
"Ya..." Adi menyentuh kepala gadis tersebut.
"Aku tak mau diganggu, Papah!" Ahya menepis usapan lembut di kepalanya.
"Mau sama Zuhdi kah? Papah tanya serius." Adi langsung ke intinya saja, karena mendengar pengusiran halus dari mulut Ahya.
Ahya menarik bantal guling yang menutupi kepalanya, sejenak ia memperhatikan wajah Adi dengan seribu pertanyaan.
"Kenapa Papah tanya kek gitu?" Ahya menghapus air matanya yang tertangkap penglihatan Adi.
"Kalau memang kau sangat berambisi buat dapatkan Zuhdi, Papah bakal minta Giska buat lepasin Zuhdi. Terus kau kejarlah Zuhdi, sampek bisa jadi suami kau. Asal jangan kek gini, kau pacaran sama siapa, kau masih ganggu Zuhdi. Betul kau ganggu Zuhdi?" Ahya terdiam, mencoba menjawab dengan kalimat yang berbelit. Ia tak mungkin jujur pada ayah dari calon istri Zuhdi.
"Aku bukan gangguin." Ahya membuang pandangannya ke plafon kamarnya, kemudian menarik selimut sebatas dadanya.
"Terus? Ada yang bikin kau tak bisa lepas dari Zuhdi?" dahi Ahya mengkerut, ini pertanyaan yang sama dengan apa dia sudah diapa-apakan oleh Zuhdi.
"Tak ada. Kalau Papah nyangka aku terlalu jauh, sampek ke masalah ranjang sama Zuhdi, itu salah kali. Tapi Zuhdi pernah janjikan kita balik, saat aku tak terima diputuskannya." ungkapan dirinya sendiri, membuat Ahya melamun seketika. Ia teringat akan masanya dirinya begitu mencintai laki-laki yang hanya seorang kuli bangunan tersebut.
"Kenapa?" Ahya mencekal pergelangan tangan laki-laki yang berada di hadapannya.
"Kau tekanan batin kan jalanin hubungan sama aku? Aku pun sama!" suara menurun Zuhdi, terdengar begitu tegas.
"Aku tau, aku ini dari keluarga miskin. Makanya aku kerja, biar bisa makan. Setidaknya... Aku usahain untuk hidup aku. Kelak nanti aku nikahin kau, aku pun pasti berusaha buat kebutuhan hidup kau. Tapi... Nampaknya masyik kau tak ridho, aku seriusin kau kelak. Dia takut kau kurus, dia tak mau derajat kau jadi turun. Dia tak mau tangan kau kasap, dia tak mau kau makan daun singkong yang kau petik dari belakang rumah aku. Itu terlalu buruk buat kau, nasib buruk yang bakal kau dapatkan kalau nerusin hidup sama aku. Aku sadar diri, Ya. Tanpa masyik kau maki sedemikian rupa, tanpa dia usir aku macam usir binatang yang masuk ke pekarangan rumahnya. Aku tau diri kok." Zuhdi terlihat amat berat memutuskan cinta pertamanya itu.
__ADS_1
"Makanya... Lebih baik kita udahan aja." Ahya langsung memeluk Zuhdi begitu erat, saat ia mendengar lanjutan kalimat Zuhdi yang terulang tersebut.
"Aku tak mau. Aku mau Abang pertahanin aku." Ahya memohon, coba mengetuk pintu hati Zuhdi yang telah tertutup dengan memutuskan dirinya tersebut.
Zuhdi mencoba melepaskan pelukan tersebut. Ia takut dilihat tetangga Ahya, karena dirinya berada di bawah jendela samping kamar Ahya.
Sangat disayangkan, Zuhdi yang berani bertandang, harus sembunyi-sembunyi jika ingin menemui Ahya. Karena dirinya takut dimaki dan diusir kembali.
"Gini aja.... Aku tak apa kau duakan. Lepaskan aku, kalau kau udah bisa relain aku." Zuhdi adalah bodoh-bodohnya laki-laki di masa itu.
Ahya menggeleng samar, tautan tangannya terlepas karena Zuhdi memberontak.
"Aku tak mau, aku mau sama Abang aja." Ahya kembali memohon dengan meneteskan air matanya.
"Gini deh. Aku janji, kita bakal balik nanti kalau aku udah siap dengan mahar kau." Zuhdi memberikan senyum yang menenangkan.
"Tapi aku mau kita tetap sama-sama, Bang." Ahya merengek, ia kembali menggenggam tangan laki-laki yang begitu ia puja tersebut.
"Aku mesti merantau, biar uang aku cepet kumpul. Aku tak bisa janjikan kita tetap sama-sama, tapi insya Allah kalau jodoh kita pasti balik lagi." Zuhdi mencuri satu kecupan singkat di bibir Ahya, berharap agar wanita itu bisa tenang saat ia tinggalkan.
Ahya menggeleng, ia menatap dalam-dalam mata Zuhdi yang berwarna coklat tua tersebut. Mencoba meraba dan mencari cinta yang Zuhdi pertahankan untuknya.
"Aku tak bakal bisa jauh dari Abang. Bertahan sebentar sama kerjaan ini, nanti aku minta kerjaan yang pantas buat Abang sama abusyik." Ahya mengusap-usap bibir Zuhdi, yang baru saja mencuri kecupan manisnya.
