Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS210. Alasan di balik kepergian Ghifar


__ADS_3

"Anak... Key anak Bang Givan." ungkap Fira dengan pandangan bergulir pada Givan.


Mata Givan terbuka lebar, ia menoleh ke arah wanita di sampingnya. Canda tertunduk, aliran air matanya semakin deras terjatuh.


"Hari terakhir Abang datengin aku kala itu.... Lepas itu Abang bilang, kalau kiriman Abang tak pernah sampek lagi, tandanya Abang udah ninggalin aku, hubungan kita udah selesai."


"Aku tak tinggal diam, lepas tau kau benar-benar ninggalin aku Bang. Aku coba minum obat penggugur kandungan, aku tak mau anak aku lahir tanpa ayah. Tapi itu sia-sia aja, bayi kita kuat. Cuma... Oksigen yang masuk ke tali pusarnya begitu lemah. Itu masalah Key sejak dalam kandungan." tambah Fira kemudian.


"Aku bukan ibu yang baik. Cuma kau pasti paham, bahwa di provinsi kita, perempuan begitu dimuliakan. Aku... Aku belum pernah dimuliakan, tapi aib begitu besarnya ada di dalam perut aku. Bukan aku malu mengakui Key sebagai anak aku. Hanya aja, aku malu punya anak tanpa tali pernikahan. Harga diri aku di dasar jurang, aku tak pengen orang yang kenal aku tau aib aku ini." Fira masih memperhatikan reaksi wajah Givan.


"Tapi masa itu kau akan haid, Fir." Givan masih tak percaya akan kebenaran itu.


"Saat bulan-bulan sebelumnya, pas Abang sibuk sama kerjaan Abang. Aku adalah masalah sama tanggal haid, haid aku tak beraturan selama dua bulan. Yang berarti, tanggal di mana kita ngelakuin masa terakhir itu, itu tanggal subur aku." penjelasan Fira tak bisa membuat Givan mengelak.


"Nasib aku kek mana?" tutur Canda lirih, ia meremas roknya sendiri.


"Aku udah berjanji, buat tak akan pernah geser posisi kau. Bang Ghifar tahan aku di sana, semata-mata karena biar aku tak jadi pihak ketiga di rumah tangga kau." akhirnya, alasan di balik kepergian Ghifar sekian lama terbongkar sudah.


"Tau kek gitu. Kenapa setelah sekian lama, kau datang, buat ngerusak segalanya?" Givan bukanlah laki-laki yang tidak tahu terima kasih menurut Fira.


"Bang Ghifar rindu orang tuanya. Dia kata, tak ada batasnya untuk merantau, tapi umur orang tuanya ada batasnya. Kematian adalah ketentuan hidup. Ada kehidupan, pasti ada kematian juga." tegas Fira cepat.


"Percuma, Far." tandas Givan begitu menusuk.


"Mau sampek kapan aku tutupin, Bang? Masih untung, anak kau aku penuhi kebutuhannya. Aku ambil alih tanggung jawab kau. Semata-mata biar kau sama Canda baik-baik aja. Tapi, tuduhan lagi yang kau kasih ke aku. Aku udah capek, Bang." suara Ghifar bergetar.

__ADS_1


"Pa pah, Biii.... Yam nyam." anak yang berada di pangkuan Fira bersuara. Ia membelai rahang Ghifar, meminta seseorang yang ia anggap ayah itu untuk makan.


Ghifar menoleh, menyunggingkan senyum palsunya.


"Ya, nanti. Key aja tak mau makan tadi, nangis aja." sahut Ghifar kemudian


"Terus... Yoka sama Tika siapa kau, Far?" Adi menanyakan hal itu pada anaknya yang tengah mengobrol dengan si kecil itu.


Ghifar memandang ayahnya, kemudian beralih menatap wajah Yoka dan Tika.


"Orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Aku ceroboh masa itu, aku ngantuk, tapi aku masih bela-belain nyetir aja. Ini bekas luka yang aku dapat." Ghifar menyibakkan rambutnya yang menutupi dahinya.


"Aku kaget, aku udah banting setir ke pohon di samping kiri jalan. Aku ngehindar, mereka ngehindar. Tapi mobil orang tua mereka lagi laju. Mobilnya terbang, terus ngeguling. Terus berhenti dalam keadaan terbalik." Ghifar bercerita singkat, tentang kecelakaan yang ia alami.


