
"He'em, kau juga baliknya ke omah dulu ya. Mamah mau nimbang berat badan kau, mana tau masa otot kau berubah jadi lemak." ucap Adinda, yang membuat anaknya geleng-geleng kepala.
"Aku rombongan, sama kak Kin, bang Ken sama pacarnya juga." sahut Ghifar kemudian.
"Ya tak apa, Kin, Ken sama pacarnya suruh mampir juga." balas Adinda, yang hanya digumami saja oleh Ghifar.
"Kapan kau balik?" lanjut ibu yang memiliki banyak anak tersebut.
"Dua hari lagi, Mak." jawab Ghifar. Dengan memikirkan tentang Canda, yang akan ia buang ke mana.
"Bawa juga betina kau, tak apa. Mau tau kepolosannya, betul tak itu?" sahut Adinda, membuat Ghifar menghela nafasnya berkali-kali.
"Mak… dia cuma orang lain. Yang kebetulan percaya sama aku. Bukan kawan, apa lagi betina aku!" jelas Ghifar yang mendapat kekehan sumbang dari ibunya.
"Iya… kalau orang udah percaya sama kau, jangan rusak kepercayaannya. Apa lagi main tindih-tindih aja, tak boleh itu Nak." Adinda berbicara, seolah tengah menasehati anak kecil.
"Ya, Mak. Lost control tadi, tapi tak lanjut kok. Tenang aja, aku usahain bisa jaga keimananku." tutur Ghifar, yang membuat Adinda kembali merasa tenang.
"Ya udah, nanti Mamah telepon lagi ya?" tukas Adinda dengan langsung mematikan sambungan teleponnya.
Ia mengulas balik ingatannya, tentang kedua orang tuanya tersebut. Ia merasa, dirinya begitu dibatasi untuk masalah lawan jenis. Selama dia mengenal perempuan, Ghifar hanya berteman baik dengan Ahya. Itu pun karena Ahya, adalah anak pamannya.
"Ah, tapi Ghava sama Ghavi juga dibatasi. Cuma beda berapa bulan dari aku, tapi mereka tak boleh kali kalau udah menyangkut perempuan. Pertama kali dengar cerita waktu bakar singkong itu, Ghava sama Ghavi bawa perempuan. Terus langsung ditegur, diminta buat antar balik. Mana mereka nurut lagi, apa itu alasannya mak tak pernah kepoin perempuan mereka?" Ghifar bermonolog sendiri, dengan masih memutar ingatannya.
"Mas…." suara Canda, kembali mengusik Ghifar.
"Pue lom?" sahut Ghifar dengan memutar tubuhnya menghadap Canda.
__ADS_1
"Apa tuh?" tanya Canda, dengan memperhatikan Ghifar yang melangkah ke arahnya.
"Apa lagi." jawab Ghifar dengan berbelok, lalu duduk di tepian tempat tidur.
"Mas mau ikut gak? Masa kita di Bali, cuma di kamar hotel aja. Gak keliling, liat tempat wisata lain." ucap Canda, dengan mengikuti Ghifar, untuk duduk di sebelah Ghifar.
Ghifar menghela nafas beratnya, "Aku cuma punya uang 150 ribu. Udah habis, buat makan kita berdua tadi. Kau segala ngajakin liburan. Yang tambah tak habis pikir, kau begitu percaya sama aku." sahut Ghifar, dengan menunggu reaksi wajah Canda.
"Kenapa memang?" balas Canda yang membuat Ghifar terkekeh kecil.
Terlintas di pikirannya, Canda hanya mengelabuinya. Untuk sebuah tanggung jawab, yang hanya menguntungkan Canda. Banyak orang baik yang Ghifar kenali, beberapa macam orang pun ia pahami karakternya. Hanya saja, seorang Canda cukup membuatnya heran. Perkenalan yang singkat, tak bisa jadi acuan untuk sebuah kepercayaan yang Canda genggam.
"Aku aja… tak percaya sama diri aku sendiri. Apa lagi, kalau kita udah berdua dalam kamar macam ini. Aku kuatkan hati aku, malah sengaja ingat-ingat nasehat mak bapak. Tapi apa daya, naluri kelelakian aku lebih kuat dari itu. Nah… kau yang perempuannya, malah seolah ngehidangin diri kau sendiri. Sebaik-baiknya laki-laki, masalah naluri kelelakian itu udah tak bisa dibantahkan." ungkap Ghifar dengan tertawa sumbang.
"Aku malah curiganya kau hamil. Kau sengaja dekati aku, biar kita ngelakuin. Terus aku suruh tanggung jawab, atas anak yang udah kau kandung itu." lanjut Ghifar, membuat Canda tertawa geli.
