
"Ini tentang kita, Dek. Abang tak mau kita putus betulan, Abang mau nikah sama Adek." ungkap Zuhdi, saat mereka memasuki kawasan jalan raya.
"Suaranya tak jelas. Nanti aja ngobrolnya, pas di keude deket kampus." seru Giska, dengan mencondongkan kepalanya ke depan.
Beberapa menit kemudian, sampailah mereka di warung makan yang menyediakan beberapa bangku.
Giska mengajak laki-lakinya untuk duduk di kursi paling pojok, lalu ia memesan dua gelas teh manis dan dua porsi mie khas dengan cita rasa pedas.
"Masih pagi, makan mie pedes." komentar Zuhdi, dengan berpangku dagu.
"Aku pengen, udah seminggu lebih tak makan mie." balas Giska, dengan memeriksa ponselnya.
"Kenapa cincinnya udah tak dipakek? Itu kan Adek sendiri yang milih." tanya Zuhdi tiba-tiba, membuat Giska mengurungkan niatnya untuk membalas pesan teman satu kelasnya.
Giska menaruh ponselnya dengan layar di bagian bawah, kemudian ia beralih memandang wajah Zuhdi.
"Abang kan memang udah tak pengen aku buat nemenin Abang. Udah tak mau gangguan dari aku." jawab Giska seperti tengah membatin.
"Abang takut Adek nuntut lebih, Abang takut tak sanggup menuhin segalanya." ungkap Zuhdi lirih, dengan mengusap tengkuknya dan kepala tertunduk. Ia tak berani menatap wajah pujaannya, yang fokus memandang wajahnya tersebut.
Giska merasa amat bersalah, atas ranjang yang dirinya minta.
"Aku minta maaf. Tapi harusnya Abang tak bersikap macam itu. Mamah kira, Abang.......
"Artinya Zuhdi itu tak betul-betul sama kau nih, Giska. Udah cepet bosenan, tak kuat berkomitmen lagi. Sana sholat istikharah, biar dapat petunjuk." ucap Adinda tiba-tiba, saat dirinya memasuki kamar anaknya kembali. Ketika suaminya dan Jefri tengah asik mengobrol.
"Nanti kek papahnya bang Givan. Dia cepet bosenan orangnya. Pas awal pacaran, mutusin Mamah, dia kata udah bosan. Nyatanya kan, dipertahankan sampek nikah, rumah tangga Mamah sama dia tak langgeng." lanjut Adinda, dengan duduk di tepian ranjang. Tangannya terulur, untuk menyibakkan rambut anaknya, yang menutupi bagian wajah anaknya.
"Mah... Aku cinta sama bang Adi. Dia tuh orangnya bikin aku penasaran, aku tertantang buat naklukin hatinya." ungkap Giska, dengan suara lirihnya.
__ADS_1
"Dia udah dapat hati kau. Makanya dia seenaknya aja. Mumpung belum terlalu jauh, udahan aja kalau memang laki-lakinya tak sungguh-sungguh." ujar Adinda, membuat air mata anaknya menetes kembali.
"Mamah sama papah terlalu tinggi matok jeulame. Aku pasti tak jadi nikah, kalau bang Adi tak bisa sanggupin segalanya." Giska membuat tuduhan, yang berkelok dari permasalahan awal.
"Kau kira papah sama Mamah matre kah? Matok ini itu segitu tingginya, angka yang bukan main. Itu semua semata-mata, karena Mamah sama papah pengen tau kesungguhan Zuhdi. Papah udah bilang kan sama kau, tentang hasil usahanya Zuhdi nanti, pasti diterima sekalipun tak sampek di angka yang diminta." tutur Adinda, seketika Giska berhenti menangis.
"Papah tak pernah bilang." tukas Giska dengan mengusap bekas jalan keluarnya air dari matanya.
"Karena kau pasti bilang ke Zuhdi, nanti dia malah leha-leha aja." ungkap Adinda.
Giska menimbang kembali, saat ia ingin menceritakan tentang hal itu pada Zuhdi.
"Mamah kira, Abang tak sungguh-sungguh sama aku. Abang cepet bosan, komitmen Abang tak tangguh." celetuk Giska, saat dirinya menimbang kembali kalimatnya.
"Nanti Abang ngomong sama Mamah. Adek pakek lagi cincin dari Abang." ucap Zuhdi dengan menyentil jari Giska, yang kemarin masih mengenakan cincin.
"Mau ngomong apa?" sahut Giska, mengedarkan pandangannya pada pemilik kedai yang tengah membuatkan mie miliknya.
Giska mengangguk, kemudian datang seseorang yang mengantarkan makanan mereka.
"Abang langsung balik ya? Jangan mampir ke mana-mana lagi." ucap Giska, dengan mengaduk mie-nya.
"Iya, buka blokirannya. Abang kesepian ternyata, tanpa spam chat dari Adek." sahut Zuhdi, setelah menyeruput teh manis miliknya.
