Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS21. Canda Pagi Dinanti


__ADS_3

Setelah selesai acara empat bulanan kehamilan kakaknya. Ghifar langsung bertolak menuju ke kota C, dengan menggunakan kereta api. Karena mobil yang tersedia di rumah ibu Meutia, tengah digunakan oleh anak dan menantunya.


"Dikasih uang cash tujuh ratus, mamah bilang nanti transfer. Kalau tak ditransfer juga, bisa kelaparan aku di kota orang." gumam Ghifar, setelah keluar dari stasiun K*jaksan Kota C.


Ghifar menoleh ke kiri dan ke kanan, memperhatikan jejeran tukang becak yang tengah menunggu penumpang.


Entah apa yang ia pikirkan, ia menuju ke salah satu tukang becak yang tengah mengobrol dengan temannya.


"Pak, ke P*limanan berapa?" tanya Ghifar, yang membuat melongo kedua tukang becak yang tengah mengobrol tersebut.


"Mopo, Cung. Sing kene, marani K*dawung paling adoh ai manek beca. Terus Kacung e manek mobil elp, atawa angkot GP marani P*limanan." jawab tukang becak tersebut, yang membuat Ghifar garuk-garuk kepala.


"Isun pengen mangan, saya cuma bisa bahasa daerah sini itu aja Pak. Yang lainnya, saya tak paham artinya." balas Ghifar, dengan logat daerah kerajaan samudera pasai tersebut.


Kedua tukang becak itu saling beradu pandang, lalu tertawa terbahak-bahak.


"Orang mana asli e?" tanya seorang tukang becak tersebut.


"Asli A*eh, tapi mamah aku asli kota ini Pak. I*docement itu lah, Pak." jelas Ghifar yang membuat dua orang paruh baya tersebut manggut-manggut.


"Ya, bener. Manek elp bae Cung. Yuh dianter meng elp, selawe bae wis." ujar salah satu diantara mereka, dengan bangkit dari posisinya. Kemudian mempersilahkan Ghifar, untuk menduduki kursi dalam becak tersebut.


"Apa, Pak?" sahut Ghifar, yang tak mengerti apa yang harus ia lakukan.


"Naik mobil elp aja. Ayo diantar ke elp, ongkos becaknya dua puluh lima ribu aja." jelasnya dengan begitu perlahan.


"Mari, Pak." sahut Ghifar, dengan langsung naik dan duduk di kursi becak kayuh tersebut.


Dalam perjalanan, Ghifar menoleh ke kiri dan ke kanan. Melihat jalanan kota yang begitu ramai, dengan gedung swalayan berjejer sepanjang jalan.


Hingga, ia menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya. Tulisan At-Taqwa yang terpampang jelas, mengingatkannya pada nama tempat bersejarah yang disebut oleh ayahnya.


'Masjid besar tak jauh dari stasiun, keknya betul masjid ini nih.' gumam Ghifar dalam hatinya.


Hingga saat becak yang ia kendarai berhenti, karena di depan lampu rambu lalu lintas tengah berwarna merah. Ia pun langsung menjadi pusat perhatian beberapa pengendara motor.


'Aneh kah penampilan aku? Apa sebegitu hitamnya aku, buat masyarakat sini kah? Tapi ada yang lebih hitam juga, yang naik motor di depan sana.' gumamnya kembali, dengan memperhatikan pakaian yang ia kenakan, juga kulit tangannya yang terlihat.


'Tapi kata mak, aku manis macam Adi Riyana sang kekasih tercintanya.' lanjutnya dengan masih memperhatikan kulit tangannya yang terlihat.


Hingga beberapa saat kemudian, Ghifar telah duduk manis dalam mobil elf yang akan mengantarnya ke daerah ibunya.


Ia mengeluarkan ponselnya, dengan langsung mencari nama kakak dari ibunya pada kontak teleponnya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Pakde. Long udah di… elp. Baru naik dari… apa tuh tadi namanya… hmm…. Keee… apa tuh, Pakde?" ucap Ghifar, dengan menempelkan ponsel dengan tampilan belakang tiga kamera dan satu flash yang menarik perhatian beberapa penumpang mobil tersebut. Apa lagi logat bicara Ghifar, dengan nada yang menarik perhatian membuat orang terheran-heran. Masih untung, di dalam mobil tersebut kebanyakan adalah ibu-ibu dan anak sekolah. Jadi tak membuatnya dalam bahaya, akan dirinya dalam kendaraan umum tersebut.


"Ke apa, Far?" sahut Arif di seberang telepon.


"Kan tadi aku naik kereta, turun di stasiun K*jaksan. Terus naik becak, sampek bunderan Ke…. apa tuh? Terus disuruh naik elp jurusan Ke apa Ka… apa gitu, yang arah B*ndung. Bingung aku nama tempatnya banyak Ke-nya, aku cuma inget tadi aja status K*jaksan." jelas Ghifar, yang membuat Arif paham bahwa keponakannya telah sampai di kotanya.


"Kenapa tak pakek mobil sendiri aja? Nyasar nanti kamu di sini." balas Arif dengan nada khawatir.


"Mobil dipakek mak jalan-jalan sama Icut, Giska sama bungsu ke tempat rekreasi keluarga. Mobil yang lain, dipakek om Edi kerja. Terus yang satu lagi, dipakek papah Adi keluar sama omah. Tadi aku diantar papah Adi cuma sampek stasiun, katanya naik kereta aja." ungkap Ghifar bercerita.


"Bilang ke kernetnya, turun di jalan pondok pesantren K**p*k. Nanti Pakde jemput di depan situ." balas Arif dengan reflek langsung mencari kunci motornya.


