Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS260. Malam pertama


__ADS_3

"Sama aku aja, tak usah sama Ghifar."


Ghifar hanya bisa geleng-geleng kepala, saat Kinasya langsung memberinya larangan untuk menemani Tika USG terakhir.


"Kapan lahiran, Tik?" tanya Adinda, ia masuk ke dalam rumah dengan menggendong Hamerra.


"Sekarang udah tiga puluh enam minggu, Mah."


"Hah?" Adinda tersentak kaget. Ia belum memiliki persiapan apapun, untuk Tika dan bayinya.


"Bentar, Mamah ambil uang dulu." Adinda menaruh Hamerra di dekat sofa ruang keluarga.


Adi duduk menemani Hamerra. Anak Icut begitu cantik, wajah Icut turun ke anaknya.


"Far..." Adinda mencari keberadaan Ghifar. Yang dari suaranya, ia tengah berdebat dengan Kinasya.


"Antar Tika USG, yuk sama Mamah sekalian. Baliknya ke toko perlengkapan bayi." Adinda menjeda drama Kinasya dan Ghifar.


"Tak usah. Ghifar cerongo, Mah. Sama aku aja. Kau di rumah, jaga Key sama Memei." Kinasya menunjuk-nunjuk dada bidang Ghifar.


Ghifar terlihat begitu lelah, dengan Kinasya yang selalu heboh.


"Ya udah sana! Enak juga aku tak capek." ia melangkah menuju ruang keluarga.


"Tak jadi, tak jadi! Kau setirin, aku ikut."


Sayangnya Ghifar amat mencintai wanita itu.


Ia menoleh pada Kinasya. Ia bingung harus bagaimana dalam menyikapi sifat Kinasya yang baru ia ketahui ini.


"Tak jadi kah nikahannya, Far?" Adinda berjalan melewati Ghifar, untuk menunju ke kamarnya. Ia sengaja menggoda Kinasya.


"Enak aja tak jadi! Lusa kita nikah." mereka semua tertawa geli, Kinasya begitu takut melepaskan Ghifar.


"Ok siap." Ghifar tak mau memperpanjang drama kekasihnya. Ia hanya asal menyahuti, agar Kinasya mau diam.


Kemudian Ghifar duduk di sebelah Tika.


"Ngebet betul betina kau, Far." komentar Adi pada anaknya.


"He'em. Baru tau aku kalau dia orangnya kek gini." sahut Ghifar sembari menyicipi cemilan yang ada.


"Sayang...."


Ghifar memejamkan matanya, saat kepala kinaya muncul dari bahu kirinya.


"Baru berapa hari pacaran, Kin. Ya Allah, ya Rabb." Adi hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Sana ganti baju! Katanya mau ikut." suara Ghifar sedikit tegas pada Kinasya.


"Sayang tak sih? Ngomong tuh ngegas terus." Kinasya lebih mirip perempuan hamil. Ia begitu berisik, dengan mood yang gampang berubah.


Bukan hal aneh, Ghifar memiliki tutur yang lembut dan halus didengar. Meski wajahnya terlihat begitu sangar. Maka dari itu, Kinasya sampai menegur Ghifar yang berbicara sedikit tegas.


"Kalau tak sayang, tak mungkin aku ajak kau nikah. Udah sana tuh, cepet ganti baju." Ghifar hanya tak enak saja bermesraan di depan mata ayahnya.

__ADS_1


Ia bisa menahan untuk bermesraan di depan keluarganya. Namun, tidak dengan Kinasya.


Ghifar seperti salah memerintah. Karena kini Kinasya mengerucutkan bibirnya kembali.


"Kak Kin kena sawan gak sih, Bli?" Tika terheran-heran melihat tingkah Kinasya. Ia pun tak mengetahui, tentang hubungan Ghifar dengan Kinasya.


"Kau usap-usap perut kau. Takut anak kau kena sawan Kin." Adi terkekeh geli, bisa-bisanya Ghifar meledek Kinasya.


Setelah beberapa menit. Akhirnya mereka sudah duduk manis di dalam P*jero putih milik Ghifar.


Hamerra dan Mikheyla terpaksa diajak, karena Adi menolak untuk menjaga mereka. Adi lebih memilih menjaga Gavin dan Gibran saja, yang hanya perlu pengawasannya.


~


Malam telah tiba. Adinda begitu cemas pada Tika, karena bayinya sudah berada di posisi yang tepat. Usia kandungannya pun sudah menginjak usia kelahiran bayi itu.


"Ya, Tik? Ketok kamar Mamah aja, jangan sungkan-sungkan." Adinda kembali memberi pesan pada Tika.


"Iya, Mah. Tenang aja, aku pun gak mungkin ngejen sendiri."


"Mamah deg-degan sendiri soalnya. Kasus Mamah lahiran itu selalu bikin panik." Tika memahami kekhawatiran wanita yang paling baik dan paling mengerti akan dirinya tersebut.


"Mamah ke kamar dulu ya."


Tika mengangguk, ini sudah waktunya untuk tidur. Karena jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


"Tak mau aku. Udah aja, sakit."


Adinda mengerutkan keningnya. Samar-samar ia mendengar suara Giska yang seperti menolak sesuatu dengan tangisnya.


