Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS17. Nasehat sang ayah


__ADS_3

"Ya… tak jadi-jadi. Kau yang fokus ke usaha kau, syukur-syukur bisa buka cabang di tempat lain. Ghifar ya biar nanti mamah yang arahin, karena dia sampek sekarang belum bisa hasilin uang, cuma buat beli rokoknya aja dia minta terus ke mamah. Bukannya kita keberatan, selagi anak belum ketemu usahanya, ya tetap kita kasih makan. Cuma kan mending aja macam itu, kalau buat rokok, dia mampu sendiri. Macam Ghava sama Ghavi, meski kalau stok kehabisan tetap minta suntikan modal." jawab Adi yang malah membuat Givan merasakan beban pikiran ayahnya.


"Kau mau nikah, ya cepatlah. Udah mampu masalah ekonomi juga kan? Cari perempuannya yang baik, karena kalau cantik aja 200 ribuan juga dapat. Cari perempuan yang enak diajak ngobrol, terus yang paling bisa bikin kita turn on. Kenapa cari yang pandai bikin turn on? Karena biar kita terpuaskan, tak larak-lirik perempuan lagi. Terus kenapa cari yang enak diajak ngobrol? Karena kelak kau tua, batang kau udah tak bisa digunakan lagi, kalian nanti cuma bisa ngobrol setiap harinya." lanjut Adi yang langsung tertanam di pikiran Givan. Ia paham, ayahnya menasehatinya benar. Bukan tengah mengajarkan hal yang tidak baik padanya.


"Macam pilihan Papah kah?" sahut Givan setelah ayahnya selesai bicara.


"Papah tak mungkiri, Papah salah satu laki-laki yang lemah sama perempuan. Tapi mamah kau punya segalanya, dari semua perempuan yang cukup menggoda iman Papah." balas Adi yang membuat Givan mengingat komposisi tubuh ibunya.


"Papah getok kepala kau, kalau kau malah bayangin badan mamah." tegas Adi yang membuat tawa Givan pecah.


"Tak macam itu, Pah. Banyak lah Pah, yang leubeh cantik dari mamah." balas Givan setelah puas tertawa.


"Bukan masalah cantik. Meski Papah ngeluarin uang puluhan juta, buat perawatan mamah kau. Tapi Papah tak rugi, karena mamah kau tak cuma ngerawat tubuhnya aja. Kau paham kan? K*wanit*an perempuan yang udah sering dimasuki, malah udah ngeluarin anak bakal beda. Tak nanya kau udah pernah ngerasain belum, tapi logikanya aja lubang dikeluarkan kepala bayi sebesar itu. Otomatis kan elastisitasnya berkurang. Macam karet gelang, dipakek buat bungkus kertas nasi isi nasi kuning. Pasti pas bungkusnya terlepas, karet itu udah melar. Udah tak macam semula lagi ukuran dan keelastisitasnya. Papah tak mungkiri, bahwa sifat laki-laki Papah pengen komplen masalah itu kalau tak nemenin mamah kau berjuang ngelahirin keturunan Papah. Yang pandai ngurus-ngurus badan tuh, ya macam mamak kau. Badan kan isinya bukan cuma kulit aja, bagian itu pun salah satunya yang perlu diurus dan dirawat juga."


"Nah… tengok calon kau nanti bisa kegel tak? Ikut tantra tak? Bisa bersenam sendiri tak? Rajin ke gym tak? Papah sampek belikan alat gym, itu biar mamah kau nge-gym di rumah, biar badannya tak jadi santapan laki-laki di tempat gym." ungkap Adi panjang lebar. Dengan Givan yang beberapa kali reflek mengangguk, meski tak terlihat oleh lawan bicaranya.

__ADS_1


"Masa nyari perempuan harus sampek ke kegiatan olahraganya juga?" sahut Givan kemudian.


"Papah kan ngasih saran, soalnya Papah macam itu. Papah dulu pas masih temenan sama mamah, kan beberapa kali nge-gym bareng. Tau juga, kegiatannya di tempat gym ngapain. Makanya janda juga… bisa dibilang rasa perawan. Papah tak yakin, kau belum pernah nyobain. Asal kau tau aja, bukan ngajarin jelek. Perawan itu, cuma enak di kesan pertamanya aja. Kalau orangnya tak pandai urus tempat pribadi buat kita, ya dia tak akan ninggalin rasa lain. Maksudnya… kalau kau dapat perawan, terus kau cinta, cinta kau habis, perawan kau udah tak enak lagi, ya kau bisa jadi bakal cari kepuasan lain. Makanya kenapa Papah sama mamah ijinin anak menikah, kalau udah cukup ekonomi. Karena perawatan istrinya itu mahal, makan sih tak seberapa. Apa lagi kalau udah ada anak, runyam kalau kau belum punya penghasilan." nasehat Adi yang tertanam kembali di pikiran Givan.


