
"Udah ketebak, Bu." pangkas Adinda cepat.
"Udahlah, Dek." Adi menggenggam tangan istrinya.
"Kesel aku. Materi terus mentoknya." suara Adinda begitu pelan.
"Ya Udah. Jadi nanti Winda disirikan dulu ya? Lepas nikah, aku tarik Winda ke sini. Karena Ghava lagi nyelesaiin pendidikannya, dia lagi KKN. Harusnya dia bentar lagi wisuda macam Ghavi, tapi itu anak banyak cutinya." Adi segera memberi keputusan, agar tamunya lekas pulang.
"Tapi...." Adinda *******-***** pakaiannya sendiri, ia amat geram saat mereka sering mengucapkan sangkalan.
"Tak ada tapi-tapian. Udah dimaharin ya mesti ikut suami!" ketus Adinda dengan wajah kesalnya.
"Kalau Ghava tak ada di sini, buat apa dia ikut mertua?" celetuk ibu Zubaidah, kian membuat panas ruangan itu.
"Kami paham ya, Bu. Tentang tabiat Winda di kalangan masyarakat. Masih untung Ghava mau nikahin. Makan nangka, dapat bijinya Ghava tuh." Adi memahami, bahwa istrinya sudah tidak bisa menahan dirinya lagi.
"Nanti saya ke kediaman kalian, dengan Ghava. Udah malam, Bu. Gampang nanti lagi dibicarakan." usir Adi halus. Ia tak mengerti, kenapa obrolan dengan orang tua Winda pasti berujung pertengkaran.
"Oh, iya." pak Tarmidzi memahami maksud di balik ucapan Adi.
Kemudian mereka berdua pamit. Namun, Adinda tetap memasang wajah marahnya. Ia tidak ramah, seperti berhadapan dengan keluarga Zuhdi.
Adi merangkul istrinya, telapak tangannya mengusap-usap lengan istrinya.
"Udah manyunnya, bagus kok actingnya." ujar Adi dengan senyum manisnya.
Adinda langsung menginjak kaki suaminya, lalu mengeloyor pergi saat Adi tengah mengadu kesakitan.
"Hmmm.. rupanya lagi waktunya." Adi mengejar istrinya yang melarikan diri ke kamar.
Ghavi langsung mengencangkan volume televisi tersebut, saat mendengar suara kunci yang diputar dari kamar orang tuanya.
Wajahnya terlihat murung, entah memang ia tengah kelelahan.
"Sepi betul malam minggu." Kinasya muncul dari ruangan gym, keringat bercucuran deras di balik kaos longgar dan celana stretch panjangnya.
Ghavi melirik sekilas pada wanita tersebut, lalu matanya kembali fokus pada televisi.
"Pacaran yuk, Vi. Malam minggu nih." gurau Kinasya, dengan duduk di sebelah Ghavi.
"Aku tak terima bekas abang aku sendiri. Skandal betul isi rumah ini. Masa... Bang Ghifar, diduain Fira sama bang Givan. Terus bang Givan dapat istri kak Canda, bekas bang Ghifar. Kadangkala ada yang ngajakin aku pacaran, eh bekas cumbuannya bang Ghifar juga." ucap Ghavi terlihat begitu frustasi.
Kinasya syok, mendengar penuturan Ghavi barusan. Apa Ghavi mengetahui sesuatu? Ia ragu untuk menanyakan langsung pada Ghavi.
__ADS_1
Ghavi menoleh sekilas pada Kinasya, lalu senyum tipisnya terukir.
"Makanya... Kalau memang niat, pintunya ditutup rapat. Pintu kamar dia, sama kamar aku berhadapan loh Kak. Meski jaraknya cukup jauh juga, tapi aku bisa nampak jelas atraksi apa di dalamnya. Biarpun suaranya tak nyampek ke kamar juga, tapi aku punya spekulasi." jelas Ghavi kemudian.
Kinasya mengingat tata letak ruangan di lantai dua. Kamar Ghifar menghadap halaman depan, kamar Ghava menghadap ke samping kiri rumah, kamar Ghavi menghadap halaman belakang.
Benar saja.
Kinasya tak menyahuti, ia hanya terdiam sembari memainkan jarinya.
"Bang... Ada bang Farid." Ghavi melupakan adik-adiknya yang masih berkeliaran.
Baru saja ia berniat ingin naik ke kamarnya, untuk tidur. Meski tak dititipkan adik-adiknya, Ghavi tetap memiliki tanggung jawab pada adik-adiknya. Saat orang tua mereka, tidak bisa menjaga kedua adiknya itu.
