
"Dek, Canda… Mas minta maaf. Maaf lupa ngabarin, bahwa Mas tak di rumah." ungkap Ghifar, setelah menekan kelopak matanya.
Canda mengangguk, "Tak apa, Mas. Aku aja yang gak sabaran. Harusnya aku tunggu kabar, sebelum datang ke sana. Gak apa, Mas. Aku udah ikhlas nerima yang udah terjadi. Aku yang malah minta maaf sama Mas." sahut Canda, yang membuat Ghifar mengerutkan keningnya.
"Maaf buat apa, Dek?" tanya Ghifar kemudian.
"Aku gak bisa jaga mahkota aku, sesuatu yang Mas tuntut dari aku. Harapan aku pun, kayanya gak mungkin bisa kesampaian. Karena Mas laki-laki baik, yang tentunya pasti mendapat wanita terbaik juga. Bukan wanita yang udah dilecehkan kaya aku, Mas. Maafin aku yang gak bisa jaga diri aku, aku gak bisa jaga marwah aku. Setelah ini… aku mau minta pertanggung jawaban dari yang ngerenggut mahkota aku. Yang udah buat aku kaya gini." ungkap Canda yang membuat Ghifar melebarkan matanya.
"Mah… Pah… aku gak mau lanjut proses kepolisian. Aku mau dinikahkan aja, terus bawa aku ke tempat kalian. Karena… aku gak mau bikin malu keluarga. Apa lagi, kalau orang sana pada tau bahwa aku udah begini." lanjut Canda yang membuat Ghifar merasakan dinginnya lantai rumah sakit kembali.
"Far….." pekik Adi saat melihat dengan jelas, Ghifar yang kehilangan kesadaran tersebut.
Semua orang fokus pada Ghifar. Untungnya di ruangan itu terdapat dua dokter, yang sudah tak diragukan lagi kemampuan pertolongan pertamanya.
"Kin… lurusin kaki Ghifar." pinta Haris, yang tengah mengecek bagian kepala Ghifar yang terbentur lantai.
"Dalam tak ya, Bi?" tanya Kenandra, membuat Adinda gemetaran melihat kondisi suaminya
"Makanya kalau lagi galau jangan nyanyi lagu Geisha. Lumpuhkan lah ingatanku, jauhkan tentang dia…" jawab Haris yang malah bersenandung.
Tepat, gurauan tak bermutunya tersebut. Langsung mendapat lemparan sepatu bermerek, yang dihadiahkan dari Adinda.
"Maaf, Dek. Kau main terbangin sepatu aja." ujar Haris, dengan melemparkan sepatu Adinda ke arah kakinya.
"Ambil ranjang, Ken. Cek dulu, kasian anak bujang orang." pinta Haris menyuruh anaknya.
"Fatal kah, Bi?" tanya Kinasya dengan mendekati ayahnya.
"Tak tau. Abi cuma dokter, bukan peramal." jawab Haris kemudian.
"Begitukah cara main dokter spesialis?" tanya Adi heran.
Haris terkekeh, dengan menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Aku tegang, kalau nanganin orang terdekat. Makanya sengaja bergurau sedikit, biar aku tak ceroboh. Tapi segini aku mending. Dari pada Jefri itu, suruh cek keadaan dada kau, malah buka ikat pinggang kau. Waktu kau bonyok, gara-gara kena kroyok itu." jelas Haris yang membuat Adi mengingat kembali kejadian tersebut.
Tawa samarnya terdengar, tetapi langsung lenyap seketika. Saat telapak tangan istrinya, mendarat tepat di mulutnya.
"Itu Haris, Dek. Ajakin aja bergurau. Bukan Abang." ucap Adi dengan menoleh ke arah istrinya.
"Tau ah." ketus Adinda dengan memalingkan wajahnya.
"Ayo, Bi." ujar Kenandra, dengan kembali ke ruangan.
"Bantu angkat, Di." pinta Haris yang langsung diiyakan oleh Adi.
"Ke mana nih?" tanya Adi, saat tubuh Ghifar melayang di atas lantai.
"Depan, Pah. Aku taruh depan pintu, soalnya susah masuk tadi." jawab Kenandra kemudian.
"Kau tak pakek lubricant, pantaslah susah." timpal Haris, yang mendapat tugas mengangkat kaki Ghifar.
Kenandra dan Adi terkekeh, "Siang nanti aku beli D*rex lubricant di minimarket." balas Kenandra yang membuat mereka merasa geli sendiri.
