Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS133. Pacaran sehat


__ADS_3

Icut mendengarkan dengan baik, cerita singkat dari kakaknya.


Ia kembali memeluk tubuh kakaknya yang sudah dimiliki oleh Canda, "Tapi aku miris, aku kacau, liat Giska begitu disayang. Lebih-lebih laki-lakinya direstui mamah papah." ucap Icut kemudian.


"Itu iri hati, tak boleh macam itu Dek. Abang pernah nyesel, kau yang percaya sama ucapan Abang. Mamah sama papah itu sama, mereka sayang sama kita semua. Mamah pernah bilang nyerah jadi orang tua Abang, tapi sampek sekarang Abang masih dipedulikannya. Canda diurus bener-bener sama mamah, dianggapnya macam anak sendiri."


"Mereka terpaksa direstui, karena Zuhdi minum Ba*gon. Giska nangisin terus Zuhdi, maksa Zuhdi juga biar nyanggupin mahar yang papah tinggikan. Menurut pengamatan Abang, memang papah sama mamah ini sebetulnya setengah hati. Mereka belum pengen Giska menikah, mereka masih pengen Giska jadi milik mereka. Kau kan paham, kalau anak perempuan nikah, pasti jadi milik suaminya. Mereka berdosa keluar rumah, kalau tak dapat izin suaminya. Beda sama anak laki-laki, yang udah punya anak istri pun tapi masih milik ibunya."


Givan mengusap pipi Icut dengan jempol tangannya, saat ia mencoba memberi pengertian pada adiknya.


Givan memegang kedua bahu Icut, ia memasang senyum manisnya yang mengarah pada Icut.


"Percaya sama Abang, pasti kau pun dapat laki-laki yang terbaik. Lebih baik dari Abang, lebih baik dari papah, lebih baik dari Zuhdi." ungkap Givan yang diangguki oleh Icut.


"Aku harus gimana, Bang?" tanya Icut dengan air mata yang tak tertahankan.


"Fokus. Kau harus fokus sama Hame, kau harus lebih sayang sama diri kau. Jangan pernah lagi mau, kalau ada laki-laki di luar sana, ngerendahin harga diri kau, menyepelekan kau, melecehkan kau. Jangan percaya sama laki-laki yang janji nikahin, pas mereka nuntut buat tidur bersama. Itu bohong Cut, biar mereka dapat yang mereka inginkan aja. Bukan Abang bagus-bagusin Zuhdi, bukan Abang bikin kau tambah iri hati. Tapi, memang Giska tak salah milih. Ditambah lagi... Zuhdi ini segan sama keluarga papah, dia tak berani ngapa-ngapain Giska karena dia inget derajat keluarganya. Zuhdi temen main layangan Abang, waktu Abang kecil. Temen yang suka laporin Abang ke mamah, kalau Abang main ke sungai. Dia orangnya manutan, tak muluk-muluk. Tapi sekalinya punya keinginan, sifatnya maksa. Denger dari cerita papah, Zuhdi minum Bay*on, soalnya dia maksain ke keluarganya buat nyiapin 50 mayam secepatnya, buat nikahin Giska, biar Giska tak diambil Farid, temennya Ghavi itu." ungkap Givan membuat Icut tak percaya.


"Pacaran juga tak aneh-aneh. Kalau dia pulang merantau, main ke sini. Yang dibawa tuh bukan buah-buahan, bukan juga oleh-oleh dari tempat perantauannya. Tapi emas sama uang buat pernikahannya nanti, papah minta 57 mayam sama uangnya 111 juta. Zuhdi balik ngerantau, bawa cicilan uang sama emas, sama perlengkapan Giska buat hantaran. Macemnya kerudung, mukena, pakaian Giska, kain-kain gitu lah, barang yang tak punya masa kadaluarsa."

__ADS_1


"Abang pernah nanya kan, kau pacaran ngapain aja? Sana ke halaman belakang, biar tak diganggu bocil. Dia malah jawab....


"Ngapain? Mau donor darah ke nyamuk kah?" sahut Zuhdi dengan pandangan herannya.


"Ya pacaran, cium-cium, g"epe-gr*pe." jelas Givan, dengan mengamati adik-adiknya yang berlarian mengejar kunang-kunang.


Mereka tengah berada di halaman depan rumah Adi dan Adinda. Dengan Zuhdi dan Givan yang tengah duduk di bangku panjang di bawah pohon, sedangkan Giska, Canda dan kedua orang tuanya tengah duduk di teras rumah dengan membahas beberapa kain yang Zuhdi bawakan.


