Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS102. Rencana menjenguk


__ADS_3

"Abang umpamain dia diajarin masak, terus jadi chef. Tapi malah jadi kuli bangunan, kek mana Abang ini?" tanya Adinda yang membuat Adi dan Giska terkekeh geli, karena melihat reaksi wajah ibunya yang terlihat begitu lucu.


"Tak jelas betul Papah kau ini, Giska!" lanjut Adinda terdengar seperti menggerutu.


"Tapi dia udah ada tanah, udah ngumpul sembilan mayam juga. Kemarin lagi ngobrol-ngobrol masalah jeulame. Terus Farid datang, Adek bilang 50 mayam itu. Keknya dia tersinggung, atau merasa tersaingi deh. Soalnya feeling Abang kek gitu, Dek. Timingnya pas, dari kejadian itu. Giska bilang Zuhdi susah dihubungi, terus barusan bapaknya ngelabrak Abang." jelas Adi, dengan Adinda merespon menganggukkan kepalanya.


"Terus gimana lagi?" tanya Adinda, kemudian ia menyeruput teh manisnya.


"Tamat. Sekian dan terima kasih." jawab Adi yang membuat Giska tertawa kembali.


"Tak jelas memang Papah kau ini, Giska! Tak ada niat kah kau, buat ganti Papah?" tanya Adinda pada anaknya, yang mendapat lemparan tutup toples dari suaminya.


Adinda tertawa puas, "Abang mau nikahin anak yang nemplok terus sama Abang begitu? Abang yakin? Nanti dia pas diunboxing suaminya, apa tak ikut repot Abang?" ucap Adinda membuat Adi terkekeh geli.


"Dari kemarin Abang takut Adek ngamuk, makanya diem aja. Nyari jalan keluarnya sendiri. Ehh, kau malah ngelawak sekarang. Tak bisa ditebak betul Mak kau ini, Giska! Tak ada niat kah kau, buat ganti Mak?" tutur Adi dengan nada bicara seperti istrinya tadi.


"Memang kau mau nikah, Giska? Mau kau sama abang-abang yang kemarin itu?" tanya Adinda, dengan beralih memperhatikan anaknya.


Giska terdiam, tentu ia merasa malu untuk menganggukkan kepalanya.


"Tergantung abangnya sanggup tak, Mah. Aku takut gila, kalau berharap terlalu lebih. Masalahnya... Harapan aku ada sama dia, bukan sama Papah. Pasti dikasihnya kalau sama Papah. Entah aku minta uang, atau minta barang, pasti bisa Papah menuhin. Nah, ini kan anak orang yang aku harapin. Anak orang, yang tak tau mampu taknya menuhin harapan aku." ungkap Giska yang membuat Adi tersenyum kecut.


"Anak Dinda! Ketimbang bilang mau aja, mulut kau berbelit-belit betul!" ucap Adi yang membuat Adinda terkekeh geli.


"Berapa Abang buka?" tanya Adinda, saat Adi tengah meniup-niup tehnya.


"Buka 30 mayam sebetulnya. Tapi itu bisa berubah, kalau ada tawaran tertinggi." jawab Adi, kemudian ia menyeruput tehnya.


"Ihh, Papah. Memang aku barang lelangan?" sahut Giska, yang membuat Adi merasa geli sendiri dengan obrolannya dengan istrinya barusan.

__ADS_1


"Aslinya 57 mayam, Giska. Tapi laki-laki kau udah sekarat dulu, sebelum dirinya nyanggupin. Terus Papah harus gimana? Mana anak Papah nampaknya udah suka betul sama barang besarnya." celetuk Adi, yang membuat istrinya membulatkan matanya.


"Abang tuh ngomongnya jangan mesum aja!" ketus Adinda kemudian.


"Memang Papah udah liat? Kalau bang Adi punya besar?" pertanyaan polos Giska, yang membuat Adi dan Adinda terbahak-bahak.


"Rata-ratanya... Orang berhidung besar, pastinya besar juga. Bang Ghifar, bang Ghava, bang Ghavi. Dari sepengetahuan Papah, ngurus mereka, sampek mereka punya rasa malu sama inti tubuhnya. Ya... Mereka punya besar-besar. Beda kalau bang Givan, dia cenderung panjang dan besar kepalanya aja. Karena orangnya tinggi, lebih tinggi dari anak-anak Papah yang lain." jelas Adi yang membuat Giska menerawang jauh.


"Papah ngomongnya jorok betul, dosa loh Pah!" ujar Giska dengan melirik ayahnya.