"Jangan ketawa terus! Pusing pala aku." suara lirih orang yang Adi dekap. Membuat mereka hampir menjatuhkan Ghifar.
"Ehh, sialan kau! Kaget Papah." ucap Adi, dengan menaruh Ghifar dengan hati-hati.
"Kau di sini aja, Di. Jaga itu betina garang kau." ucap Haris pada Adi.
"Ayo Kin, ikut Abi!" seru Haris pada anaknya, yang masih berada di dalam ruangan.
"Praktek kah, Bi?" tanya Kinasya dengan menuju ke ayahnya.
"Cusss, kita unboxing anak bujang orang." jawab Haris yang membuat Adinda hendak melemparkan sepatunya kembali. Namun, gagal. Karena Adi segera menutup pintu ruangan tersebut.
"Udah coba, Dek. Jangan meletup-letup terus." ucap Adi dengan berjalan menghampiri istrinya.
__ADS_1
"Kesel aku, kalian bergurau aja." sahut Adinda dengan wajah cemberut.
"Darah tinggi Abang keknya kumat, Dek. Adek meletup terus, bisa-bisa Abang tumbang." balas Adi lembut, dengan mengusap lengan istrinya.
"Jangan sakit Abangnya, aku udah bingung kali." ujar Adinda dengan mendongak ke arah suaminya.
"Adeknya jangan terlalu stress, jangan meletup terus, nanti nyesel mutusin masalahnya." tutur Adi dengan memberikan senyum terbaiknya.
"Ekhmmmm…" dekheman seseorang yang membuat mereka tersadar, bahwa mereka tengah dikelilingi oleh keluarga Canda.
"Maaf…" tukas Adinda dengan tersenyum canggung pada mereka.
"Sini, Mah Pah. Duduk." pinta Canda, dengan menepuk tepian tempat tidur.
"Kau betulkah mau sama Givan? Tak kasian sama Ghifar?" tanya Adi dengan berjalan beriringan, menuju ranjang Canda.
"Aku begini… karena kasian sama mas Ghifar. Aku gak mau mas Ghifar dapat bekas orang lain, apa lagi dengan cerita yang bikin dia sendiri drop begitu." Canda menunduk dengan menjeda ucapannya sejenak.
"Aku malu banget, Mah. Keluarga aku malu banget, Pah. Pas tadi ada media yang minta informasi. Makanya aku sama keluarga minta tutup kasus aja, kita selesaikan secara kekeluargaan aja. Aku sebenarnya masih trauma, hati aku pun gak baik-baik aja. Tapi… dengan aku dinikahinya, insyaa Allah aku ikhlas melewati semuanya." lanjut Canda kemudian.
Adi dan Adinda saling beradu pandang. Lalu pandangan mata mereka terlempar, ke arah keluarga Canda.
"Masalahnya ini kejahatan, Bu, Pak. Si pelaku harus mendapat balasan yang setimpal, biar dia jera dengan semua tindakannya. Entah aku gagal didik anak, entah anak yang gagal nanggung tanggung jawab untuk dirinya sendiri. Tapi… kami coba ngertiin keadaan, pahami situasi yang terjadi. Jadi dari awal, aku mutusin buat Givan tetap lanjut proses aja. Toh, Ghifar tetap bisa nerima Canda. Memang… mungkin pernikahan mereka tak langsung disegerakan. Tapi, Ghifar udah janji untuk tetap pertahankan Canda. Cepat atau lambat, Ghifar pasti bertanggung jawab untuk nikahin Canda." ungkap Adinda yang membuat mereka saling melempar pandangan.
"Mas Ghifar gak bersalah, sejauh ini juga mas Ghifar jagain aku. Bukan dia pelaku yang jahatin aku. Tapi mas Givan, Pah. Dia pelaku, dia juga yang harus bertanggung jawab. Aku mohon Mah, Pah. Tutupin aib aku, aku malu." sahut Canda dengan wajah pucat, yang dipenuhi dengan air mata tersebut.
Adinda memandang wajah suaminya, "Macam mana, Bang?" tanya Adinda bingung.
Adi mengedikan bahunya, "Mau macam mana lagi. Ya udah… kek gitu ya tak apa." jawab Adi kemudian.
Adinda menoleh ke arah keluarga Canda, "Jadi kapan? Terus kek mana ini selanjutnya?" ujarnya.
"Kami mau…..
__ADS_1
......................