Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS58. Tinggal bersama?


__ADS_3

"Ya, Mak. Assalamu'alaikum." ucap Ghifar, dengan memposisikan ponselnya tepat di depan wajahnya.


"Wa'alaikum salam… Hmm, aneuk agam Mamah. Lagi ngapain, Nak?" tanya Adinda, setelah dirinya bisa melihat rupa anak pertama dari suami barunya itu.


"Lagi sarapan, Mak. Nasi putih, sama nugget, ada kornet sapi dimasak apa gitu, sama ini… ada sayur bayam juga. Sayur bayamnya ada jagung, ada wortel sama tomatnya juga." jawab Ghifar, dengan membalikkan kameranya. Lalu ia mengarahkan ponselnya, ke arah makanan yang tersaji di meja makan.


Adinda menajamkan penglihatannya, "Ehh, bukan di bunda kah Far?" sahut Adinda kemudian. Adinda menyadari, bahwa meja dan kursi yang berada di ruang makan tersebut. Adalah barang-barang yang pernah ia beli, untuk rumah minimalisnya.


"Tak, Mak. Tadi sore aja ke bunda, ngasih bunda jajan 200 ribu. Terus belanja di A**a, langsung pulang ke rumah Mak." jelas Ghifar dengan mengembalikan kamera ponselnya lagi.


"Kau… sejak kapan kau masak sendiri? Kau kan paling cuma bisa bantu-bantu masak aja. Seumur-umur Mamah ngasih makan kau dari kecil, Mamah belum pernah masakin olahan kornet." balas Adinda dengan kening yang mengkerut.


Ghifar menghentikan aktivitas mengunyahnya. Ia tersadar, bahwa tanpa sengaja dirinya memberitahu ibunya. Jika memang ada seseorang, yang memasakkan makanan untuknya.


"Coba arahin ke kamar! Cepet!" pinta Adinda dengan suara ketusnya.


"Kenapa sih, Mak? Ada apa di kamar?" tanya Ghifar, setelah dirinya meneguk air putih yang tersedia.


Ghifar berjalan dengan tenang, menuju ke kamar yang semalam Canda tempati. Ia merasa tenang, karena Canda sudah pergi dari rumah itu satu jam yang lalu. Ia pun sudah mengecek keadaan kamar itu, yang ternyata sudah rapih dengan bantal yang tertata.


"Tuh, Mak. Ada apa memangnya?" ucap Ghifar, setelah membuka pintu kamar. Lalu mengarahkan kamera belakangnya, untuk terhubung pada panggilan video tersebut.


Adinda terdiam, dengan memperhatikan kamar dengan barang-barang hasil jerih payahnya tersebut.


"Ekhmmm… Kin semalam di situ kah? Atau… pas melekan minggu lalu, Kin tidur di situ kah?" tanya Adinda kemudian.

__ADS_1


"Aku, abi, bang Ken, sama temen-temen dokternya bang Ken aja. Semuanya laki-laki, gak ada yang tidur di kamar." jelas Ghifar dengan membalikkan kameranya. Lalu ia kembali ke meja makan, untuk melanjutkan sesi sarapannya.


"Hm, kek gitu ya? Jadi… udah berapa lama, kau tinggal bareng sama Canda?" suara datar Adinda, yang membuat Ghifar terbatuk-batuk hebat.


"Minum, Nak. Minum." pinta Adinda lembut.


Ghifar segera meminum air putih, dengan menaruh ponselnya untuk bersandar pada benda. Agar kameranya tetap bisa menghadap padanya.


Setelah Ghifar mengatur nafasnya, ia segera mengusap mulutnya dengan punggung tangannya.


"Perempuan yang tinggal bareng kau itu Canda? Atau Fira? Apa ada yang lain?" pertanyaan Adinda, yang membuat Ghifar terdiam.


"Kenapa Mak nyebutin Fira? Sejak hari itu, aku gak pernah kontekan lagi sama Fira. Bahkan aku udah blokir sosial medianya, kartu perdana pun aku udah ganti." jawab Ghifar, mencoba mengalihkan tuduhan ibunya tentang Canda.


"Kemarin dia hubungi Mamah. Tapi pas Mamah tau itu ternyata itu Fira, langsung Mamah matiin teleponnya. Terus nomernya langsung Mamah blokir. Mamah juga minta adik-adik kau, sama abang kau buat blokir semua tentang Fira. Apa lagi, Abang kau tiga bulan lagi mau nikah. Takut digagalin Fira." ungkap Adinda, yang membuat Ghifar mengerutkan keningnya.