"Masa aku sama orang tuanya lagi di ruang UGD. Orang tuanya kata, nitip.....


"Bli... Nitip Yoka sama Tika. Pastiin mereka dapat laki-laki baik, sering-sering tengok mereka. Mereka anak yang luar biasa butuh bimbingan, tolong jagain ya Bli?" ucap seorang ayah yang terluka parah.


Ghifar yang bermandikan darah saat itu, hanya bisa mengangguk pasrah. Luka sobek yang ia dapat di dahinya, mengucurkan banyak darah segar yang keluar dari dahi pemuda itu.


"Mereka cuma nitip, tapi kenapa kau bawa balik?" tanya Adinda, setelah mendengar cerita singkat dari anaknya.


Ghifar hanya meringkas cerita itu, ia tak ingin merumit dengan permasalahan Yoka dan Tika. Karena ia sendiri, yang mengambil keputusan untuk memboyong kedua gadis itu.


"Karena aku tak tega. Sejak denger kabar kecelakaan orang tuanya, asma Yoka kambuh, dia di rumah sakit lama. Tika... Dia nikah sama keris. Maksudnya... Suaminya tak ada." mereka terbingung-bingung dengan cerita mengenai Tika.

__ADS_1


"Jadi di sana ada adat, di mana kalau laki-lakinya berhalangan datang, atau meninggal sebelum upacara pernikahan. Bisa digantikan dengan keris. Tapi kasus aku... Laki-laki aku mau tanggung jawab, tapi dia tak mau pindah agama. Kami diajarkan, untuk berpegang teguh pada agama kami. Sedangkan laki-laki aku, dia tak mau pindah ke Hindu, dia pengen tetep meluk Islam." jelas Tika, karena terlihat meraka semua saling bertanya satu sama lain.


"Laki-lakinya, setiap datang nuntut kebutuhan biologis ke Tika. Aku kurang paham pasti, mereka suami istri atau bukan. Tapi dari cerita Tika, Tika ngerasa keberatan dengan ayahnya anaknya. Aku tak suka sama sikap laki-laki itu. Jadi... Aku boyong Tika sama Yoka ke rumah aku yang di sana. Di sana Tika sama Yoka dalam pengawasan aku setiap saat." tambah Ghifar menjelaskan hal itu.


"Jadi... Anak Tika, bukan anak kau?" Ghifar memberi anggukan, atas pertanyaan ibunya barusan.


"Sekarang, Yoka minta lanjut pendidikannya yang sempet cuti. Kemarin aku tahan-tahan, karena uangnya mau aku pakek buat nikahin Ghava Mah, Pah." pandangan kaget bergulir ke arah Ghava, yang duduk di kursi plastik.


"Bentar dulu..." Adi terdiam dengan mengangkat satu tangannya. Ia butuh untuk mencerna ini semua.


"Gini deh, masalah Key kek mana?" Adi ingin menuntaskan beban yang dipikul anaknya seorang diri. Adi merasa kasihan, pada Ghifar yang harus menghidupi mereka semua.


"Aku tak masalah sama Key. Cuma... Kalau Bang Givan mau jandakan Canda, aku ambil juga pilihan itu. Biar anak-anaknya aku yang besarin, karena aku tak mungkin bisa punya anak." ungkap Ghifar kembali memandang perempuan yang menangis menunduk itu.


Sebenernya, Ghifar hanya memberi gertakan saja pada Givan. Ia tidak benar-benar ingin mengambil jandanya Canda. Kembali pada Canda, sudah bukan tujuannya lagi.


Givan menoleh ke arah istrinya, merangkul pundak istrinya. Kemudian tangan yang lain, ia gunakan untuk menggenggam tangan Canda.


Matanya bergulir pada Ghifar, kemudian beralih pada Mikheyla yang tengah bermain ponsel dengan menggigit jarinya sendiri. Kebiasaan jelek Mikheyla, ketika sedang tidak ada kesibukan.


"Key anak aku, aku.....


......................


Jadi Canda mau dijandakan kah?

__ADS_1


__ADS_2