Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS245. Mengajari Ghifar


__ADS_3

"Love you too."


Prasangka Kinasya benar, Ghifar langsung menyatukan indra pengecap mereka.


Dirinya tak menyangka, kini l*matan Ghifar begitu buas. Pemuda amatiran tersebut, rupanya sudah banyak belajar.


Kinasya langsung mencekal rahang dan dahi Ghifar, agar Ghifar melepaskan bibirnya.


"Belajar dari mana kau? Kata siapa sampek ngeraup kek gitu?" karena sebelumnya cara berciuman Ghifar tidak seperti ini.


"Dari film lah, masa iya latihan dulu sama Key." Ghifar tersenyum bahagia, di atas tubuh wanitanya.


"Udah, udah. Turun! Ngap betul." Kinasya mencoba mendorong tubuh kokoh Ghifar.


"Aku mau coba keluarin."


Menolak pun percuma, karena Ghifar enggan turun dari tubuh Kinasya.


Di balik dress panjang berwarna nude tersebut, Kinasya hanya menggunakan hot pants saja. Maka saat Ghifar menyibakkan bagian bawah dress itu, bekas bisul Kinasya sudah terpampang jelas.


"Heh....." Kinasya menepis tangan Ghifar, yang berusaha membuka resleting yang berada di depan dadanya.


"Hustttt..... Tak apa." Ghifar adalah Adi yang pemaksa.


Lolos sudah penutup terakhir tubuh Kinasya. Karena kebiasaan gadis itu, tak mengenakan celana d*l*m.


Senyum bangga Ghifar terukir di wajahnya. Kinasya sebenarnya masih ragu dengan perasaan Ghifar, karena setelah mengungkapkan perasaannya. Ghifar malah menelan*anginya.


Ghifar melepaskan kaosnya, ia merasa gerah karena bir*hinya.


Usapan lembut coba Kinasya nikmati. Ia menutup pemikirannya tentang perasaan laki-laki yang sekarang menguasai tubuhnya tersebut. Ia ingin mendapat pelepasannya, ia tak memungkiri bahwa dirinya membutuhkan hal itu.


"Kombinasikan, Far. Jangan melulu dih*sap." Ghifar melirik ke atasnya, kala mendengar pujaannya menyarankan sesuatu tersebut.


"Kek mana?" Ghifar tak mengerti cara memberi sensasi untuk pasangannya.


Kinasya meraih tangan kanan Ghifar, sedangkan tangan kiri Ghifar menyangga berat tubuhnya agar Kinasya tak merasa sesak.


Ghifar begitu fokus memperhatikan ibu jarinya yang masuk ke dalam mulut Kinasya. Rupanya Kinasya tengah memberi pelajaran untuk kekasihnya.


Lidahnya menari-nari pada ibu jari tersebut. Tancapan gigi ringan, dengan seketika pipi Kinasya kempot menandakan hisapan kuat dalam mulutnya.


"Kek gitu. Ke p*t*ng, atau ke kl*t*ris, kau kombinasikan kek gitu. Jangan melulu dih*sap terus digigit, kau kasih sensasi di dalamnya."


Ghifar manggut-manggut. Dari ilmu yang ia dapat dari Fira saat berpacaran dulu, Ghifar hanya tau caranya mengh*sap dan menggigit saja.


Kepala Ghifar kembali ke pucuk dada yang berwarna cokelat muda tersebut. Ia segera mempraktekkan, apa yang Kinasya ajarkan tadi.


"Besar kali." ucap Ghifar, ia tengah mengagumi dan mengadoni buah yang tumbuh kembar di dada Kinasya.

__ADS_1


Saat itu juga, Kinasya langsung mendapat cap kepemilikan dari Ghifar.


Kinasya tersenyum, ia hanya bisa mengusap-usap kepala laki-lakinya kini.


Perlahan Ghifar kian menuruni gunung tersebut. Ia singgah sejenak dalam lingkaran kecil di tengah perut Kinasya.


Benar-benar bentuk wanita modern. Hiasan bermata satu melekat di lingkaran tengah perut Kinasya.


"Luar biasa, Mia Khalifah kalah telak sama kau." pujian yang membuat Kinasya geli.


"Ya lah, makanya CEO pabrik kopi sampek mabok." Kinasya malah menyombongkan dirinya.


"Soe?" Ghifar merentangkan kedua kaki Kinasya.


Kinasya menggeleng, ia teringat akan jabatan yang masih dirahasiakan oleh keluarga besar tersebut.


"Awwww....." pekik Kinasya, ia terkejut dengan serangan tiba-tiba pada kacang tanahnya.


"Inikah kl*t*ris ini?" Ghifar memutar jarinya mengelilingi kacang itu.


"Hmmmm... Yaaahhhh." Kinasya mengeluarkan suara dari kerongkongannya.


Kinasya memaklumi Ghifar yang tak mengerti, dengan sebutan kacang tanah tersebut dalam pendidikan.


"Kau sedikit tekan itu. Terus kau buka l*bianya, tapi jangan kau mainin l*bang v*g*n*nya."


