
"Ck... Dirinya ngajakin jalan-jalan sendiri. Dirinya sendiri yang kecapean juga."
Awalnya Adi mengira, bahwa anaknya tengah datang bulan. Ternyata tebakannya salah. Untungnya, Adi belum sampai mengutarakannya.
"Mamah kira Giska haid lagi. Padahal kan, seingat Mamah. Giska baru selesai haid, pas malam inai itu." rupanya pemikiran Adinda pun, menjurus pada datang bulan Giska juga.
"Nanti, jangan dulu dibuat hamil Di. Bukannya apa-apa, suruh selesaikan pendidikannya dulu. Biar tak tersendat-sendat, karena Giska ngidam."
Zuhdi terdiam sejenak, ia mengurungkan niatnya untuk membersihkan kandang burung itu.
Ia pun berpikir demikian, karena ia sadar dirinya tak memiliki tabungan sepeser pun. Ia harus merencanakan itu, agar kebutuhan Giska dan bayinya kelak tercukupi.
"Aku pun belum ada tabungan, Pah. Tapi kek mana caranya biar tak hamil? Suami istri kan, resikonya pasti istrinya hamil." Ghifar terkekeh geli. Ia tak menyangka, bahwa adik iparnya sudah tak segan membicarakan hal itu.
"Sini." Adi melambaikan tangannya, meminta Zuhdi untuk mendekatinya.
Zuhdi mengangguk, ia meninggalkan kesibukannya pada kandang burung tersebut. Ia berjalan menuju keran air, yang terdapat di sudut teras halaman belakang tersebut.
"Jangan nakal, Key!" Adinda melihat Mikheyla mencoba menarik satu kaki Hamerra, yang tengah duduk di atas rumput hias tersebut.
"Mama...." Hamerra menoleh ke arah Adinda, dengan wajah ketakutannya. Ia meminta pertolongan, pada orang tua dalam dokumen kelahirannya itu.
Memang sesuai rencana mereka. Kini Hamerra adalah adik dari Gibran, dalam kartu keluarga milik Adi. Karena, bagaimana pun keadaannya. Status Icut belum pernah menikah, Icut tidak bisa mengambil resiko dengan dokumen kelahiran anaknya jika terus menunda. Maka tak heran, Hamerra diajari untuk memanggil mamah. Ketimbang menyebut Adinda dengan sebutan nenek, karena Adinda adalah orang tua Hamerra dalam dokumen kelahirannya.
Adinda melangkah menuju Hamerra, lalu mengangkat tubuh anak yang belum bisa berjalan itu. Hamerra sudah berusia dua tahun, tetapi anak itu masih betah merangkak saja.
"Nanti datang ma kau, minta anter ke tukang terapi yuk. Memei harus cepet jalan, biar bisa lari kalau dijailin Key." Adinda juga mengambil mainan Hamerra.
__ADS_1
Lalu, Adinda mendudukkan Hamerra di lantai teras rumah. Kemudian dirinya memberikan mainan Hamerra, yang membuat anak itu anteng.
Terlihat Mikheyla kini malah mengisengi Gibran yang tengah bermain truk pasir. Namun, Gibran tidak merasa terganggu dengan Mikheyla. Ia malah memberi Mikheyla kesempatan untuk bermain truk miliknya. Gibran bisa berbagi dan mengayomi keponakannya sendiri.
"Gitu, Di." Adi baru selesai mengajarkan sesuatu pada menantunya.
"Abang bisa tak kek gitu? Segala ngajarin Zuhdi cara itu." samar-samar Adinda mendengar saran dari suaminya.
"Kalau Papah tak bisa." Zuhdi, Ghifar dan Adinda tertawa bersama.
"Papah ambil opsi pakek k*ndom aja, dari pada suruh cabut singkong. Soalnya tak bisa, lagi puncaknya terus ditarik keluar. Malah nanti berceceran ke mana-mana. Tapi balik lagi sama kebutuhan Giska, dia nyaman tak kalau kau pakek pengaman. Kalau dia tak nyaman, ya kau mesti ngalah. Berarti kau yang harus cabut singkong." Zuhdi sudah biasa saja pada keluarga istrinya. Pembicaraan seperti itu, dianggapnya sudah lumrah. Apa lagi dirinya menyadari, bahwa dirinya tak memiliki ilmu atau pengalaman tentang hal itu.
"Tuh dengerin." Ghifar menepuk pundak Zuhdi.
"Uhh, jadi tak sabar nunggu malam aku." Zuhdi menggosokkan telapak tangannya pada pahanya yang terlapisi celana kolor futsal.
"Ngapain nunggu malam? Malah kau enak belum ada anak. Ada waktu lenggang, mau siang, mau malam, kau halal selagi nyerangnya benar." tandas Adi kemudian.
"Kan namanya malam pertama, Pah. Masa siang-siang? Kan banyak orang." perkataan Zuhdi membuat geli ibu mertuanya. Zuhdi seperti benar-benar polos.
"Kan tak mau nontonin kau. Malam pertama itu kiasan aja. Kau mau ambil waktu siang, sore, pagi, subuh, tak masalah juga. Tak harus malam-malam."
Zuhdi merasa malu sendiri, mendengar penjelasan ayah mertuanya. Mereka begitu support dan membimbing dirinya yang belum mengerti apa-apa.
