
"Sini... Anak kau nangis tuh. Diputusin Ikram, gara-gara Zuhdi." ujar Adi yang masih berdiri di ambang pintu rumah itu.
Sukma mengambil kerudung instan miliknya, yang tergeletak di sandaran sofa. Kemudian ia segera mengenakannya, lalu berjalan menghampiri Adi.
"Di mana dia? Tadi dijemput Ikram." sahutnya kemudian.
"Depan pagar."
"Kau tau kan, Zuhdi mau nikah sama Giska?"
Sukma langsung mengangguk, merespon pertanyaan teman satu kelasnya dulu.
"Sebelum terlambat. Coba kau tanya anak kau, diapakan dia sama Zuhdi. Jangan sampek.... Giliran dia udah suami istri sama Giska, anak kau datang ngaku hamil anak Zuhdi. Aku tak mau nih ada Dinda-Dinda yang lain." ungkap Adi, mereka bercakap-cakap di depan pintu rumah itu.
Terlihat Sukma tengah mencerna ucapan Adi. Ia berpikir, Adi hanya trauma. Tetapi ia pun mengetahui, bahwa memang anaknya yang belum bisa melupakan Zuhdi.
Hubungan anaknya dengan Ikram pun, itu hasil perjodohannya. Berharap Ahya bisa melupakan Zuhdi, kemudian hidup bahagia dengan Ikram. Nyatanya ia salah, Ahya masih menaruh harapan besar pada Zuhdi. Anak gadisnya itu, seperti terkena pelet dari Zuhdi.
Padahal, kenyataan tidak demikian.
Ahya hanya panas hati, jika Zuhdi sampai menikah dengan sepupunya. Menurutnya, harusnya ia yang bahagia bersama Zuhdi, bukannya Giska. Ia sampai rela menunggu dan mencari cela, dari lepasnya Zuhdi dari ikatannya bersama Giska.
"Sampek mual-mual aku kalau nasehati anak, tapi anaknya tak mau paham. Coba kau yang bilang, mana tau sama kau ada ngertinya. Kau tau kan Safar kek mana ke anak? Tak bisa dia toleransi atau pengertian. Sekalinya dianggapnya salah, Ahya bakal terus-terusan disalahkan sama dia. Diungkit-ungkit terus kesalahan Ahya dulu, setiap Ahya buat kesalahan baru." terang Sukma, ia memperhatikan anaknya yang berjalan dengan menundukkan kepalanya.
"Giska aja, aku udah tak pernah nasehati lagi. Abang-abangnya aja yang marahin, yang nasehati. Udah kaku hati aku, anak perempuan tuh iyanya aja. Icut ya kek Icutnya, janji-janji, iya he'em, tak ulangi lagi, bakal serius, bakal fokus, banyak janji-janji lainnya. Tetep aja monoton, tak ada perubahan." aku Adi, ternyata ia pun memiliki masalah dengan anak-anak perempuannya.
__ADS_1
"Coba lah, Di. Kesel aku kalau ngomongin Ahya ini. Nikahin aja coba sama salah satu anak kau." Ahya menerobos masuk, tanpa menyapa mereka berdua. Apa lagi saat mendengar penuturan ibunya barusan, saat ia mulai mendekat ke arah kedua orang yang memiliki usia yang sama itu.
"Siapa? Ghavi? Biarpun mulutnya agak iseng sama perempuan juga, tapi dia belum pengen buat punya pasangan apa lagi nikah."
Memang Adi mengetahui perihal mulut dan kebiasaan anaknya, yang selalu berbicara manis pada perempuan.
"Jam dua malam, belum tidur kah itu bocah?" Adi bertanya seorang diri, saat mendengar gumaman dari kamar Ghavi.
Adi menarik pelan gagang pintu kamar pribadi anaknya tersebut, kemudian melongok ke dalam kamar itu.
Terlihat Ghavi tengah tersenyum manis pada layar ponselnya. Ia sedang melakukan panggilan video pada seseorang, yang dari suaranya seperti seorang wanita.
