
"Boleh-boleh aja, tapi lebih baik jadi kerabat aja. Abi itu dokter, Ken dokter juga, Kin calon dokter. Kita yang tau diri, kita cuma tukang ladang, carilah yang pantas untuk kita. Biar kita tak diinjak-injak, tak dijadikan lap kaki aja." tutur Adi halus, karena ia memahami karakter anaknya tersebut.
"Tau begitu, aku dulu masuk fakultas kedokteran aja. Mana tau bisa dapat kak Kin. Berisiknya udah macam mak. Dari subuh tadi, dia udah ramai aja sama keluarganya. Ngeributin tukang sayur lewat belum, abis itu ributin masak nasi. Agak lamaan, neriakin suruh pada bangun sama sarapan. Persis mak kalau pagi. Sayangnya aku kemarin sore dimarahin mak habis-habisan, bikin aku enggan mau ijin pas malam tadi. Soalnya pasti lebih dimarahin, kalau denger aku keluar malam mingguan. Mana ke club lagi, udah habis aku sebelum pergi juga." tukas Ghifar, yang membuat Adi mengerti. Pantas saja, urat wajah istrinya terlihat berbeda sejak akan bertolak dari kota J semalam.
"Nyesel kan tak ambil pendidikan lanjutan? Belum terlambat. Kalau kau mau, minta abi urus pendidikan kau. Masalah biaya, biar jadi urusan abi sama Papah. Kalau sungkan ijin ke mamah, coba lapor ke Papah. Orang tua kau bukan cuma satu. Semarah-marahnya kita, kita tetap peduli sama kau Far."
"Gunain dulu uang yang ada. Kalau memang uang itu belum bisa bertambah, sedangkan kau perlu makan. Kau bilang ke Papah, nanti Papah transfer." ucap Adi, yang berniat menyudahi sambungan teleponnya.
"Memang Abang ada uang?" tanya Ghifar, membuat Adi langsung cekikikan sendiri.
"Tak punya juga. Nanti biar mak kau Papah yang lobi. Dicolek-colek, dirayu, dimanja sedikit juga. Udah pindah tangan dompetnya nanti." jawab Adi, yang membuat Ghifar menyunggingkan senyumnya.
"Tapi aku kepikiran terus omongan mak. Segala bandingin aku sama kembar. Biar aku usahain makan aku sendiri, Bang. Kalau memang aku tak bisa bikin uang aku bertambah, nanti aku kabari lagi." ungkap Ghifar kemudian.
Adi mengangguk reflek, "Ya udah, kalau itu mau kau. Jangan tersinggung, lagian mulut mak kau memang macam itu. Dulu maki-maki Papah seenaknya. Aku jijik sama abang, aku tak bahagia di dekat abang. Tetap sih, dik*lum juga sampek sekarang. Tetap sih, hari-hari dekat-dekat terus." ujar Adi yang membuat tawa keduanya pecah. Berbeda dengan Adinda, yang sudah mencubit kuat pinggang suaminya dari arah belakang tersebut.
Adi hanya meringis, menahan rasa cubitan yang istrinya berikan. Karena ia tak mungkin, berteriak karena hal itu. Bisa-bisa Ghifar mengetahui, bahwa ibunya berada di dekatnya.
__ADS_1
"Enak Bang dik*lum?" lontaran pertanyaan dari Ghifar, yang terdengar penasaran.
"Hmmm… macam berendam di air hangat. Rasanya itu sama, gitu-gitu aja. Kalau kau udah waktunya punya istri, bakal ngerasain juga. Tapi, asal kau tau aja. O*al se*s itu, lebih jorok dan kotor dari se*s biasa. Karena bakteri yang ada di dalam mulut perempuan kau, bisa berpindah ke batang kau. Terus batang kau masuk ke sarangnya, nanti malah bakterinya bangun rusun tuh di sarang batang kau. Jangan dikira ciuman tak menularkan penyakit juga. Dari muda, Papah pilih-pilih kalau ngajak ciuman perempuan. Karena ya begitu, tukeran ludah kan di situ. Kalau pasangan kau penyakitan, meski bukan penyakit seksual. Macam TBC, atau penyakit lainnya yang ditularkan lewat air liur. Kau bisa terinfeksi juga, meski cuma lewat ciuman. Makanya, jangan asal sosorin mulut betina. Jangan dianggap remeh, apa lagi kau udah masanya suka-sukaan sama perempuan. Papah bilang macam ini, karena sayang sama kau. Jangan sampek, kau yang dapat akibatnya. Percaya deh, laki-laki baik-baik hanya untuk perempuan baik-baik. Kenapa bisa begitu? Karena ruang lingkup laki-laki baik, bukan di tempat yang kotor. Pasti ruang lingkup laki-laki baik, dikelilingi perempuan baik-baik juga. Tak mungkin di masjid, ada minuman keras. Isinya pasti orang yang beribadah, sajadah, sama mukena yang disediakan. Kau paham kan maksud Papah?" ungkap Adi panjang lebar.
