Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS132. Keputusan Adinda dulu


__ADS_3

Givan mencoba menenangkan adiknya yang menangis tersedu-sedu dalam pelukannya.


"Jangan nangis, ASI kau nanti sedikit. Airnya diserap habis sama air mata kau." ucap Givan, yang mendapat pukulan ringan di dadanya.


Icut terkekeh di sela tangisannya, ia memahami kakaknya yang tengah mencoba menenangkan dirinya.


"Ada masalah apa? Coba cerita, mana tau Abang punya solusinya. Abang memang bukan orang pandai, bukan orang baik, bukan orang yang bersih dari dosa. Tapi mana tau, bisa berguna nenangin hati kau." ujar Givan, dengan mengusap-usap surai Icut yang berwarna merah gelap dengan paduan warna ungu gelap.


"Bang...." Icut mendongak menatap wajah kakaknya.


"Hmm? Kiban?" tanya Givan, dengan menunduk untuk menatap wajah kacau Icut.


"Apa karena aku anak Maya, bukan anak Dinda? Sampek aku tak dapat keadilan macam Giska?" ungkap Icut, yang membuat Givan teringat kembali akan masalahnya dulu pada orang tuanya.


Ia tak mau Icut memiliki iri hati sepertinya. Ia tak mau Icut, mendapatkan akibatnya sepertinya. Buah dari berbagai dosa yang ia lakukan dulu, yang ia peralat untuk memancing orang tuanya agar menyeretnya pulang. Namun, malah berbalik membuatnya sulit untuk mendapat keturunan.


Tetapi, itu tepatnya karena kelakuannya yang sudah terlanjur terjun pada dunia malam. Ia terbiasa merasakan nikmatnya tubuh wanita, membuat otaknya menanamkan kebiasaan jelek tersebut sebagai kebutuhannya.


"Siapa sebetulnya ayah Hamerra?" tanya Givan lirih, dengan melirik anak Icut yang sudah terlelap di antara guling yang mengapitnya.


Icut merenggangkan posisi duduknya, ia tertunduk dengan memainkan jemarinya. Sejauh ini, ia menyimpan rahasia itu seorang diri. Ia tak berani mengatakan kepada siapapun, tentang identitas ayah dari anaknya.


"Aku ketauan mamah. Abang suruh jemput di rumah, Abang suruh nemuin aku di rumah. Mamah kata... Pacarannya di rumah aja, jangan di jalan." ungkap Icut, saat ia menemui kekasihnya di tempat yang sudah mereka sepakati.


"Abang belum siap buat nikah, Dek. Kalau kek gitu, Abang bakal diseret buat nikahin kau." sahut laki-laki tersebut.


"Mamah bilang boleh pacaran, asal di rumah. Gitu, Bang. Mamah kasih aku kelonggaran, mamah kasih aku izin, asal Abang ke rumah. Mamah tak suka, kalau ketemu di jalan macam ini." balas Icut, dengan menyentuh tangan kekasihnya.

__ADS_1


"Kalau di rumah, Abang tak bisa berkutik Dek. Paling kita cuma ngobrol aja, boro-boro...." ujarnya menggantung, membuat Icut memperhatikan laki-laki tersebut begitu lekat.


"Boro-boro apa, Bang? Jangan-jangan, Abang macarin aku. Memang cuma buat begituan aja, biar tak perlu jajan?" tuduh Icut, dengan pandangan mengintimidasi.


"Ya... Itung-itung punya j*bl*y pribadi." akunya, membuat Icut murka.


Plak....


Hantaman yang cukup kuat, mendarat di pipi kanan laki-laki tersebut.


"Aku tak mau Abang tau dia. Aku tak mau kenal lagi sama ayahnya Hame." tutur Icut lirih, dengan meremas daster dengan model busui yang ia kenakan.


"Berartikan... Memang laki-laki tersebut menurut kau, tak baik buat diri kau sendiri kan? Bukan karena kau anak Maya atau anak Dinda?"


"Dari awal... Pas denger cerita bahwa laki-laki kau ngelak buat tanggung jawab, terus nyuruh kau gugurin. Abang udah ngerasa, bahwa laki-laki bukan laki-laki baik-baik."


"Keputusan mamah bisa berubah, kalau waktu itu laki-laki kau tak minta kau buat gugurin. Karena beberapa kali, Abang bahas masalah kau sama mamah.....


Givan menoleh ke sumber suara, "Bawa motor, keluar sama Gibran." jawabnya kemudian.


Adinda mengangguk, lalu duduk di kursi yang tersedia.