"Betul lah. Perempuan itu cantik, kalau bisa rawat tubuhnya sendiri dan hatinya. Bukan di pakaiannya, Dek. Pakaian harga jutaan, tapi orangnya bau ketek, sungkan juga Abang berteman. Pakaian impor semua, tapi dekil in the kumel, alias buluk, ya tak pantas juga. Terlampau kurus, atau antonimnya, ya susah juga cari pakaian yang pantas. Pakaian mahal itu bukan patokan perempuan itu pasti cantik. Hana payah nabung buat beli pakaian mahal, percuma Dek, pakaian ada masa tenarnya. Mending nabung buat beli perhiasan, buat rawat diri. Filler, suntik putih, no problem, kalau memang untuk kepuasan diri sendiri sih. Rutin gym gitu kan, buat kesehatan, bagus juga di badan. Adek tetap cantik kok, meski tak pakek pakaian yang dari Bangkok itu. Mending tabung uangnya buat hal lain, dari pada buat pakaian." ternyata Ghavi tengah menasehati seorang perempuan di seberang panggilan videonya.
Entah apa yang perempuan itu tanggapi, karena Ghavi hanya terkekeh kecil.
"Mana ada? Abang tak pernah pacaran, Dek. Tau begini begitu, yang pantas buat perempuan, karena ma Abang perempuan. Ma orangnya heboh, apa lagi kalau belanja online terus di store-nya banyak barang untuk anak-anaknya, pasti dia pilihin juga buat anak-anaknya. Bukannya pelit, atau kek mana ya... Kaos Abang nih, Dek. Paling kisaran tiga puluh lima ribu paling mahal. Kaos yang buat nongkrong gitu, yang buat tiap harian. Celana rip, atau celana buat sehari-hari gitu, pernah dibelikan katanya harganya tujuh belas ribu. Memang ada juga pakaian mahal, tapi ya tak musiman. Maksudnya... Kek kemeja polos, celana jeans gitu."
Adi hanya bisa geleng-geleng kepala, Ghavi seperti pendongeng handal. Memang hal itu adalah benar. Hanya saja, cara Ghavi berbicara seperti tengah menjebak seorang perempuan.
Pernah Adi mendapati anaknya sendiri, tengah menggodai perempuan yang lewat di depan jalan rumah mereka. Tak segan-segan Ghavi memuji dan menawari perempuan tersebut, untuk ia antar pulang.
Terkesan pendiam, tetapi anaknya yang satu itu cukup handal untuk menaklukkan perempuan. Namun, kebiasaannya yang pindah tongkrongan ketika ada perempuan yang sudah menggilainya. Itupun Adi ketahui juga. Jika di zaman sekarang, Ghavi adalah seorang buaya jantan tukang ghosting.
"Ghifar lah! Dinda udah cerita masalah Ghifar masih bujang. Ahya kan deket sama Ghifar, tinggal kau minta Ghifar buat nikahin Ahya aja." ucapan Sukma membuat Adi mengingat luka di hatinya, atas Ghifar yang memiliki masalah pada intinya.
__ADS_1
"Ghifar belum mau. Paling Ghavi, itu pun tunggu dia siap." putus Adi, kemudian duduk di kursi teras rumah itu.
Hening sesaat, sebelum isakan lamat-lamat terdengar di telinga Adi dan Sukma.
"Sana kau susulin Dinda." pinta Adi dengan bangkit dari duduknya.
"Ehh, iya. Ada Kin juga di dalam. Hobinya masak-masak, profesinya dokter. Ngoprek di dapur terus dia kalau di sini. Stok makanan seminggu dimasak semua. Dikira di rumah kau, orangnya banyak, makanan pasti habisnya." Sukma mengikuti langkah kaki Adi dari belakang.
Adi menoleh ke arah perempuan yang ia klaim memiliki bentuk dada sempurna. Dada besar, kencang dan stabil di usianya.
"Aku ke Ahya ya. Tak tega denger perawan nangis aja." ujar Adi, saat dirinya sudah berada di depan pintu kamar Ahya.
Sukma hanya mengangguk, kemudian berjalan lurus untuk mencari gelak tawa yang terdengar begitu ceria.
Adi memasuki kamar Ahya, menyaksikan gadis itu tengah meringkuk di atas tempat tidur sembari memeluk guling miliknya.
"Apa yang sakit, Ya?" tanya Adi dengan mendekati ranjang milik Ahya.
Ahya menggeleng, ia sebenarnya tak ingin diganggu.
Adi duduk di tepian tempat tidur, cepat-cepat Ahya menutupi wajahnya karena malu dengan air matanya.
"Ya......
......................
__ADS_1