
"Kau abis sama Ghifar lagi?"
Imbuhan lagi, membuat Kinasya merasa ayah angkatnya mengetahui sesuatu. Tuduhan yang berarti, bahwa ini bukan pertama kalinya ia bersama Ghifar.
"Tak, Pah." Kinasya masih teringat akan pesan kekasihnya, untuk merahasiakan hubungan mereka sampai situasinya tepat untuk mereka.
Adi masih memandangi wajah gadis yang ia anggap putrinya. Ia mencari kebenaran, dari ekspresi wajah Kinasya.
"Nginep di sini aja, tidur sama mamah." Adi merasa, bahwa memang ada yang Kinasya sembunyikan. Meski raut wajah gadis itu terlihat tenang.
Kinasya mengangguk, "Ya, Pah." dirinya kembali masuk ke dalam rumah.
Ia menimbang-nimbang sesuatu. Ia ingin berbaur, tetapi khawatir diberi pertanyaan dari ibu angkatnya. Tapi jika ia langsung ke kamar ibu angkatnya, pasti akan menimbulkan kecurigaan baru.
"Bantuin Umi bikin kue, Kin." untungnya seruan tersebut sangat pas, saat dirinya baru sampai di ruang keluarga.
"Ya, Umi." Kinasya bergegas melewati mereka semua dengan sopan dan senyum ramah.
Tak lama kemudian, Ghifar turun dari lantai atas.
Adinda menyadari itu. Anaknya dan Kinasya sama-sama dari lantai atas ternyata. Karena, tak ada yang menaiki tangga selain Winda.
Winda pun segera kembali ke lantai bawah, setelah dirinya selesai menunaikan ibadahnya.
Lirikan tajam dari ibunya, menimbulkan kegugupan bagi diri Ghifar. Apa lagi jika mengingat tentang dirinya. Ghifar ingat, akan dirinya yang tidak bisa berbohong. Lalu bagaimana, jika ibunya menanyakan sesuatu padanya?
Ia hanya tertunduk, mencoba tidak melihat ibunya yang terus-menerus menatapnya.
Ghifar berbelok ke arah dapur. Ia ingin membasahi kerongkongannya terlebih dahulu.
Setelah ia sampai di dapur pun, terlihat Kinasya tengah berada di sana dengan beberapa orang yang sibuk dengan bahan-bahan makanan.
Kinasya hanya meliriknya, kemudian dirinya fokus kembali pada adonan kue tradisional itu.
Ghifar berniat menuju ke teras rumah. Karena terdengar gelak tawa para saudaranya, yang sampai ke telinganya.
Deg....
Ia tidak bisa berkutik, saat wajah ibunya ada di depannya.
Raut wajah tegangnya tidak bisa ditutupi. Ghifar amat takut, karena ibunya memasang wajah seramnya.
"Jangan kira banyak anak, banyak orang kek gini. Mamah tak merhatiin kau. Jelas nampak di mata, dari tadi anak ilang satu."
__ADS_1
Ghifar tersenyum lebar pada ibunya. Ternyata ibunya tak menuduhnya atau mencurigainya. Ibunya hanya merasa kehilangan kehadirannya, di ramainya rumah seperti sekarang.
"Ketiduran, Mah." alibinya mencoba berbohong.
"Hmmm." Adinda melangkah ke arah para saudara suaminya.
Ghifar mengusap-usap dadanya, lalu segera melarikan diri dari situ. Ia takut ditanya oleh ibunya kembali.
Saat ia sudah berada di teras, ia dikejutkan kembali dengan ayahnya yang memandangnya begitu intens. Apa ayahnya mencurigainya? Pertanyaan Ghifar yang bersemayam di benaknya.
Tanpa memperdulikan pandangan ayahnya. Ghifar langsung berbaur dengan para saudara sekandungnya. Ia ikut dalam permainan kartu, yang hanya untuk mengusir kejenuhan dan rasa kantuk saja.
~
Zuhdi takut dirinya bau ketiak, karena keringat tak ada habisnya membasahi tubuhnya.
"Leumo awas lepas. Ikat kuat-kuat." seruan dari salah seorang keluarganya, mengingatkannya pada Ghifar.
Ternyata, kakak iparnya yang satu itu tak main-main dalam berbicara. Ghifar benar-benar memberinya seperangkat perhiasan, seekor sapi jantan, dengan sepasang kambing untuk pernikahan mereka.
Ghifar juga memberi uang tambahan. Agar ibu Robiah dan pak Zuhri bisa menyempurnakan pesta tueng dara baro untuk Giska.
Janji Zuhdi dalam hatinya sendiri. Ia akan menganggap saudara-saudara Giska, seperti saudara kandungnya sendiri. Ia pun akan berbakti pada kedua mertuanya, seperti pada orang tuanya sendiri.
