
"Ini...." Adi menggantungkan kalimatnya, dengan mengajak Zuhdi untuk duduk di sebelahnya.
"Siapa itu, Di? Anak kau sama perempuan lain kah?" tanya ibu Meutia, yang mendapat seruan dari menantunya yang paling heboh.
"Bukan, Umi!!! Sembarang aja!" seru Adinda, yang membuat semua yang berada di panggilan video tersebut tertawa puas.
"Dinda lebih rela Abang hamilin lagi, Mi. Dari pada Abang nikah lagi." celetuk Adi, yang malah membuat mereka terbahak-bahak.
"Jadi, ini calonnya Giska. Mereka baru aja tunangan hari ini, Mi." ungkap Adi, setelah tawa mereka semua mereda.
"Apa?" ibu Meutia begitu kaget, mendengar ucapan anaknya.
Tiba-tiba anak dipangkuan Adi menangis kencang, ia mendongak menatap ayahnya.
"Kenapa, Nak?" tanya Adi pada Gavin.
"Sakit.... Lidahnya kegigit, kaget kena Omah." ungkap Gavin di tengah tangis kencangnya.
"Kak Canda, tolongin Adek Gavin dulu ini." pinta Adi memanggil menantunya. Ia memang mengajarkan anak-anaknya, untuk menyebut Canda dengan sebutan kak. Apa lagi para balitanya, yang belum mengerti dengan orang baru yang masuk di keluarganya.
"Ya, Pah." sahut Canda, dengan bergegas menuju ke arah ayah mertuanya.
Canda langsung menggendong Gavin, yang masih menangis dengan mulut yang terbuka.
"Lidahnya kegigit katanya." balas Adi, saat menantunya hendak berlalu pergi membawa anaknya.
Canda mengangguk, kemudian membawa Gavin masuk untuk meminta berkumur dahulu.
"Gimana, Di?" tanya Arif, setelah Adi selesai dengan drama Gavin.
"Iya, A. Ini tunangannya Giska, namanya Zuhdi." jawab Adi, dengan Zuhdi yang tersenyum pada layar ponsel milik Adi.
"Di... Ini Pakdhenya Giska dari mamah Dinda. Pakdhenya ada dua, yang satu lagi tak di kota yang sama. Ini neneknya Giska dari Papah. Dipanggil Omah." ungkap Adi dengan menunjuk pada layar ponselnya.
"Hallo Pakdhe, hallo Omah. Kenalin, aku Adi." ujar Zuhdi dengan tersenyum manis.
"Hah?" ibu Meutia kembali menyuarakan suara kagetnya.
"Giska, tak cukup kah dengan Papah Adi? Sampek kau cari suami yang Adi juga?" celetuk ibu Meutia, yang membuat Giska terkekeh malu.
__ADS_1
"Tak sengaja cari Adi, Omah. Memang namanya Zuhdi, dipanggilnya Adi." jelas Giska, yang berada di tengah-tengah antara Adi dan Zuhdi.
"Kapan nikahnya, Dek? Nanti Pakdhe sekeluarga ke sana." ucap Arif dengan mengamati wajah Zuhdi, yang perawakan tak jauh beda dari anak-anak Adi.
"Nanti, tiga tahun lagi. Kalau udah siap ngemban sarjana, Pakdhe." sahut Giska dengan senyum bahagianya.
"Kerja apa, tunangannya Giska?" tanya ibu Meutia, membuat Adi ikut tegang saja.
Zuhdi menundukkan kepalanya sejenak, lalu kembali menatap layar ponsel tersebut dengan tersenyum lebar.
"Bangunan, Omah." jawab Zuhdi kemudian.
"Ohh, arsitek kah?" ujar ibu Meutia penasaran.
"Bukan, Omah." tutur Zuhdi dengan tersenyum sembari menunduk kembali.
"Ohh, iya-iya. Tukang profil kah?" tebak ibu Meutia kembali.
"Bukan juga, Omah. Tukang batu, pasang batu bata, ngecor." ungkap Zuhdi menurun, ia sudah berfirasat tidak enak.
"Ya ampun, Adi Riyana." tutur ibu Meutia yang membuat Adi merasa ini bukan hal yang baik.
Lalu Adinda merebut ponsel milik suaminya, berlalu pergi membawa kabur benda pipih tersebut.
Adinda sengaja melakukan hal demikian, karena khawatir ibu Meutia mengatakan sesuatu yang menyakiti hati Zuhdi.
"Terus katanya kamu punya rumah baru lagi?" tuduh Arif pada adik kandungnya.
"Tau gak, Mi? Menantunya beli rumah seharga 2,5 M, di perumahan mewah daerahnya Haris." lanjut Arif dengan beralih mengadu pada ibu Meutia.
"Wah... Kau bener-bener ya, Din. Suruh ngerehab rumah abusyik, kau bilang liat nanti aja. Giliran beli baru, diem-diem aja!". ujar ibu Meutia, membuat Adinda dan Arif tertawa geli.
