
"Ini Papah Adi yang paling gagah, Mamah Dinda yang sholehot, subur dan sentosa." tunjuk Icut, dengan mengenalkan satu persatu orang tuanya pada ayah kandungnya.
Yoseph tersenyum samar, kemudian mengulurkan tangannya pada Adi.
"Josephine Ardwiatto." ucap Yoseph, saat tangannya bertaut dengan tangan Adi.
"Adi Riyana." Adi mengikuti Yoseph, yang menyebutkan nama panjangnya.
"Ada 50 tahun, Pak?" tanya Yoseph, setelah mereka saling berkenalan.
"Memang 50 tahun. Jangan nanya-nanya umur lah. Malu, masih punya anak balita." jawab Adi dengan semburat merah di wajahnya.
Mereka terkekeh kecil, dengan menutup mulutnya.
Adinda hanya menautkan kedua tangannya, di depan dadanya. Saat Yoseph mengulurkan tangannya.
"Oh, maaf." Yoseph mengira bahwa ibu tersebut amat menjaga agamanya.
Nyatanya, Adinda hanya menjaga pandangan suaminya. Adi tak menyukai hal itu, Adi tak menyukai istrinya bertaut tangan dengan laki-laki lain. Tapi jelas itu berbeda, jika usia laki-laki tersebut seumuran anak-anak mereka dan merupakan teman anak-anak mereka.
"Makasih ya Bu, Pak. Udah jagain Icut, asuh Icut, didik Icut sampai sebesar dan sepandai ini." ungkap Yoseph, dengan memperhatikan wajah kedua orang di hadapannya tersebut.
Namun, pandangan mereka terarah ke arah lain. Ada seseorang yang membuat Adinda geram, seseorang yang tadi menghampiri mereka, kini berjalan ke arah mereka kembali.
"Ibu sama Ayah mau nikah. Kamu harus ikut Ibu sama Ayah, Cut." ujar Maya tiba-tiba, dengan sorot mata sombong.
Adi melebarkan matanya, dengan langsung menoleh ke arah anaknya.
"Aku tak mau." putus Icut tanpa berpikir panjang.
"Kenapa?" cerca Maya dengan perhatian penuh terhadap anaknya.
"Buat apa? Ibu sendiri yang ngasihin aku ke Papah, tapi malah diminta balik. Aku tak mau, aku mau tetep sama Papah." jelas Icut, yang berpindah ke samping Adi.
Maya mengisyaratkan dagunya ke arah Yoseph. Yoseph menghela nafasnya, saat menyadari kode yang Maya berikan.
"Ya udah lah, May. Naya udah besar, bentar lagi juga dia ikut suaminya." ungkap Yoseph, dengan menepuk bahu wanita yang tingginya bak model tersebut.
Maya menghela nafas beratnya, kemudian membuang pandangannya ke arah lain.
"Ayo, Mah. Itu Ghava udah lambai-lambai ke kita." ujar Icut, dengan menggandeng lengan Adinda.
"Kami permisi dulu." pamit Adi dengan tersenyum ramah pada Yoseph.
"Iya, ati-ati." sahut Yoseph dengan membalas senyum ramah mereka semua.
Hari itu, mereka semua bertolak menuju kediaman mereka di provinsi A. Mereka hanya mampir sejenak di kediaman ibu Meutia, untuk mengambil keperluan Hamerra dan Icut.
__ADS_1
~
"Ya macam mana lagi, Canda! Mas tak punya uang. Kerjaan juga tak ada, kau yang paham." mereka semua tertegun di teras rumah, saat mendengar suara Givan yang sampai terdengar ke area luar rumah megah tersebut.
"Yuk, masuk." ajak Adi, dengan membuka pintu rumahnya.
"Assalamualaikum..." ujar mereka semua, saat memasuki rumah tersebut.
"Mamah.... Encut.... Memei...." Gibran berlari ke arah mereka, dengan membentangkan tangannya.
"Akak Icut, Gibran. Udah lima tahun kau ini, masih aja Encut." ucap Icut, dengan memeluk tubuh Gibran.
"Mana kak Giska?" tanya Adi, dengan menaruh tas bayi milik cucunya.
"Mah... Aku rebahan dulu di kamar ya." ujar Ghava, dengan berjalan mendahului mereka semua.
Adinda mengangguk, "Cuci tangan, kaki, muka dulu." sahut Adinda yang diiyakan oleh Ghava.
"Akak mana, Dek?" tanya Adi dengan melepaskan kemejanya, lalu berjalan ke arah kamarnya.
"Sama abang, bang Adi. Main burung." jawab Gibran, yang berada di gendongan Icut.
"APPAAA?" pekik Adi dan Adinda.
"Di mana? Di kamar kah?" tanya Adi dengan berbelok ke kamar Giska.
"Sana, main burung." jawab Gibran, dengan menunjuk lurus ke arah dapur.