Pandangan mata mereka bertemu, senyum manis terukir indah pada dua sejoli yang saling mencintai itu.
Kemudian Giska memutuskan pandangannya, melanjutkan pekerjaannya untuk menikmati mie khas daerahnya tersebut.
~
__ADS_1
~
Sudah tiga hari, dari kejadian cekcok antara Giska dan Zuhdi. Kini Zuhdi tengah berada di hadapan calon ibu mertuanya, yang mendatanginya ke rumah dengan anak sulung dari keluarga juragannya.
"Papah kek mana keadaannya, Mah?" tanya Zuhdi dengan memperhatikan wajah bingung, antara Adinda dan Givan.
"Baik-baik aja. Papah tuh orangnya tersinggungan, harga dirinya tinggi. Papah ngerasa disepelekan, karena sikap kau waktu itu." jawab Adinda kemudian.
"Aku mesti kek mana, Mah? Aku udah baik-baik aja sama Giska." aku Zuhdi, membuat Givan dan ibunya saling memandang kembali.
"Kan aku pernah nyaranin kau. Kalau ribut sama Giska, baiknya di telepon aja. Giska ini manjanya luar biasa, lebih-lebih ke papahnya. Kau tak percaya, didengar coba kalau dapat saran dari calon kakak ipar kau ini." tambah Givan, dengan ekspresi serius.
Adinda dan Zuhdi terkekeh kecil, melihat Givan yang mencairkan suasana ini.
"Marahnya papah itu diam, kalau dia udah kaku hati. Kalau masih basah, mungkin dia bakal lempar-lempar barang ke kau. Beda lagi sama istrinya, mungkin kalau kemarin istrinya ada di TKP. Udah habis kau kena makiannya, barang-barang juga berterbangan keknya." lanjut Givan, membuat Adinda menarik perhatian ibu Robiah yang muncul dengan beberapa minuman hangat yang ia bawa menggunakan nampan.
"Aku mesti kek mana, Mah? Biar papah bisa aku ajak ngobrol lagi." ucap Zuhdi kemudian.
Adinda menghela nafasnya, kemudian ia merogoh sesuatu dari dalam tas genggamnya.
"Papah minta Mamah sama Givan buat anterin ini." ungkap Adinda, membuat nafas Zuhdi tercekat di lehernya.
"Tapi.... Tapi kemarin aku jemput balik Giska. Giska masih pakek cincin dari aku, Mah." sahut Zuhdi, dengan rasa gemetarnya.
"Nanti besok pagi, Givan anter balik uang sama emas kau. Kain-kain, sama perlengkapan Giska yang kau niatkan buat hantaran juga. Nanti sekalian Givan antar balik ke kau." ujar Adinda, mengakibatkan kaki Zuhdi begitu dingin.
"Tak usah, Mah. Aku tetep nikahin Giska." tutur Zuhdi, mencoba menstabilkan suaranya.
"Papah yang tak mau. Awal-awal kau minta Giska setengah mati, udah kesampaian, kau malah nyepelehin. Kalau masalah ranjang, kau tak bisa sanggupin. Sekali pun uang kotor dan mahar, kau tak bisa sampek ke titik yang kita minta. Papah bakal maklumi itu, papah bakal nyadarin keadaan kau, papah bakal denger cerita kau susahnya ngumpulin jumlah yang kami minta. Papah itu baik loh, Di. Bukan semata-mata, karena dia mata duitan atau semacamnya. Masalah uang, insyaa Allah kita tak kekurangan. Tak ada niat beratin ke calonnya Giska, untuk masalah sunting pernikahan nanti. Papah cuma mau tau kesungguhan kau, dalam cari nilai yang kami minta. Biaya hidup Giska dan anak-anak kalian kelak, pasti lebih besar dari nilai yang kami minta. Sedangkan... Kalau di awal aja kau langsung mutusin tak nyanggupin, berarti kau kelak tak bisa menuhin kebutuhan Giska dan anak-anaknya dong. Lain cerita, kalau memang kau nyanggupin. Tapi tak bakal kek gini ceritanya, kalau kemarin kau tak marah-marahin Giska hanya karena ranjang aja. Kau paham sifat Giska, kau tau sifat jelek dan sisi buruk Giska. Tapi kau malah bikin masalah sendiri, dengan minta putus sementara. Ingat!!! Dari awal kau yang minta nikah cepat, kau yang minta buat tunangan. Kau tau sesusahnya dapatkan Giska, tapi dengan mudahnya kau minta putus sementara. Rupanya... Kau udah bener-bener muak sama anak Mamah ya? Bener-bener bosan sama yang ada sama Giska ya? Maka dari itu, kau minta break. Sengaja biar tak lanjut sampek nikah, kalau kelak nanti Giska ambil opsi lain. Nikah sama laki-laki lain, yang selalu ada saat masa break sama kau." ungkap Adinda membuat keringat dingin Zuhdi mengalir deras.
__ADS_1
......................