
"Terus kau sering minta Zuhdi anter jemput?" tanya Adinda, setelah menyimak cerita anaknya.
Giska menggeleng, "Tak, Mah. Cuma lancar chatting aja, tapi bang Adi tak pernah chat dulu sampek sekarang juga. Katanya takut ganggu pendidikan aku, takut ganggu fokus aku." jawab Giska kemudian.
"Terus lepas itu kau pacaran sama bang Adi?" ungkap Ahya, membuat Adinda dan Giska menoleh padanya.
"Belum juga. Selang beberapa bulan, dia......
"Giska, ada paket." seru Icut, tepat di depan pintu kamar Giska.
Giska buru-buru keluar, dengan menutup rambutnya dengan hijab pashmina.
"Belum diambil kah, Kak?" ujar Giska, yang digelengi oleh Icut.
Giska berjalan ke teras rumah, untuk menemui kurir yang menunggunya di teras rumah.
"Dari siapa, Bang?" tanya Giska, saat dirinya menemui kurir tersebut.
"Dari... Zuhdi. Satu daerah padahal ini, Kak." jawab kurir tersebut, sebelum dirinya menyerahkan paket tersebut pada Giska.
"Tanda tangan di sini, Kak."
"Udah dibayar ya, Kak. Mari Kak, permisi." ucap kurir tersebut, dengan mengantongi kembali buku kecil tersebut.
Giska memutar-mutar kotak tersebut, ia merasa heran dengan paket yang ia terima kali ini.
"Bang Adi ngirim apaan sih? Deket juga, sampek dipaketin." gerutu Giska dengan berjalan kembali ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, Giska langsung membuka kotak tersebut. Ia mengerutkan keningnya, saat melihat isi kotak tersebut.
Giska mengalihkan pandangannya, pada secarik kertas yang terselip di antara barang-barang tersebut.
{Semoga Adek sudi, kelak nanti Abang yang jadi imam rumah tangga kita. Abang tak terima penolakan, lebih baik Adek pakek itu buat lima waktu Adek. Doain, semoga Abang bisa halalin Adek secepatnya.}
Tulis Zuhdi, yang membuat Giska menggigit bajunya.
"Kode apa ini? Seperangkat alat sholat dibayar tunai?" ucap Giska. Setelah menyadari isi kotak tersebut berisi mukena, sajadah, tasbih dan Al-Qur'an.
Lalu Giska mencari ponselnya. Ia mengambil gambar barang yang baru ia terima tersebut, kemudian mengirimkannya pada Zuhdi.
[Udah sampek, Bang.]
[Makasih.]
[Jadi, ini ceritanya kita pacaran gitu?]
__ADS_1
Tak lama, balasan dari Zuhdi ia dapatkan.
[Sama-sama, Dek.]
[Bisa dibilang kek gitu.]
[Abang tak mau ditolak, Dek. Nanti patah hati Abang.]
😢
Giska cekikikan sendiri. Ia merasa campur aduk dengan hatinya sendiri.
🤭
[Ya udah deh.]
[Baksonya udah nungguin kita dari tadi. Katanya Giska sama Bang Adi kapan datang, buat ngebakso katanya.]
[Siap, Dek.]
[Nanti Abang jemput di rumah. Sekalian mau minta izin sama calon mertua.]
Nafas Giska seolah tersangkut di tenggorokannya, saat mendapati balasan seperti itu dari kekasihnya.
[Kita backstreet dulu aja, Bang. Aku belum berani ngaku pacaran. Karena masih dilarang sama mamah papah.]
"Terus gimana? Masa mau sembunyi-sembunyi, itu beresiko buat Abang. Keluarga Adek berpengaruh di sini, pasti Abang disalahkan mereka kalau ngajakin Adek ketemuan di jalan." ucap Zuhdi seperti biasa, mengalun lembut di telinga Giska.
"Biar aku yang ke rumah Abang. Abang serius, coba Abang kenalkan aku ke mereka." sahut Giska kemudian.
Beberapa saat terdiam, yang Giska dengarkan hanya helaan nafas panjang dari kekasihnya.
"Adek malu kah? Karena Abang cuma kuli." celetuk Zuhdi yang membuat Giska menggeleng berulang, meski Zuhdi tak melihatnya.
"Tak macam itu, Bang. Cuma aku takut aja, soalnya dilarang pacaran dulu. Katanya... Kalau aku udah waktunya menikah juga, pasti ada laki-laki yang datang buat nanyain berapa mayam." ungkap Giska, mengenai alasan dirinya memutuskan untuk menyembunyikan hubungan mereka.