"Kalau kau siap nikah. Yang begitu-begitu, yang kau tengok setiap hari. Ala-ala sok polos! Kok Papah curiga, kau udah macem-macem sama bang Adi kau itu." Giska yang merasa terpojokkan, langsung membuang wajahnya dan menyelipkan anak rambutnya ke samping telinganya. Karena hijab panjangnya merosot ke bahu Giska.


Dari gerak-geriknya, Adi dan Adinda bisa membaca. Bahwa anaknya memiliki suatu privasi dengan kekasihnya.


"Ok, nanti Papah jenguk bang Adi kau. Terus Papah paksa dia buat ngaku udah ngapain kau aja!" Adi memberi ancaman ringan pada anaknya, membuat Giska langsung menggeleng cepat.


"Aku cium-cium dia aja udah. Abangnya susah betul kalau diajak ngobrol, nanti diem lagi. Jadi aku isengin." akunya yang membuat Adi terbahak-bahak. Berbeda dengan Adinda yang langsung berdiri, kemudian memberikan anaknya tarikan pedas di telinga kiri Giska.


Adinda langsung beralih, ke sebelah suaminya.


"Tuh! Buah dari perempuan, yang suka bikin ng*ceng Abang. Adek kena karma dulu, yang digrebek terus dinikahin itu. Nih, sekarang anak gadisnya yang agresif ke laki-lakinya. Dapat Zuhdi cuek, dia yang malah nyosor duluan." ucap Adi, dengan melirik sekilas istrinya.


"Abang kenapa? Kalau aku isengin, malah tiba-tiba jadi buas?" pertanyaan yang terdengar konyol di telinga Adi.


"Betismu, betis padi. Dadamu yang berisi. P*kimu yang berbulu, berbulu jarang-jarang." Adi malah menyanyi, dengan sedikit menggoyangkan tubuhnya.


Adinda memukuli suaminya begitu manja, lalu memeluk tubuh Adi agak tak berjoget kembali.


"Dodol Abang tuh!" makinya, di sela pelukan posesifnya.

__ADS_1


"Ya Abang laki-laki. Dihidangin bentuk Adek. Macam mana tak buasnya? Pastilah Adek habis kena Abang. Konyol betul jadi orang!" ujar Adi dengan berbalik merangkul istrinya. Lalu menekan hidung minimalis istrinya.


"Gemes betul sama betina satu ini!" lanjut Adi dengan menciumi seluruh wajah istrinya begitu cepat dan tiada hentinya.


Adinda memberontak atas candaan suaminya, "Skincare mahal aku ilang, kena bibir Abang!" sewotnya yang membuat Adi terkekeh geli.


"Maaf ganggu, Mah. Itu bumbunya apa aja? Yang tadi disuruh, udah aku siapin semua." suara sopan, yang membuat mereka berdua langsung melepaskan pelukannya masing-masing.


"Ohh, iya. Biar Mamah yang lanjut. Kau awasi adik-adik kau aja, mereka lagi mainan balok susun di kamarnya." pinta Adinda yang diangguki oleh Canda.


"Kenyangin perut kau dulu, Canda." timpal Adi, sebelum istrinya dan menantunya berlalu pergi.


Canda menoleh ke arah ayah mertuanya, "Udah, Pah. Udah dari pagi." sahutnya yang diangguki saja oleh Adi.


Lalu Adi melanjutkan aktivitasnya menyeruput teh manisnya perlahan, dengan mengutak-atik ponselnya. Membaca berita terhangat baru-baru ini. Tak luput menjadi sasaran bacaannya, tentang pasar dunia yang sekarang tengah tidak stabil.


Dua jam kemudian, Giska mencari keberadaan ayahnya. Karena dirinya sudah bersiap dengan penampilannya.


"Pah, jadi tak?" tanyanya saat menemukan bayangan tubuh ayahnya, yang tengah memeluk ibunya di dapur.


Adi menghentikan aktivitas tangannya, yang tengah gemas dengan benda yang berada di balik baju istrinya. Dengan cepat Adi menarik tangannya dari dalam baju istrinya, saat derap langkah Giska semakin mendekat ke arahnya.


"Apa, Dek?" tanya Adi, dengan menetralisir rasa yang berpusat ke intinya.


"Katanya mau nengokin abang. Jadi tak sih?" tanya Giska, yang malah merasa kesal dengan keberadaan ayahnya yang tengah mengganggu ibunya di depan kompor tersebut.


Adi menghela nafasnya, lalu menarik kursi makan untuk ia duduki.


"Memang......

__ADS_1


......................


Sepengalaman aku... suami ini memang hobi gangguin istrinya, kalau ada di rumah. 😆


__ADS_2