Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS56. Belanja bersama


__ADS_3

Alhamdulillah, filenya bisa balik.. padahal udah nulis baru. Ya sudahlah, aku lebih sreg sama file yang hilang, yang bikin galau berhari-hari ini.


"Sini Mas, minggir dulu." ucap Canda, saat menyadari ada seseorang yang akan melewati mereka.


Lalu Ghifar mengikuti langkah kaki Canda, yang mengajaknya ke tempat yang lebih luas.


"Kalau aku kasih gimana? Mas mau terima gak? Mau dimakan gak pemberian dari aku? Aku tanya begini, biar barang yang aku kasih gak mubazir." ujar Canda dengan memperhatikan wajah Ghifar, yang tengah berpikir keras tersebut.


"Aku tak mau kalau kau kasih. Aku diamanati sama mak, suruh belanjain uang sendiri. Biar tau rasanya hasil jerih payah aku." sahut Ghifar jujur.


"Ya udah, mana uang 200 ribunya?" tanya Canda, dengan mengulurkan telapak tangannya ke arah Ghifar.


Hingga beberapa detik seperti itu, mereka tentu menjadi perhatian pengunjung swalayan tersebut.


Dengan rasa bingung, Ghifar tetap memberikan uang 200 ribu miliknya pada Canda.


"Ok, aku terima ya." ucap Canda yang diangguki Ghifar.


"Yuk lanjut belanja. Jadi kita ambil beras itu? Terus bumbu dapur? Gula, kopi, teh, susu, roti tawar? Butuh odol, shampo, sabun, sikat gigi gak? Terus sabun cuci baju, cuci piring sama pewangi butuh gak?" sahut Canda dengan kembali mendorong trolinya.


Ghifar mengerutkan keningnya, ia semakin bingung dengan tingkah Canda.


"Apa sih, Dek maksudnya?" tanya Ghifar dengan menahan bahu Canda.


Canda menoleh ke arah Ghifar kembali, "Ya… Mas kan tadi bilang, 200 ribu sama beras itu kan? Ya udah ambil, Mas kan udah bayar. Jadi tinggal ambil apa yang Mas perluin. Nanti di kasir dihitung bareng aja sama punya aku, nanti plastiknya minta dipisah aja gitu." jelas Canda yang membuat Ghifar tepuk jidat.


"Kalau kek gitu, pasti punya aku lebih dari 200 ribu juga. Aku harus tau kira-kira harganya, biar aku hitung di otak aku juga." sahut Ghifar kemudian.


"Yang penting kan udah bayar tadi sama aku. Mau lebih dari 200 ribu, apa kurang dari 200 ribu. Itu biar jadi urusan aku." balas Canda yang menatap tajam pada Ghifar.


"Tapi aku tak mau susu ini. Ini aja udah 200 lebih, belum beras, belum yang lain juga." ujar Ghifar dengan menunjuk susu tinggi protein yang Canda pindahkan ke trolinya.


"Biar jadi urusan aku. Yang penting kan Mas belanja sembako senilai 200 ribu kan? Ini itu yang aku taruh di sini, biar jadi urusan aku." tegas Canda dengan meremas tangan Ghifar, juga memberi Ghifar pelototan tajam.

__ADS_1


Entah kenapa, Ghifar malah mengangguk cepat. Lalu mengikuti langkah kaki Canda kembali.


"Heran pisan! Dijelasin berkali-kali gak paham-paham, kudu bae ngotot." gerutu Canda, sembari menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.


Ghifar menghela nafas beratnya, saat diminta beberapa kali untuk mengambilkan barang-barang yang cukup berat. Ia pun merasa kesal pada Canda, karena Canda memilihkan barang-barang yang berukuran besar.


"Gula sampek 5 kilo, kau mau aku diabetes?" tanya Ghifar, saat Canda menunjuk gula pasir dengan warna bungkus hijau.


"Biar tambah manis." jawab Canda dengan tersenyum lebar.


"Yang sekilo aja, jangan 5 kilo lagi." sahut Ghifar, dengan menunjuk gula yang berjejer di samping gula berukuran besar tersebut.


"Udah itu aja. Nanti aku sering main, kalau aku main nanti minta dibikinin teh manis. Kalau gula gak ada, masa aku mau dihidangin teh tawar?" balas Canda sedikit memaksa.


"Kau ngapain main ke tempat aku? Aku kerja, tak ada di rumah." balas Ghifar, yang pada akhirnya mengambilkan gula berukuran besar tersebut.


