Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS223. Rencana untuk Zuhdi dan Giska


__ADS_3

****** Kisah yang panjang ini, bisa dipastikan bakal tamat sebelum 300 episode. Takut pembaca pada bosen bacanya 😅


"Maaf, Teungku haji. Akhir pekan kemarin, saya sama istri tak bisa datang. Ada halangan." tamu di rabu pagi ini, cukup mengagetkan sang tuang rumah.


"Teungku haji lagi." suara menggerutu Adi, dengan gelengan kepala berulang.


Pak Zuhri dan ibu Robiah tertawa samar, mereka lupa dengan Adi yang menolak dipanggil teungku haji.


"Masuk-masuk.... Mana Zuhdinya?" Adinda mempersilahkan tamunya untuk masuk ke dalam rumah.


"Zuhdi kerja. Katanya papah dek Giska tak ada bilang buat Zuhdinya datang juga." sahut ibu Robiah kemudian.


Orang tua Zuhdi sudah duduk, dengan ditemani oleh Adi. Sedangkan Adinda pergi ke dapur, untuk membuat minuman.


"Pak... Hari itu, pas Zuhdi di rumah sakit kan. Aku udah ada ngomong kan tentang perihal nilai, tentang nitipin Zuhdi juga. Kok kenapa, aku malah dapat kabar bahwa Zuhdi ini malah ada dekat sama mantannya lepas batal tunangan kemarin?" Adi langsung membuka bahasan mereka.


Pak Zuhri terdiam, memutar ingatannya saat berada di depan ruang inap Zuhdi dulu.


"Berapa pun nilai yang Zuhdi bisa capai, saya tak akan mempermasalahkan asal dari usaha dan kerja kerasnya." Adi memandang wajah serius pak Zuhri dan ibu Robiah.


"Asal....." Giska langsung menggenggam lengan ayahnya, ia takut syarat dari ayahnya begitu sulit.


"Kek mana, Pak?" ibu Robiah merasa amat penasaran.


"Zuhdi harus pandai jaga dirinya sendiri." Adi membuat tanda kutip dua dengan jarinya, mengisyaratkan bahwa itu adalah hal yang sensitif.


"Saya tak mau, dia ceroboh sebelum menikah. Bukan saya menuntut keperjakaannya, untuk putri saya. Tapi... Saya tak mau, Giska menjadi Adinda-Adinda yang lain." Adi menjeda kalimatnya, menghirup oksigen lebih banyak.


"Yang pernah ngerasain panasnya dimadu. Saya tak mau Giska ngalamin itu juga." lanjut Adi kemudian.

__ADS_1


Pak Zuhri mengangguk, "Insya Allah, saya pastikan Zuhdi tak demikian Pak." sanggup pak Zuhri begitu mantap.


Pak Zuhri memperhatikan istrinya yang tertunduk, ia seperti sungkan untuk mengatakannya. Apa lagi, mereka mengetahui bahwa yang Adi maksud adalah keponakan Adi sendiri.


"Zuhdinya sih, tak respon. Udah beberapa kali Ahya ke rumah, heran juga karena sebelumnya tak pernah main. Terus, Zuhdinya saya tegur. Jujur nih saya, Pak. Zuhdi jawab, kan aku udah tak ada hubungan, jadi aku bebas. Feeling saya, ini Zuhdi sama Giska bakal balik. Jadi tuh, saya nasehati anak saya. Zuhdi ngangguk, pikirannya jernih. Ya... Nyatanya pun, memang tak ada apa-apa sama Ahya. Cuma memang Ahya coba deketin Zuhdi lagi, karena dia kira janji Zuhdi dulu masih berlaku. Bisanya aku tau, karena kemarin Ahya main. Saya tanyakan itu tentang hubungannya, juga alasannya sering ke rumah. Dia kata, dia nagih janjinya Zuhdi dulu." Adi tak menyangka, keponakannya begitu sulit melepaskan Zuhdi.


"Kalau kek gitu ceritanya. Saya lepasin Zuhdi aja buat Ahya. Saya tak mau ada perang saudara." keputusan sepihak Adi, pasti akan menyakiti beberapa pihak. Ditambah lagi, kedua orang tua Zuhdi yang lebih mendukung Zuhdi dan Giska. Bukan dengan Ahya.


"Kita tanyakan ke Zuhdinya, kalau memang Bapak tak percaya kalau Zuhdi tak ngapa-ngapain Ahya. Saya jamin, masalah Ahya sering main itu karena janjinya Zuhdi dulu. Bukan karena dia udah diapa-apain Zuhdi. Anak saya orangnya tak begitu, Pak. Biarpun cuma kuli, sekolahnya tak tinggi, tapi pemahaman agama dan hukum di dalam agamanya, insya Allah dia ngerti Pak." pak Zuhri mencoba memihak dan mempertahankan posisi anaknya.