"Tak macam itu kok, Pah." Givan langsung menutup mulutnya karena keceplosan.


Namun, yang dikhawatirkannya ayahnya mengerti. Malah terjadi dengan semestinya.


"Hmmm, Papah paham. Tak macam itu, karena kau masih cinta. Papah pernah muda, Van. Papah berani jamin, cinta kau bisa habis, terus kau cari yang lain." ujar Adi yang membuat Givan merasa campur aduk.


"Yang pertama, Papah sama mamah itu berkomitmen. Kita menikah sampek dua kali, kalau kau lupa. Yang kedua, anak yang mamah kau kasih tak tau kira. Papah udah bilang, Giska harus jadi anak bungsu. Malah hamil lagi dia, dua kali lagi pulak. Udah macam itu, mamah kau tiap kali diminta hak, nurut aja lagi. Udah begitu, mana Papah kecanduan mamah kau pulak. Galaknya tuh tak pernah Papah permasalahkan, karena mamah kau logis. Dia marah yang tak ngarang-ngarang, marah karena ada sebab. Balik lagi yang nasehat Papah tadi, mamah kau enak diajak ngobrol. Wawasannya luas, humornya bagus, nyambung ngomongin apa aja. Jadi Papah tak bosan-bosannya, cintai mamah kau terus. Cinta itu habis, karena jenuh yang dibiarkan sampek jadi bosan. Papah pernah tuh jenuh sama mamah, udah tiap hari mamah kau ada aja dramanya. Kesel campur pusing, mikirin jalan keluarnya jenuh ini. Terus alhamdulilahnya teratasi, terus punya Giska." jelas Adi yang membuat Givan paham. Ternyata rumah tangga itu begitu kompleks, bukan hanya tentang seksual. Begitu banyak yang harus kita pikirkan, termasuk cara mengatasi permasalah yang datang.


"Yang paling penting, harus hati-hati kalau mau nikah. Kau ingat kan, tante-tante yang kau panggil tante gemoy? Si mamahnya Icut itu. Itu Papah sebelum menikah tak hati-hati, terus jadi runyam begitu rumah tangga Papah sama mamah kau. Untung mamah kau intel, mana kalau main angry bird langsung kena b*binya pulak."


"Ok, dengerin masukan Papah. Tinggalin yang udah-udah, apa lagi yang tak baik buat kau dan keluarga kau. Terus buka lembaran baru. Macam Ghifar, dia nanti mau merantau ke kota C. Mana tau dia dapat betina juga, macam Papah dulu merantau ke kota C dapat mamah kau."

__ADS_1


"Udah dulu ya, Papah mau ke ladang lagi. Oh, iya. Ingetin Icut buat cek kandungan lagi, soalnya abis naik pesawat." ucap Adi beruntun.


"Ya, Pah. Nanti Icut diingetin balik. Makasih pah masukannya, insya Allah diamalkan. Nanti aku kabarin lagi, Pah. Do'ain aku, biar bisa secepatnya punya istri yang macam mamah." sahut Givan sebelum menutup panggilan teleponnya.


"Ya, jangan mirip mamah kau. Nanti Papah malah salah masuk kamar lagi." balas Adi yang membuat Givan terbahak.


"Aku punya Papah, tapi macam teman setongkrongan. Pantes lah dapatnya mamah, papahnya aja absurd macam itu." ujar Givan yang membuat senyum Adi mengembang di sana. Adi hanya menanamkan seperti yang istrinya inginkan. Menjadi orang tua, yang bisa menjadi teman mereka juga.


"Udah dulu, ya. Assalamualaikum." tutur Adi kemudian.


"Ya, Pah. Wa'alaikum salam." tukas Givan dengan langsung mematikan sambungan teleponnya.


Ia menatap kosong, plafon kamarnya. Ucapan ayahnya berputar kembali. Ia paham, ayahnya adalah salah satu manusia yang anti dengan perceraian. Mungkin ibunya akan terus dimadu, jika ibu dari Icut tak membuat masalah sendiri. Givan dewasa memahami, segala sesuatu yang terjadi pada keluarganya dan segala rahasia di dalamnya.


......................

__ADS_1


*Leubeh, sama kek lebih.. Seasik ini loh punya orang tua kek Adi Riyana. Tak terlintas pengen diadopsi kah? 😅


__ADS_2