"Capek ya, Mah? Sini kakinya aku pijitin." ucap Givan dengan menggeser posisi duduknya, untuk berada di dekat kaki ibunya.


"He'em, ini nih Van. Kalau malam suka kram kaki, pagi-pagi tuh kadang masih sakit aja." sahut Adinda, dengan menunjuk betis kaki kirinya.


"Jaga kesehatan lah, Mah. Udah tua, biar panjang umur. Kasian sama yang kecil, belum pada sunat lagi." balas Givan, dengan memulai memijat betis kiri ibunya.

__ADS_1


"Mana Mamah punya tanggung jawab sama anaknya Icut lagi, rencananya nanti mau dimasukin jadi anak Mamah di KK." tutur Adinda, dengan memperhatikan beberapa motor yang lewat di jalan depan pagar rumahnya.


"Keputusan Mamah udah bulat kah?" tukas Givan dengan memperhatikan wajah ibunya dari bawah.


"Masih segitiga sama kaki sebetulnya, Mamah bisa berubah kalau laki-lakinya tak minta gugurin." ungkap Adinda, yang teringat kembali akan pesan balasan dari kekasih anak gadis tertuanya.


"Udah berbuat zina, hamil, malah nyuruh digugurin. Misalkan kelak timbul masalah sama rahim Icut, Icut yang bakal nyesel berkali-kali lipat." lanjut Adinda, terlihat ia amat frustasi.


"Tapi Mamah di sini, seolah tega sama Icut sama bayinya juga." ucap Givan, yang membuat Adinda meradang.


"Tega mana sama yang nyuruh bayi itu buat digugurin? Mamah biarkan bayi itu tetap hidup, malah Mamah lindungi dengan kemampuan Mamah. Coba kau pikirkan, Bang. Icut tetap tinggal sama Mamah. Dia nanggung malu, dia nanggung stress, belum lagi dia pasti terus diusik ayah dari anaknya itu. Kalau dia kata, Mamah ungsikan dia biar Mamah tak malu. Itu jelas tak betul, Bang. Memang tetangga mana, yang berani langsung ngomong ke Mamah, nyela Mamah, karena punya anak hamil tanpa suami? Hujatan-hujatan pasti Mamah dapatkan, kalau Mamah masih aktif di medsos, hujatan pun pasti adanya di kolom komentar. Mereka mana berani, hujat Mamah langsung di depan muka Mamah."


"Mamah cuma pengen Icut ngandung, tanpa punya beban pikiran yang berat. Dia Mamah pindahkan, biar dia tak stress, tak diusik ayah dari anaknya. Dia tak mungkin malu, karena lingkungan baru dan orang-orang yang baru ia kenal."


Adinda menghela nafasnya, mengambil oksigen lebih banyak karena ia berbicara dengan cepat.


"Mungkin cara penyampaian Mamah salah, mungkin juga cara Mamah nampak begitu tega sama Icut. Tapi... Menurut Mamah, itu yang paling baik buat Icut. Hamil itu resikonya besar, menyangkut nyawa. Ditambah lagi, kalau Icut punya beban pikiran. Mamah tuh sayang sama dia, sama anak yang dikandungnya. Mamah pengen yang terbaik buat dia, buat keturunannya." lanjut Adinda dengan suara menurun. Ini titik kelemahannya, perasaannya.


"Mamah tuh kasian sama Icut. Ibunya begitu, nasibnya begitu. Kalau tak ngurus dari kecil, mungkin rasa sayang mamah ke Icut tak mungkin Mamah ratakan macam anak-anak kandung Mamah." ungkap Adinda, dengan suara bergetar.


"Ya, Mah. Aku paham maksud Mamah, aku ngerti perasaan Mamah. Mamah bukan tega, Mamah cuma pengen yang terbaik buat anak-anaknya." sahut Givan dengan tersenyum lebar pada ibunya.


"Kau ya yang ngurus Gavin sama Gibran, kalau Mamah sama papah tak punya umur panjang." ujar Adinda, yang membuat hati anak sulung tersebut mendadak melow.


"Jangan ngomong kek gitu lah, Mah. Mamah juga punya tanggung jawab buat ngurus cucu dari aku, sampek cucu dari Gibran." balas Givan dengan memeluk lutut ibunya.


Tangan Adinda terulur, untuk mengusap surai lembut anak sulungnya. Ia memanjatkan doa dalam hatinya, agar dirinya dan suaminya bisa mendapat usia yang panjang.

__ADS_1


......................


*Kiban : Gimana


__ADS_2