
"Tidur bareng kau sama Canda?" tanya Givan. Saat di mana pagi telah tiba, setelah Ghifar berkunjung ke rumah Canda.
"Tak. Semalam aku tidur depan TV." jawab Ghifar, yang tengah berkutat dengan telor ceplok buatannya.
"Kemarin-kemarin." sahut Givan yang membuat aktivitas Ghifar terhenti.
"Tak, Bang." balas Ghifar, dengan mulai membalikkan telor ceplok di atas kuali tersebut.
"Jangan sampek kau nikah duluan dari Abang, apa lagi karena Canda udah kena jebol kau. Abang tak mau dilangkahi, udah cukup ngalah dari kau. Udah capek pura-pura ikhlas menerima, udah capek harus ngalah demi adiknya." ungkap Givan, dengan melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Ghifar hanya terdiam, tak menyahuti ucapan kakaknya yang dianggapnya hanya bualan semata tersebut. Ghifar berlanjut membuatkan sarapan untuk kakaknya juga, tak lupa dengan kopi paginya.
"Makan, Bang." Ghifar menawari Givan untuk makan bersama, saat Givan baru keluar dari kamar mandi.
"Tak, Abang buru-buru. Abang ada masalah sama Ai. Pokoknya… apa pun yang terjadi antara Abang sama Ai. Kau tak boleh menikah lebih dulu." tegas Givan, yang membuat nafsu makan Ghifar hilang.
Dengan cepat Ghifar menelan makanannya, kemudian meneguk air putih yang tersedia. Rasa sesak menyelubungi perut bagian atasnya, tentu makanan yang ia makan tak akan mungkin bisa turun dan dicerna. Jika ia tetap melanjutkan kegiatan makannya.
"Udah kek gitu, bang Givan terus ajakin Canda ngobrol. Kalau Canda lagi ke rumah sama aku. Aku udah tak betah sama bang Givan, dia kek sengaja ngumbar aib aku di depan Canda. Mulai dari cerita aku disangka rebut Fira, disangka caper ke orang tua. Dibukanya semua di depan Canda."
"Terus… malam sebelum kejadian itu. Bang Givan pulang, dengan keadaan mabuk berat. Aku bantu dia ke kamar, aku bantu dia lepas jaket sama sepatunya. Omongannya ngawur, aku anggap dia cuma lagi luapin kekacauannya aja. Tapi… tak sampek di situ. Dia ada bilang, tentang perhatian orang tua, ini itulah. Intinya… dia ini iri. Karena dirinya selalu ngalah, selalu dituntut sama orang tua. Sedangkan aku tak macam itu, pikir dianya kek gitu. Padahal… aku dituntut juga untuk hasilin uang, untuk merantau macam dia. Yang aku dengar di telinga aku, tetap bang Givan yang kalian banggakan. Bukan aku, atau yang lainnya. Dia kira, dia dibedakan sama kalian. Dia tak paham, bahwa kedudukan dan perhatian yang kita dapat ini sama."
"Lepas adu mulut sama dia, aku keluar. Aku mutusin buat nginep di rumah abi aja. Aku tak mau besok pagi itu, malah lanjut berantem gara-gara hal itu. Pikir aku… aku menghindari masalah sama dia. Biar kita tetap baik-baik aja, biar kita tetap jadi keluarga."
"Tapi… nyatanya dia tega sama aku, dia tega sama Canda."
"Aku tau semua kelakuan nakalnya. Aku paham kenapa Fira, Papah kira seorang janda karena bentuk panggulnya. Tapi aku diam, ada Ai pun aku diam, aku tak cerita aib dia. Aku tak umbar semua keburukannya di depan kerabat, atau keluarga aku sendiri. Tapi dengan tanpa rasa bersalahnya, dia kasih hidangan Canda cerita tentang buruknya aku. Dia hancurin Canda, karena Canda tetap masih ngejar-ngejar aku. Mungkin sampek di situ, dia iri juga tentang perempuan yang dekat sama aku. Dia ditinggal Ai, sedangkan aku yang malah dikejar Canda."
"Dia kira aku begitu beruntung, dibanding dirinya. Dia kira jadi aku begitu dienakan, meski nyatanya jelas lebih enak hidupnya."
__ADS_1
"Lepas ini… biar aku sama abi aja, Pah. Aku tetap anak kalian, tapi aku tak mau perhatian dari kalian. Aku janji, tetap berbakti sama kalian. Aku pun janji, biar tak ngerepotin abi juga."
