
"Hah…. mas Ghifar mana, Mas?" tanya Canda dengan wajah terkejutnya.
"Tak ada, adanya Mas Givan. Sini dulu, Dek." jawab Givan, yang masih mencekal pergelangan tangan Canda.
"Mau apa, Mas? Tangan aku lepasin dulu!" sahut Canda mulai panik.
"Coba bandingkan aku sama Ghifar. Kuat mana, lebih kuat aku, atau dia? Coba bentuknya kau bandingkan juga. Kau lebih suka punya aku, atau punya laki-laki kau itu." balas Givan, dengan mulai menarik Canda untuk naik ke atas tempat tidur.
"Mas…."
"Lepasin tangan aku! Jangan tarik-tarik pakaian aku!" suara Canda begitu panik dan bergetar.
Cekalan tangan Givan terlepas, Canda segara bergegas untuk turun dari tempat tidur tersebut.
Givan tersenyum miring, "Dia kira, dia bisa lari." ucapnya seorang diri dengan turun dari tempat tidur.
Givan tak mengetahui, Canda sudah menghubungi Ghifar beberapa kali. Ia juga sudah mengirimi pesan, untuk meminta pertolongan pada Ghifar.
Givan menemukan Canda, yang masih berada di ruang tamu dengan menempelkan ponselnya pada telinganya.
Dengan cepat Givan memeluk tubuh Canda, "Mau lapor sama Ghifar? Ghifar hobi tidur, kalau habis subuhan. Dia tak mungkin bangun pagi, apa lagi hari libur kerja kek gini." ujar Givan dengan menarik Canda untuk masuk ke dalam kamar.
Canda berulang kali menendangkan kakinya tak tentu arah, membuat kakinya terbentur pada sofa ruang tamu dan meja.
Prang….
Kaca meja tersebut pecah, akibat kaki Canda yang mendorong meja tersebut begitu kuat.
"Lepasin aku, Mas!!! Aku gak mau…." Canda belum menyelesaikan ucapannya, tetapi langsung dibungkam dengan telapak tangan lebar Givan.
"Bisa diem tak? Kau bakal sakit, kalau kaki kau nendang-nendang macam itu. Ini lagi, tangan kau ngapain tak mau diem?!" bentak Givan, yang masih berusaha menarik Canda untuk masuk ke dalam kamar.
Setelah Givan berhasil membawa masuk Canda ke dalam kamar, ia langsung menarik pakaian Canda dengan mudahnya.
"Mas….." bungkaman tangan Givan terlepas, karena Givan mencekal tangan Canda yang terus memberontak atas tindakannya.
"Aku bakal ngelakuin perlahan, kalau kau mau diem." pinta Givan, yang langsung digelengi oleh Canda.
Canda beringsut, saat Givan tengah menarik resleting celananya.
"Besar mana sama Ghifar? Panjang mana sama Ghifar?" tanya Givan, dengan menyodorkan miliknya pada Canda.
Air mata Canda yang keluar tiada henti, tetap tak membuat Givan memiliki belas kasih.
__ADS_1
"Aku mohon, Mas. Lepasin aku. Aku masih perawan, aku gak mau mas Ghifar kecewa sama aku Mas. Dia nuntut mahkota aku, kelak aku sama dia menikah nanti." ungkap Canda, dengan menutupi pakaiannya yang terkoyak.
Givan hanya tersenyum mengejek, "Perawan kau kata? Barang-barang pribadi kau tertinggal di sini. Kau sempat tinggal bareng dia, gimana kau masih tetap perawan? Jangan coba-coba bohongi aku! Lagian kau tak rugi juga, Ghifar tak bakal tau kalau mulut kau bisa diam." tutur Givan dengan membentangkan kedua kaki Canda,
Canda langsung menarik tubuhnya, membuatnya terbentuk pada ranjang besi yang masih baru tersebut.
Givan hanya tertawa sumbang, saat melihat Canda kesakitan dengan luka kecilnya.
Tanpa menghiraukan Canda yang tengah kesakitan, Givan kembali menarik kaki Canda. Lalu ia menyibakkan rok yang sudah tersingkap itu.
"Mas… aku mohon, Mas." ucap Canda, dengan menutupi miliknya yang masih terbungkus kain tipis berbentuk segi tiga tersebut.
Givan langsung menyatukan tangan Canda, lalu menempatkan tangan Canda di atas kepala Canda.
"Mas….." tangis pecah Canda, saat Givan menyibakkan kain yang menutupi intinya.
Kaki Canda memberontak kembali, ia masih ingin mempertahankan itu untuk pujaan hatinya.
Givan menempatkan tengah-tengah tubuhnya di depan inti Canda. Ia masih tak mempercayai pengakuan Canda, yang masih perawan tersebut.
"DIAM!!!! TENAGA KAU ITU TAK SEBERAPA! KAU PASTI TETAP KALAH, SAMA TENAGA AKU!" benatak Givan, membuat tangis Canda sesenggukan dalam sesaat.