Mobil mewah milik Ghifar pun, sudah dihias begitu indah dengan pita berwarna merah dan bunga-bungaan.
"Pakek meuketopnya, tuh mobilnya udah disiapin bang Ghifar."
Lamunan Zuhdi buyar seketika, ketika salah seorang menunjuk Ghifar yang tengah berjalan ke arahnya.
"Hai Nong, yang cantek dong. Disyuting nih." suara Ghifar menyapa anak pak Salim, mengundang tawa para tetangga Zuhdi yang berniat untuk mengantar Zuhdi.
"Udah cantik aku ini, Bang." anak perempuan tanggung pak Salim, sudah mengenal anak sang juragan tersebut. Ia memaklumi sapaan Ghifar seperti itu.
"Masuklah dulu, Di. Mau ambil gambar kau keluar dari dalam rumah." ternyata di belakang Ghifar, ada dua orang laki-laki yang membawa kamera.
"Ok siap, Bang." mereka terkekeh geli, karena kini panggilannya terbalik.
Beberapa hari yang lalu, saat Zuhdi berkunjung ke rumah juragan tersebut. Zuhdi diminta untuk terbiasa dengan panggilan yang pantas. Zuhdi kini memiliki sifat muda, karena Giska adalah saudara tengah. Yang memiliki banyak kakak, juga beberapa adik.
"Kau yang mesti manggil abang lah!" Adi menimbrung pembicaraan anak laki-laki mereka.
"Hei, Bang." Zuhdi memberi contoh kecil, untuk latihannya memanggil kakak pada calon kakak iparnya.
__ADS_1
Mereka semua terkekeh geli, rasanya tidak pantas saat Zuhdi menyebut Givan, Ghifar, Ghava dan Ghavi sebagai abang.
"Giska cari jantan yang tua-tua betul, Ya Allah." Ghavi seperti membatin.
"Matang, Bang. Bukan tua." Zuhdi menyangkal hal itu.
Mereka kembali tertawa, rasanya begitu lucu sematan kakak yang terselip untuk para pemuda tersebut.
Paket pernikahan untuk Giska bisa diadu, dengan pernikahan para selebgram. Langkah demi langkah kaki Zuhdi disorot persekian inci. Para kameraman tidak mau melewati satu momen pun.
Hingga mobil yang berbaris itu perlahan menuju ke masjid, tempat Zuhdi singgah untuk melaksanakan ijab qobul.
Bukan tanpa perhitungan, karena memang hal itu sudah menjadi keputusan mereka bersama.
"Heh... Mana mempelai aku?" Zuhdi begitu terlihat lucu, karena tak melihat Giska di depan meja pendek yang telah disiapkan tersebut.
"Ada, disembunyikan dulu. Nanti sah, baru dikeluarin." jawaban dari salah seorang saksi, justru membuat Zuhdi terkekeh geli sembari menoleh ke arah saudara Giska.
"Dikeluarin katanya." ucap Zuhdi, yang membuat para saksi terbahak-bahak.
Bukan hal aneh untuk para saudara Giska. Pasalnya akhir-akhir ini, saat Zuhdi berkunjung ke rumah mereka. Pembahasan mereka tidak pernah santai. L*bido dan khayalan nakal diungkit setiap kalimat yang bersahutan dari mereka. Tak aneh, jika Zuhdi malah tercemari pikiran kotor mereka.
"Pengantinnya koplak." seru salah satu saudara Zuhdi. Mereka yang sudah dewasa, tentu memahami arti keluarkan tersebut.
"Mau cepet sah tak? Terus di keluarkan." Adi yang sudah bersiap di seberang meja tersebut, ia tidak sabar untuk segera mewalikan anak perempuan satu-satunya yang akan ia walikan tersebut.
"Ok, Pah. Segera." Zuhdi buru-buru duduk di depan meja pendek tersebut.
Ia menekuk kakinya, untuk duduk di lantai yang sudah dilapisi karpet tersebut.
"Bismillahirrahmanirrahim...."
Pembacaan doa baru dimulai. Semua orang duduk dalam diam, untuk menyaksikan hari bersejarah untuk Zuhdi dan Giska tersebut.
Zuhdi mulai berjabat tangan dengan Adi. Ketegangan dimulai, karena raut wajah mereka yang begitu serius.
"Ulon tuan peunikah, aneuk lon Cut Giska ngon gata Zuhdi, ngon meuh lhee ploh sikureueng mayam "
Adi mengayun tangan Zuhdi ke bawah, lalu....
......................
*Saya nikahkan, anak saya Cut Giska dengan kau Zuhdi, dengan emas tiga puluh sembilan mayam.
__ADS_1
*Mayam bentuk ukuran berat emas di provinsi A, kira-kira 3,33 gram.