Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS271. Ekstra part


__ADS_3

"Masih siang, Yang. Masih banyak orang di rumah. Di kamar atas aja, masih ada orang tua aku lagi pada istirahat." Kinasya masih mencegah suaminya, agar tidak melakukan di siang hari ini.


"Udah halal ini, Yang." rengek Ghifar, yang masih memeluk istrinya dari belakang.


"Kepalanya aja deh." tambah Ghifar yang masih mengusahakan haknya.


Tangannya pun tak tinggal diam, bergeliya menjelajahi pegunungan kembar milik istrinya.


"Jangan sakit-sakit ngeremesnya, Yang!" Kinasya melepaskan tangan suaminya yang tidak mau diam itu.


"Salah lagi! Orang cuma gitu-gitu aja tak boleh." Ghifar langsung murung, kemudian langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur penuh kelopak mawar tersebut.


Kinasya menghela nafasnya, saat melihat suaminya yang marah seperti anak kecil.


"Bukan tak boleh." Kinasya bergerak mendekati suaminya.


Ia duduk di tepian tempat tidur, dekat suaminya merebahkan tubuhnya.


"Mau sekarang?" tanya Kinasya kemudian.


"He'em." Ghifar malah memunggungi istrinya.


Kinasya tersenyum samar, melihat punggung telanjang suaminya.


Perlahan ia dekatkan wajahnya ke punggung suaminya. Ia menjejakkan ujung lidahnya, kemudian memberi kecupan kecil di sana. Hal kecil, tetapi berefek cukup besar.


"Geli, Yang." Ghifar tersenyum sembari terkekeh, tatkala gigi istrinya menancap pelan di punggungnya.


Tangan Kinasya langsung meraba tengah tubuh suaminya, "Perlu kah aku servis? Tapi harusnya doa dulu." ujarnya dengan berulah lebih lanjut.


"Belum hafal." aku Ghifar dengan tawa geli. Ia merasa malu sendiri, kala mengakui hal itu. Harusnya ia mempersiapkan doa untuk memulai hal tersebut.


"Biar aku bimbing. Ikutin ya...." Kinasya memulai doanya, dengan diikuti oleh Ghifar.


"Dah, ayo mulai." Ghifar begitu semangat menurunkan resleting celananya.


"Ayo, cepet. Nanti gantian." Ghifar langsung menundukkan kepala istrinya.


Ia begitu buru-buru dan tidak sabaran. Tidak seperti cara ayahnya memulai hal tersebut. Adi begitu perlahan, ia tak mau melewatkan satu jengkal tubuh istrinya. Tidak seperti Ghifar, ia rupanya sedikit egois dan terburu-buru.


Ghifar menyatukan rambut Kinasya, agar kepala istrinya bisa ia atur.


"Dalam lagi, Yang. Mentokin!" Ghifar menekan kepala istrinya, agar ia bisa merasakan kerongkongan istrinya.


Setelah keinginannya terpenuhi, Ghifar segera menarik kepala Kinasya. Lalu dirinya langsung mengajak istrinya, untuk meluruskan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Wajah kau sampek merah, Yang." Ghifar mengagumi kecantikan istrinya.


"Nafas aku abis, untuk tak mati." dari wajahnya, Kinasya seperti tengah kesal.


Ghifar terkekeh kecil, kemudian memulai aksi amatirnya.


Ia cukup heran, kenapa istrinya begitu terlihat nakal dengan profesinya yang begitu mulia. Saat tubuh Kinasya tanpa balutan busana apapun, mata Ghifar langsung tertuju pada pusat perut istrinya yang bertahtakan berlian yang menarik penglihatannya.


"Aman kah, Yang? Perut kau lubangi kek gini?" Ghifar terhenti di tengah-tengah perut istrinya.

__ADS_1


"Aman. Piercing di tempat khusus tindik." ujar Kinasya dengan membelai lembut pelipis suaminya.


Ghifar segera menurunkan pandangannya, pada bulu-bulu halus di area segitiga itu.


"Bisa pesan motif singa tak? Pas dicukur kek gini. Jangan motif segitiga terbalik kek gini, udah banyak di film." ungkapnya dengan mengusap bulu halus itu.


