Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS259. Mencairkan deposito


__ADS_3

"Kin juga minta di gedung resepsinya. Gedung TNI gitu, apa itu namanya? Di sini bisa dipakek buat nikahan, tapi perempat jam lima belas juta. Ehh, tapi itu waktu aku nikah. Keknya sekarang harganya udah lebih mahal." tambah Haris, membuat para orang tua itu pusing.


"Kau ada berapa? Kita patungan aja kah? Tapi aku pun, tunggu deposit cair nih." usul Adi kemudian.


"Ya aku pun keknya harus cairin deposit dulu. Kalau tabungan pribadi aku sama Alvi, paling cuma puluhan juta aja. Karena kemarin masukin Ken spesialis, kurangnya malah dibantu Ghifar itu." Haris mengatakan keadaan keuangannya, karena seperti itulah keadaannya.


"Semampu aku aja, Pah. Aku tak mau repotin kalian." ungkap Ghifar lirih. Ia tengah menikmati rokoknya, dengan menyelami lamunannya tentang biaya pernikahannya.


"Memang kau ada berapa, Yang? Aku pengen di gedung, Yang." rengekan manja penuh harapan dari Kinasya.


"Paling lima puluh jutaan." jawab Ghifar melirik pada Kinasya sekilas.


Ghifar terlihat cuek dan tidak terlalu memperlihatkan perasaannya, tidak seperti Kinasya yang terlihat jelas dari perhatian dan pancaran matanya.


Zuhdi menyimak obrolan mereka. Ia baru tahu, ternyata Ghifar dan Kinasya adalah sepasang kekasih. Pantas saja beberapa kali pernah tertangkap matanya, Ghifar dan Kinasya yang tengah bermesraan.


Lalu siapa dengan Tika? Wanita yang anteng bermain ponsel di ruang tamu tersebut. Kini Zuhdi merasa penasaran dengan hubungan kakak iparnya dengan Tika.


"Mana cukup, Yang! WO aja udah tujuh puluh lima jutaan." Kinasya menuntut pesta mewah dari Ghifar.


"Hmmm...." Ghifar tengah berpikir.


"Nanti aja deh nikahnya, tahun depan aja. Tunggu uang aku cukup, Yang." Ghifar begitu lembut bertutur dengan Kinasya.


"Huh!" Kinasya kembali marah. Ia melarikan diri, dari teras halaman belakang tersebut.


"Kin pengen yang berkesan." Haris pun mendengar drama kecil antara Ghifar dan Kinasya tadi.


"Aku tak ada biaya banyak, Bi. Mungkin betul kata Kin dulu. Jual tujuh mobil, terus nikahin dia." Ghifar teringat akan ucapan Kinasya kala itu. Saat dirinya tengah menyantap nasi goreng asin tanpa telor buatannya sendiri.


"Kau punya berapa unit di sana?" tanya Adi pada anaknya.


"Ada seratus lima puluh unit, tapi dua puluh lima unit masih kredit. Aku tambahin banyak unit, pas aku dapat hasil panen kemarin Pah. Tapi aku beli second, yang uang hasil panen ini. Tadinya sih, mobil-mobil aku tak sampek seratus unit."

__ADS_1


Itu bukan usaha kecil menurut Adi. Bukan lagi berkembang, tapi Ghifar sudah memiliki nama dan usahanya sudah berada di puncak.


"Jual tujuh keknya tak bikin goyah, Pah." tambah Ghifar kemudian.


"Tak bikin goyah, tapi kau bikin dapur istri-istri supir kau tak berasap. Mau kau kemanakan? Supir-supir yang megang batangan mobil kau." Adinda membuka suaranya. Meski fokusnya terbagi, tapi ia bisa menyimak obrolan mereka semua.


"Suruh ngoper dulu. Misalkan si A stay di kota X, nanti si A rehat si kota tujuannya, kota Y misalkan. Nah, yang bawa balik rombongan dari kota X ke kota Y, nantinya si B. Terus besoknya si B bawa rombongan baru lagi ke kota X, nanti rombongan balik sama si A. Besoknya, si A berangkat lagi bawa rombongan ke kota X, nanti si B yang bawa balik rombongan sama bawa rombongan baru. Kek gitu terus siklusnya. Satu mobil pun, memang yang megang dua orang. Karena misalkan perjalanan enam jam, yang tujuan dari kota X ke Y itu udah nungguin. Sedangkan supir butuh istirahat, jadinya ganti orang kan gitu." mereka mengerti dengan penjelasan Ghifar.


