Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS166. Meminta daster


__ADS_3

"Adek Gibran baik deh. Aunty jadi jatuh cinta." ucap Kinasya dengan memamerkan gigi hasil bleaching di dokter gigi langganannya.


"He'em, aku baik kalau ada maunya." sahut anak umur lima tahun tersebut.


Mereka semua terkekeh samar, kemudian melanjutkan sesi makannya.


"Sini Adek barengan sama Abang aja." pinta Gavin, saat melihat adiknya hanya memakan kerupuk saja. Karena bakso miliknya, telah ia berikan pada tamu di rumah itu.


"Aku tak mau. Aku mau makan sama telor asin." tolak anak yang anteng memakan kerupuk tersebut.


"Ya, nanti Mamah belikan." balas Adinda, karena dirinya tengah kelaparan di siang hari ini.


"Kin... Tak ada baju kah? Malu Papah tengok, kau terbuka betul. Ini A*eh loh, di teras rumah teungku haji lagi." celetuk Adi, dengan memandangi penampilan Kinasya yang terlihat cuek saja.


"Kan aku udah biasa di rumah abi juga gini. Hari-hari aku pakek daster flash sale, tapi aku tak bawa. Aku cuma bawa baju dinas sama sertifikat penunjang aja buat di sini." ujar Kinasya santai.


"Bukannya Papah reaksi sama badan kau, entah kenapa malah malu sendiri Kin. Sana ke kamar Mamah, ambil pakaian yang nyaman buat kau." tutur Adi, karena melihat tubuh Kinasya yang tak seukuran dengan anak-anaknya.


"Bentar, Pah. Aku lapar." tukas anak perempuan dengan paras sempurna tersebut.


Kinasya memiliki tinggi badan 169cm, berbadan profesional bak model. Part belakang yang terbentuk karena olahraga, juga dada besar yang begitu kencang di balik tank top yang ia kenakan. Bahu lebar, karena gym yang rutin, memperlihatkan ia bukan wanita yang lemah. Rambut hitam nan tebalnya, terlihat begitu lurus karena perawatan salon. Kulitnya berwarna kuning langsat khas wanita Asia, dengan dagu lancip yang sengaja disuntikkan sesuatu. Hidung bertulang ramping, dengan mata yang memiliki kelopak bertangga, ia akan tampil cantik jika menggunakan riasan mata.


"Kenapa tak punya baju selain daster?" celetuk Adinda, yang mengalihkan perhatian Kinasya dari bakso pedasnya.


"Susah cari ukuran. Bra aja aku tak pernah pakek. Maksudnya... Bra busa, atau bra buat sehari-hari gitu. Aku tak pernah pakek. Aku pakek bra sport, khusus olahraga aja. Sama bra tempel, karena tak ada yang nyaman buat aku. Tapi kalau di rumah, memang tak pernah pakek. Daster aja udah, sama hot pants. Pakek CD, kalau lagi mau keluar rumah aja, sama lagi haid." Adi geleng-geleng kepala, mendengar pangkuan Kinasya.


"Tak mungkin, tak ada yang muat di badan kau. Masa sampek tak pernah pakek pakaian nyentrik yang model jaman sekarang?" tanya Adi heran.


Kinasya melirik ke arah Adi, "Memang tak punya aku, Pah. Pakaian yang macam piyama, talinya di depan gitu, aku tak punya. Pernah punya sih, yang stelan begitu. Tapi celananya sekali pakek langsung jebol, kainnya, bukan jahitannya. Pas rutin gym ini, jadi susah cari pakaian. Jadi daster terus." jawab Kinasya tanpa malu.


"Paling legging panjang kek gitu ya?" tandas Adinda yang diiyakan oleh Kinasya.


"He'em, karena legging bahannya stretch. Kalau di rumah ada temen main, atau pacar ngapel. Paling daster, bawahnya legging panjang, biar paha ke bawah tak nampak." jelasnya, kemudian senyap kembali.

__ADS_1


"Mamah banyak daster, nanti ambil aja beberapa." ucap Adinda, setelah meneguk air dingin yang ia tuangkan dalam gelasnya.


"Aku pakek jumbo." sahutnya, dengan helaan nafas berat.


"Mamah standar, karena pas di badan Mamah. Nanti beli sama Aira, anaknya mak wa Ayu itu. Dia jualan sepatu online, sama daster midi, macem-macem daster." balas Adinda, yang disetujui oleh Kinasya.


"Pakek anduk apa sarung, sana masuk! Ada Givan nanti, bisa lupa Canda." ujar Adi, saat Kinasya baru menghabiskan mangkuk baksonya.


"Ok siap Pak bos." Kinasya membentuk huruf O, antara jari telunjuk dan jempol tangannya.


"Heh, cuci mangkuknya!" pinta Adinda, yang melihat Kinasya berlalu dengan meninggalkan mangkuk kotornya.