"Pondok pesantren K**p*k, Pakde?" tanya Ghifar memastikan.


"Ya, Far. Kamu ini ada-ada aja! Lagian orang tua kamu tega pisan. Anak gak pernah pergi-pergian, sekalinya pergi malah dilepas sendiri." jawab Arif seperti tengah menggerutu.


"Jauh lagi kah, Pakde?" ujar Ghifar dengan memperhatikan jalanan yang ia lewati, dalam kendaraan yang bergerak cepat tersebut.


"Ya, masih jauh. Paling setengah jam perjalanan. Pakde tunggu di depan jalan raya, kau bilang kiri kalau liat Pakde di jalan." tutur Arif langsung diiyakan oleh keponakannya.


Ghifar menyimpan kembali ponselnya dalam saku, lalu ia menyiapkan uang pecahan sepuluh ribu. Seperti yang tukang becak sarankan, untuk ongkos mobilnya.


"Turun di jalan K**p*k ya, Mas?" tanya seorang wanita, yang duduk di sebelah Ghifar.


"Bukan. Di jalan pondok pesantren K**p*k." jawab Ghifar cepat. Lalu ia langsung meluruskan pandangannya lagi ke arah depan.


"Iya, sama aja Mas. Nanti bareng aku aja, kalau gak tau sih. Nanti aku yang kiri-kan." jelasnya yang membuat Ghifar menoleh kembali.


"Oh, Ya. Boleh, Dek." sahur Ghifar seperlunya.


Ghifar memperhatikan jejeran tempat, yang bertuliskan batik khas T*usmi. Dengan beberapa spanduk, yang bertuliskan oleh-oleh khas C*rebon.


"Dari mana, Mas?" tanyanya kembali. Ia mencoba bersikap ramah, pada pendatang baru di kota tersebut. Namun, berbeda dengan Ghifar yang malah merasa bahwa perempuan tersebut terlalu kepo.


"Dari stasiun." jawab Ghifar ringkas. Lalu ia mengeluarkan bungkus rokoknya, dengan merogoh korek apinya.


"Maaf, Mas. Lebih baik jangan ngerokok di kendaraan umum, di belakang ada anak bayi juga." tegur perempuan yang duduk di pinggir jendela tersebut, dengan menyentuh lengan Ghifar bermaksud mengingatkan.


Namun, tindakannya membuat Ghifar merasa amat terganggu. Dengan cepat ia menggerakkan lengannya, yang masih dicekal oleh perempuan tersebut.


"Ya." sahut Ghifar, kemudian ia mengantongi kembali rokok dan koreknya.


'Bosan kali aku. Main HP, nanti aku mabok kendaraan. Ngerokok tak boleh juga. Haduh…' gumamnya dalam benaknya.

__ADS_1


"Baru pertama kali ke sini ya, Mas?" tanya perempuan tersebut kembali.


Ghifar kembali menoleh, dengan memperhatikan wanita yang sepertinya di bawah umurnya tersebut. Terlintas di pikirannya, untuk meladeni celotehan wanita tersebut. Dari pada, ia mati bosan selama di perjalanan.


"Ya, baru pertama kali ke sini sendiri. Kalau rombongan keluarga, udah sering setiap kali lepas hari lebaran. Cuma memang tak pernah pergi-pergian, di rumah keluarga yang di sini dua harian. Terus langsung balik lagi ke A*eh." jawab Ghifar panjang lebar.


"Oh, dari A*eh? Jauh juga ya? Ada mushola A*eh, di daerah T*k K*dawung. Namanya meunasah A*eh kalau gak salah, ada plangnya juga." balasnya dengan ekspresi wajah yang begitu menarik.


"Oh, ya kah?" tukar Ghifar yang bingung akan menjawab apa.


"Oh, ya kenalin aku Canda." ucap wanita tersebut dengan mengulurkan tangan kanannya.


"Hah?" Ghifar mengerutkan keningnya, karena merasa aneh dengan nama perempuan tersebut.


Ghifar masih terdiam, mengingat kembali nama perempuan yang baru saja ia dengar namanya.


'Apa tak salah dengar?' batinnya yang bertanya pada dirinya sendiri.


Ia mengingat kembali nama ibunya, Adinda. Meski ibunya dari kota ini, tapi namanya tak seunik nama perempuan tersebut.


"Canda Pagi Dinanti. Nama Mas siapa?" jelasnya yang membuat Ghifar semakin terheran-heran.


Wanita tersebut melambaikan tangan di depan wajah Ghifar, dengan tangan yang ia uluran untuk berjabat tangan dengan Ghifar. Namun, tak kunjung diberi sambutan.


"Heh… oh, iya Canda. Aku… aku……


......................


Diartikan juga kah?


*Mopo, Cung. Sing kene, marani K*dawung paling adoh ai manek beca. Terus Kacung e manek mobil elp, atawa angkot GP marani P*limanan


*Mopo, sejenis capek dengan keringat mengalir deras juga badan terasa begitu lemas karena terlalu pegal.


*Cung/Kacung, sebutan untuk anak laki-laki.


*Sing kene, marani K*dawung paling adoh ai manek beca : Dari sini, sampai K*dawung paling jauh kalau naik becak.


*Terus Kacung e manek mobil elp, atawa angkot GP marani P*limanan : Terus Kacung (sebutan untuk anak laki-laki) e : sama dengan nya, naik mobil elf, atau angkot GP tujuan P*limanan.


*Isun pengen mangan : Aku mau makan


Jadi.... Siapa Canda ini? 🙄

__ADS_1


__ADS_2