"Tapi memang aku sama Fira, udah bener-bener selesai hari itu juga Mak. Ya memang… Fira, ataupun aku sendiri tak ada yang bilang bahwa kita selesai. Tapi dengan kejadian kek gitu, aku nganggap kita udah selesai. Aku jujur sama Mak, aku tak lagi deket sama perempuan manapun. Ada yang terang-terangan bilang suka sama aku pun, aku langsung ngomong baik-baik biar tak deketin aku lagi. Di tempat kerja juga, ada yang deketin aku. Tapi aku jaga jarak, bilang juga bahwa aku anaknya abi. Jadi dia kek minder gitu, jauhin aku lagi." jelas Ghifar meyakinkan ibunya.


"Tapi Canda udah gatal sama kau. Waktu di rumah omah aja, ngapain segala dia ngendap-ngendap ke kamar kau? Motoin kau tidur, ngusapin keringat kau. Dengan kau stay di kota itu, dia tak mungkin lepasin kau gitu aja. Keknya yang tinggal bareng kau di situ, itu Canda ya?" tuduh Adinda, membuat Ghifar tak bergeming. Ghifar tak mengetahui, saat kejadian Canda masuk ke kamarnya. Ketika mereka tengah berada di rumah ibu Meutia. Tentu cerita singkat dari ibunya tersebut, membuatnya kaget dengan tindakan gadis jebolan pesantren tersebut.


Adinda mengucek matanya beberapa kali, saat dirinya menyadari bahwa suaminya tak berada di sampingnya. Lalu ia bangkit dari posisinya, mengedarkan pandangannya, kemudian menghirup oksigen lebih banyak dari mulutnya. Uapan lebar berulang beberapa kali, sampai matanya terbuka lebar.


"Bang…" panggil Adinda, dengan berjalan ke arah kamar mandi yang terdapat di kamar itu.


"Ke mana lagi si Bandot tua itu? Perasaan tadi ikut masuk ke kamar. Apa pindah lagi ke tempat bungsu kah?" tanyanya seorang diri, dengan meraih hijab panjang yang memiliki karet di bawah dagunya.

__ADS_1


Kemudian, Adinda mengenakan asal hijab tersebut. Lalu dirinya melangkah ke luar dari kamar, untuk mencari teman tidurnya yang hilang itu.


"Haduh… males kali naik turun tangga. Tapi… aku tak bisa merem lagi, kalau bang Adi belum nampak di mata." ucapnya dengan berjalan ke arah tangga.


Namun, langkahnya terhenti. Saat mendengar suara derit pintu kamar yang terbuka.


Adinda mengerutkan keningnya, saat kamar milik Edo yang Ghifar tempati terbuka lebar. Ia memutar kepalanya, untuk melihat jam dinding besar yang tepajang di tengah-tengah ruangan tersebut.


'Jam dua Ghifar belum tidur? Sialan itu anak! Ngapain aja dia? Jangan-jangan abis mesum sama Canda.' gumamnya dalam hati, dengan melangkah menuju ke kamar Ghifar.


Adinda menutup mulutnya, saat melihat Canda tengah duduk di tepian ranjang. Sembari tersenyum, mengangumi sosok laki-laki asal samudera pasai tersebut.


"Aku foto ah, buat kenang-kenangan kalau gak bisa ketemu lagi." ucap Canda yang didengar oleh Adinda.


"Ehh, si Mas keringetan. Dilap dulu dong, biar hasil fotonya bagus." ucap Canda kembali, dengan menghapus bulir keringat di dahi anak dari Adi Riyana tersebut.


Bukan hal aneh untuk Adinda, jika anak dari hasil pernikahan keduanya itu. Memang selalu bermandikan keringat, ketika tengah tertidur pulas. Sekalipun pendingin ruangan, cukup menyejukkan kulitnya. Namun, anak yang pernah ia kandung tersebut tetap basah karena keringat.


Adinda pun, sudah tak heran. Jika Ghifar membawa teko ke dalam kamarnya. Karena ia selalu terbangun malam beberapa kali, hanya untuk meneguk air putih saja.


'Perasaan dulu, aku gatal ke bang Adi juga. Tak pernah ngerindik-ngerindik masuk, ke kamarnya bang Adi kek gitu. Malah… bang Adi yang selalu cari kesempatan, buat masuk ke kamar aku.' gumam Adinda, saat melihat Canda tengah mengambil foto anaknya yang tengah tertidur pulas.


"Udah ah, takut kebangun. Dadah, Mas Black Mamba. Aku mau tahajud dulu." ujar Canda, yang membuat Adinda terburu-buru berbalik ke arah tangga.


......................

__ADS_1


Adi's bird, Sobri, Black Mamba. Ada lagi yang mau nambahin list, buat nama juniornya anak bujang Adi? 😆


__ADS_2