Givan memperhatikan bentuk milik Canda, yang masih bergaris lurus tanpa memiliki celah tersebut.
"MASSSS!!!!!"
"MASSS GIVAN, JANGAN!!!!!" pekik Canda, saat merasakan sesuatu membelah intinya begitu cepat.
"Hah?" Givan merasa tak percaya, saat ia merasa menyobek sesuatu yang menghalangi laju intinya.
"Kau perawan?" tanya Givan pada Canda yang tengah menangis hebat tersebut.
"Sialan kau!!!" ucap Givan, dengan cepat ia melepaskan penyatuannya. Lalu ia membenahi kembali resleting celananya dan mengambil kaosnya yang tergeletak tersebut. Ia pergi begitu saja secepat kilat, meninggalkan Canda yang tengah menangis pilu seorang diri tersebut.
"Kenapa kau? Ingat kejadian itu lagi?" tanya Adinda, saat melihat setetes air mata yang yg terjatuh dari pelupuk mata Canda yang terpejam tersebut.
Adinda menggoyangkan lengan Canda, berharap Canda langsung pulih dari bayangan menyeramkan tersebut.
Tiba-tiba, Canda langsung memeluk erat tubuh ibu mertuanya.
"Aku takut, Mah." ucapnya di sela tangis pilunya.
Adinda mengusap-usap punggung Canda, "Rasa trauma itu hilang, kalau digantikan dengan pengalaman baru. Yang ikhlas, semuanya udah terjadi." sahut Adinda kemudian.
__ADS_1
"Aku takut kelak nanti mas Givan gitu lagi, Mah. Dia gak percaya pengakuan aku, dia gak mau dengerin ucapan aku." balas Canda, yang tengah ditenangkan oleh Adinda tersebut.
Kemudian Adinda melepaskan pelukan menantunya, "Ayam Mamah gosong nanti." ujar Adinda yang membuat Canda malah terkekeh kecil.
"Udah jangan nangis, jangan diingat-ingat terus." tutur Adinda dengan mengusap lengan Canda, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk membalik ayam tepung yang terendam minyak tersebut.
"Ya, Mah. Gak sayang kah, Mah? Masak minyaknya banyak gitu?" tanya Canda mengalihkan pikirannya, dengan membahas mengenai masakan mereka kali ini.
"Kalau bikin chicken, memang harus kerendam minyak goreng gini. Biar renyah, biar kering juga di dalamnya. Malah chicken yang di resto terkenal itu, diukur suhunya dulu minyaknya" jawab Adinda yang diangguki saja oleh Canda.
Lalu Canda membantu Adinda, untuk memasak nasi lagi. Sore itu menjadi aktivitas baru untuk Canda di rumah itu. Karena hari ini, Adinda baru mulai memasak kembali sejak masa istirahatnya dari segala aktivitas untuk beberapa hari belakangan ini.
~
Adi mencoba menahan emosinya. Tatkala kala melihat gadis yang ia besarkan dari kecil, berada di dalam boncengan laki-laki yang mengendarai motor matic keluaran pertama tersebut.
"Siapa itu laki-laki?"
"Balik kuliah, bisa-bisanya balik sama laki-laki? Kemana itu Ghavi, tak becus betul dititipkan amanah." ucap Adi seorang diri, dengan fokus mengikuti motor tersebut.
"Paaa… ho neu jak?" tanya Gibran, yang berada di bagian depan motor matic berbadan bongsor tersebut.
Adi sedikit menundukkan punggungnya, "Kau kalau ngomong bahasa sini, agak jelas. Kenapa ngomong bahasa Indonesia cedal betul?" ungkap Adi yang membuat anaknya menoleh ke arah wajah ayahnya, yang berada di samping wajahnya itu.
"Hana huyup en." jawab Gibran kemudian, yang membuat suasana hati Adi sedikit rileks.
"Peu kah puegah? Hana huruf R, pue N? Soe peugah hana huruf R?" ujar Adi cepat, seperti logat yang kental dengan kehidupannya tersebut.
Gibran terkekeh kecil, membuat wajah anak umur 2 tahun tersebut begitu menggemaskan.
......................
*ho neu jak, mau pergi kemana
*Hana, tidak ada. huruf N, maksud Gibran. Tapi dia cadel.
*Peu kah puegah? Hana huruf R, pue N? Soe peugah hana huruf R : Apa kau bilang? Tak ada huruf R, apa N? Siapa bilang tak ada huruf R?
Kah, artinya kamu. Itu sebutan yang cukup kasar, biasa disebut kalau lagi ngobrol sama teman sebaya, atau yang lebih muda dari kita.
Gata, artinya kamu juga. Sebutan halus, sopan didengar.
Droneuh, droe. Artinya kamu, lebih halus dari kah. Tapi memang lebih kasar, ketimbang gata.
__ADS_1