"Cukur sendiri sana, bikin motif singa." Kinasya tidak mengerti, kenapa suaminya banyak berkomentar.


Tanpa ba-bi-bu, Ghifar begitu lahap menikmati ladang kacang tersebut. Ia seperti tengah kelaparan, begitu rakus dan terburu-buru.


"Duh, lupa lagi. Belum beli lubricant." Ghifar menyetarakan tengah-tengah tubuhnya.


"Kepalanya aja katanya, Yang." Kinasya menahan dada suaminya.


"Ya, batangnya malam." Ghifar hanya meyakinkan Kinasya saja.


Ghifar membasahi kepala batangnya, dengan cairan dari mulutnya. Ia menggeseknya begitu perlahan, ia mencoba menekan rasa tidak sabarnya.


"Pelan-pelan!" Kinasya mulai merasakan suaminya mendorong pintu masuknya.


"Yang...." Kinasya merengek seperti anak kecil.


Ghifar berhenti sejenak. Ia mengingat kembali tentang hari kemarin. Seingatnya, kepalanya baru masuk setengahnya saja seperti sekarang.


Ghifar tersenyum, tangannya terulur meraba dada istrinya yang terpampang hanya untuknya.


"Orang tak apa tuh, yang-yangan terus." Ghifar mencoba mengalihkan perhatian Kinasya.


"Ditahan itu, takut lebih masuk." Keringat dingin Kinasya bercucuran, karena menahan rasa sakit dan penuh pada pintu surga untuk Ghifar.


"Tak apa." Ghifar menurunkan pandangannya kembali pada benda tumpul miliknya yang menancap setengah kepalanya saja.


'Sekarang keknya. Kin pun lagi ngelamun.' Ghifar adalah laki-laki yang tidak bisa bermain rapih dan kurang pertimbangan.


Ia segera menyentakan pinggangnya, menikmati batangnya yang habis ditelan goa berselimut daging tersebut.


"AKHHHHH....."


Raungan dan teriakan Kinasya seperti dicabut nyawanya.


tok, tok, tok.


"Bungkam mulutnya pakek mulut kau, Far! Bodoh kau! Dibilangin tak nurut!" suara Givan di balik pintu kamar yang mereka tempati.


Terdengar suara Zuhdi terkekeh tertahan, untungnya waktu dirinya menuruti saran kakak iparnya itu.


Beberapa suara orang-orang yang panik, memenuhi ruang tamu tersebut.


Adinda mengira ada yang terjatuh, atau ada insiden kecil di ruang tamu tersebut. Ia teringat akan Ghifar kecil yang bahunya tertusuk pecahan beling, saat dirinya tengah menggelar empat bulanan mengandung Ghifar dulu.


Ghifar terdiam, tangannya membungkam mulut istrinya. Kinasya terlihat begitu kacau, air matanya terus mengalir. Karena merasakan pedih dan amat penuh pada intinya. Ia tidak bisa menjabarkan rasa yang ia rasakan. Ia tengah memaki suaminya dalam hati. Karena suaminya begitu amatiran, tanpa mau mengikuti saran yang ada.


"Ekhmmm, enak kali Yang." Ghifar tidak berani untuk menggoyangkan pinggulnya, lantaran ruang tamu begitu terisi banyak suara.


Ia membungkam punggungnya, untuk bisa meraup bibir istrinya yang bergetar karena tangisnya.

__ADS_1


"Maaf, hai. Jangan nangis dong." Ghifar mengusap-usap pipi istrinya.


Ia memperhatikan wajah Kinasya, yang masih penuh dengan air mata.


"La'ilaha ilallah." Kinasya dan Ghifar bisa mendengar suara Adinda begitu jelas.


Tok, tok, tok.


"Apa-apa tak, Kin?" suara Adinda berseru.


"Jangan jawab." Ghifar berbicara begitu pelan.


Kinasya mengangguk, ia memilih diam di bawah kungkungan suaminya.


"Susah Mah, udah aku bilangin tadi." suara Givan seperti tengah membela dirinya sendiri, karena disalahkan oleh ibunya.


"Ya udah lah!" Adinda mencoba menghiraukan rasa khawatirnya.


