
[Mas, car free day yuk.]
[Aku ke rumah ya, sekalian nganterin sarapan buat Mas.]
[Mas, aku udah di depan rumah.]
[Kenapa gak dibuka-buka pintunya?]
[Mas, tolong.]
[Mas cepet tolongin aku.]
Pesan chat dari Canda, yang membuat tangan Ghifar gemetaran. Apa lagi, terdapat enam panggilan telepon tak terjawab dari Canda.
"ABI…. AYO KE RUMAH, BI…"
"ABIIIIIII…. CANDA HABIS BI, CEPET BI!"
Teriak Ghifar dengan paniknya, apa lagi ia teringat akan perdebatannya dengan kakaknya semalam.
"Ada apa, Far?" tanya Haris yang muncul dari dalam toilet rumah tersebut.
"Setengah jam lalu Canda hubungi aku berkali-kali. Dia minta tolong, Bi. Dia ada di rumah mak, di rumah tempat aku tinggal." jawab Ghifar dengan berbicara cukup cepat.
"KEN…. SUSUL ABI KE RUMAH MAMAH DINDA, CEPET KEN!!!!" seru Haris dengan meraih kunci mobilnya.
Ghifar langsung berlari menuju ke mobil Haris, dengan Haris yang tak kalah paniknya dengan aduan Ghifar barusan.
Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di halaman rumah milik Adinda. Ghifar langsung keluar dari mobil, dengan berlari masuk ke dalam rumahnya.
Hancur
Itulah yang terlihat, saat Ghifar berhasil membuka pintu yang tak dikunci tersebut. Kaca meja yang terpecah belah. Novel karya ibunya, yang berhamburan tak beraturan. Sofa yang tak tertata rapi, juga bantal sofa yang berserakan kini terlihat jelas di mata Ghifar.
__ADS_1
Isakan memilukan terdengar begitu membuat Ghifar hancur. Bibir Ghifar bergetar hebat, ia berusaha menahan tangisnya. Saat langkah kakinya menuju ke sumber suara, ia mendapat tepukan kecil di bahunya.
"Abi buka kasus, buat kau. Atas nama Abi, untuk kau dan masa depan kau." ungkap Haris, dengan ponsel yang menempel di telinganya.
Lutut Ghifar lemas, saat melihat Canda dengan wajah bermandikan darah juga pakaian yang terkoyak. Ghifar jatuh tersungkur, karena berat tubuhnya tak bisa ia topang dengan kakinya lagi. Kelemahannya berkumpul menjadi satu, melemahkan otak dan fisiknya dengan kejadian yang tak terduga tersebut.
"Far… heh, Ghifar…" panggil Haris berulang, saat mendapati anak yang pernah ia timang tersebut tak sadarkan diri.
"Tutuplah tubuh kau pakek ini! Tenang, bentar lagi ada dokter perempuan yang ke sini." ucap Haris, dengan melemparkan kain yang tergolek di dekatnya.
Haris langsung memposisikan tubuh Ghifar senyaman mungkin. Lalu ia berusaha memberikan Ghifar pertolongan pertama, agar ia segera sadar kembali.
Tak lama, suara sirine bersahutan berhenti di depan rumah tersebut. Petugas medis, juga beberapa orang berseragam dinas berwarna abu-abu masuk ke dalam rumah tersebut.
Canda langsung dibawa menuju ambulance, yang akan mengantarnya ke rumah sakit milik pemerintah tempat Haris dinas. Ghifar yang sudah tersadar, masih terdiam dengan pandangan kosongnya. Ia seperti kehilangan separuh jiwanya, yang dibawa pergi oleh mimpi buruk.
Kabar tak mengenakan tersebut pun, langsung terdengar di telinga Adinda. Dengan paniknya, Adi dan Adinda menuju ke kota C tanpa pertimbangan lagi.
Beberapa polisi mengambil jepretan kamera, juga mencatat keterangan yang mereka dapat. Ghifar yang masih diam seribu bahasa, tak bisa dimintai keterangan mengenai kejadian ini.
~
Beberapa hari setelah peristiwa buruk itu berlalu, Ghifar masih menyendiri di kamar tamu milik Haris. Adinda tak kuasa, melihat anak laki-lakinya yang terus bungkam tersebut.
