
"Maaf Bu, Pak. Untuk tueng dara baro, rasanya kami tidak mampu menggelar pestanya." aku pak Zuhri kemudian.
Tueng dara baroe adalah suatu hal yang dilakukan oleh pihak laki-laki, dengan kata lain adalah penjemputan secara hukum adat atau dalam tradisi A*eh. Acara ini sama dengan tueng linto baro. Namun, pihak perempuan yang pergi ke acara pihak laki-laki. Jika di J*wa, bisa disebut dengan ngunduh mantu.
"Ohh... Itu dari kami. Yang penting diselenggarakan aja. Kasian Giska, kalau dia tak pernah ngerasain hal itu." jika Giska mengetahui hal itu, maka ia langsung menerjang ayahnya dan mengucapkan terima kasih sebanyak mungkin. Adi akan mewujudkan impian anak gadisnya, untuk bisa merasakan disambut oleh keluarga dari pihak suaminya.
"Makasih, Pak." ibu Robiah tak bisa menahan rasa terharunya.
Adi hanya mengangguk, pikirannya sedang membayangkan acara bahagia anaknya.
"Tapi, Bang. Kok aku ngerasa kok acaranya mirip kita dulu nikah resmi, dipotong gitu urutan adatnya." Adinda menyuarakan pendapatnya. Karena, ia pun pernah menghadiri acara susunan adat sebelum pernikahan.
"Iya, Pak. Kenapa tak jak ba ranub, ba tanda, malam peugaca, koh gilo, koh andam, peumano, khataman Qur'an. Kenapa langsung malam inai, terus akad aja?" pak Zuhri pun ternyata merasa sedikit bingung dengan rencana Adi.
"Capek loh, Pak." mereka semua tertawa tipis, mendengar ucapan Adi barusan.
"Tapi saya akui, saya kurang pemahaman tentang prosesi adat pinangan. Dari jamannya saya menikah dengan Dinda, saya tak diarahkan untuk melakukan prosesi ini dan itu. Tak ada juga yang menasehati saya, pas saya mau resmikan Dinda. Saya nikah resmi sama Dinda, yang penting ada resepsi aja Pak Bu. Karena Dinda dulu pengen ngerasain resepsi mewah, sedangkan saya tak ada yang mengarahkan." ungkap Adi jujur, tentang pandangannya tentang pinangan.
"Terus, setau saya. Peugaca aja tuh tujuh hari, Pak. Setiap malam, kumpul ramai terus. Memang maksudnya baik, nasehat-nasehatnya pun penting juga. Tapi.... Bayangkan aja dulu, Pak." lanjut Adi kemudian.
"Kalau kita ambil satu acara, satu hari aja gimana Bang?" tanya Adinda dengan menyentuh lengan suaminya.
"Malam peugaca paling sedikit tiga hari, Bu. Udah ada aturannya, tak bisa dikurang-kurangin. Kalau memang mau modern, ya sekalian modernan aja. Banyak juga kok, yang udah tak pakek adat. Apa lagi kan, Bu Dinda bukan asal dari provinsi A*eh." jawab ibu Robiah dengan memperhatikan istri juragan tersebut.
"Aku dulu nikah pertama aja, tak pakek adat kota C ataupun adat Sunda." tandas Adinda dengan mengingat pernikahan pertamanya dengan Mahendra.
"Ya... Kan Adek cuma akad aja, waktu sama Mahendra dulu. Makanya sama Abang minta dimuliakan. Pesta megah, sebar undangan sampek 1500 orang." Adinda tertawa lepas, saat mendapat sindiran tajam dari suaminya.
Pak Zuhri dan ibu Robiah saling memandang, mereka baru melihat pertama kalinya cara bergurau calon besannya tersebut. Sedikit ekstrim, dengan menyerempet ke ulu hati.
"Modern aja kah? Akad, terus langsung disandingkan di pelaminan." Adi mencari kesepakatan kembali.
"Coba kita tanyakan Giska sama Zuhdi juga. Mana tau ada yang mereka impikan di pernikahannya." usul Adinda kemudian.
__ADS_1
"Boleh, Bu. Yang jadi pengantin kan anak-anak nih, bukan kita." tawa renyah mereka berbaur menjadi satu, karena sahutan pak Zuhri barusan.
"Ya udah Pak, Bu. Kabar gembira ini nanti saya sampaikan ke Zuhdinya. Saya pamit dulu Pak, Bu. Saya harus urus kain-kain Giska dan barang lainnya untuk dibungkus, dihias kek gitu." lanjut pak Zuhri kemudian.
"Oh, ya. Zuhdinya nanti suruh ke sini aja." Adi manggut-manggut dan bangun dari duduknya.
"Ka bereh, Pak. Mari, Bu. Assalamualaikum..." mereka berdua undur diri dengan bersuka cita.
"Ya, silahkan. Wa'alaikum salam." sahut sang tuan rumah dengan mengantar tamunya ke teras depan.
"Pusingnya mau punya hajat." Adinda geleng-geleng kepala, lalu berbalik masuk ke dalam rumah.
