
"Hmmm?" Icut kebingungan, dengan ajakan adiknya.
Ghava mengusap perut besar Icut, yang terlampau menggembung seperti tengah mengandung anak kembar.
"Kita nikah aja, kita tak sedarah seibu kok." ulang Ghava kemudian.
"Kenapa harus nikah sama kakaknya sendiri? Kau patah hati kah?" Icut masih bisa santai, dengan ajakan adiknya yang terdengar seperti bualan semata.
"Bukan patah hati, aku kasian sama kau, kasian sama bayi yang di perut kau." jelas Ghava dengan raut wajah serius.
"Tapi... Aku tak bergairah sama kau. Kau adik aku sendiri." ujar Icut, di akhir kalimat dirinya terkekeh kecil.
"Aku pun sama, aku tak pernah bereaksi kalau sama kau Kak. Tapi kalau sama Winda, aku cepet turn on, cuma mamah tak suka sama dia." ungkap Ghava, dengan pancaran sinar wajah yang Icut mengerti.
"Ya kau patah hati, makanya kau nurut aja pas suruh pindah ke sini." Icut memberikan kesimpulan, yang ternyata diangguki oleh Ghava.
"Bisa dibilang kek gitu, Kak. Mana aku udah tak perjaka, pasti nanti dapatnya janda. Makanya aku sih, lebih baik dapat kau. Dari pada dapat janda di luar sana, yang belum tentu kasusnya bersih." ucap Ghava, yang membuat mata sipit Icut terbuka lebar.
"Sialan memang benih fuckboy! Kau udah tak perjaka, kau ajak aku nikah." sahut Icut, yang membuat Ghava terkekeh geli.
"Tapi enak hilang perjaka, Va?" lanjut Icut, dengan sedikit menyerongkan posisinya ke arah Ghava.
Ghava menggeleng, "Tak enak, sakit pas kencing." jawabnya dengan merebahkan tubuhnya, dengan kepala berbantal paha Icut.
"Berapa kali kau? Sampek nampak langsung kempot macam itu." balasnya dengan mulai memijat pelan kepala Ghava.
"Kurusan kah aku, Kak? Dua kali, nyeselnya aku soalnya Winda ternyata tak virgin. Aku takut kena penyakit kelamin, periksa darah aja kali ya aku Kak? Kurusan begini, takut beneran sakit kelamin." ujar Ghava, dengan memperhatikan cicak di atas plafon teras halaman belakang.
"Punya kau bermasalah tak? Timbul gatal, kemerahan, keluaran cairan lain, atau sakit pas kencing tak?" tutur Icut yang digelengi oleh Ghava.
"Normal aja, cuma memang kalau abis gituan tuh sakit pas kencing. Lubang pipisnya tuh, Kak. Macam sedikit melebar." tukas Ghava, tentang apa yang ia rasakan.
__ADS_1
"Ya iyalah, kau perjaka. Pasti kau kek gitu, soalnya pertama buat kau. Jadi ceritanya kau kabur dari Winda-Winda itu?" tanya Icut, dengan mengagumi makhluk yang dulunya terlahir prematur tersebut.
"Tak kabur, memang aku putuskan. Aku tak suka, kalau pacar aku masih suka jalan sama mantannya. Dia naik motor bonceng tiga, dia bonceng depan, mantannya yang nyetir, sahabatnya bonceng belakang. Aku liat, pakek mata kepala aku sendiri. Malamnya langsung aku putusin. Tak tau terima kasih, udah syukur aku mau nerima dia yang udah tak perawan. Eh, malah bertingkah lagi itu betina." jawab Ghava, terlihat ia tengah menyiratkan rasa emosinya.
"Kok bisa kau nidurin dia? Memang sebelumnya kek mana?" ucap Icut, yang merasa heran dengan salah satu koleksi anak dari ayahnya.
"Pas awal, aku sama dia lagi berantem. Terus malam-malam tuh aku ke rumahnya, aku minta penjelasannya tentang masalah kita waktu itu. Tapi lampu ruang tamunya udah mati, pintunya udah dikunci. Aku telepon dia, kata dia orang tuanya udah tidur, dia tak bakal diizinkan keluar rumah, jadi katanya aku masuk aja dari jendela kamarnya. Bukannya jelasin, malah dia izinin aku masuki intinya. Ehh, tau-tau. Tak ada rambu-rambu lalu lintas, tablas aja kek kabur dari tempat parkir tanpa palang pintu." ungkap Ghava bercerita, membuat Icut membayangkan tentang cerita adiknya tersebut.