Ghifar berhenti dari aktivitasnya. Ia tetap tak mengerti maksud Kinasya.


"Kek gini." tangan Kinasya meraba intinya sendiri.


"Yang kek bibir tebal ini, kau tarik ke kanan dan kiri. Terus, kalau mau dapat titik sensitifnya. Kau tarik sudut yang paling atas ini, jadi kacang itu bisa nampak jelas tanpa penutupnya." baru kali ini Kinasya mengajari pacarnya sendiri.


Ghifar mengangguk, lalu kepalanya langsung menunduk kembali ke arah inti Kinasya.


Lidah, bibir dan mulutnya bekerja keras sesuai instruksi Kinasya. Ghifar ingin, kali ini Kinasya mendapat kl*maksnya tanpa takut ia renggut.


Ghifar merasa tidak adil pada Kinasya. Karena beberapa kali mereka bertindak jauh, tetapi hanya menguntungkan Ghifar saja.


Kebanggaan tersendiri untuk Ghifar. Saat otot-otot Kinasya menegang, dengan ekspresi Kinasya seperti akan bersin.


Kinasya mendapatkan pelepasannya.


Ghifar berbaring di sebelah Kinasya. Tangannya melingkar di perut datar Kinasya, ia memperhatikan dari samping. Kinasya yang tengah mengatur nafasnya.


"Kok bisa ya kl*maks tanpa dimasukin?"


Kinasya langsung menoleh ke arah suara itu berasal. Terlihat Ghifar tersenyum lebar padanya.


"Bisa. Kan di kacang itu, ada ribuan saraf terhubung di sana. Jadi, perempuan bisa dapat multi org*sme dari titik itu. Titik itu lebih bisa bikin perempuan dapat multi, dari pada G*pot yang ada di dalam l* bang itu." jelas Kinasya kemudian.

__ADS_1


"Bisa mati juga kah? Kalau kau, aku potong kacangnya?"


"Ayo kita berantem aja." Kinasya langsung mendelik tajam pada Ghifar.


Tawa Ghifar begitu renyah. Ia bisa mengontrol intinya, dengan bersenda gurau dengan Kinasya.


Jika ia boleh jujur, ia akan segera meledak karena tak mendapat pelepasan.


"Mau lagi tak?" Ghifar tersenyum mesum, dengan membelai buah yang terlihat seperti implant tersebut. Namun, buah itu memang tumbuh sempurna dan begitu mangkal dengan sendirinya.


"Udah malam. Papah pasti cek aku di kamar tamu."


Ghifar melirik pada jam dindingnya. Benar saja, waktu sudah menunjukkan tengah malam.


Ia pun harusnya berkumpul di teras untuk begadang bersama saudara laki-lakinya. Bukannya malah berduaan di kamar dengan kekasihnya.


"Yuk ke bawah." ajak Ghifar dengan bangkit dari posisinya.


"Aku mau cuci dulu." Kinasya perlahan bangkit, lalu dirinya memunguti pakaiannya.


Ghifar geleng-geleng kepala, melihat Kinasya berjalan ke arah kamar mandi tanpa mengenakan sehelai benang pun.


Setelah mereka berbenah dan merapihkan tempat tidur tersebut. Kinasya diminta Ghifar untuk keluar lebih dulu, agar tidak menimbulkan kecurigaan semua orang.


Sayangnya, waktunya tepat sekali dengan seseorang yang baru keluar dari kamar yang berada di lantai atas tersebut.


Kecurigaan yang diselimuti tak perduli, muncul kembali pada diri Winda.


Winda hanya tersenyum, saat melihat Kinasya baru menutup kembali pintu kamar Ghifar.


"Kau... Tak di bawah?" tak ada gerak-gerik berlebihan dari Kinasya. Gadis itu pandai untuk menyembunyikan sesuatu dalam dirinya.


"Aku abis isyaan. Tadi repot, jadi belum sempet." jawab Winda kemudian.


"Yuk..." Kinasya mengajak istri Ghava itu untuk berjalan bersama.


"Abis tidur di kamar bang Ghifar?" tanya Winda, saat mereka menuruni anak tangga.


"He'em, soalnya di bawah ramai. Jadi tak bisa tidur." jawab Kinasya santai.


Winda manggut-manggut, "Tadi papah nyariin. Disuruh beli sesuatu di luar. Tapi nyangkanya Akak udah pulang ke kontrakan, jadi nyuruh orang yang ada."


"Iya kah? Biar aku temuin papah." Kinasya memisahkan diri dari tempat para wanita berkumpul tersebut.


Lebih tepatnya, ia menghindari pertanyaan dari ibu angkatnya. Yang sudah memperhatikannya, sejak dirinya menuruni tangga.


Adi mengerutkan keningnya, saat melihat Kinasya berada di ambang pintu.


Ia yang tengah berkumpul bersama anak laki-lakinya, segera bangkit untuk menghampiri Kinasya.

__ADS_1


......................


Hayo... mau alesan apa?


__ADS_2