"Ditinggal tidur aja. Ngapain kau malah pada nungguin di ruang tamu?" Adinda terheran-heran pada anak dan menantu laki-lakinya.


"Disuruh beresin ruang tamu, Mah. Sama Ghifar juga, tapi dia melarikan diri." Zuhdi adalah jenis yang sama seperti anak-anaknya yang lain, mereka adalah tukang lapor yang baik.


"Ya udah nanti aja. Biarin suruh Ghifar selesaikan dulu sama Kin." mereka semua berbondong-bondong masuk ke kamar masing-masing, karena perintah dari ibu di rumah itu.


"Yang! Kau malu-maluin aku aja!" Kinasya menoyor kepala suaminya.


Ghifar tersenyum tanpa dosa, ia memamerkan giginya yang diselimuti oleh sisa asap yang mengendap dan meninggalkan warna kuning.


"Aku goyang ya?" kali ini Ghifar meminta persetujuan, karena inti mereka sedikit terbalut oleh darah segar hasil ketidaksabaran Ghifar.


Lama ia memandang wajah istrinya, ia mengharapkan Kinasya memberi anggukan. Karena dirinya sudah tidak bisa berdiam diri lagi, intinya menuntut rasa lebih dari sekedar menyelam saja.


Akhirnya Kinasya mengangguk. Ia percaya dengan teori dan pengalaman orang terdekatnya, yang pernah mengatakan rasa sakit itu akan diganti dengan rasa nikmat.


Cerita cinta mereka berakhir bahagia. Di mana pernikahan segera dilaksanakan, karena sang orang tua khawatir anaknya berzina lebih jauh.


Sejatinya cinta kepada pasangan, terselip na*su dan ambisi untuk mendapatkan satu sama lain.


Mereka tidak bisa bersikap layaknya kakak dan adik, meski orang tua mereka menekan keadaan untuk seperti itu pada mereka yang tidak memiliki hubungan sedarah. Mereka berharap kekerabatan tetap terjaga, meski kini kakak beradik angkat tersebut berubah menjadi sepasang suami istri.


Adi dan Adinda tidak bisa memaksa takdir anak-anak mereka. Ia hanya bisa berdoa dan mengusahakan, agar anak-anak mereka memiliki nasib dan takdir yang baik.


Kembali lagi pada diri mereka masing-masing. Adinda pernah mengalami kegagalan berumah tangga, membuatnya menjadi wanita yang rusuh terhadap lawan jenisnya. Rasa sakit hati pada laki-laki, berbaur dalam kepuasan dirinya untuk mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari mantan suaminya.


Adi pun tak kalah hancurnya, saat ia menyelesaikan masa hukumannya. Namun, tunangannya malah menikah dengan laki-laki lain. Rasa hambar dan tidak ingin menjalani hubungan dulu, malah menggiringnya untuk menikahi janda anak satu tersebut.


Apa yang mereka lakukan sejak muda, kini ia tuai pada anak-anaknya. Mereka hanya berharap, nasib buruk dan kegilaan mereka dulu, tak dirasakan anak-anaknya setelah ini.


Kita petik pengalaman berharga dari kisah kehidupan dalam novel ini. Penokohan dan nama dalam cerita ini hanya fiktif belaka. Namun, tertuang kisah kehidupan nyata bercampur dengan bumbu drama yang ditambahkan. Ini bukan hanya pengalaman salah satu pihak, atau kisah dari salah satu orang saja. Di kehidupan ini, semua yang kita lakukan akan berbalik pada diri kita sendiri.


Mohon maaf bila ada salah-salah kata, penulisan atau menyebutkan tempat. Sama sekali penulis tidak bermaksud menyinggung salah satu pembaca, atau pihak terkait. Kurang lebihnya, terima kasih sudah mau membaca dan mendukung penulis sejauh ini.


Wabilahi taufik wal'hidayah, wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatuh.


...T A M A T...

__ADS_1


Mohon dukungannya 🙏🙏🙏 Ayo kita lanjutkan cerita dari sini. Kali ini, kita akan membahas kisah salah satu menantu yang penuh duka ya 🙄 Siapa lagi, kalau bukan Canda Pagi Dinanti. Ayo langsung ketikan judulnya, dengan penampilan seperti ini.



__ADS_2