Kinasya kembali, dengan menyunggingkan senyum kudanya.


Beberapa saat kemudian, Aira datang dengan membawa beberapa daster yang berukuran jumbo.


"BB berapa sih, Kak?" tanya Aira, dengan menunjukkan koleksi jualannya.


Kinasya mengenakan sarung milik Adi, untuk menutupi dadanya hingga sebatas lutut.


"Tapi nampak tak gemuk, Kak? Aku 168, BB 69, udah ngelipet di perut." ucap Aira, dengan menunjukkan lemak di perutnya.


Kinasya terkekeh samar, ia khawatir menyinggung perasaan Aira.


"Gemuk itu beda sama badan ngebentuk." komentar Adi, dengan berjalan melewati mereka semua dengan minuman hangatnya.


"Oh, iya Pah... Dipanggil ayah, suruh bantuin cari bangkai tikus." ujar Aira, yang membuat Adi geleng-geleng kepala. Namun, ia tetap melangkahkan kakinya menuju ke teras rumahnya.


"Mamah ambil yang mana, Mah?" tanya Aira, saat melihat Adinda yang masih fokus pada ponselnya.


"Mamah udah banyak daster sih. Mamah mau sepatu ini." tunjuk Adinda, dengan memperlihatkan layar ponselnya.


Aira manggut-manggut, "Nanti aku anterin, barangnya belum datang." jawabnya kemudian.

__ADS_1


"Mah... Giska udah mulai KKN senin depan." ungkap Givan yang baru muncul, dengan mengusap keringat di dahinya.


Givan melirik Kinasya sekilas, saat Kinasya cepat-cepat memeluk bantal sofa.


"Dek... Canda... Siapin makan siang!" pinta Givan dengan berjalan ke arah kamarnya.


Namun, pintu kamar terbuka lebar. Saat Givan hendak menarik gagang pintu tersebut.


"Aku baru bangun, Mas. Belum sempet masak makan siang." wajah Canda begitu terlihat layu, dengan uapan tipis yang keluar dari mulutnya.


Givan menghela nafas beratnya, "Sengaja tak makan di luar, mau hargai hasil masakan istri biar tak ngambek-ngambek lagi, karena masakannya masih utuh. Ehh, malah tak masak. Tadi sarapan, mamah yang buat. Adek Canda kek mana sih?!" ujar Givan dengan nada halus, tetapi tetap terdengar seperti membatin.


"Maaf, Mas. Ya udah, aku tumis sayuran dulu ya. Mas bersih-bersih, sholat aja dulu." tutur Canda, saat mendapati tatapan kecewa dari suaminya.


"Hmm... Kalau ada kentang sama wortel, dibikin sop aja. Isiannya wortel sama kentang pun tak apa, jangan kasih lada, barangkali Memei atau Gibran makan." tukas Givan dengan melangkah masuk ke dalam kamar.


"Mas mau bersih-bersih, terus sholat dulu." lanjut Givan, saat menyadari bola mata istrinya masih memperhatikannya.


"Tak enak badan kah, Menantu? Kau banyak tidur perasaan. Semalam nonton TV sama Mamah, sampek akhirnya Givan pindahin kau ke kamar, karena udah ngeces kau. Bangun pagi kesiangan, subuhan jam enam. Sekarang... Jam setengah satu, udah tidur siang aja." mertua bawel, atau mertua yang memang perhatian kadang beda tipis seperti ocehan Adinda barusan.


"He'em, badan pada linu. Aku tidur siang dari jam setengah sebelas tadi." ujar Canda, dengan melanjutkan langkah kakinya menuju dapur.


"Bang Givan tak rewel ya makannya, Mah? Sop isian wortel sama kentang pun mau." tutur Aira, yang baru saja menyaksikan interaksi Givan dengan istrinya.


"Memang anak Mamah tak ada yang rewel kalau makan, cuma Gibran ini. Givan kecil, malah minta sayur kacang panjang terus. Kacang panjang dipotong kecil-kecil, seukuran suapannya aja. Bumbunya cuma potongan bawang merah sama putih aja, langsung masukin ke air mendidih, terus masukin kacang panjang. Tambah garam, sama penyedap, udah lahap dia makan. Kalau Gibran, tergantung seleranya. Dimasakin apa, kadang minta makan sama pilus aja." tukas Adinda membandingkan selera makan anak sulung dan anak bungsunya.


"Mah... Aku ambil ini semua deh. Bayarin ya." ucap Kinasya dengan cengengesan.


"Ma...... Mah......" semua orang menoleh, ke arah makhluk kecil yang merangkak dengan celotehannya.


......................


Rileks dulu, naik lagi, puncak lagi, turun lagi, rileks lagi 🤭

__ADS_1


__ADS_2