"Halah, alesan aja. Lagian heran pisan, kaya bukan laki-laki normal aja. Dideketin perempuan langsung terus terang nolak. Aku segini ini tuh cantik loh, Mas. Sayang aja baru keluar pesantren sekarang, baru bisa adu gaya sekarang." ungkap Canda kemudian.


"Serah kau lah!" ketus Ghifar, dengan mendahului Canda yang merasa terbebani mendorong troli berat tersebut.


Ghifar menghela nafasnya, lalu kembali untuk mendorong troli belanja yang sudah terlihat menggunung tersebut.


Hingga beberapa saat kemudian, satu troli penuh dan satu keranjang belanjaan tersebut tengah dihitung satu persatu oleh kasir. Ghifar menahan nafasnya beberapa kali, saat melihat nominal yang terus berganti tersebut.


"Tiga juta enam ratus delapan puluh dua ribu rupiah, totalnya Mbak. Ada lagi?" ucap kasir di akhir pekerjaannya menjumlah barang belanjaan tersebut. Lalu dirinya langsung memasukkan barang-barang tersebut dalam kardus, juga beberapa plastik berukuran besar.


"Ini, Mbak. Oh iya, kalau mau ambil skincare yang di sana gimana Mbak?" tanya Canda, dengan menyerahkan kartu berwarna hitam miliknya.


Ghifar memahami itu kartu platinum, yang bisa dimiliki jika nilai saldonya kisaran puluhan atau ratusan juta. Seperti yang ibunya dan ayahnya gunakan, jika berbelanja lebih dari lima juta rupiah.


Sambil mengerjakan pekerjaannya, kasir itu menjelaskan cara membeli beberapa produk kosmetik di swalayan besar tersebut.


"Oh, gitu ya?" ucap Canda dengan manggut-manggut mengerti.

__ADS_1


"Ya, Mbak. Ini kartunya, terima kasih. Tunggu ya, belanjaannya." sahut kasir tersebut, dengan menyerahkan kartu milik Canda.


Canda hanya mengangguk, sembari memperhatikan barang-barang miliknya. Namun, tiba-tiba Ghifar teringat akan sesuatu.


"Sialan kau memang, Dek! Kau bilang mau dipisahkan. Tengok itu, disatukan mereka belanjaan kita. Niat ya kau? Sengaja pengen ikut aku balik ya?" ungkap Ghifar lirih, dengan mengunci pandangan mata Canda.


Canda menepuk jidatnya sendiri, "Aku lupa ngomong, Mas." sahut Canda dengan cengengesan.


Lalu mereka menitipkan barang belanjaan mereka, pada tempat penitipan yang berada tak jauh dari tempat tersebut.


"Memang mau ke mana lagi sih?" tanya Ghifar dengan memberikan kartu penitipan barang pada Canda.


"Mau beli skincare. Kata kak Icut, biar gak gosong harus pakai sunscreen tiap kali keluar rumah. Terus Giska juga rutin pakai dari brand itu, makanya mukanya bersih. Aku suka jerawatan, suka bruntusan tuh. Mau beli itu juga, biar glowing." ucap Canda dengan menunjuk tempat khusus perawatan wajah dan tubuh, juga beralih menunjuk jidatnya yang memiliki beberapa jerawat.


"Serah kau aja lah, Canda." gerutu Ghifar, yang tetap mengekori Canda.


~


Sekarang mereka tengah berada di dalam taksi online, yang akan mengantarkan mereka ke rumah subsidi milik Adinda dulu. Ghifar asik memperhatikan jalanan, dengan Canda yang tengah sibuk membaca manfaat dari kosmetik yang ia beli.


"Mas, belanjaan kita udah kaya mau buka toko ya?" ucap Canda, setelah dirinya menyadari belanjaanya yang memenuhi kendaraan tersebut.


"Baru sadar kau?" tanya Ghifar dengan menoleh ke arah Canda.


Canda cekikikan sendirian, dengan memperhatikan belanjaan miliknya.


"Perasaan tadi beli yang kita butuh aja, tapi udah penuh begini ya?" ujar Canda kemudian.


"Baru segini. Mak aku sampek punya toko sendiri di rumah, buat stok kebutuhan bulanan. Belum lagi kalau stok barang pada habis, bawa balik belanjaan sampek dua mobil." sahut Ghifar yang membuat Canda melongo bodoh.


"Kok……


......................

__ADS_1


*Bae, itu sama dengan saja.


*Kudu, sama dengan harus.


__ADS_2