Adi manggut-manggut, sebetulnya pun ia sudah mengetahui hal ini.


"Terus... Kek mana Zuhdi ngusahain segalanya? Betul Bapak ikut campur tangan? Betul juga ada TV juga?" Adi seperti menguji orang tua Zuhdi juga.


"Kerja, dia merantau lepas gagal tunangan itu. Ya, saya tak tega tengok anak jungkir balik cari rupiah buat menuhin nilai. Meski udah gagal tunangan juga, Zuhdi tetap ngumpulin itu Pak. TV ada, hadiah katanya buat hadiah pernikahan nanti dari saudara. Tapi katanya mau dibawakan buat perlengkapan kamar aja." Adi menyimpulkan, bahwa calon besannya adalah orang yang jujur juga. Meski ia hanya melemparkan pertanyaan yang mudah, tetapi terselip maksud Adi di dalamnya.


Segera ia menghidangkan di atas meja tamu, lalu ia ikut duduk di sebelah suaminya.


"Kek mana, Dek? Kalau Giska sama Zuhdi dilangsungkan aja." tanya Adi tiba-tiba, cukup mengejutkan untuk pihak orang tua Zuhdi.


"Memang... Bapak sama Ibu nerima? Zuhdinya belum bisa menuhin nilainya." keterkejutan itu tumpah dari mulut ibu Robiah.


"Kan dari awal saya udah pernah bilang, nilai hanya untuk lihat kesungguhan Zuhdi aja. Bilang Zuhdinya, tak usah tambahin mahar. Udah kumpul segitu, segera wujudkan. Dia ada janji, kerja akhir-akhir ini buat menuhin maharnya Giska soalnya. Hasil kerjanya yang sekarang, buat pegangan pas acara aja. Bapak sama Ibu juga bisa nyebar undangan, tapi saya tak mau undangan yang terlalu banyak. Saya pun cuma ngundang sanak saudara, tetangga yang berdekatan, sama orang-orang terdekat saya aja. Mungkin sekitar seratus orang aja. Sekalipun pestanya besar, undangan jangan terlalu banyak. Aku sama istri tak bisa terlalu lelah, pengantin baru juga dilarang kelelahan."


Keputusan Adi membuat kedua orang tua itu lega. Akhirnya, usaha anaknya tak sia-sia. Doa mereka setiap malam, akhirnya membuahkan hasil yang baik. Anaknya direstui untuk meminang putri juragan tersebut.


"Rencana saya begini... Tiga hari sebelum pesta perkawinan, diadakan upacara meugaca atau boh gaca. Tapi yang pakek inai cuma Giska aja, Zuhdi tak perlu lah." kedua orang tua Zuhdi manggut-manggut setuju, karena seperti itulah adatnya.


"Terus... Persiapan ijab qobul. Ijab qobulnya di masjid terdekat aja." memang masyarakat sekitar, menggelar ijab qobul selalu di mushola atau masjid terdekat.

__ADS_1


"Tueng linto baro di hari yang sama kah, Pak?" tanya ibu Robiah kemudian.


"Ya... Lepas akad, langsung tueng linto baro. Jadi kan, Zuhdi nih langsung ke masjid buat akad. Giskanya saya sembunyikan, biar di pelaminan aja mereka ketemunya. Nah lepas akad, Zuhdi sama keluarga besarnya datang ke rumah buat antar Zuhdi. Nanti kan dari pihak kami hidangin idangan bu bisan. Siap makan, Zuhdi ditinggal di sini, sedangkan keluarga besarnya boleh pulang." Adi kembali mengutarakan keinginannya untuk pesta pernikahan pertama di rumahnya.


Pak Zuhri dan ibu Robiah saling memandang, seperti ada yang mengganjal di hati mereka. Namun, mereka seperti tidak berani untuk mengutarakannya.


"Kenapa Pak, Bu?" Adinda memahami perubahan wajah mereka..


Adinda menyenggol lengan suaminya, sepertinya ada kesepakatan yang memberatkan mereka.


"Apa, Dek?" Adi bertanya dengan suara pelan.


"Adat di sini kek mana sih? Keknya tak berkenan deh." tebak Adinda lirih.


"Maaf Bu, Pak. Saya.....


......................


Tuh, Adi ini bukan gila mahar ya... Dia ninggikan maharnya Giska, buat untuk melihat kesungguhan Zuhdinya aja.


Adi ini termasuk orang tua yang modern ya. Dia gak mau ngelangkahin adat, tapi kalian pasti bisa nyimpulin sendiri deh 🤭


*Meugaca, boh gaca : Malam inai.


*Tueng linto baro : Menerima laki-laki baru, atau menerima pengantin pria untuk disandingkan di pelaminan.


*Idangan bu bisan : Hidangan nasi besan.


Maaf kurang-kurangnya.. author bukan dari daerah Adi 😅

__ADS_1


__ADS_2