"Bikin pusing aja! Aku pernah cium bibir Giska, cuma kecupan kecil aja. Pusingnya tak hilang-hilang, kesel, marah, tak jelas sampek akhirnya dapat mimpi basah. Rasanya macam dipukuli, terus aku tak ngelawan gitu nah." ungkap Zuhdi, membuat Givan mentertawainya.


"Makanya... Aku sih marah, kalau Giska maen cium-cium aja. Soalnya khayalan aku yang nantinya, malah nyiksa aku sendiri." lanjut Zuhdi dengan terkekeh kecil.


Zuhdi menoleh sekilas pada Givan, lalu pandangannya beralih pada manusia yang berkumpul di teras.


"Giska body pear, merhatiin dia jalan dari belakang aja aku udah ngeres betul. Coba tahan-tahan, karena dia anak juragan Van. Tak berani aku ngapa-ngapain, nanti bisa habis keluarga aku di tangan juragan. Mana kan... Keluarga aku, gantungin hidupnya ke juragan semua. Tak cek Lhem, tak mak wa aku, adik aku, sama ipar aku pun, kerja sama juragan semua. Aku macam-macam sama Giska, bisa-bisa keluarga aku tak makan semua." jawab Zuhdi membuat Givan memegangi perutnya karena tawa renyahnya.


"Jadi Ahya karena bukan anak juragan, jadi kau berani?" sahut Givan yang diangguki oleh Zuhdi.


"Ahya tak banyak omong juga. Aku duduk di sampingnya juga, tangan aku ngerambat itu dia bisa nutupin. Modelnya Giska, aku duduk di samping udah diajak bahas domino. Tangan aku ngerangkul, dia malah ngajak foto-foto. Mulutnya itu lancar betul buka bahasan, aku tak mungkin bisa mesum, dengan mulut nyahutin obrolannya. Laki-laki tak bisa fokus kerja, saat mulutnya dituntut fokus jawab pertanyaan. Kau pasti paham lah." balas Zuhdi yang dibenarkan oleh Givan. Givan pun merasakan sendiri, saat dirinya tengah berusaha membuat keturunan dengan istrinya, dia tak bisa menjawab pertanyaan dari istrinya.

__ADS_1


"Jadi gara-gara itu, kau lebih milih pacaran sehat?" Givan seolah tengah menyidang calon adik iparnya, tentang bagaimana dia memperlakukan adiknya.


"Bisa jadi. Tapi memang aku kepengen nikahin dia juga, pengen begitu-begitunya lepas udah sah aja. Takutnya... Malah bosan pas udah nikah. Pacaran terlalu lama pun, aku khawatirnya cepat bosan, apa lagi tiap hari komunikasi. Apa lagi kalau pacaran, malah udah hubungan badan. Keknya nanti pas nikah, hubungan badan udah tak ada deg-degannya lagi. Soalnya aku pengen, nikah cukup sekali aja, karena biayanya mahal betul." ucap Zuhdi, yang membuat Givan tertawa renyah.


"Nikah cukup sekali, karena kau cinta mati apa kek mana. Malah karena biayanya mahal." sahut Givan di sela tawa renyahnya.


Zuhdi tersenyum simpul, "Memang betul. Di daerah ini, cuma mamah Dinda yang paling mahal dalam sejarah. Nanti lepas ini, disusul Giska yang paling mahal lagi. Memang siapa di sini, yang maharnya lebih dari 30 mayam? Tak pernah ada, rata-rata mereka 15 mayam, untuk keluarga kurang mampu paling 9 mayam paling tinggi. Anak gadisnya pak kades aja, yang paling tinggi. Dia dimaharin 27 mayam, sama uangnya 60 juta. Udah, tak ada lagi yang lebih mahal dari itu." tutur Zuhdi, membuat Givan manggut-manggut.


"Keringat sampek ke p*n*at-******, cari uang buat menuhin jeulame." tambah Zuhdi, yang membuat Givan merasa geli sendiri.


"Papah melek kok, kau tenang aja." tukas Givan, dengan menepuk bahu calon adik iparnya.


"Ya mesti melek. Tak melek, ya aku paksa bangun. Enak aja, aku usaha setengah mati, dia nganggap perjuangan aku sepele. Bisa-bisa aku bawa kabur juga anak gadisnya." ungkap Zuhdi dengan nada sok berani.


"PAHHH... KATANYA GISKA MAU DIBAWA KABUR." seru Givan, dengan memunggungi Zuhdi.


Zuhdi langsung membekap mulut temannya, yang tengah mengadu pada calon mertuanya tersebut.


......................

__ADS_1


__ADS_2