"Ngomong, Nak. Jangan bikin Mamah bingung." ucap Adinda, dengan suara bergetar. Ia mengusap air mata anaknya, yang tanpa sadar terjatuh melewati rahang kokohnya tersebut.
"Mak jangan dekat-dekat aku. Mak jangan terlalu perhatiin aku. Urus aja anak-anak Mak yang lain." sahut Ghifar lirih, dengan linangan air mata dari tatapan kosongnya.
"Kenapa ngomong macam itu? Kau anak Mamah juga, semua anak Mamah perhatiin." balas Adinda dengan memeluk tubuh lemas Ghifar, karena tak ada asupan yang masuk ke mulutnya.
"Tapi bang Givan iri, Mak. Bang Givan ngerasa dibedakan dengan kita, khususnya aku. Dia sengaja hancurin Canda, biar aku hancur juga. Aku yakin itu, dia pengen aku gila gara-gara tindakannya yang tak langsung lukain aku." ungkap Ghifar yang membuat Adinda tak percaya.
Adinda menghapus air matanya kasar, lalu ia mengusap keringat yang membasahi dahi anaknya.
__ADS_1
"Semua tuduhan terarah ke Givan. Kau tau sesuatu? Tapi kenapa kau diam aja selama ini? Canda tertekan berat. Anak orang dibuatnya trauma, gara-gara tindakannya." sahut Adinda kemudian.
"Bang Givan abang aku, sedangkan Canda cuma orang lain yang kebetulan mikat hati aku. Abi sengaja buka kasus, meski tau pelakunya. Terus aku mesti gimana, Mak? Saat dia dipenjara, pasti aku yang dituduhnya. Tali persaudaraan kita pasti renggang, setelah dia kena tangkap polisi nanti. Aku bingung, Mak. Aku tak tau, aku mesti gimana. Aku tak terima Canda diperlakukan macam itu, tapi aku tak mau bang Givan ngerasain dinginnya jeruji besi." balas Ghifar dengan tangis tertahannya.
Ia bukan Adi, yang nangis meraung-raung karena istrinya. Ghifar hanyalah seorang anak, yang begitu tertekan dengan semua kejadian yang begitu mengubah dunianya tersebut.
"Bang…." panggil Adinda, dengan menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka tersebut.
"Ya, Dek." Adi menyahuti dengan segera memenuhi panggilan istrinya.
"Ini, kasih ke bang Haris. Minta dia proses." balas Adinda dengan menyerahkan ponselnya, yang ternyata masih mengakses perekam suara tersebut.
"Tapi, Mak…" cegah Ghifar dengan mencekal lengan ibunya. Namun, sayangnya ayahnya sudah berlalu pergi dengan membawa ponsel Adinda.
"Udah, kau nangis aja dulu. Biar Givan polisi yang urus." balas Adinda yang membuat pupil mata Ghifar menciut seketika.
Bayangan kakaknya yang memandangnya dengan penuh benci, bersatu dengan pandangan mata Canda yang begitu pilu mendapat perlakuan kasar yang merusak jiwa dan raganya.
Tanpa diduga, Ghifar ambruk kembali saat Adinda hendak meninggalkannya.
"BANG… GHIFAR PINGSAN LAGI." teriak Adinda begitu nyaring terdengar ke seluruh penjuru rumah.
Kinasya langsung mematikan kompornya, lalu berlari ke kamar yang Ghifar tempati. Setelah dirinya mendengar suara yang ia kenali sejak kecil tersebut.
"Minta ruang, Mah." ucap Kinasya begitu melihat Ghifar yang terkulai lemas.
Dengan perlahan, Kinasya yang cukup terlatih langsung memberikan pertolongan pertama pada Ghifar.
"Drop kali dia, Mah. Dirujuk aja biar dapat infus, dia butuh nutrisi, dia butuh makanan." ungkap Kinasya, setelah mengecek beberapa bagian tubuh Ghifar.
"Papah ke mana, Mah?" tanya Kinasya, dengan rasa panik yang tiba-tiba menghampirinya.
"Nyusul abi kau keknya." jawab Adinda, dengan menghampiri anaknya yang tergeletak di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Aku panggil ambulance aja deh. Tak ada yang angkat Ghifar ke mobil." ucap Kinasya dengan keluar dari kamar tersebut, untuk mencari keberadaan ponselnya.
......................