"Pakek WO aja, kek kita dulu. Tak repot-repot betul, bisa tetep tidur berdua." lanjut Adinda terdengar di telinga suaminya.
Adi terkekeh kecil, "WO mahal, uang cuma ada 45 juta." Adi teringat akan jumlah uang hangus yang tersimpan di rekening Zuhdi.
"Sok betul tadi, tenang aja kita tanggung, yang penting Giska pernah ngerasain tueng dara baro." Adinda menyerupai suara suaminya.
Adi langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang, lalu tawa lepasnya menggema.
"Bisa diatur. Demi Adek aja, Abang mampu. Apa lagi demi buah cinta kita." ungkapan Adi begitu maut.
Adinda hanya terkekeh, ia memahami suaminya pasti memberikan yang terbaik buat anaknya.
"Jadi gimana si calonnya Ghava? Ghava udah dikabarin kan masalah itu?" Adinda mengajak suaminya untuk bersantai dengan menonton siaran televisi.
Ghava telah kembali ke kota J, tepatnya ia tinggal di kediaman ibu Meutia. Jadi ataupun tidak ia menikah, ia harus menyelesaikan pendidikannya.
Adi mengusap-usap paha istrinya, terlapisi dress panjang bermotif garis zig-zag yang istrinya kenakan.
"Udah, udah dikabarin. Katanya... Kalau mereka datang ke sini, diatur aja kek mana baiknya. Kalau tak datang, udah aja tak usah dipikirkan. Dia bakal cari calon menantu yang lain, yang baik buat dirinya dan masa depannya." Adi hanya meringkas percakapan dengan anaknya, karena kala itu ia membahas segala hal dengan Ghava. Mulai dari pendidikan, usaha, rumah tangga, wanita dan keuangan.
"Syukurlah. Menantu macam Canda aja, makin hari makin bikin kaku. Apa lagi macam Winda. Hilang waras kita nanti, kalau Ghava titipkan dia di sini." sebenarnya Adinda hanya menarik sedikit kesimpulan, dari sisi jelek Winda. Ia tidak mengenal dan mengetahui bagaimana mana sifat Winda.
__ADS_1
"Oh, iya. Ke mana lagi itu Key?" Adi bangkit, lalu menaiki anak tangga.
Ia teringat akan pagi tadi, Givan menitipkan anaknya padanya. Lalu dirinya berbenah, bersiap untuk pergi ke ladang, dengan menitipkan Mikheyla pada Ghifar yang masih tertidur, karena istrinya belum kembali dari mengantar anak-anaknya bersekolah tadi.
Raut cemas terlihat dari wajah Adi, ia khawatir Mikheyla bisa membuka jendela di lantai dua. Pikiran jeleknya akan Mikheyla yang terjun dari lantai dua.
"Apa enaknya bau ketek?" Adi begitu heran, saat melihat Mikheyla tertidur pulas dengan menghadap ketiak Ghifar.
Sedangkan putranya, masih berada di alam mimpinya.
Adi masuk ke dalam kamar Ghifar, kulitnya langsung membeku merasakan hawa yang begitu dingin berasal dari pendingin ruangan yang diatur cukup ekstrim.
"Pantaslah tak bisa berdiri. Mengkerut karena kedinginan rupanya." gerutu Adi dengan duduk di tepian ranjang anaknya.
"Far..." Adi menepuk-nepuk pelan lengan anaknya.
"Bangun. Tika sama Yoka lagi masakin sesuatu buat kita semua, halal tak itu?" Adi langsung memberikan pertanyaan pada anaknya yang masih terpejam.
Ia sengaja melemparkan pertanyaan pada anaknya, karena anaknya selalu menjawab pertanyaannya meski matanya masih terpejam. Namun, yang membuatnya candu melemparkan pertanyaan pada Ghifar. Karena Ghifar selalu meleset dalam jawabannya. Membuat hiburan tersendiri untuk Adi.
"Ya... Langsung putar kepala." Adi langsung terbahak-bahak dengan menepuk-nepuk pahanya sendiri.
Ghifar langsung tersadar, tangannya reflek mengusap-usap punggung Mikheyla.
"Bangun! Udah setengah sembilan." Adi tak menjelaskan kebingungan anaknya itu.
"Terus kau ke pabrik sana! Kerja sama ayah. Ladang-ladang aja, mau jadi apa nanti? Ditambah nanti, dapat istri model ma kau. Udah sakit ulu hati kau, tiap bulan dituntut dua ratus juta." Adi berjalan untuk membuka jendela kamar yang cukup luas itu. Dari jendela kamar milik Ghifar, bisa melihat hamparan halaman depan yang begitu terawat.
"Jangan ngomongin istri-istri aja, Pah. Khayalan aku segila apapun, tetap akhirnya bikin aku susah sendiri juga." raut wajahnya seperti melamun.
Adi menoleh, memperhatikan anaknya yang masih memandang suatu sudut dengan tatapan kosong.
"Far.....
__ADS_1
......................
Satu persatu terselesaikan 😊 Ghifar nih gimana coba? Gak mau berobat, pusing deh gue 🤭