Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS38. Mengenal Ai Diah


__ADS_3

"Bukan maksud aku kau-kauin Abang. Tapi Abang di sini salah, Abang ada main sama perempuan lain." jelas Fira kemudian.


"Apa kabar kelakuan kau kemarin?" sahut Givan dengan tersenyum miring.


Lalu dirinya berlalu pergi, meninggalkan Fira yang masih memikirkan tentang Ai Diah tersebut.


Givan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dengan memperhatikan plafon kamarnya. Ingatannya berputar kembali, saat dirinya bertemu dengan wanita yang memiliki lesung pipi tersebut.


"Nuhun, A." ucap perempuan yang kesusahan mengangkat barang bawaanya, ke atas kabin pesawat tersebut. Namun, malah ia langsung mendapat bantuan dari Givan.


"Mau ke mana, Dek?" sahut Givan, yang ternyata duduk bersebelahan dengan bangku perempuan tersebut.


"Ke Balik*apan, A. Aa rek kamana?" balas perempuan tersebut ramah.


"Sama, Balik*apan juga. Punya saudara kah di sana?" tanya Givan, dengan mulai mempersiapkan dirinya. Karena pesawat akan segera lepas landas.


"Teu, A. Hmm… mau kerja di sana. Lanceuk na emak, nawarin kerjaan di tambang. Jadi asisten kedua katanya, soalnya asisten yang pertama kewalahan ngurus kerjaannya. Bosnya jarang di tempat soalnya, A. Kitu katana mah." jelas perempuan tersebut, yang dimengerti Givan.


"Namanya siapa? Sundanya daerah mana? Ibu sambung saya orang sunda juga." ujar Givan, dengan mengulurkan tangannya untuk berkenalan.


Perempuan tersebut mengulurkan tangannya, "Ai Diah, A. Dari M*jalengka. Oh, nyaa. Pantes nyambung." tutur Ai dengan terkekeh kecil.


Givan menyunggingkan senyumnya, "Saya Givan. Apa nama PT pertambangannya?" tukas Givan, setelah tautan tangan mereka terlepas.


"Adi Wijaya Abadi, kalau teu salah mah." ucap Ai dengan raut wajah seperti tengah berpikir.


"Ohh, saya juga kerja di sana." sahut Givan, dengan memperhatikan wajah Ai dengan lesung pipi yang terlihat tatkala ia berbicara.


"Kebetulan pisan atuh. Tolong ya A, arahin aku nanti. Soalnya, baru pertama juga nih nyebaring samudera begini." balas Ai yang membuat Givan langsung mengangguk mantap.


"Pasti-pasti. Nih salin nomor kontak saya, barangkali nanti di bandara sana kita nyebar." ujar Givan, dengan menyodorkan ponselnya.


Ai mengangguk, dengan langsung menyalin nomor telepon Givan.


"Lanceuk na emak tinggalnya di mana? Adek nanti ke lanceuk na emak, atau punya tempat kos sendiri?" tanya Givan kembali.


"Ai aja atuh, A. Saya mah, gak biasa dipanggil adek." pinta Ai yang langsung diangguki oleh Givan.


"Ini nanti ikut uwa dulu, soalnya baru juga kan saya di sini." lanjut Ai kemudian.


"Siap-siap, Ai. Mau lepas landas." ujar Givan dengan membantu membenarkan sabuk pengaman yang Ai kenakan.

__ADS_1


~


Ai amat terkejut, saat ia dikenalkan dengan pemegang perusahaan ini. Berbeda dengan Givan, yang sebenarnya sudah mengetahui siapa yang akan membantu pekerjaannya.


"Tutup aja pintunya, Na. Saya mau wawancara dulu." pinta Givan, saat Ina mengantarkan Ai ke ruangan milik Givan.


"Aduh… hampura nyaa. Ai kemarin udah lancang, ngajakin ngobrol, mana segala numpang sampai ke rumah uwa." ucap Ai dengan menundukkan kepalanya.


"Tak apa. Duduk aja Ai, nyantai aja." sahut Givan, dengan memperhatikan Ai yang bertubuh tinggi besar.


Ai duduk di kursi yang berada di depan meja kebesaran Givan, "Biasanya teh, yang wawancara pihak HRD. Kok ini yang punyanya langsung? Jadi deg-degan Ai." ungkap Ai, yang membuat Givan tertawa geli.


"Kan nanti kerjanya langsung sama saya, ngehandle kerjaan saya. Jadi saya mau nanya-nanya langsung nih."


"Pendidikan terakhir Ai apa?" tanya Givan kemudian.


"Pendidikan terakhir Ai… punya gelar s.Pd. Dari U*swagati C*rebon." jawab Ai dengan kembali menundukkan kepalanya, saat mengetahui ternyata Givan tengah memperhatikannya dengan lekat.


Givan mengangguk, "Ai single? Belum pernah menikah kan?" lanjut Givan bertanya kembali. Namun, ia malah mendapatkan Ai yang tengah berbalik menatapnya dengan mengerutkan keningnya.