Ungkap Ghifar dengan suara yang bergetar, karena rasa cengengnya yang tak bisa ditahan dengan bibirnya dan kelopak matanya.
Adinda yang mendengar itu, meski tak seluruhnya. Memahami, bahwa permasalahan ini berawal dari dirinya dan suaminya. Yang memutuskan untuk memiliki keturunan banyak, agar menjadi keluarga besar. Ia baru tersadar dan ia tertampar hari ini. Bahwa, segala yang ia anggap baik dan benar. Tetap membuat salah satu dari mereka iri hati.
"Atur jalan hidup kau, Far. Doain Mamah sama Papah sehat-sehat terus ya?" ujar Adinda yang membuat Adi terhenyak kaget. Karena Adi tak menyadari kehadiran istirnya, yang berada di belakang tubuhnya.
Ghifar menegakkan kepalanya, kemudian mengusap air matanya cepat.
"Maaf, Mah. Kalau ucapan aku nyakitin hati Mamah." ucapnya saat melihat Adinda berjalan ke arahnya.
"Ghifar tetap anak Mamah. Di rumah atau di luar, kau tetap jadi anak Mamah. Semoga nanti sukses, berkecukupan, jangan nyimpan dendam, jadi manusia yang besar hati, luas pikiran, baik budi, juga ingat selalu sama Sang Penguasa." tutur Adinda dengan memeluk anaknya. Air matanya berlinangan, tanpa ia kehendaki.
Ia tetap menghargai, keputusan anaknya barusan. Karena ia yakin, Ghifar tengah mencoba menemukan tanggung jawab untuk hidupnya sendiri.
~
Ia tengah menggandeng tangan ibunya, yang selalu menggenggam tangan lebarnya tersebut.
"Papah udah cerita. Yuk kita ke Canda." ucap Adinda, dengan berjalan mengikuti langkah kaki Kenandra dan Haris.
"Papah ke mana?" tanya Ghifar kemudian.
"Udah di sana, sama Kin." jawab Adinda yang daingguki Ghifar.
Beberapa kali mereka melewati anak tangga, juga lorong yang berbelok. Akhirnya mereka menemukan ruang inap Canda dirawat.
"Canda minta cabut tuntutan." bisik Haris, saat mereka hendak memasuki ruangan tersebut.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum…." ucap mereka bersamaan. Kala kakinya melangkah masuk ke dalam ruangan berwarna putih tersebut.
"Wa'alaikum salam…" sahut semua orang, yang berada di dalam ruangan itu.
Ghifar merasakan lemah pada lututnya kembali, saat melihat Canda yang tengah bersandar dengan bantal di punggungnya.
Pandangan mata mereka bertemu, Canda langsung menunduk untuk memutuskan pandangan mata mereka.
"Sehat, Canda?" tanya Adinda dengan melangkah menuju ranjang Canda.
Canda mengangguk, dengan tersenyum samar.
"Sehat, Mah. Mamah sehat?" tanya Canda, saat dirinya mencium tangan Adinda.
"Alhamdulillah, Mamah selalu sehat dong." jawab Adinda kemudian.
"Mamah harus selalu sehat ya, Mah. Katanya yang kecilnya lagi terbang ke sini." timpal keluarga Canda, yang ternyata begitu ramah pada keluarga pelaku.
"Kok bisa tau?" balas Adinda dengan berjabat tangan dengan mereka.
"Papah udah cerita. Katanya yang bungsu ngamuk hebat, minta mamahnya." jelas wanita yang ditaksir berusia 35 tahun tersebut.
Adinda mengangguk, "He'em, masih punya anak kecil. Jadi repot juga nih." ujar Adinda berbasa-basi.
Perhatian mereka teralihkan, karena suara desisan Kenandra untuk menyuruh agar mereka terdiam.
Pandangan teruju pada Canda dan Ghifar yang tengah beradu pandang tersebut. Terlihat mata sendu, yang tengah memperhatikan kondisi miris Canda. Canda hanya bisa mengalihkan pandangannya, saat Ghifar mulai menarik cairan yang keluar dari hidungnya.
"Dek, Canda…..
__ADS_1
......................
Sebenarnya... Author gak pandai di scene sedih. Tapi akhir-akhir ini, udah sepenuh hati, jiwa, pikiran dan perasaan buatnya. Author sih mewek, karena memang orangnya baperan 🤭