__ADS_1
"Bisa! Ahya pasti bisa. Abang merantau juga, buat masa depan kita." Zuhdi kembali memberi harapan palsu pada Ahya.
Ahya mengangguk, kemudian dirinya kembali mendekap tubuh yang wanginya ia ingat selalu di alam bawah sadarnya. Ahya tak mengetahui, bahwa pelukan itu adalah terakhir kalinya dirinya bisa memeluk Zuhdi.
Adi manggut-manggut, ia memahami perasaan seorang gadis muda tersebut. Ia dijanjikan oleh calon menantunya.
Namun, di satu sisi pun. Adi memahami bahwa janji Zuhdi hanya kalimat penenang saja. Zuhdi terlanjur sakit hati pada keluarga Ahya, berimbas dirinya tak bisa mempertahankan cintanya pada Ahya saat harga diri dan keluarganya begitu terinjak-injak.
"Kalau Papah jadi Zuhdi juga, Papah bakal janjikan itu. Biar bisa lepas dari kau, biar tak ngerasa bersalah karena udah ninggalin kau." Adi memberikan kesimpulan yang tak berpihak pada Ahya.
"Tapi coba ulangi lagi kalimatnya, Ya. Dia kan ada kata, tapi insya Allah kalau jodoh kita pasti balik lagi. Nah, jodoh itu diusahakan Ya. Papah berjodoh sama mamah, Papah usahakan itu. Papah pengen jodohnya panjang sama mamah, Papah juga usahakan dan rela ngalah demi keutuhan rumah tangga. Masalah yang ada di kalimat itu, Zuhdi tak usaha biar bisa berjodoh sama kau." Adi menjeda kalimatnya sejenak, ia ragu ingin mengatakannya pada Ahya. Takut Ahya lebih sakit hati, atau tidak terima dengan kebenarannya.
"Harusnya... Kalau memang dia betul-betul pengen balik sama kau. Balik merantau dia lamar kau, bukan ngasih uang ke orang tuanya, lalu dibelikan tanah sama orang tuanya. Dari situ, Zuhdi nampak tak ada niatan mau minang kau." Ahya sulit mencerna ucapan Adi. Apa lagi perihal tanah yang Ahya pun tak mengetahuinya.
"Zuhdi pernah cerita sama Papah. Dia beli tanah, bukan karena mau bangun rumah buat rumah tangganya sama kau dulu. Tapi karena dia pulang merantau bawa uang bergepok-gepok, tapi dia tak tau mau dipakek beli apa. Alhasil, dia kasih itu duit ke orang tuanya. Terus, sama orang tuanya dibelikan tanah." Adi menjelaskan hal yang ingin Ahya tanyakan.
Tadinya, Adi ingin mengatakan. Jodoh itu diusahakan. Sedangkan Zuhdi malah mengusahakan berjodoh dengan Giska, bukan dengan dirinya. Hanya saja, Adi memahami bahwa kalimat itu terlalu menikam gadis yang tengah patah hati tersebut.
"Bisa itu dia lamar kau, pakek uang yang bergepok-gepok itu. Tapi dia lebih milih beli tanah, yang artinya dia memang tak pengen lanjut sama kau. Balik lagi, Ya. Jodoh itu diusahakan, sedangkan Zuhdi tak mengusahakan kau waktu itu." Adi mencoba memberi pemahaman sederhana. Agar pikiran Ahya jernih, kemudian bisa mengikhlaskan hubungannya yang kandas bersama Zuhdi.
"Yang ikhlas, yang ridho, jodoh kau lagi ngusahain kau. Nah, kau yang jadi pihak perempuannya. Pilah laki-laki yang datang, hormati kehadirannya sebagai tamu. Terus, kalau memang mengarah ke hal serius, buka hati kau, luangin waktu untuk bersama, bukan buat berzina, tapi buat mengenal satu sama lain. Karena, cinta itu datang karena terbiasa. Dengan kau ikhlasin Zuhdi, welcome sama yang baru, kau pasti nemuin cinta kau yang Zuhdi kubur hidup-hidup itu. Kau cantik, kau pandai, keturunan umi itu orang sukses loh macam si Ken. Rampung pendidikan, terus kau kerja. Kerja bukan cuma karena butuh duit, tapi biar kau para anak yang kelak bakal punya anak lagi. Biar ngerti tuh yang namanya capeknya cari duit. Biar paham, prosesnya dapat sesuap nasi itu panjang loh. Keturunan orang kaya aja, dia tetep harus bekerja. Bukan karena harta bakal habis, karena dipakek makan tiap hari. Tapi lebih, karena untuk kehidupannya kelak. Biar dia paham, biar bijak dalam pengeluaran. Nah... Dalam ruang lingkup pekerjaan kau juga, biasanya kau dapat jodoh dari situ. Biasanya... Guru, dapatnya guru lagi, lebih-lebih malah ada yang dapatnya kepala sekolah. Kau paham kan maksud Papah?" Adi kembali mengusap lembut kepala Ahya. Anak perempuan yang selalu datang ke rumahnya, untuk mencari keberadaan putra pertamanya.
Andai saja Ghifar baik-baik saja, Adi pasti bisa mengusahakan pernikahan Ahya dan juga Ghifar.
__ADS_1
......................
Nasehat dari juragan nih, dengerin loh.