, Bang!" sahut Adinda kemudian.
"Bukan tak mau sama Abang, tapi dia takut sama kau!" balas Adi yang kembali mendapat delikan tajam dari istrinya.
"Dari muda sering baca kisah pelakor, baru-baru ini ada cerita pelakor kena maki kakak ipar laki-lakinya. Makanya Abang sih, tak ada niat main cewek apa nikah lagi. Karena bukan cuma pelakornya yang kena santet, nanti Abang pun bisa masuk rumah sakit." ujar Adi, yang membuat para anak muda cekikikan.
"Jadi… kau mau berubah? Apa masih mau gangguin Edi?" tegas Adinda kembali.
"Aku gak gangguin mas Edi, mas Edi sendiri yang datangin aku. Dari awal, aku kerja jadi LC memang setengah hati. Karena awalnya aku berhijab, harus rela begini gara-gara ekonomi." ungkap Rara yang membuat Adinda tertegun.
"Aku cuma lulusan SMP. Khatam Qur'an, hafal satu jus juga. Karena di kampung, masih ramai ngaji bareng pas habis ashar." jawab Rara yang membuat Adinda melongo.
"Sayang udah tak perawan ya? Coba kalau perawan… Abang angkut, buat jadikan mantu. Tinggal pilih, itu perjaka semua. Insyaa Allah sukses, sejahtera masa depan anak cucu mereka." sahut Adi dengan menunjuk para anak bujangnya, yang tengah duduk di seberang sofa.
Plak….
Telapak tangan Adinda, kini mendarat di paha suaminya yang hanya mengenakan celana pendek saja. Tentu rasa nikmat, yang Adi rasakan.
"Pedes loh, Dek." tutur Adi lirih, dengan melirik istrinya.
"Tau ah, kesel aku." tukas Adinda dengan bersedekap tangan, juga memajukan bibir bawahnya.
"Yaudah, sana kau balik! Ambil gaji terakhir kau di tempat kerja kau, terus kau resign. Kalau nanti aku ke tempat kau kerja, terus kau masih jadi LC di sana. Aku tak tanggung-tanggung, bakal main jalur halus." ucap Adinda penuh peringatan.
__ADS_1
Rara mengangguk mantap, "Ya, Mbak. Makasih Mbak, makasih semuanya. Aku pamit, assalamualaikum." ujar Rara, dengan memandang semua orang. Lalu dirinya berlalu pergi, dengan sedikit menundukkan punggungnya. Setelah mendapat jawaban salam, dari mereka semua yang ada di ruang tamu tersebut.
"Mission completed!" ungkap Adi dengan tersenyum bangga.
Namun, ketukan keras ia dapatkan di kepalanya. Adi pun langsung mengusap-usap kepalanya, yang mendapat jitakan mematikan tersebut.
"Mission completed, mission completed! Enak ya kau, Bang! Kau menang banyak, peluk-peluk badan montok kek gitu!" ucap Adinda, dengan mengacungkan jari telunjuknya ke arah suaminya.
"Hana, Dek. Abang… Abang kan cuma…." suara Adi menggantung, karena Adinda langsung berlalu pergi dengan menaikkan telapak tangannya ke arah Adi.
"Jangan berani kau masuk kamar aku!!!" ancam Adinda, dengan dirinya berbalik badan untuk menatap suaminya. Sebelum dirinya berlalu pergi, untuk melanjutkan langkah kakinya menuju kamarnya.
Adi menghela nafas beratnya, "Ya sudahlah. Yuk lanjut, pakek uang. Mak kau udah naik keknya." ajak Adi pada anak-anaknya.
"ADI RIYANA… JANGAN BERANI KELUAR DARI RUMAH, JUGA JANGAN BERANI MASUK KAMAR AKU! MASUK KE KAMAR ANAK-ANAK BUNGSU KAU! SURUH MEREKA TIDUR, KELONIN MEREKA!!!" seru Adinda, yang mengurungkan niat Adi.
"IYA, ADEK." sahutnya juga berseru, lalu ia melangkah lunglai menuju kamar anak balitanya.
"Badan kekar, tegap, gagah, perkasa. Kena ancaman istrinya, tak bisa berkutik dia." gerutu ibu Meutia, yang duduk di antara gadis-gadis muda.
"Jangan kaget nanti, kalau jadi menantunya." lanjut ibu Meutia, dengan menepuk pundak Ai dan Canda yang duduk mengapitnya.
"Pas mamah teriak-teriak tadi, janin aku kek kaget Omah. Jendul, dia kek gerak reflek gitu." timpal Icut, dengan mengusap perutnya yang sudah terlihat membesar.
"Nenek itu kau, Nak. Kalau nanti kau diasuh nenek kau, udah habis kau dicincangnya." sahut ibu Meutia, dengan memperhatikan Icut yang masih mengelus perutnya.
"Memang suami Icut ke mana? Dari kemarin Ai di sini, tapi gak pernah liat suami Icut." tanya Ai, yang baru membuka mulutnya. Namun, sayangnya pertanyaannya malah mendapat delikan khusus dari ibu Meutia, Icut dan Giska.
Mereka jelas tak suka dengan pertanyaan Ai barusan, meski Ai hanya berniat berbasa-basi untuk membuka obrolan. Tapi keadaannya jelas berbeda, jika Icut memang bersuami.
......................
__ADS_1