"Paham, Bang. Aku pun di dalam mimpi, macam ada yang bilangin tentang karisma seseorang. Katanya biar perempuan yang ngejar aku, jangan aku yang ngejar perempuan." sahut Ghifar, yang setidaknya membuat Adi tenang dan mempercayai anaknya.
"Itu juga bisa diandalkan. Papah ngaca nampak biasa aja, tapi beda di mata mak kau. Kurang lebihnya macam itu. Mak kau dulu, tak tau siapa papah, dari mana asal papah. Tapi main muji-muji aja, mana abang kau lagi yang ngasih tau. Banyak orang lagi, pas peluncuran novelnya mak kau." balas Adi yang teringat kembali akan dirinya yang terbawa perasaan, pada idolanya tersebut. Berniat membeli bukunya, juga meminta foto bersama sang idola. Adi malah dikejutkan oleh anak dari sang idola yang memberitahunya, bahwa ibunya mengatakan bahwa dirinya manis. Pujian kecil, yang membekas di hati Adi sampai sekarang.
"Hal kecil, terbawa sampek sekarang ya Bang?" ujar Ghifar setelah menyimak ucapan ayahnya.
"Ya iya, nyebrang samudera, naik turun gunung, jalan bermil-mil jauhnya, pasti aku naik pesawat juga buat ngejernya. Karena tak mungkin aku lakuin, logikanya macam itu." sahut Ghifar setelah tawanya mereda.
"Keluarga aku tak ada yang betul. Pantas aku betah betul jadi anak." timpal Giska, yang menciptakan tawa renyah kembali.
"Abang malah takut kau tak mau nikah. Karena kasih sayang kau terpenuhi dari keluarga kau." sahut Ghifar di seberang telepon.
"Nikah juga dong, tapi nanti tetap tinggal di sini sama Papah. Tapi nanti itu juga, kalah aku udah punya gelar sarjana. Biar jeulame aku agak mahal, pestanya juga meriah." balas Giska, yang membuat Adi menggaruk kepalanya yang tak gatal.
__ADS_1
"Yah, pasti nikah. Satu-satu, jangan berebut. Lagian kau urutan keenam, udah ngomongin nikah aja. Yang urutan pertama pun belum ada action." ujar Adi yang membuat Giska cekikikan.
"Ok, ok. Hana masalah. Udah dulu ya, Bang. HP-nya mau aku bawa nguli ahhh dulu." tutur Giska, dengan mengambil alih ponselnya dari tangan ayahnya.
"Ya, Dek. Nanti kalau Abang pulang aja, kau Abang tambahin uang saku. Sama dianter nguli ahhh-nya." tukas Ghifar yang membuat tawa Adi terdengar.
"Kuliah! Nguli ahhh, nguli ahhh apa sih? Tak ada yang betul ini anak." ucap Adi yang menciptakan tawa renyah kembali.
"Ya udah ya, Bang. Assalamu'alaikum…" putus Giska kemudian. Lalu Ghifar menutup panggilan telepon tersebut, setelah dirinya menyahuti salah dari adiknya.
......................
*Hana : Tidak/tidak ada
itu kan panggilannya diloudspeaker, jadi Giska bisa nyahutin juga.. aku coba up 2 ya, tapi sesuai kemampuan kuota 😅 mohon dukungannya.. like nya di 2 episode juga 😆 ngevote, hadiah jangan lupakan juga...
terimong geunaseh 🙏
__ADS_1