
Ketegangan memulai hari Givan. Ia sekarang sudah mengenakan pakaian adat Jawa, dengan melati yang membuatnya semakin terlihat berwibawa.
"Udah pada kumpul, Bang. Dimulai aja katanya." ucap Ghava, yang masuk ke dalam kamar yang Givan tempati. Yang berada di rumah keluarga Canda.
"Ghifar lagi ngapain?" tanya Givan yang sudah berulang keempat kalinya. Entah kenapa, perasaan bersalah kian menyelubungi hatinya.
"Lagi nyeting kamera. Tak dapat fotografer, jadi bang Ghifar yang nyanggupin. Untung, kak Kin bawa kamera sama perangkatnya." jawab Ghava, yang membuat Givan garuk-garuk kepala.
Bagaimana ia bisa memulai, dengan Ghifar yang jelas-jelas hadir dan merekam semua acara pernikahannya dengan mantan pacar adiknya tersebut.
"Kenapa, Bang?" tanya Ghava bingung, saat menyadari ekspresi gelisah dari kakak sulungnya.
"Tak apa." jawab Givan, dengan melangkah ke luar dari kamar.
Tak ada susunan acara, tak ada adat Jawa yang mengantar pernikahan mereka. Semua yang dikehendaki serba buru-buru tersebut, membuat Givan sedikit sulit menerima keputusan ini.
Ghifar melirik kakaknya, yang tengah berjalan ke arah tempat untuk ijab qobul. Ghifar langsung mengaktifkan kameranya, lalu memulai mengarahkannya ke arah sang raja hari ini.
"Candanya mana?" tanya seseorang, yang terlihat begitu repot.
"Biar dipanggilkan." jawab seseorang yang berada di ambang pintu rumah tersebut.
Dekorasi pelaminan yang dibangun dalam waktu semalam, tak terlalu memperlihatkan kesan terburu-buru. Berbeda dengan menu makanan, yang serba dipesan tersebut. Ternyata baru saja datang, dengan para pengobeng yang begitu repot membereskan makanan untuk prasmanan acara tersebut.
Ghifar yang tengah mengingat-ingat ucapan ayah angkatnya, terus mencoba menguatkan hati dan pikirannya. Ia yakin dirinya tak akan ambruk kembali, ia sudah berjanji untuk hal itu. Ia pun tak mungkin membuat malu keluarganya, dengan dirinya yang belum bisa melepas pengantin kakaknya tersebut.
Ghifar terhenyak, saat mendapatkan tepukan di pundaknya.
"Abi aja." ucap orang tersebut, yang langsung mengambil alih kamera yang Ghifar pegang.
"Aku bisa, Bi. Abi tenang aja." sahut Ghifar, dengan mempertahankan kameranya.
Haris mengangguk, kemudian mundur beberapa langkah dari tempat berdirinya Ghifar.
Tak lama, Canda keluar dengan penampilan yang begitu mengejutkan. Ghifar pun, baru dua kali melihat Canda tanpa hijabnya. Yang pertama, saat setelah pemerkosaan itu terjadi dan saat pernikahan Canda sekarang.
Ghifar dengan cepat mengarahkan kameranya, ke arah Canda tengah digandeng untuk berjalan ke arah meja ijab qobul.
__ADS_1
Lirikan matanya tertuju ke arah Ghifar, yang tengah menyorotnya. Setetes air bening, menetes begitu saja. Kala dirinya teringat, akan impiannya untuk menjadi istri seorang Ghifar. Lenyap begitu saja.
Pembacaan doa pun dimulai, dengan Canda yang sudah duduk tepat di sebelah Givan.
Seorang yang akan menikahkan mereka, meminta Givan untuk menunjukkan maharnya. Juga membubuhkan tanda tangan, pada dokumen yang telah disiapkan.
"Berapa?" tanya penghulu, yang suaranya keluar dari mikrofon.
"Seperangkat perhiasan, seberat 70 gram." jawab Givan kemudian.
Setelah menyelesaikan dokumen, akad pun segera dilangsungkan.
"Ananda Givan bin Mahendra Bagaskara?" tanya penghulu, setelah mereka berjabat tangan.
"Saya." jawab Givan begitu mantap.
"Ananda Givan bin Mahendra Bagaskara saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Canda Pagi Dinanti binti Mansyur dengan mas kawin seperangkat perhiasan seberat 70 gram dibayar… tunai." ucap sang penghulu, dengan menghentakkan tautan tangan mereka.
"Saya Ananda Givan…" sahut Givan, dengan langsung dipangkas oleh para saksi. Kemudian Givan diminta untuk mengulang kembali.
"Ulangi ya?" ujar penghulu yang langsung diangguki oleh Givan.
"Saya terima nikah dan kawinnya Canda Pagi Dinanti binti Mansyur dengan mas kawin tersebut, tunai." tukas Givan dengan cepat.