"Kau ini aneh, Canda! Kau dari pesantren, tapi kau macam ini ke laki-laki. Padahal kau anak baik-baik, tak sepantasnya ngajak laki-laki yang baru kau kenal buat jalan-jalan jauh." ujar Ghifar, yang kembali menarik perhatian Canda.
"Mas…. Di pesantren itu macam-macam orang. Dari mereka yang suka menawarkan diri, bertato, anak punk, pecandu narkoba, tukang nyolong. Mereka di pesantrenkan, biar mereka bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi. Aku gak memungkirinya, banyak orang baik-baik juga di sana. Sengaja mereka di pesantrenkan, biar ilmu agama mereka luas, biar mereka jadi ustad atau ustadzah. Contohnya kaya aku aja. Aku di pesantrenkan, karena gak ada yang urus. Dalam keuangan, alhamdulilahnya keluarga besar aku kecukupan. Tapi karena mereka sibuk cari uang, gak ada yang urus aku yang hanya keponakan mereka aja." jelas Canda dengan tersenyum lebar.
"Masalah kepercayaan… aku dari SMP, udah dipondokin. Masa puber aku, masa-masa cinta monyet. Gak pernah aku rasakan, karena di sana laki-laki dan perempuan itu dipisahkan. Terus pas akhir-akhir ini, aku ketemu laki-laki yang menarik perhatian aku. Aku coba ngangkap hal ini wajar… karena aku belum pernah merasakan hal itu. Mungkin… sekarang, aku baru ngerasain yang namanya cinta monyet. Yang bikin aku begitu percaya sama laki-laki satu ini." lanjut Canda, dengan wajah pias.
Ia sesekali memandang wajah Ghifar, yang tengah memperhatikannya dengan lekat. Namun, dengan cepat juga ia langsung menundukkan pandangannya kembali.
Ghifar seperti orang bodoh, saat mendengar penuturan Canda tersebut. Mulutnya menganga, dengan mata yang terbuka lebar.
"Kalau jadi mau ikut pergi. Aku tunggu di depan kamar. Masalah bayar tempat wisata, sama ongkos ke sana, biar aku yang tanggung." ujar Canda, dengan bangkit dari duduknya. Lalu ia berlalu pergi, dengan berlari kecil.
__ADS_1
"Ngeri-ngeri sedap, mak… sekali jatuh cinta, perempuan seagresif itu deketin laki-lakinya." gerutu Ghifar dengan bergidikan.
Lalu ia berjalan menuju tempat ia menaruh jaketnya, dengan segera ia memakainya. Kemudian ia mengambil dompetnya juga, yang sudah kosong melompong.
Dengan sekejap, Ghifar sudah siap dengan penampilannya. Ia pun langsung bergegas keluar dari kamar hotelnya, untuk ikut serta dengan Canda juga kakak angkatnya.
"Kak… alergi air laut kah?" tanya Ghifar tiba-tiba, saat melihat leher kekasih Kenandra. Yang memiliki tanda merah, persis di bagian bawah telinga.
Namun, mulut polos Ghifar. Malah membuat Riska Aprilia tersipu malu, dengan gelak tawa Kinasya yang begitu menggema.
"This is it… c*pangan. Caranya… kau nih cium bagian yang kau mau. Terus kau hisap kuat-kuat, lepas kau terpuaskan ngehisapnya. Terus kau lepas, jadi deh itu tanda merah." jelas Kinasya, yang langsung mendapat toyoran dari kakaknya.
"Kau ngapain Kak, nyupangin Kak Riska?" pertanyaan polos Ghifar pada Kinasya, kembali membuat Kenandra menahan tawanya.
"Kok aku? Ya Bang Ken lah. Ngaco aja kau!" sahut Kinasya, yang membuat Canda terkekeh seorang diri karena melihat drama Kinasya dan Ghifar.
"Kan Akak yang katanya tidur satu tempat sama Kak Riska. Bisanya jadi Bang Ken?" balas Ghifar, yang membuat Kinasya menghela nafas panjangnya.
"Ya pinter-pinternya Bang Ken lah, Far. Masa iya aku harus jelasin, bahwa Bang Ken minta tuker kamar sama aku." ujar Kinasya, yang kembali mendapat toyoran dari kakaknya.
"Bodoh! Awas aja kau, kalau sampek abi tau. Berarti itu gara-gara kau. Nanti… sungkan betul Abang tutup-tutupi kalau kau jalan sama laki-laki kau." ancam Kenandra, yang membuat Kinasya langsung bergelayut manja di lengan kakaknya.
"Gurau, Bang." tutur Kinasya dengan tersenyum kuda, dengan mendongak menatap kakaknya.
"Bang Ken… ajarin dong." ucap Ghifar, dengan bergelayut manja di lengan tangan Kenandra yang lain.
Kenandra melebarkan matanya, "Dasar…..
__ADS_1
......................