"Ya nanti Abang yang datang. Abang udah mulai ngumpulin emas, udah buka tabungan juga buat uang yang diminta nanti. Adek jangan mau, kalau ada laki-laki datang buat minang Adek. Adek tungguin Abang aja." sahut Zuhdi penuh harap.
"Ya, Bang. Nanti aku ke cek Lhem aja ya? Abang jemput aku di sana." balas Giska yang membuat Zuhdi menghela nafasnya kembali.
"Biar Abang jemput Adek. Abang tak tega, kalau mesti biarin Adek ke sini sendirian." ujar Zuhdi kemudian.
"Lebay tuh! Orang cuma beda RT aja!" ketus Giska yang membuat Zuhdi terkekeh geli.
"Ya udah, Abang tunggu di depan rumah cek Lhem ya?" tukas Zuhdi yang diiyakan oleh Giska.
__ADS_1
Lalu, mulai hari itu. Giska sering berkunjung ke rumah pak Salim, untuk bertemu dengan kekasihnya. Yang ternyata, letak rumahnya berada di belakang kediaman pak Salim.
"Kek gitu, Mah." ucap Giska, setelah menyelesaikan cerita tentang dirinya dan Zuhdi.
"Kok singkat betul waktunya. Waktu sama aku, kita temenan aja lama kali. Tapi pas punya hubungan, cuma hitungan bulan aja. Lepas itu, jadi mantan, dia kek tak kenal aku lagi." ungkap Ahya, dengan menatap dedaunan yang tertiup angin.
Giska melebarkan matanya, ia tak percaya dengan yang ia dengar barusan.
"Akak mantannya bang Adi?" tanya Giska cepat.
Ahya menoleh ke arah Giska, lalu mengangguk mengiyakan.
"He'em, pacaran 6 bulan. Terus Akak diputusin sama bang Adi." jawab Ahya kemudian.
Nafas Giska memburu, amarahnya memuncak di pelupuk matanya. Giska bergegas menuju kamarnya, lalu ia mencari ponselnya.
Ia merasa dibodohi oleh kekasihnya sendiri selama ini. Ia merasa tidak berperasaan pada kakak sepupunya, setelah ia mengetahui kenyataan itu. Ia berpikir, Zuhdi sengaja menjalin hubungan dengannya. Hanya untuk membuat panas hati Ahya.
Giska mencari nama abang di kontak ponselnya, lalu ia melakukan panggilan dalam aplikasi chat.
"Ya, Dek. Gimana?" ucap Zuhdi, setelah mengangkat panggilan telepon dari kekasihnya.
"Aku minta putus!" ketus Giska yang membuat Zuhdi kebingungan di seberang sana.
Bukan putus hubungan cintanya yang terlintas di pikiran Zuhdi. Tetapi, waktu yang Zuhdi putuskan untuk waktu pertunangan mereka.
"Abis ashar keknya waktunya pas, Dek. Coba tanya mamah sama papah." sahut Zuhdi yang membuat Giska semakin meledak.
"Aku mau hubungan kita putus! Tak usah dilanjut! Apa lagi tunangan!" ujar Giska, yang langsung membuat Zuhdi merasa dingin di ujung tangan dan kakinya.
"Nanti lepas maghrib Abang ke rumah." tutur Zuhdi, kemudian ia langsung mematikan sambungan teleponnya.
Ia merasa amat bingung, dengan ucapan kekasihnya barusan. Bukannya dirinya dan Giska sepakat untuk bertunangan dan menikah, tapi kenapa Giska malah memutuskan hubungan mereka mendadak?
Zuhdi mencari keberadaan cincin dalam kotak beludru berwarna merah gelap. Kemudian, ia membuka kotak tersebut setelah menemukannya.
'Apa Giska tak cocok sama model cincinnya? Tapi ini kan pilihannya sendiri.' gumam Zuhdi, dengan membolak-balikkan cincin tersebut.
Zuhdi menyimpan kembali cincin tersebut, lalu dirinya membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan kasur tipis tersebut.
"Aku sanggupi jeulame sama uang yang di luar nalar itu. Tapi kenapa Giska tiba-tiba berubah pikiran?" Zuhdi bertanya seorang diri, dengan memandang plafon kamarnya yang terbuat dari kulit bambu.
"Lama betul adzan maghrib. Tak cepet tuh, terus aku mau minta penjelasan Giska." gerutu Zuhdi, dengan bergegas bangun dari posisinya. Lalu ia membenahi sarungnya, juga meraih sajadahnya dan ke luar dari rumah tersebut. Berniat menuju ke musholla setempat, kemudian langsung bertolak ke rumah juragan di daerahnya.
......................
__ADS_1
Kadang suka lupa nerjemahin ya 🙏
*Jeulame, mahar.