
"Kalau kau nyangkanya kek gitu, Bang. Udah aja jandakan istri kau, biar aku yang muliakan. Aku tahan-tahan pulang, aku bela-belain ngemban tanggung jawab tuh biar Canda bahagia sama kau. Biar rumah tangga kau adem, biar rumah tangga kau tanpa campur tangan pihak ketiga. Jangan sia-siakan pengorbanan aku selama ini, Bang." ungkap Ghifar dengan telunjuk yang terarah ke Givan.
"Maksud kau apa? Bilang aja memang kau belum bisa move on, makanya kau tak balik-balik." sahut Givan dengan alis mengkerut.
"Telpon Fira, Tik. Suruh dia ke sini sekarang juga." pinta Ghifar, dengan menyentuh pundak Tika.
"Paling satu jam, perjalanan dari rumah orang tuanya ke sini." lanjut Ghifar kemudian.
"Jangan nambah-nambah rumit keadaan ya, Far. Segala kau bawa-bawa Fira dalam permasalahan kita."
Givan berdiri, hendak berjalan ke arah Ghifar.
"Bilang aja, kau memang nidurin Canda pas kau awal balik ke sini!"
Ia mendekati Ghifar, kemudian menarik lengan Ghifar untuk berdiri.
"Kau kotor, Far! Cara main kau jorok betul!!!"
Semua orang ikut berdiri, mereka ikut paniknya saja.
Tika dan Yoka beringsut dari posisinya. Berbeda dengan Kinasya yang malah mendekati kedua kakak beradik itu, ia khawatir hal tak terduga menghantam salah satu dari mereka.
Adi pun berjalan mendekati anaknya, ia ingin menengah-nengahi anaknya.
Adi langsung menghempaskan tangan Givan, yang masih mencengkram lengan adiknya. Ia tak ingin salah satu dari mereka terluka, karena saudaranya sendiri.
"ABANG KAU TAK SUBUR, FAR. DARI AWAL PERNIKAHAN, DIA TAK BISA ABANG HAMILI. TERUS... LEPAS KAU DATANG, TIBA-TIBA DIA HAMIL. KAU BISA BERPIKIR KAN?" mereka tak menyangka, bahwa Givan malah membeberkan aibnya sendiri.
Ghifar masih terdiam, ia tidak terkejut sedikit pun. Ia sudah mengetahui hal itu.
__ADS_1
Givan terisak, ia menunduk memperhatikan garis lantai rumah itu. Menurutnya tidak ada yang lebih buruk, dari pada mendengar kabar kehamilan istrinya dengan orang lain. Tepatnya, adiknya sendiri.
"Kita udah baik-baik aja, Far. Terus kau datang, dengan kabar kehamilan Canda. Kau tak puas kah Far? Segala-galanya kau menangkan, segalanya kau kuasai. Tapi tolong, jangan istri Abang juga Far." ungkap Givan begitu menyentuh hati.
Canda dan Adinda saling memeluk, mereka tak kuasa menahan tangisnya. Mencoba mengerti perasaan Givan, tatapi malah menyakiti kebenaran yang ada.
"Kau coba tanyakan sama istri kau sendiri, kalau kau tak percaya sama ucapan aku."
"Aku benar-benar tak nyentuh istri kau sedikit pun. Jangankan bersenggolan, tegur sapa pun aku menghindarinya. Bukan karena aku gagal lupain istri kau. Tapi aku sadar, aku sama istri kau memang punya masa lalu yang harus diberi jarak. Kau paham aku sama dia tak menghendaki perpisahan kita dulu. Bukan karena rasa itu masih ada, tapi lebih karena aku canggung sama istri kau. Aku belum bisa nganggap dia kakak ipar aku."
Ghifar mencoba menjelaskan dengan hati. Agar kakaknya tidak semakin menjadi menuduhnya.
"CANDA BELUM BISA LUPAIN KAU!!! DI MIMPINYA.... NAMA KAU YANG SELALU DISEBUT! KAU DATANG, DIA TERGODA, ITU WAJAR, KARENA KALIAN BELUM SELESAI!!!" Givan semakin menjadi-jadi, badannya terguncang karena tangisnya yang tidak biasa.
Ia terduduk lemas, kemudian sang ayah mencoba menenangkannya. Dekapan kecil dan tepukan pelan, Givan rasakan dari ayah sambungnya.
Ghifar memperhatikan satu persatu manusia yang ada di sini. Ia benar-benar tersudutkan, ditambah lagi tidak ada pihak yang membelanya.
