
"Ulon tuan terimong nikah ngon kawen Cut Giska ngon meuh lhee ploh sikureueng mayam, tunai "
Latihan Zuhdi tidak sia-sia. Ia bisa mengucapkannya dengan satu tarikan nafas.
Kertas yang ia dapatkan dari pihak WO, ternyata berguna juga.
Adi pun demikian. Ia bisa lancar, karena ia terlebih dahulu latihan dengan kertas yang ia dapat dari pihak WO.
Mereka saling melempar pandang, tepatnya pada pihak KUA yang hadir di masjid tersebut.
"SAH."
Keputusan begitu lantang.
"Alhamdulillah..." Zuhdi langsung mengusap wajahnya. Ia terus mengucap syukur dalam hati, niat baiknya akhirnya terwujud juga.
"Panggil dek Giskanya. Buat selesaikan dokumen." salah seorang petugas KUA, berbicara pada keluarga Adi.
Mata takjub melihat Giska, tak bisa ditutupi oleh apapun.
Lebih-lebih para tetangga Zuhdi. Mereka bisa melihat dengan jelas, bahwa mahkota rumbai yang tersemat di atas dahi Giska adalah emas.
Mahkota tersebut dulunya milik Adinda. Yang Adi berikan untuk itsbat pernikahan siri mereka.
"Unboxing nanti malam." bisik Zuhdi di dekat telinga Giska, dengan menggosokkan kedua telapak tangannya.
"Kenapa harus nungguin malam? Duduk pelaminan cuma sampek jam dua kok."
Zuhdi terdiam, ia mengingat kembali tentang kepolosan istrinya.
"Kado nikahan, Dek?"
Giska mengangguk, dirinya tengah fokus menandatangani dokumen yang disodorkan pihak KUA.
Nafas beratnya terdengar begitu melelahkan. Ia laki-laki normal, ditambah lagi obrolan dewasa dengan para kakak Giska membuatnya semakin tidak sabar.
"Tanda tangan, Di." pihak KUA menyodorkan sebuah dokumen yang harus Zuhdi bubuhkan tanda tangan.
Beberapa saat kemudian, acara akad nikah itu telah selesai.
Zuhdi bersama Giska disambut meriah, begitu sampai di depan rumah dengan tenda yang begitu mewah.
Acara keluarga inti, begitu mengharukan. Hari ini, Adi melepaskan tanggung jawabnya pada Giska.
"Pah... Jangan nangis lah. Aku jadi ikut sedih." Zuhdi yang tengah berlutut pada ayah mertuanya, merasa bahwa dirinya yang menyebabkan ayah mertuanya menangis.
Adi menepuk-nepuk pundak Zuhdi, "Sialan kau memang! Orang macam kau, yang berhasil ngambil Giska dari Papah."
__ADS_1
Pemegang kamera sekuat tenaga menahan tawanya. Kenapa keharuan ini mengundang tawa untuk mereka yang menyaksikannya?
Zuhdi memahami, akan dirinya yang diminta untuk mengeluarkan kata-kata janji pada umumnya.
"Insya Allah, Pah. Aku bakal memperlakukan Giska dengan baik. Insya Allah, Pah. Aku bisa merubah pribadi Giska yang lebih baik. Insya Allah, Pah. Surga bisa kami raih, jika kami bersama."
Zuhdi sadar, dirinya tak mampu menjanjikan hal itu. Ia sadar, hanya ayah mertuanya yang terbaik untuk kelangsungan hidup Giska. Ia hanya laki-laki lain, yang kini menjadi suami Giska.
Adi mengangguk, lalu ia menyeka air matanya dengan lengannya.
Adinda melirik suaminya. Ia sudah memahami bahwa suaminya memang gampang menangis, karena ia sendiri pernah membuktikannya.
Kini, Zuhdi berpindah untuk berlutut pada ibu mertuanya. Mereka diminta untuk menahan posisinya, sampai jepretan terbaik didapatkan.
"Penuhi lahir batin Giska, Di. Perlakuan dia dengan lembut. Contoh Papah mertua kau." pesan Adinda, untuk menantu laki-lakinya.
Zuhdi mendongak, menatap wajah ibu mertuanya.
"Tapi aku tak mampu nikah lagi, Mah. Ini aja udah habis bebek, habis ayam, sampek habis kandang-kandangnya buat nikahin Giska."
Adinda meraup wajah menantunya. Ia tertawa geli, humor menantunya cukup membuat suasana ini tak lagi penuh haru.
"Ya kau jangan contoh nikah laginya." tandas Adinda, berbarengan dengan Zuhdi yang bangkit dari posisinya.
"Touch make up lagi. Terus lanjut foto, baru kasih selamat."
Ia mengambil jepretan dengan kameranya sendiri. Ia pun beberapa kali mengabadikan momen kekasihnya yang terlihat begitu manis dan berkharisma.
Para tamu undangan menyadari, bahwa hajat sang juragan hanya sampai pukul dua siang saja. Maka dari itu, begitu ramainya mereka berbondong-bondong untuk memberi selamat pada sang raja dan ratu sehari tersebut.
"Far... Pegangin Key dulu. Abang ngurus para tamu tuh, keknya pihak dari WO kewalahan ngaturnya." Givan memberi anaknya pada Ghifar.
