
Adinda mengerutkan keningnya, saat melihat kepala Ghava berada di atas paha Icut. Dengan tangan Icut, tengah mengusap manja kepala Ghava. Sedangkan Icut fokus pada televisi, yang tengah menayangkan film barat tersebut.
Terlihat Haris, Mahendra dan Edi meliriknya sekilas. Karena rambut Adinda yang diwarna cukup mencolok, sedikit terlihat dari hijab asal nempelnya.
Kemudian pandangan Adinda teralihkan ke arah Givan, yang tengah duduk di sebelah Ghifar. Ghifar sedang asik menyantap mie instan, dengan kuah merahnya yang menggoda.
"Bunda… tolong ambilkan nasi, sama minum." seru Ghifar, dengan menoleh ke arah belakang. Di mana meja bar untuk penyekat dapur tersebut berada, berguna untuk membatasi di antara kedua ruangan tersebut.
Alvi yang tengah berkutat di dapur, langsung menyahuti ucapan Ghifar barusan.
"Ada Mamah, kenapa nyuruh bunda?" tanya Adinda datar, dengan sorot matanya mengarah ke arah Ghifar.
"Bunda lagi di dapur, sekalian. Mak tidur aja, nanti bang……" jawab Ghifar yang belum selesai, terpangkas dengan seruan seseorang.
"Dek… Dinda…" panggil Adi dengan suara manjanya.
"Tuh…" timpal Ghifar, dengan menunjuk dengan dagunya.
Adinda menghela nafasnya. Lalu memutar tubuhnya, untuk kembali ke kamar tamu yang tengah ia tempati.
"Pue, Bang?" ucap Adinda, setelah dirinya muncul dari balik pintu.
"Mau ke mana? Sini coba naik." sahut Adi, dengan menepuk pahanya.
Adinda menghela nafasnya, lalu langsung mengambil posisi seperti berkuda di atas paha suaminya.
"Bukan kek gitu juga. Lepas dulu pakaiannya." jelas Adi, dengan mengusap bagi tubuh istrinya yang berbentuk seperti tutup teko.
"Lagi males aku, Bang. Pusing, stress. Tak selera…" tolak Adinda dengan berguling ke samping suaminya. Lalu ia menghadap ke arah kedua balitanya, yang tertidur dengan menghadap tembok.
"Pasti! Tak selara lah, orang mantannya ada di sini juga." tutur Adi seperti menggerutu, dengan memunggungi istrinya.
__ADS_1
Adinda meremas selimut dengan kesal, ia tak menyukai sifat Adi yang satu ini.
"Mahendra kan di sini buat anaknya. Dia juga udah beristri, keturunannya sama istri barunya banyak juga. Tak pantas betul Abang, nyangkutin masalah pribadi kita ke dia. Tak ada hubungannya." tukas Adinda dengan suara yang ditekan. Karena ia khawatir suaranya sampai di dengar mereka semua, yang masih menonton televisi.
"Nyatanya kek gitu! Kemarin nolak, Abang maklumi. Sekarang juga kek gitu? Padahal di rumah aja dari pagi. Apa lagi coba alasannya kalau bukan mantannya?!" tuduh Adi dengan bangkit dari posisinya. Lalu dirinya langsung mengenakan kembali kaosnya, yang sengaja ia lepas tersebut.
"Ya udah, ya udah… ayo…." suara Adinda yang terdengar seperti keberatan.
"Tak usah. Udah tak selera!" ketus Adi dengan keluar dari kamar tersebut. Urat wajahnya begitu terlihat, bahwa dirinya tengah dirundung emosi.
Kemudian Adi menuju ke ruang keluarga, di mana semua orang masih membuka matanya. Sorot mata kesalnya, langsung terarah ke arah Mahendra yang duduk di ujung sofa. Lalu ia langsung memalingkan wajahnya, saat Mahendra menyadari bahwa dirinya tengah diperhatikan oleh suami dari mantan istrinya tersebut.
"Ngemie, Pah." Ghavi menawari ayahnya, setelah dirinya melewati ayahnya yang masih mematung tersebut.
"Hmm." sahut Adi dengan duduk di sofa yang paling dekat dengannya, yang ternyata berada di sebelah Haris.
Haris melihat sekilas, siapa yang duduk di sebelahnya tersebut.
Adi menoleh ke arah Haris, dengan tatapan nyalangnya. Membuat Haris tertawa renyah, dengan menepuk pundak Adi.
"Sana jajan. Nih, kunci mobilnya." lanjut Haris, dengan memberikan Adi kunci mobil miliknya.
Adi langsung membalikkan kunci mobil milik Haris, "Mobil Dinda yang aku ambil tadi siang lebih keren, full modif juga. Terus… Maya yang halal buat aku pun, dulu tak pernah aku campuri. Segala kau sekarang nyaranin aku jajan!" ungkap Adi lirih, yang membuat Haris tersenyum kecut.