"Far...." panggil ibunya.
Ghifar menoleh, ia mendapati wajah kecewa dari ibunya.
Pikirannya bertambah kacau, ia tak menyangka ibunya mempercayai ucapan kakaknya.
"Gimana caranya aku hamili Canda, sedangkan k*jantan*an aku tak bisa berdiri. Gimana caranya m*ni aku bisa membuahinya, padahal sama sekali tak pernah keluar dengan kendali aku." ungkap Ghifar dengan memandang kedua orang tuanya silih berganti.
Ia tidak punya kata-kata untuk mengelak lagi. Mungkin memang jalannya, agar orang tuanya mengetahui keadaan seksualnya. Ia amat malu sebenarnya, tetapi itu tidak lebih buruk, dari mendapatkan tatapan kecewa dari ibunya.
Ia ingin ibunya memihak padanya. Apa lagi, dari tuduhan yang sangat kejam itu.
__ADS_1
"Jangan omong kosong, Far." Adi tidak percaya, dengan pengakuan anaknya. Itu adalah harga diri anaknya. Adi merasa Ghifar terlalu menjatuhkan harga dirinya, hanya untuk membela diri.
"Tanya Fira kalau tak percaya. Bentar lagi dia datang. Udah ditelpon kan, Tik?" Ghifar menoleh ke arah Tika, yang berada di pojok ruangan bersama Yoka.
Tika mengangguk, "Udah lagi perjalanan. Soalnya aku bilang Key sakit." jelasnya kemudian.
"Fira saksinya, dia juga ngebuktiin sendiri. Dua kali Fira coba bangkitin, dua kali juga aku merasa gagal jadi laki-laki. Malah... Yang kedua kalinya lebih fatal. Dari hari itu, sampek sekarang. Aku selalu mimisan, kalau lagi birahi, karena tak bisa aku ekspresikan." tambah Ghifar kemudian.
Ia teringat saat Fira menyelesaikan masa nifasnya. Normalnya perempuan dewasa, ia membutuhkan hal itu.
"Cobalah sekali lagi. Itu masih tak mungkin keknya, Bang." bujuk Fira, yang tengah membutuhkan seorang laki-laki. Namun, hanya Ghifar yang dekat dengannya. Apa lagi, Fira kini tak mau memperburuk keadaan dengan berpacaran kembali. Ia takut, nasib buruknya kembali memberinya anak tanpa ayah.
"Udahlah, dosa. Lagian aku udah tak bisa Fir. Butuh kek gimana juga, aku tak bisa nolong kau. Aku tersiksa nanti." Ghifar masih mempertahankan keimanannya.
Ghifar telah menceritakan pada Fira, akan pusakanya yang sudah tidak bisa mengacung kembali. Ghifar tak bisa memendam rahasia itu seorang diri, ia butuh jalan keluar.
"Kalau memang masih kek gitu, Bang. Aku temenin kau berobat. Biar kau tak terus-terusan nutup diri dari perempuan kek gini. Masa depan kau masih panjang, kau harus punya keturunan." tandas Fira dengan memeluk laki-laki yang terlihat tak terurus itu.
"Aku malu, Fir. Aku masih muda, tapi penyakit aku kek gini. Apa coba yang dokter pikir, pas lagi ngobatin aku." pikiran Ghifar yang memang selalu negatif.
Dokter sudah disumpah untuk hal itu. Dokter tak mungkin mengata-ngatainya yang bukan-bukan.
"Coba biar aku pastikan sekali lagi. Kalau memang tak bisa, kita cari jalan keluarnya sama-sama. Entah sih terapi sama tabib, atau kita ke dokter. Kita harus cerita ke bang Ken nanti, biar diarahkan ke dokter yang tepat." Fira masih tidak mempercayai perihal Ghifar seperti itu. Ia masih mengira, bahwa Ghifar memiliki beban pikiran yang berat. Membuat fokus Ghifar tak tentu arah.
"Biar aku coba." Ghifar membawa Fira untuk telentang di atas tempat tidurnya. Mengesampingkan Mikheyla yang tertidur dalam box bayi.
Pertama-tama, Ghifar memandang wajah wanita itu. Ia ingin membangkitkan minatnya terlebih dahulu. Pada wanita yang pertama kali mengajaknya berbuat mesum, wajarnya gaya pacaran anak muda. Namun, saat dulu. Mereka hanya saling menyentuh, tanpa melakukan hubungan se*sual.
"Rileks, Bang." pinta Fira dengan membingkai wajah Ghifar.
__ADS_1
......................