"Papa Biiiii, bobo." putri yang amat cantik tersebut, sudah bersandar manja pada bahu Ghifar.
"Ok, kita bikin susu. Terus bobo." Ghifar membawa anak itu masuk ke dalam rumah. Ia pun lelah, ingin beristirahat sejenak.
"Far... Sini dulu." Benazir meminta Ghifar, untuk duduk di karpet ruang tamu. Di mana para keluarga dari kota J, tengah berkumpul dan menyantap makan siang mereka.
Mereka semua begitu kaget, saat tiba di rumah megah tersebut. Kemudian Adi menceritakan perihal kejutan yang ada di rumahnya.
Ibu Meutia tidak menyangka. Anak laki-laki yang terlihat alim dan lembut tersebut, ternyata memiliki anak dari perempuan lain.
"Nanti, Tan. Key minta tidur." lantai satu rumah tersebut begitu ramai, Ghifar berniat mengajak Mikheyla ke kamarnya saja.
"Kamu udah makan belum? Yuk makan bareng." sapa Novi, anak tantenya tersebut berpapasan dengannya di ruang keluarga.
"Gampang nanti." Ghifar menolak baik-baik, wanita yang seperti bintang film dari Turki tersebut.
__ADS_1
Novi adalah anak Benazir dan Edi, adik sekandung Adi. Namun, lain ayah.
Ghifar melangkahkan kakinya menuju tangga. Namun, ia melihat sorot mata menakutkan dari wanita yang berdiri di jalan akses ke dapur.
Ghifar hanya tersenyum manis, kemudian mengedipkan matanya pada pujaannya. Ia tak memahami, bahwa Kinasya memiliki tingkat kecemburuan yang tinggi. Jangankan sapaan sepupu wanita, ipar wanitanya pun kerap menjadi perhatian Kinasya. Ia khawatir Ghifar mencuri waktu dengan Canda.
"Eeee...." Ghifar teringat akan sesuatu.
Ia memutar tubuhnya, kemudian menuju ke jalan akses dapur.
Kinasya masih memperhatikannya dengan tajam. Ghifar tak menaruh curiga apapun, karena ia tak menyangka Kinasya cemburu buta dengan sapaan Novi.
"Nanti aku pasangkan paku di bantal-bantal kau. Jadi pas kau tidur, langsung kau menuju ke janah-Nya."
Ghifar mendengar jelas ucapan Kinasya, saat ia melewati Kinasya begitu saja.
"Apa?" Ghifar merasa tidak mengerti akan kesalahannya. Sampai membuat Kinasya mengatakan kalimat yang mengancam nyawanya tersebut.
"Apa, apa, apa!" Kinasya mengekori Ghifar yang membuat susu formula untuk Mikheyla di dapur.
"Ma... Nyam yam." Kinasya menunjuk ke arah meja makan dengan sajian makanan khas daerah tersebut.
"Udah." Kinasya mengambil alih anak yang berada di gendongan Ghifar.
Agar Ghifar lebih leluasa, untuk melaksanakan aktivitasnya.
"Kau cantik kali, Key. Tapi lebih cantik Ma." entah awalnya dari mana. Kinasya kini dipanggil dengan sebutan ma oleh Mikheyla dan Hamerra.
"Nih susunya. Kau kah yang ngelonin?" Ghifar memberikan dot botol susu tersebut pada Kinasya.
"Kau, kau, kau! Kau mau kelonan sama yang tadi kah? Sampek anak sendiri kau kasih ke aku." ketus Kinasya dengan suara yang ditekan. Ia sadar, di dapur ini bukan hanya mereka berdua. Banyak para tetangga dan saudara besar dari pihak almarhum pak Ali.
Ghifar mengernyitkan dahinya, ia tidak mengerti arah pembicaraan kekasihnya.
"Tak mau dipanggil kau? Terus apa? Kak lagi kek kemarin? Katanya risih dipanggil kak sama pacar." ujar Ghifar dengan melahap satu buah manisan, yang berada di sebelahnya.
"Jangan sok manis kau! Tanpa sabun dari aku, jerawat kau tak mungkin jadi berkurang kek gini."
Ghifar mengingat setiap pertengkaran ibunya dan ayahnya. Ibunya selalu benar, dengan masalah apapun itu. Ayahnya selalu mengalah, meski jelas itu bukan salah ayahnya.
Tapi, lain porsinya dengan dirinya. Bahkan dirinya tidak tau apa permasalahannya dengan kekasihnya. Sampai Kinasya mengeluarkan kalimat yang selalu tidak enak dari mulutnya.
'Apa ya? Bantal, paku, sabun, jerawat.' Ghifar bertanya-tanya dalam batinnya. Ia mencoba menyambungkan setiap kalimat dari kekasihnya.
'Apa sarung bantal bau eces kah? Tapi aku rutin ganti sprai, sarung bantal plus selimut juga.' kalimat perkalimat tidak bisa ia lontarkan, ia khawatir memperkeruh suasana hati Kinasya.
'Apa tambah jelek aku? Tapi padahal jerawat berkurang, bekasnya pun hilang.' Ghifar berbalik badan, dirinya malah berkaca pada perabotan dapur berbahan stainless steel.
__ADS_1
......................