Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS232. Pamit Yoka dan Fira


__ADS_3

Namun, Adi tak ingin membahas tentang itu.


Ia memperhatikan keadaan anaknya, yang tengah dibantu minum oleh kakaknya.


"Lagi, Far." pinta Givan dengan memegangi botol minuman kemasan tersebut.


Ghifar menggeleng lemah. Lalu ia direbahkan kembali di atas kasur busa.


"Apa yang sakit, Far? Disengat binatang kah? Kepatuk ular kah?" Adi menyambungkan hal yang masuk akal, karena ladang yang luas mirip seperti alam liar.


Ghifar menggeleng kembali, ia sedikit membuka matanya untuk melirik seseorang.


Kinasya menggeleng, mereka seperti tengah berkomunikasi.


"Kau dokter, Kin. Dikasih obat atau apa?!" Adi memperhatikan Kinasya dan Ghifar yang berkomunikasi lewat isyarat tadi.


"Coba minta Ghifar makan dulu, Pah. Mungkin aku bakal kasih vitamin aja, keknya dia kelelahan." Kinasya tengah menutup-nutupi sesuatu. Adi menangkap sinyal itu, karena perilaku Kinasya cukup mencurigakan.


"Kasih rotinya, Van. Papah tutupin jendela dulu." kemudian Adi keluar dari kamar itu, ia menutup satu persatu rumah yang memiliki banyak jendela itu.


Rumah dengan bahan dasar kayu, cukup menguras tabungannya saat itu. Tapi ia cukup puas dengan kualitas kayunya. Meski lama tak terawat, kayu itu tetap kokoh.


Setelah Ghifar berada di mobil. Kembali Ghifar diminta mengunyah roti yang Kinasya sobekan. Gadis itu benar-benar merasa bersalah. Ia tak memperhitungkan akibatnya.


"Kaos kau ini, ada bau amis darah Far. Apa yang luka?" Givan menoleh dengan menunjukkan kaos putih di tangannya.


Kinasya membuang wajahnya, Adi pun melihat itu. Kinasya benar-benar tengah menyembunyikan sesuatu.


"Tak ada, Bang." Ghifar pun tak bisa menjawab dengan tepat.


Adanya darah, pasti ada yang terluka. Itu teori orang awam seperti Givan.


Sampailah Ghifar di rumah. Ia dipindahkan di ruang keluarga saja, karena mereka bertiga tak kuat membawa Ghifar untuk naik ke lantai atas.


"Bentar aku ambilin vitaminnya di kontrakan." Kinasya pamit pulang.


"Dek...."


Tok, tok, tok....


Adi menggedor-gedor pintu kamar mereka.


"Anak kau ini!" rupanya sesi pertengkaran mereka belum usai.


"Apa?" Adinda muncul. Ia terdiam beberapa detik, tetapi sejenak kemudian ia langsung panik karena melihat Ghifar yang tak berdaya.


Malam itu, Zuhdi tak sempat untuk mengutarakan niatnya pada kedua orang tua Giska.


Saat ia pamit pun, mereka semua masih fokus pada Ghifar saja. Zuhdi memaklumi itu, siapa orang tuanya yang tidak khawatir melihat anaknya demikian.


~


Sabtu pagi, Fira datang untuk menjemput Yoka. Terlihat Ghifar tengah bersantai di teras rumah, dengan Mikheyla yang tengah memainkan ponselnya.


"Udah baikan, Bli?" Tika muncul dengan membawakan tas milik Yoka.

__ADS_1


"Udah, gara-gara ramuan kau." malam tadi pun, Tika ikut membantu keluarga yang panik tersebut.


Ia membuatkan obat yang terbuat dari rempah-rempah, yang dioleskan ke tubuh Ghifar. Ramuan tersebut, ia dapat dari orang tuanya. Orang tuanya selalu membuatkan dan membalurkan itu, tatkala dirinya tengah merasakan pegal linu.


"Kuning semua kamu." timpal Yoka, yang baru saja muncul.


"Key... Mamah kerja dulu ya. Nanti Key mau beli apa? Kalau Mamah nengokin Key lagi." Fira menarik anaknya untuk duduk di pangkuannya.


"Yi hanpe." jawabnya yang masih fokus pada ponsel.


"Ninini." Mikheyla menunjukkan ponsel yang berada di tangannya, saat ibunya tak kunjung menyahuti.


"Ohh, beli HP? Ok deh." Fira langsung menyetujuinya.


Ghifar tersenyum simpul, lalu mengusap kepala Mikheyla.


"Nanti Papah belikan di pasar malam. Yang ada suara guguknya. Yang ada orang ngomong, tak ada duit." ungkapan Ghifar, membuat para orang dewasa itu tertawa. Mereka memahami, bahwa yang Ghifar maksud adalah ponsel mainan anak-anak.


"Yuk." ajak Yoka, ia mengingat jadwal pesawat yang sudah mereka pesan.


"Nitip Yoka ya, Fir. Kabarin sering-sering. Jangan pacaran lagi, aku udah tak mau dipanggil papah untuk anak orang lagi." mereka hanya bisa tertawa, gurauan Ghifar memang sedikit menyerempet ulu hati seperti Adinda.


Lalu mereka berdua pamit pada seluruh anggota keluarga tersebut. Wajah sendu Tika tak bisa disembunyikan, karena Yoka adalah satu-satunya keluarganya di kota ini.