"Soalnya persyaratan buat calon karyawan, harus belum menikah. Nanti kan kontrak dulu nih 6 bulan, nanti kedepannya bisa diangkat jadi karyawan kalau kerjaan Ai bagus." jelas Givan yang membuat Ai menyunggingkan senyum manisnya.


"Nyaa atuh, belum menikah Ai." jawab Ai yang membuat Givan tertawa renyah.


"Udah ah, sini salaman. Kau diterima kerja di sini, tapi ikuti aku dulu selama 3 hari." ucap Givan dengan bangkit dari posisinya, kemudian mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Ai.


Ai menyambut uluran tangan Givan dengan heran, "Kenapa Ai disuruh ngikutin Pak bos selama 3 hari?" tanya Ai kemudian.


"Ya… biar tau kerjaan Ai nanti ngapain aja. Biar paham juga, step by stepnya." jawab Givan dengan berjalan ke arah jendela.


Lalu ia membuka jendela ruangannya, memperlihatkan hamparan luas dengan mobil pertambangan yang berlalu lalang.


Ai menghampiri Givan, Givan pun menyadari kehadiran Ai di belakang tubuhnya.


"Kenapa nama PT-nya Adi Wijaya Abadi? Namanya Pak bos yang dipajang di depan meja, Ananda Givan." ucap Ai yang membuat Givan berbalik badan ke arahnya.


"Biasanya kan, kalau PT namanya sama kaya yang punyanya." lanjut Ai kemudian.


"Soalnya yang punya modal awalnya namanya Adi, sama Dodi Wijaya. Kan tak enak, kalau uang orang tapi pakek nama kita sendiri." jawab Givan tanpa ragu-ragu.


"Lah… terus aku kerja sama siapa?" sahut Ai dengan mata bulat sempurna.

__ADS_1


Givan terkekeh kembali, "Udah balik modal, tenang aja. Lagian Adi, papah aku sendiri. Dodi Wijaya pun, kakek aku sendiri. Tak bakal kena klaim, gara-gara pakek nama orang terdekat sendiri." jelas Givan yang membuat Ai tersenyum kuda.


"Pak bos ramah betul, asik orangnya. Mau aja ngeladenin pertanyaan kepo dari Ai." balas Ai yang membuat Givan tertawa lebih keras.


"Asik, asik! Kau belum tau aja!" ujar Givan dengan meraih jas hitamnya, lalu mengenakannya dengan langsung dibantu oleh Ai.


"Memang Pak bos kenapa?" tutur Ai. Namun, Givan malah menoleh dengan menatap tajam tangan Ai yang berada di bahunya.


"Ehh… aku liat di drakor, kalau asisten kerjaannya begitu." ucap Ai yang membuat Givan menggeleng cepat, dengan tersenyum masam.


"Di drakor juga ada tuh, yang bosnya main sama asistennya sendiri." timpal Givan enteng. Namun, sukses membuat tangan Ai enyah dari bahunya.


Givan menolehkan kepalanya untuk melihat ekspresi wajah Ai. Namun, ia malah mendapatkan Ai yang tengah menyilangkan tangannya di depan dadanya. Dengan pandangan yang terlihat begitu hati-hati.


Givan menaikkan satu alisnya, dengan bersamaan ia mengedipkan sebelah matanya genit. Tawa Givan langsung pecah, saat Ai terlihat begitu syok dengan tingkat bosnya tersebut.


Namun, tak berselang lama. Karena Givan langsung menyerukan namanya, untuk mengikutinya keluar ruangan.


"BANG….. ABANG…." seruan yang mengusik lamunan Givan.


"Apa lagi sih?" sewot Givan dengan memelototi Fira.


"Jadi Abang ke mana aja selama ini? Terakhir aku tau tempat Abang singgah di rumah omah, di kota J. Waktu nganterin Icut itu kan? Nah, terus Abang ke mana lagi? Kenapa setelah sekian lama baru balik ke aku?"


"Udah berapa bulan ya kira-kira… setelah kejadian di rumah orang tua Abang. Abang bawa aku ke sini. Terus Abang balik lagi ke orang tua Abang, sampek sebulan lebih. Udah gitu, katanya ambil penerbangan ke pulau K dulu. Mau ngurus kerjaan sama staf baru di sana. Nah… lepas itu Abang ke mana? Kok aku nemuin beberapa tiket penerbangan untuk dua orang, di beberapa pulau lain? Segala Abang ke Papua, sama siapa itu?"


Ungkap Fira, dengan memperhatikan lebih jeli. Beberapa kertas yang ia dapat dari tas kerja laki-lakinya.


......................


Bahasa Sunda itu ya.


*Nuhun : Makasih


*Rek kamana : Mau ke mana


*Lanceuk na emak : Kakaknya ibu


*Teu : Tidak


*Nyaa atuh : Iyalah

__ADS_1


*Hampura nyaa : Maaf ya


Kurang lebihnya seperti itu.. kadang penulisan sama pengucapan beda.. Author paham artinya, tapi kadang gak bisa ngomongnya, nadanya, logatnya. 🤭


__ADS_2