Adi menyimpulkan bahwa anak dan pacar anaknya tengah berada di halaman belakang. Dengan bertelanjang dada, Adi menuju ke halaman belakang rumahnya. Adinda pun mempercepat langkah kakinya, mengikuti langkah cepat suaminya.
"Memei sinikan dulu, Mah. Mau dimandikan." tutur Icut yang dihiraukan oleh Adinda.
"HEH!" suara Adi terdengar seperti membentak.
Gavin, Zuhdi dan Giska menoleh ke arah sumber suara.
Krik, krik... Krik, krik....
Senyap, dengan pandangan bodoh mereka.
"Apa, Pah?" tanya anak tujuh tahun tersebut, yang bingung dengan bentakan ayahnya.
"Kau ngapain, Di?" tanya Adi, dengan menajamkan pandangannya pada Zuhdi yang berada di depan kandang burung.
"Bersihin taik burung." jawab Zuhdi yang bingung dengan raut wajah calon ayah mertuanya.
Adinda terkekeh kecil, dengan menutupi mulutnya. Ia dan suaminya telah salah sangka, dengan pernyataan ambigu dari Gibran.
__ADS_1
"Kau ngapain, Giska?" tanya Adinda, yang melihat anak gadisnya tengah duduk di kursi dengan memainkan ponselnya dengan serius.
"Main game uler tangga, ini lagi gantian sama Gavin." jawab Giska, yang kembali fokus pada ponselnya.
"Tak dari pagi bersihin taik burung. Pagi-pagi tuh, sekalian mandiin burung." ujar Adi, dengan memperhatikan Zuhdi yang lanjut membersihkan kandang miliknya.
"Tak bersyukur. Dikasih hati, minta ampela." tutur Zuhdi santai, dengan melirik calon ayah mertuanya sekilas.
"Sialan kau!" maki Adi, dengan berbalik badan dan masuk ke dalam rumahnya kembali.
Mereka membersihkan diri masing-masing, dengan Icut yang mendahulukan anaknya. Ia lanjut menyuapi anaknya, sampai seseorang mau bergantian mengajak Hamerra. Agar dirinya bisa mandi dan makan.
Hingga pada akhirnya, Zuhdi yang mengambil alih Hamerra dari Icut. Zuhdi merasa kasihan, pada Icut yang menoleh ke arah jam beberapa kali.
"Kak... Udah pantas belum aku punya anak?" ucap laki-laki, yang pernah membuat Icut iri pada adik perempuannya.
Icut terkekeh kecil, saat Zuhdi menggendong anaknya layaknya bayi.
"Belum pantas, harusnya bayi dulu anaknya. Tak langsung besar macam itu." sahut Icut, dengan meregangkan otot bahunya sejenak.
Hamerra merengek, ia tidak nyaman dengan posisinya.
"Ditegakkan lehernya gitu, Di. Udah besar dia, bukan bayi lagi." lanjut Icut, dengan membantu Zuhdi untuk membenarkan posisi Hamerra.
"Memang kau tak pengen balik?" tanya Icut, saat dirinya hendak berlalu.
"Tak. Mau kangen-kangenan dulu, besok mau berangkat lagi soalnya." jawab Zuhdi tanpa malu.
Icut hanya bisa geleng-geleng kepala, kemudian berlalu pergi masuk ke dalam rumahnya.
Hingga pukul delapan malam, Zuhdi masih berada di kediaman juragan tersebut. Berbeda dengan Canda dan Givan, yang entah mengapa terus mengurung diri di kamar. Hanya suara-suara mereka saja, yang mampu menembus kamar mereka.
Adi merasa risih, dengan pemandangan anaknya yang terus bersandar pada bahu Zuhdi.
"Balik Abang dari sini, leher sengklek sebelah." ucap Zuhdi, yang terdengar di telinga Adi. Saat Adi melewati ruang tamu, yang menjadi tempat bermesraan muda-mudi tersebut.
Adi tak bisa menahan tawanya, saat lontaran kalimat tersebut mengocok perutnya.
Adi mendengar pukulan telapak tangan yang menyentuh kulit, dengan erangan sakit Zuhdi atas hadiah tersebut.
"Sakit loh, Dek. Digaplok, dijewer, lebih-lebih digigit. Gurauan Adek bikin Abang sekarat." ungkap Zuhdi, yang membuat anak gadis Adi tertawa puas.
"Udah malem, balik ya? Besok jam tujuh Abang udah berangkat, biar ada waktu istirahatnya. Soalnya lusa mulai kerja lagi." ucap Zuhdi yang berdiri dari duduknya, kemudian meregangkan otot pinggangnya.
"Papah... Papah belum ngomong juga? Kan kita udah sering bahas, kok Bang Adi masih mau berangkat ke M*dan juga?" seru Giska, dengan berjalan ke arah ayahnya yang duduk di teras rumah.
......................
__ADS_1