"Aku tanya, kau udah tak virgin ya. Dia diem aja, dia minta aku cepet selesaiin. Terus udah, balik kan aku ke rumah. Aku tanya ulang lewat chat, masalah virgin itu. Lama dia tak mau ngaku, berbelit-belit betul jawabannya. Yang intinya sih, memang dia udah tak virgin"
"Terus aku minta putus, dia tak mau. Dia malah bilang ke orang tuanya, kalau aku masuk lewat jendela. Licik betul kan itu betina?" lanjut Ghava, dengan respon Icut memberi anggukan kecil.
"Aku ditegur orang tuanya. Katanya sana bilang ke orang tua kau, buat nikahin anak mereka. Tapi mamah malah tak suka sama Winda, pas aku bawa Winda ke rumah. Lepas itu, aku masih pertahanin dia. Sampek kejadian keulang lagi aku masuk dari jendela kamarnya, tapi kasusnya kali ini Winda yang minta. Dia di atas aku, betul-betul macam perempuan yang udah punya pengalaman. Sampek sebelum aku di kirim ke sini itu, hubungan aku sama dia masih baik-baik aja. Tapi memang, udah tak pernah begituan lagi. Terus itu nah, aku tengok dia bonceng tiga sama mantannya. Tengok-tengok dari medsosnya, dia udah balikan sama mantannya yang itu." Icut manggut-manggut mengerti, saat Ghava selesai menceritakan tentang hubungannya dengan kekasihnya.
"Tapi bisa kau, buat dia tak hamil?" sahut Icut, karena Ghava terdiam dengan memejamkan matanya.
"Dia sedia s*tra." balas Ghava yang membuat Icut geleng-geleng kepala.
Icut hanya menceritakan garis besarnya saja, tentang Ghava yang tengah patah hati dan mengajaknya menikah.
"Betul kek gitu?" tegas Adi yang diangguki mantap oleh Icut.
"Papah kok bisa tau Ghava ngajak aku nikah?" tanya Icut heran, pasalnya ia mengetahui sifat Ghava. Adiknya tak mungkin bercerita tentang hal itu, pada ayahnya atau ibunya.
"Tante Bena yang bilang, dia kata kalian sering berduaan. Waktu tante Bena nguping, katanya Ghava ngajakin kau nikah." jawab Adi, dengan melirik cucunya yang tengah memakan tangannya sendiri.
Icut hanya mengangguk, lalu beralih memperhatikan Zuhdi yang melangkah masuk dengan sajadah tersampir di bahunya.
"Ada di sini kau ngapel teros!" seru Adi, saat melihat Zuhdi berjalan ke arahnya.
Zuhdi tersenyum kuda, lalu meraih tangan kanan Adi.
__ADS_1
"Mau ngajakin ngaji, terus sekalian maghriban. Mau tau bisa ngaji tak, pasang jeulame mahal tuh." ujar Zuhdi kemudian.
Adi melebarkan matanya, lalu menendang tulang kering Zuhdi yang tertutup sarung.
"Sialan kau!" maki Adi yang membuat Zuhdi tertawa puas.
Zuhdi berjalan ke arah pintu utama, "GISKA... ADEK GISKA... KA SIAP?" seru Zuhdi memanggil kekasihnya.
"Kau macam nyamper main." komentar Adi, yang membuat Zuhdi memamerkan gigi kuning tulangnya.
"Jangan-jangan anak Papah tak bisa qunut." tuduh Zuhdi, dengan duduk di lantai persis di sebelah Adi.
"Alesan aja kau! Memang dasar niat jelek, pengen keluar bareng Giska lepas subuh. Alesan nguji qunutnya Giska, tak taunya masuk ke kebon pisang." sindir Adi, membuat Icut menyuarakan tawanya dengan Zuhdi.
"Ya masa? Beli mahal-mahal, tapi tak pandai bawa ke akhirat." ujar Zuhdi kemudian.
"Ya itu sih, apa yang jadi imamnya." tukas Adi dengan memperhatikan jalanan di depan pagarnya.
"Boleh sih, Pah. Aku bawa Giska jalan-jalan. Tak jauh-jauh deh, ke L*t T*war aja." ucap Zuhdi, ia menoleh dengan wajah memohonnya.
Adi melirik sekilas pada Zuhdi, kemudian membuang nafas gusarnya.
"Kau mau.....
......................
*Ka siap : Sudah siap
*********Ghifar lagi ngumpulin uang, sabar ya 🤗. Dia bakal lama muncul, Author lagi persiapin. Semuanya bakal dikupas tuntas, Maya pun bakal hadir kembali. Ini bukan sekedar novel, ini kisah kehidupan manusia. Ambil sisi positifnya, negatifnya buat pengetahuan aja 😅*******
Terimong geunaseh 🙏**
__ADS_1