"Sarapan gih. Sore nanti USG kan? Aku temani." Ghifar mengusap kepala Tika yang terlapisi kerudung instan.


Tika hanya mengangguk, kemudian ia berjalan menuju dapur.


"Udah baik-baik aja, Far?" tanya Adi kemudian.


Adi tahu, bahwa anaknya dan Kinasya tengah menyembunyikan kebenaran. Hanya saja, kembali pada rasa khawatirnya jika istrinya mengetahui hal ini.


Adinda adalah orang yang menentang tentang hubungan, di antara anak-anak yang ia anggap anaknya sendiri. Adi memahami, bahwa itu dibolehkan. Hanya saja, ini tentang perasaan istrinya.


"Ngomong ke Papah, jangan ke mamah dulu." ucap Adi lirih, dengan menepuk pundak anaknya.


Ghifar memperhatikan ayahnya, yang beranjak pergi dengan mengendarai sepeda gunung. Ghifar tak memahami maksud ayahnya.


Senyum Ghifar terukir kembali, saat Kinasya datang dengan tentengannya.


"Kok tak pakek baju dinas?" tanyanya saat Kinasya mulai menginjak teras rumah itu.


"Libur, sabtu minggu libur." Kinasya masuk ke dalam rumah dengan pura-pura tersandung Mikheyla.


"Aduh......." Mikheyla mengaduh, karena tubuhnya sedikit tersenggol.


"Aduh... Tak nampak ada Key." Kinasya terhibur dengan wajah kesal Mikheyla.


"Masuk yuk. Ma mau buatkan sesuatu." ajaknya kemudian.


Kinasya mendapatkan panggilan itu dari Hamerra. Hingga akhirnya, Hamerra dan Mikheyla diajarkan untuk menyebut Kinasya dengan sebutan ma.


"Apa?" Mikheyla menaruh ponsel Ghifar begitu saja. Kaki kecilnya melangkah mengikuti Kinasya.


Ghifar masih terngiang-ngiang, dengan perbuatan dari kakak angkatnya. Kinasya begitu hebat, menurutnya.

__ADS_1


'Keknya udah janda.' tuduhnya dengan memperhatikan daun-daun yang tertiup angin.


Bukan dedaunan yang ia tuduh. Namun, kakak angkatnya itu.


Hari itu, Ghifar tak pergi ke mana-mana. Ia hanya memulihkan tenaganya yang habis oleh Kinasya. Sebenernya ia bisa beraktivitas, hanya saja ia merasa tulang-tulangnya seperti keropos.


Ghifar memaklumi hal itu. Karena ini adalah pelepasan pertama secara sadar, yang ia rasakan dengan kondisi intinya yang belum sehat.


Saat itu pun, Ghifar menyadari bahwa intinya tetap tidak bisa mengeras meski mengeluarkan cairan b*r*hi*ya. Namun, setidaknya intinya bisa merespon sedikit perlakuan yang Kinasya berikan.


Saat inti Ghifar mengembang, bertanda adanya respon positif. Aliran darah mengisi daging yang menggantung di tengah tubuhnya itu.


Entah itu keinginannya saja, atau kini menjadi khayalannya.


Ia berharap, hal itu bisa terulang kembali. Meski membuat sekujur tubuhnya tak berdaya.


~


Saat di tempat USG, Ghifar bertemu dengan kakaknya dan istrinya.


Canda hanya menunduk, ia tidak berani untuk melihat Ghifar dari jarak dekat.


"Berarti kandungan Tika berapa bulan?" tanya Givan berbasa-basi.


"Delapan keknya, mau lahiran kau Tik?" Ghifar malah melemparkan pertanyaan pada Tika.


"Ya, trimester ketiga." jawab Tika kemudian.


"Nanti aku yang adzanin ya, Tik." mata Tika melotot, ia terkejut dengan ucapan Ghifar.


"Pokoknya ikut aku. Enak aja! Macam kamu papahnya aja." Tika memaki dalam suara rendah, karena di sini banyak orang.


Givan dan Ghifar cekikikan, reaksi Tika berlebihan menurutnya.


"Ibu Canda Pagi?" seorang berpakaian perawat, seperti ragu-ragu saat menyebutkan nama Canda.


Perawat itu melihat Canda dan Givan yang beranjak dari kursinya.


"Silahkan masuk Ibu, Bapak." tangan kanan perawat tersebut mempersilahkan Givan dan Canda untuk masuk ke dalam ruangan.


"KIA dibawa, Bu?" dokter kandungan tersebut tersenyum ramah.


"Belum punya. Saya tak tau, kalau saya hamil." aku Canda kemudian.


"Oh, begitu. Lupa ya tanggal terakhir haidnya?" tebak dokter tersebut, dengan mengajak Canda untuk berpindah tempat.


"Iya, Bu." jawab Canda, ia menuruti perintah dokter tersebut. Agar dirinya berbaring di atas ranjang yang disediakan.


Dokter membubuhkan gel di atas perut bawah Canda, yang sedikit menggelembung. Lalu, ia memutar-mutar alatnya di atas gel tersebut.


Gambaran isi rahim Canda terlihat. Dokter mengerutkan keningnya sebelum menjelaskan tentang keberadaan janin mereka.


......................


Sehat-sehat bayi Canda.

__ADS_1


__ADS_2