Namun, Adinda coba membiarkan hal itu. Menurutnya wajar, karena Zuhdi tengah mengusahakan malam mereka.


Tanya Adinda saat memasuki kamar. Karena Adi tengah duduk bermain ponsel, dengan bersandar pada kepala ranjang.


"Belum. Lagi chat sama Haris." Adi menunjukkan layar ponselnya ke arah istrinya.


Adinda mengangguk, sekilas ia membaca percakapan tentang rencana pernikahan Kinasya dan Ghifar.


Kemudian Adinda melepaskan hijabnya, ia berniat menuju ke kamar mandi yang berada di dalam kamar tersebut.


"Sakit... Udah aja." tangis Giska sampai terdengar ke kamar orang tuanya.


Adi dan Adinda saling memandang. Namun, pada akhirnya mereka sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.


Beberapa saat kemudian, Adinda sudah kembali dengan pakaian yang sudah berganti.


"Canda sama anaknya kek mana, Dek?" sore tadi Adi tak ikut berkumpul bersama keluarganya, karena ia tertidur bersama anak-anaknya yang masih kecil.


"Mau pipis... Udah dulu." suara Giska kembali mengganggu pendengaran mereka.


"Hai, Dek. Pipisin aja." bahkan suara menantunya sampai terdengar ke telinga mereka.


Suasana yang sepi, mampu menghantarkan arus bunyi yang pelan. Apa lagi kamar mereka bersebelahan.


"Pindah kamar aja yuk. Besok kita nyuruh Zuhdi pasang peredam di kamarnya. Kok Abang yang risih, tak tega denger suara anak gadis kita." Adi memahami sedang apa anak dan menantunya tersebut.

__ADS_1


Naluri seorang ayah. Ia malah tidak tega mendengar rengekan anaknya. Ia malah khawatir, Zuhdi melakukannya tidak sebagaimana mestinya.


Meski Adi memahami, bahwa hal pertama untuk Giska pasti cukup menyakitkan.


"Halah, biarin ajalah!" Adinda terlihat cuek akan hal itu.


Ia duduk di sebelah suaminya, matanya mengintip pesan chat antara suaminya dan Haris.


Namun, suara Giska makin terdengar dekat. Adi menebak, Giska sepertinya tengah berada di kamar mandi kamarnya. Karena kamar mandi Giska, letaknya bersebelahan dengan tempat ranjang mereka.


"Kenapa ya?" Giska bertanya-tanya seorang diri.


"Tadi mamah cerita, katanya tak sakit kalau pakek lubricant yang beli di minimarket. Tapi tetap sakit pun."


Adi menoyor kepala istrinya, saat gema suara Giska sampai terdengar di telinganya.


"Nanya-nanya aja soalnya, Bang. Tak mau-mau masuk kamar. Udah jam sembilan, dia masih ikut ngobrol sama aku sama Tika aja."


"Ya udahlah biarin." Adi mencoba fokus membaca balasan dari Haris.


"Bang... Aku waktu diperawanin kek mana?" tanya Adinda random.


"Tak tau! Kan perawan Adek bukan sama Abang." jawab Adi heran. Ia merasa amat bingung dengan pertanyaan istrinya.


"Oh iya, lupa." semudah itu Adinda menimpalinya.


Adi menoleh ke arah istrinya, "Dodol betul aku punya istri." ujarnya sengit.


Lalu dirinya terkekeh geli, saat melihat sudut bibir istrinya yang tertarik ke atas.


"Tak bisa Abang bayangin Kin jadi menantu." Adi membuka obrolan mereka tentang anaknya yang akan menikah.


"Ibu mertuanya kek gini, menantunya kek gitu. Apa tak ramai rumah isinya dua orang aja?" Adi geleng-geleng kepala, saat membayangkan bagaimana hebohnya perdebatan antara Adinda dan Kinasya.


"Udah Abang...." suara Giska yang merengek kembali.


"Belum selesai hai Dek. Kau kenapa malah ngumpet di kamar mandi? Diijinkan ke kamar mandi, malah tak balik-balik lagi."


Adi dan Adinda menahan tawa, karena pantulan suara dari kamar anaknya tersebut.


"Selesainya kalau apa? Aku sampai terkencing-kencing, masa masih belum udah-udah juga?"


Adinda memeluk bantal, lalu dirinya membekap mulutnya dengan bantal tersebut.


Adi berpikir, bahwa anaknya belum mengerti aturan mainnya.


"Selesainya kalau Abang selesai lah. Masa Adek aja, Abang belum." dari suaranya, Zuhdi seperti amat kesal pada istrinya.


"Nanti dulu, aku pikir-pikir dulu."


"Eeeeeh... Aduh Abang. Turunin! Macam apa aku digendong-gendong?!"


Adi bisa membayangkan, akan Zuhdi yang menggendong paksa anaknya.


"Kenapa sih harus pikir-pikir dulu?" Adinda cekikikan sendiri, karena lontaran pertanyaan dari suaminya tersebut.

__ADS_1


"Ngumpet di kamar mandi." Adinda terbahak-bahak tak tertahankan, kala teringat ucapan Zuhdi yang mengatakan Giska bersembunyi di kamar mandi.


......................


__ADS_2