"Kan sekarang udah tua. Mungkin bosen, atau bucinnya udah abis. Mana tau, memang kau berniat mau jajan." sahut Haris, yang masih stabil dengan suara pelannya.
"Hmmmm, aku tak macam kau kali! Mending ngocok, dari pada jajan!" ketus Adi yang membuat semua perhatian mereka, tertuju ke arahnya. Karena suara Adi tadi, cukup jelas didengar oleh mereka semua.
Ada yang tertawa kecil, ada pula yang menahan tawanya.
"Biasa aja dong! Macam ngajak gelut muka kau." sahut Haris kemudian.
__ADS_1
"Papah, udah menyangkut begituan. Ya udah uring-uringan, hawanya meletup aja." timpal Givan, yang fokus pada tontonanya.
Adi memberi Givan delikan mematikan. Kemudian dirinya berlalu dari ruang keluarga, mengayunkan kakinya menuju ke kamar para gadis.
"ICUT… MASUK KAMAR! TIDUR!!" seru Adi, sebelum dirinya lenyap dari pandangan mereka.
"Ya, Pah." sahut Icut sedikit berseru, dengan mengikuti langkah kaki ayahnya tersebut.
"Perang dingin dimulai." ucap Ghava dengan berjalan ke arah dapur, untuk mencari makanan. Karena bantalan empuk untuk kepalanya, baru saja berlalu pergi masuk ke kamar.
"Kalau udah kek gitu, diem-dieman kah Vi?" tanya Haris dengan menoleh ke arah Ghavi, yang tengah menikmati mie instannya juga.
"Papah yang diem, jawab seperlunya. Nanti mamah berisik aja, macam biasa. Terus meletup Papah, terus drama deh. Mamah nangis-nangis seolah paling terdzholimi. Terus baikan, masuk kamar, terus ikeh-ikeh kimochi kedengaran menggema." jawab Ghavi, yang membuat beberapa di antara mereka tertawa geli.
"Drama terus memang mamah kau dari dulu." timpal Mahendra, yang membuat mereka semua menoleh ke arahnya.
"Memang suka nangis ya dari dulu, Pah?" tanya Givan, dengan memutar posisi duduknya. Untuk mengarah ke arah ayah kandungnya.
"He'em, cengeng. Orangnya suka ngadu. Jadi misal ada masalah apa, mesti aja ngingetin jangan ngadu ke orang tua. Karena kalau tak bilang macam itu, mamah kau pasti cerita ke orang tuanya. Yang paling bikin kagetnya, pas dulu berantem sama tante kau. Orang segitu alimnya, segitu cengengnya, tapi malah nyiram air satu teko ke tante kau. Gara-gara masalah sepele, masalahnya cuma tentang mainan kau. Papah jelas tak percaya, pas embah kau bilang, Dinda berantem sama Rohmah, nyiram Rohmah air satu teko. Pas Papah tanyain mamah kau, ternyata dia ngakuin, bahwa memang dia nyiram air segitu banyaknya." jawab Mahendra mulai bercerita, yang tentunya mendapat perhatian semua anak-anak Adi.
"Keknya disitu mulai garangnya. Memang sekarang, kalau udah memuncak betul main fisik. Papah Adi kena pukul botol, yang masalah kemarin, masalah LC itu, kena lempar vas bunga." sahut Givan, yang teringat akan drama di kediaman ibu Meutia. Edi mendengarkan hal itu dengan seksama, karena menyangkut dengan seseorang yang ia cari ke mana-mana.
"Memang dia tak akur kah sama keluarga kau?" tanya Haris, yang merasa sedikit penasaran dengan cerita rumah tangga Adinda dulu.
"Akur dulunya. Tapi karena masalah mainan Givan itu, jadi dia tak akur sama adik bungsu aku. Dinda cerita sampek nangis, dimaki, dikatain dia diem aja. Terus tiba-tiba dia nyiram air seteko itu, karena mulut adik aku bilang katanya aku nikahin dia karena terpaksa, terus ada bilang juga katanya anaknya bukan anak aku. Ya kan aku jadi bingung, mau bela siapa. Satu sisi ada Dinda istri aku, di sisi lain ada adik kandung. Niat hati sih pengen mereka akur, tapi nyatanya malah adik aku ngomporin yang lain buat musuhin Dinda juga." jawab Mahendra, membuat Haris manggut-manggut mengerti.
"Terus cerai dari situ?" celetuk Givan, yang masih bingung dengan kasus perceraian orang tuanya tersebut.
......................
Kisah Adi Riyana ini masih berkesinambungan. Makanya kenapa author nyaranin buat baca semua seasonnya, karena biar tau episode yang terpenggal-penggal begini.
__ADS_1