"Jangan jual, nanti tungguin deposit. Biasanya satu bulan prosesnya. Kau sabar dulu aja." Adi tak ingin Ghifar mengacak-acak usahanya sendiri.


"Masalahnya Kin yang kek udah tak sabar. Hamil dulu nanti gadis aku, kalau dia anteng sama jantannya." Haris mengungkapkan kekhawatirannya.


Ghifar melongok ke layar ponsel, "Ya Abi bilang, suruh Kin lawan aku. Tak mau, tak mau. Tapi diem aja." Adi mengacak-acak rambut anaknya, ia tertawa geli mendengar ucapan anaknya.


"Perempuan, kalau udah menyangkut perasaan itu pasrah Far. Tak bisa dia ngelawan." jelas Adinda. Ia tidak sengaja berpihak pada Kinasya.


"Tuh, Far. Mak kau ngerasain sendiri soalnya." ujar Haris, membuat mereka kembali tertawa renyah.


"Kau aja kek mana, Di?" Haris teringat akan Givan kecil yang menangis karena takut dengan leher ibunya, yang penuh dengan tanda merah. Itu pun Haris ketahui, saat berada di rumah ibu Meutia untuk acara pernikahan Edi.


"Aku tak maksa Dinda. Udah di ujung juga, kalau Dinda geleng, aku cari opsi lainnya." aku Adi tanpa malu.


"Pada membela diri!" sindir Haris kemudian.


"Pah, Bi. Kalau memang mesti cepet, aku pengennya sederhana aja. Tak mau terlalu repot atau capek. Maksudnya... Modernan aja gitu. Akad, terus langsung pelaminan. Empat jam lah, terus langsung selesai." Ghifar kembali fokus pada pembicaraan mereka.


"Sayang bayar dangdutannya, kalau cuma empat jam resepsi." rupanya Adi benar-benar akan mengadakan dangdutan di pesta pernikahan Ghifar.


"Susah buat ijinnya, Bang." Adinda beralih tempat duduk, di dekat suaminya.


"Tak usah dangdutan. Kek Giska aja, di halaman rumah. Silahkan kalau mau ada yang nyanyi, hiburan music dari pihak WO-nya. Parkir di lapangan." timpal Ghifar kemudian.


"Ya udah kek gitu tak apa. Nanti diobrolin lagi sama Kinnya, Ris. Anak kau tukang ngambek." mereka tidak bisa memutuskan, karena yang ingin menikah adalah Kinasya dan Ghifar.

__ADS_1


"Ya udah, nanti kabarin aja ya?"


"Ok, siap." Adi segera menutup pangg teleponnya.


"Yayi...." mereka semua menoleh ke arah teriakan Mikheyla.


Ternyata Zuhdi tengah berjalan mendekatinya. Ia ingin menggendong anak yang aktif tersebut.


"Yayi-yayi! Kau kalau lagi dimarahin yayah, minta pertolongannya sama Om." Giska memaksa ingin dipanggil tante. Membuat Zuhdi kini dipanggil om, oleh para keponakan Giska.


"Yi es kim uyu." suara Mikheyla terdengar begitu lucu.


"Ok, siap. Ayo Gibran sama Gavin cuci tangan dulu." Zuhdi mengajak anak-anak itu untuk membeli es krim.


"Ayo." Gavin dan Gibran langsung menuju ke arah keran air.


Zuhdi pun membawa Mikheyla untuk mencuci tangannya. Ia sudah terbiasa, dengan aturan sederhana di kehidupan Giska.


"Bawa ke A*fa dulu, Mah." Adinda mengangguk, menyetujui akan anak dan cucunya yang dibawa pergi.


"Meme...." Hamerra hampir menangis, karena hanya dirinya yang tidak diajak.


"Nanti Abang bawakan buat Memei." jelas Adi, dengan menghampiri cucunya yang tengah bermain sendirian.


Zuhdi sebenarnya masih tidak mengerti, dengan keluarga dari Giska. Pada Mikheyla, ia dipanggil dengan sebutan om. Namun, pada Hamerra dirinya disebut sebagai abang. Padahal dirinya mengetahui sendiri, bahwa Hamerra adalah anak dari Icut. Tetapi ia bisa membungkam hal itu dari dunia luar, ia tidak pernah mengatakan yang sebenarnya siapa Hamerra meski pada keluarganya sendiri.


Hamerra mengangguk, ia kembali bermain dengan mainannya.


"Bli......


......................


Runyam, berbelit-belit, terlalu banyak tokoh. Tapi aku malah tertantang 😆

__ADS_1


__ADS_2