"Itu bukan rumah aku, aku tak dapat bagian dari rumah mantan mertua Umi. Ngapain aku ngerehab? Ngenakin Ghifar betul-betul." tutur Adinda, membuat tawa ibu Meutia dan Arif begitu lepas.
Adinda berjalan menghampiri Givan dan Canda, lalu memberikan ponsel milik suaminya.
"Pengantin baru nih, Mi. Lama nganggur, ngamer terus." celetuk Adinda, membuat mereka tertawa terbahak-bahak. Berbeda dengan Canda, yang malah merasa malu dengan sindiran mertuanya.
"Bingung aku Omah, mau kerja apa di sini. Papah punyanya ladang aja, tak berbakat aku berladang." ungkap Givan dengan memperhatikan gambar wajah neneknya.
__ADS_1
"Kan Mak kau ada wisata, adik kau punya coffe shop. Ghava aja di sini lancar coffe shop-nya, yang penting free WiFi." ujar ibu Meutia memberikan saran, yang menurutnya paling tepat untuk Givan.
"Aku tak bisa jualan. Nantilah, mau cari proyek ke kawan. Mending kasaran aja, dari pada jualan atau mesti masang senyum ke orang-orang yang datang ke tempat wisata." sahut Givan, yang teringat akan ajakan Zuhdi beberapa hari silam. Saat dirinya dan Zuhdi tengah menikmati kopi, di salah satu kedai kopi kampung.
"Ada proyek apa, Di?" tanya Givan, dengan duduk di samping Zuhdi yang asik dengan ponselnya.
Zuhdi menoleh sekilas pada calon kakak iparnya, lalu ia kembali fokus pada ponselnya.
"Ada proyek aspalan, turun ke jalan. Kau bayangkan aja panasnya, alas kaki juga mesti sepatu boot safety." jawab Zuhdi, kemudian menyeruput kopi miliknya kembali.
"Kau lagi ngerjain apa?" sahut Givan, membuat Zuhdi bingung dengan arah pertanyaan temannya tersebut.
"Aku, lagi balas chat Giska." balas Zuhdi, yang membuat Givan terkekeh kecil.
"Maksud aku, kau lagi ngerjain proyek apa? Lagi kosong betul kerjaan, mana ada istri lagi." jelas Givan kemudian.
"Aku lagi pasang keramik di rumah bang Ipul, baru mulai beberapa hari kemarin. Rampung ngerjain keramik, terus mau ke L*okseumawe. Biar cepat kumpul 57 mayamnya." ungkap Zuhdi jujur.
Givan geleng-geleng kepala, mendengar penuturan Zuhdi barusan.
"Kalau kau mau, kau boleh ikut ke L*okseumawe. Ehh, tapi kau kan punya tambang kan? Kenapa sama tambang kau itu?" lanjut Zuhdi, yang memperhatikan wajah Givan dari samping.
"Macam dijual sama ma aku. Aku cuma punya saham aja di sana, yang punya bukan aku lagi. Jadi yang ngelola, ya bukan aku. Aku cuma terima bagian aku aja, dari saham itu. Sebetulnya cukup juga, buat ngasih makan satu istri dari hasil saham itu. Tapi, kau tau kan kalau harga diri laki-laki itu kerja?" tutur Givan dengan menoleh ke arah Zuhdi, Zuhdi mengangguk cepat di akhir kalimat Givan.
"Nah, itu masalahnya. Aku kepengen kerja, biar tak direcokin betina yang satu selimut sama aku. Mana kan, suruh mong-mong bocil juga sama ma." tukas Givan yang membuat Zuhdi terkekeh geli.
"Asli memang, Van. Jagain bocah itu, lebih capek dari pada kerja." ucap Zuhdi yang diangguki oleh Givan.
"Iya, makanya kau punya proyek tak buat aku? Pagi berangkat, sore balik. Kalau merantau, aku tak mau. Aku punya proyek hamilin istri aku soalnya di rumah." sahut Givan yang membuat mereka tertawa bersama.
"Ada juga kasaran. Jadi tukang dua, ngeladenin tukang itu nah, yang bikin adukan semen. Tapi sehari paling delapan puluh, kalau tak makan ya seratus." balas Zuhdi kemudian.
Givan menghela nafasnya. Ia merasa bosan menjadi pengangguran, yang terus berada di rumah. Tapi ia tak yakin, dengan tawaran pekerjaan temannya tersebut.
"Atau ngecat, ruko baru yang depan jalan sana itu. Sama juga, sehari paling delapan puluh atau seratus. Tapi kan, lebih ringan itu dari pada ngeladenin tukang. Mulai nanti hari senin, lepas minggunya aku tunangan itu." ungkap Zuhdi, yang menarik perhatian Givan.
......................
Santai, rileks dulu ...
__ADS_1