"Sah?" tanya para saksi, yang diangguki oleh sang penghulu.
"Sah…" jawabnya kemudian, yang mendapat syukur dari beberapa pihak.
Ghifar mengusap ujung matanya, ia merekam jelas Canda yang terguncang dalam tangis tertahannya.
Ghifar mengalihkan pikirannya, tentang video tiktok lucu yang ditontonnya pagi tadi. Ia kemudian mengingat nyanyian, yang tengah viral dan ramai dinyanyikan kembali oleh banyak orang. Kemudian ia teringat, akan janjinya pada Gavin yang merengek minta es krim. Semua itu ia lakukan, untuk mengalihkan pikiran cengengnya dengan pemandangan tersebut.
Hingga tukar cincin dan mencium tangan, telah Ghifar rekam jelas dalam kamera dan ingatannya. Kemudian, Canda diajak ke dalam kembali. Karena tangis Canda, cukup mengusik acara pernikahannya sendiri.
"Sungkem dulu aturan." seruan beberapa saksi, saat melihat mempelai wanita kembali ke dalam rumah.
"Make up-nya rusak, nanti jelek difotonya Pak." sahut Kinasya, yang bertugas menjepret beberapa momen terbaik tersebut.
__ADS_1
"Oh, gitu ya?" sahut salah seorang saksi dengan manggut-manggut.
"Iya, Pak. Touch up dandanan dulu, nanti lanjut sungkem." jelas Kinasya asal, yang membuat hiburan tersendiri untuk Ghifar.
Kinasya sedari tadi tak jauh berada di jangkauan Ghifar, tentu Kinasya tak akan mengetahui alasan mempelai wanita masuk kembali ke dalam rumah. Namun, ucapan asal Kinasya. Mampu membuat para saksi bungkam, atas pertanyaan mempelai yang masuk ke rumah tersebut.
Ghifar menjeda rekaman videonya sejenak, karena acara dihentikan sementara. Lalu ia mengambil ponselnya, kemudian berjongkok di antara para saudara wanitanya.
"Scroll tiktok lagi, nanti anak aku sawan." ucap Icut, yang berada di sebelah Ghifar.
"Ya jangan diliat. Sana makan, Kak." sahut Ghifar enteng, yang masih fokus pada ponselnya.
"Gak mau aku. Tak ada yang pedes, tak selera." balas Icut, dengan menyaksikan orang-orang yang berlalu lalang.
"Ada dangdutannya tak?" tanya Kenandra, dengan rokok yang terselip di jarinya.
"Ada, ini biduannya." jawab Ghifar dengan menunjuk Icut. Sontak gurauan garing tersebut, membuatnya mendapat pukulan ringan di lengannya dari Icut.
"Aduh… anak Papah. Nanti ya kita makan bakso, nanti siang." sahut Ghifar dengan mengusap perut Icut, yang terlihat sekali gerakannya di baju yang Icut kenakan.
"Siapa yang bayar?" tegas Icut kemudian, yang langsung mendapat cengiran kuda dari Ghifar.
"Akak lah, Akak kan emaknya." balas Ghifar yang membuat Icut membuang wajahnya kesal.
"Kau bilang, kau papahnya." tutur Icut kemudian.
"Iya nanti. Tau-tau dapat kiriman dari aku aja." tukas Ghifar dengan meminta rokok dari Kenandra.
"Kiriman dikata. Rokok dia minta." ucap Kenandra, yang membuat semua yang mendengar terkekeh geli.
Mereka paham, Ghifar tengah mencoba mengalihkan pikirannya. Apa lagi Kenandra, yang sempat mendengar nasehat dari ayahnya untuk Ghifar. Tentu ia merasa kasihan, pada seseorang yang sudah seperti adik untuknya tersebut.
"Main toktok yuk. Mumpung baju aku lagi bagus nih." ajak Kinasya, yang bergabung dengan mereka semua. Karena ia mendapat informasi, acara akan dilanjutkan satu jam kemudian.
"Biasanya pakek daster sih ya? Daster yang 12 ribuan, flash sale dari Sh*pee." celetuk Kenandra, yang membuat mereka semua terbahak-bahak.
Givan mengarahkan pandangannya ke arah Ghifar dan saudara-saudaranya. Iri hatinya muncul kembali, menggerogoti dirinya. Ia pun jelas butuh support, dari orang-orang terdekatnya. Namun, tetap Ghifar yang seolah tersakiti dan lebih membutuhkan dukungan. Dari semua yang terjadi hari ini.
__ADS_1
Ia iri, akan Ghifar yang tengah dihibur oleh para saudaranya. Bahkan dirinya sendirian di meja yang digunakan untuk ijab qobul tersebut, dengan para saksi yang masih menunggu berlangsungnya acara.
......................