"Ya udah, gampang lah." Zuhdi bangkit, dirinya kembali menuju ke kandang burung.
Ia belum memiliki pekerjaan kembali. Proyek-proyek pembangunannya, sudah siap huni. Bahkan, pengecatan pun sudah selesai. Namun, ia tidak bisa berdiam diri di rumah tanpa kegiatan apapun.
__ADS_1
"Ini nih Papah." Kinasya menyodorkan layar ponselnya ke arah wajah Adi.
"Hmm, apa?" Adi menyahuti Haris yang memanggil dirinya.
"Jadi... Kita besanan kek gitu, Di?" tanya Haris, lalu dirinya terkekeh renyah.
"Itulah." Adi menjawab dengan tersenyum paksa.
"Kau tak setuju kah? Masam betul wajah kau!" ternyata Haris menyadari kerumitan Adi.
"Bukan tak setuju. Aku beli tanah sepuluh hektare, sampek belum bisa kegarap, karena uangnya tak ada. Ghava tuh udah minta buat resmi. Nanggung kan dia satu semester lagi, minta istrinya diboyong ke rumah umi sana. Dia pengen diurusin katanya, pengen ngerasain punya istri. Mana kan, Ghava ini belum mampu. Berasa loh, Ris. Ngasih jatah tambahan buat Ghava sama istrinya. Belum biaya pendidikan mereka. Mana kan, Ghifar minta dangdutan. Aku udah ngajuin cairin deposit, tapi belum di-ACC sama pihak bank." Kinasya terdiam, ia merasa pernikahannya ini akan ditahan untuk beberapa waktu.
"Mana kan, Givan Canda kau juga ya yang menuhin?" Adinda mendelik ke arah suaminya. Padahal dirinya sudah berpesan pada Haris, agar jangan sampai Haris menembusi langsung pada suaminya. Tentang segala sesuatu yang dirinya ceritakan dan mintai saran darinya.
"Itulah. Tak tega aku tengok menantu hamil, tapi tak ada susu khusus dirinya. Givan sih nganggapnya tak boleh aja. Ya benar sih, jangan terlalu banyak makan uang orang tua. Tapi aku tak tega sama cucu. Udah Canda jarang jajan, besarin tidur aja. Sampek Dinda bilang ke Canda, susu kau di wadah ini. Buat di dapur aja, minum di dapur, jangan sampek suami kau tau. Karena gitulah anak Hendra, kadang gengsinya besar betul, tapi keadaannya butuh bantuan orang lain." Haris memahami, bahwa merintis usaha tidak langsung berjaya. Ia mengerti akan perekonomian Givan yang belum stabil, meski memiliki usaha material bangunan sendiri.
"Ghifar tak bantu-bantu kah? Dia sampek support uang masuk pendidikan Ken, masa tak bisa bantu kau?" Haris tak mengetahui, bahwa Ghifar pun ada di tempat itu.
Jika ia mengetahui keberadaan Ghifar, ia tak akan mengatakan hal itu.
"Bebannya udah banyak. Pendidikan Yoka, kebutuhan Tika. Untungnya, Yoka di sana mau kerja paruh waktu sama Fira. Jadi dia bisa handle uang untuk jajannya sendiri. Susu Key aja, ini Ghifar yang jadi rutin belikan. Givan kerja kalau Zuhdi ngajak aja. Zuhdi nganggur, ya diapun ikut nganggurnya aja. Belum lagi kemarin, mahar Winda, si Ghifar yang handle dulu. Nambahin Zuhdi juga kemarin, beli sapi, kambing, sama kasih pegangan ke orang tua Zuhdi. Kasian aku sama Ghifar, tapi keadaan aku pun perlu dikasihani juga. Memang hasil panen aku sampek triliunan, tapi itu kotor. Belum upah pekerja, pekerja aku ini bukan satu dua orang. Ngurus ladang segitu banyaknya itu, sampek hampir satu ribu orang yang aku pekerjakan. Belum jasa angkutnya, belum biaya budidayanya. Pupuk kek gitu, kan bisa ribuan karung Ris. Dinda aja nih, aku kasih dia jatah sekian setiap bulannya. Dulu-dulu, dia mampu nyisihin buat tabungannya sendiri. Tapi sekarang boro-boro, Dinda malah minta lagi meski belum akhir bulan. Apa lagi kemarin, ambil Giska dari pihak berwajib itu nebusnya sekian M. Untungnya Winda pandai cakap, jadi kasus cepat ditutup meski pakek uang. Memang usaha aku sama Dinda tak cuma satu. Tapi ya kau bayangkan sendiri lah. Karena aku ini panen itu tak tiap waktu. Hasil panen itu, dipakek bayar pekerja setiap bulannya, aku ambil setiap bulannya." Adi tak memungkiri, bahwa dirinya tengah krisis pemasukan juga.
Zuhdi menoleh ke arah ayah mertuanya yang tengah berkeluh kesah. Ia tak menyangka, ternyata Giska ditebus orang tuanya dengan nilai uang yang begitu besar.
......................
Pernah bayangin gak sih gimana pusingnya Adi? dia semua yang menuhin kebutuhan anak, mantu sama cucunya.
__ADS_1