"Mana Gibrannya? Suruh balik, udah jam berapa nih." Ghavi meninggalkan Kinasya sendirian, ia berjalan untuk menemui temannya yang menunggu di luar.
"Malam minggu, tak ada kawan. Ngapain aku di sini? Sama-sama kesepian macam di kontrakan." ujarnya dengan berjalan ke arah toilet yang berada di dekat pintu belakang.
Kinasya membersihkan tubuhnya, dari keringat yang membuatnya lengket tersebut. Tak lama, ia keluar dari kamar mandi dengan bau harum sabun mandi.
Ia menuju ke salah satu kamar tamu, yang terletak di samping kamar Icut. Di sana, ada beberapa barang-barang dan pakaian miliknya.
Ia memilih daster lurus, yang hanya mampu menutupi tubuhnya sampai di atas lutut saja. Seperti kebiasaannya, tanpa penyangga dada dan ia hanya mengenakan hot pants saja.
"Heh!!! Mentang-mentang anak tidur sama ma bapaknya, enak-enakan kau headset-an." suara Kinasya cukup mengagetkan Ghifar.
Ghifar menarik headset yang menyumpal kedua telinganya.
"Terus mau apa lagi memang?" tanyanya dengan memperhatikan Kinasya yang nyelonong masuk.
"Kau ini, tak belajar dari kejadian yang udah-udah." lanjutnya dengan memperhatikan Kinasya berjalan mendekatinya, dengan dada yang bergoyang.
"Aku butuh uang kau." Kinasya duduk di tepian tempat tidur, dengan wajah memelasnya.
"Duit lagi. Siang malam, tak pagi, tak sore. Duit terus." Ghifar segera menarik laci nakasnya.
Ia ingin Kinasya segera enyah dari kamarnya. Ia khawatir Kinasya kembali menyerangnya.
Tetapi... Bukan demikian. Kejadian yang terulang dua kali itu, itu adalah ulahnya yang direspon oleh Kinasya.
"Lagi, Far." ucapan Kinasya terdengar ambigu di telinganya.
Ia memperhatikan wajah Kinasya yang fokus pada uang yang tengah ia keluarkan dari dalam dompet. Rupanya Kinasya meminta uang yang lebih, bukan mengulang kembali kegilaan mereka.
__ADS_1
Otak Ghifar sudah tercemari.
Dari awal memang Ghifar amat tertarik pada perawakan Kinasya. Ditambah lagi, sekarang dirinya mengetahui kelihaian Kinasya.
"Satu juta setengah. Aku cuma nyisain lima ratus ribu buat pegangan aku." Ghifar memberikan uang merah tersebut pada Kinasya.
"Ok." Kinasya menerima uang itu, layaknya penagih hutang.
"Selagi uangnya masih sisa, aku bakal masakin kau yang enak-enak." ujarnya dengan berbalik badan, kemudian melangkah sembari menghitung jumlah uang tersebut.
"Part belakang kau besar kali." tangan nakal Ghifar, meremas part belakang itu cukup kuat.
Kinasya menoleh dengan lirikan tajamnya.
"Kau tak tau kan? Mamah Dinda nusuk tangan orang pakek obeng, gara-gara part belakangnya diremas orang. Mau aku tusuk?" nada suara Kinasya seperti mengancam.
Ghifar terkekeh kecil, kemudian menarik tangan Kinasya yang mengacung ke arahnya.
"Kau aja sini yang aku tusuk." tawar Ghifar dengan menepuk tempat tidurnya.
Kinasya terkekeh geli, kemudian mengacak-acak rambut Ghifar.
"Macam bisa aja kau!" ujarnya yang membuat Ghifar tertantang.
"Bisa dong." Ghifar langsung merubuhkan tubuh Kinasya.
Tiba-tiba, Kinasya teringat akan ucapan Ghavi.
"Ehh, tunggu dulu." sisi mesumnya tengah mengerubungi pikiran warasnya.
"Tutup, kunci pintunya!" pinta Kinasya dengan menunjuk pintu kamar Ghifar yang masih setengah terbuka.
Ghifar mengurungkan niatnya untuk mengungkung posisi Kinasya, ia bergegas menuju pintu untuk menguncinya.
Awalnya mereka benar-benar tak ingin melakukan hal gila lagi. Namun, sisi lain dari mereka mengundang keminatan masing-masing.
"Aku mau di atas." Ghifar menarik ikat pinggangnya. Ia sudah bertelanjang dada, ia membuka ikat pinggangnya agar mudah saat ingin melepas celananya.
"Kau tak takut mati lemas lagi kah?" Kinasya mengangumi wajah Ghifar, yang sekarang ada di atasnya.
......................
Bahaya nih, udah sama-sama nyandunya 😟
__ADS_1