Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS16. Mengantar Icut


__ADS_3

Hari ini Icut diantar oleh Givan untuk pindah ke pulau J, tepatnya di kediaman ibu Meutia. Mereka telah sampai di tempat tujuan, dengan langsung mengistirahatkan tubuhnya.


Ibu Meutia pun, sudah mengetahui akan Icut yang tengah berbadan dua tersebut. Ia cukup heran, dengan keputusan anak dan menantunya yang malah mengirim Icut ke sini, bukan malah menikahkannya.


"Van…" panggil ibu Meutia, saat Givan tengah bersantai di karpet ruang keluarga sembari memainkan ponselnya.


"Ya, Omah." sahut Givan dengan menoleh ke nenek dari ayahnya, yang masih bisa berjalan. Namun, memiliki punggung yang sedikit membungkuk sekarang.


"Gavin sehat kah?" tanya ibu Meutia, dengan duduk di kursi yang tersedia.


"Sehat, Omah. Kenapa memang?" jawab Givan kemudian.


"Omah terakhir dapat kabar, katanya Gavin di-gip tangannya." sahut ibu Meutia, dengan begitu lekat memperhatikan anak sulung menantunya.


"Iya, anak itu memang petakilan. Udah sebulan lebih, udah dilepas gip-nya. Udah lagi ikut pengobatan alternatif, sama urut macam itu. Soalnya tangannya, kek sedikit bengkok." jelas Givan dengan bangkit dari posisinya, lalu ia bersandar pada kursi, yang tengah diduduki oleh ibu Meutia.


"Memang pakek gip-nya tak yang bagus?" balas ibu Meutia, dengan mengerutkan keningnya.


"Pakek yang bagus, yang mahal. Ya… namanya tulang patah, nyatu juga mungkin tak berbentuk sempurna lagi Omah. Macam kaki papah Adi aja, leter O sampek sekarang. Meski tak begitu nampak jelas, tapi kalau diperhatikan tetap leter O. Malah akhir-akhir ini suka nyeri, kalau kehujanan katanya." ujar Givan yang diangguki oleh ibu Meutia.


"Iya sih, papahnya aja macam itu. Malah papah kau itu sih retak dua-duanya, kegencet mobil." tutur ibu Meutia yang menarik perhatian Givan.


"Memang papah ngapain sih? Dulu kenal mamah, kenal aku, kaki papah udah leter O. Malah abi ada kata, jangan sama papah Adi mamah tuh, takutnya anaknya kakinya leter O lagi. Soalnya kalau kaki macam itu tuh, bisa jadi faktor keturunan." tukas Givan, yang masih mengingat sepenggal pertemuannya dan pesan orang terdekatnya akan papah sambungnya.


"Katanya sih, balap mobil. Terus kecelakaan tunggal, nabrak pohon, bagian depan mobilnya penyok sampek ruang kemudi. Papah kau yang masih di dalam mobil, kegencet bagian kakinya. Untung masih selamat, kaki juga masih utuh, meski retak dua-duanya." ungkap ibu Meutia, dengan Givan yang manggut-manggut mengerti dengan cerita kilas tentang kecelakaan yang ayahnya alami dulu.

__ADS_1


"Lama itu sembuhnya, ada satu tahunan. Sembuh kaki, malah masuk penjara. Ehh… kau malah ikutin jejak papah kau. Untung keburu ketahuan papah kau. Coba kau kalau ketahuan BNN lebih awal, sekolah SMA belum lulus malah udah dapat gelar narapidana." lanjut ibu Meutia, yang membuat Givan tersindir.


"Yaa… namanya juga anak muda, Omah. Kebawa pergaulan." sahut Givan enteng.


"Sekarang tak macam itu lagi?" tanya ibu Meutia yang langsung digelengi oleh Givan.


"Ya kau jagain lah adik-adik kau, biar tak macam kau. Kau anak sulung, tanggung jawab kau besar." nasehat ibu Meutia yang membuat Givan terdiam.


"Mungkin di jaman sekarang, udah tak aneh hamil tanpa suami. Tapi rasanya Omah tak percaya, malah kejadian di cucu sendiri." ujar ibu Meutia mengalihkan pembicaraan.


"Papah juga udah nyaranin mamah, buat dicari jalan tengahnya aja. Tapi kata mamah, biar Icut jera. Biar dia juga ada pikirannya, biar tak kejadian macam ini lagi. Tadi tuh, pas mau pergi udah lagi dirundingin lagi." tutur Givan kemudian.


"Terus udah macam ini aja? Tak ada keputusan akhirnya?" tukas ibu Meutia, dengan Givan yang langsung berdiri dari duduknya.


Ia menoleh ke arah omahnya, sebelum beranjak pergi.


Lalu Givan berlalu pergi, menuju ke kamar yang selalu ia tempati jika berkunjung ke rumah ini.


Sesampainya di kamar, ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dengan langsung melakukan panggilan pada orang tuanya.


"Pah… aku sama Icut udah sampai di kota J. Aku udah ambil penerbangan, kerjaan aku udah numpuk soalnya." ucap Givan, saat detik dalam panggilannya berjalan.


"Assalamualaikum kek, apa dulu kek?! Tak ziarah ke kakek sama nenek dulu? Ghifar mau ke kota C, kalau ladangnya udah ada yang handle." sahut Adi yang membuat Givan mengerutkan keningnya.


"Tau Ghifar mau ke kota C, kenapa tak dia aja tadi yang anter Icut? Biasanya juga ayah Jefri, Pah? Apa nitipin ladang ke bang Hafis?" balas Givan kemudian.

__ADS_1


"Ayah kau keteteran ngurus kerjaannya sendiri. Bang Hafis lagi, yang lagi fokus ngurusin titelnya. Udah aja nanti, Papah sekalian nyari orang. Biar Ghifar bisa fokus ke usaha yang lain, karena kalau nungguin kopi aja bakal kelaparan. Ini aja udah tiga tahun, masih setahun lagi ke masa panen pertamanya." ujar Adi yang membuat Givan iri. Karena ia tak pernah sampai diperhatikan masalah usahanya. Givan berpikir positif, bahwa ayahnya memang bukan dibidang pertambangan. Tapi ucapannya barusan, begitu mendukung Ghifar untuk memiliki usaha lain. Sedangkan dirinya, tak pernah diminta untuk memulai usaha lain.


"Usaha apa, Pah?" tanya Givan setelah menelan ludahnya kasar. Ia merasa miris, pada kehidupannya. Setelah orang tuanya memiliki anak-anak dari pernikahannya.


Sebenarnya itu hanya perasaannya saja, tetapi pikirannya membuatnya terkecoh dengan semua yang orang tuanya lakukan.


"Belum tau, Ghifar tak ada ilmu basic lain selain cangkul-cangkul yang dalam." jawab Adi yang membuat Givan sedikit terhibur.


"Kenapa dia tak ambil pendidikan lain? Buat bekel masa depannya." tukas Givan membuat Adi berpikir di seberang sana.


"Mamah juga udah nyaranin, sana ikut abi biar diarahin pendidikannya. Biar bisa jadi dokter, syukur-syukur bisa macam pns atau dokter spesialis macam itu. Adik kau bilang tak mau, takut darah. Disuruh belajar bertenak di kota C, sama pakde Arif katanya tak tahan baunya. Keknya Ghifar macam Papah, cuma mentok di bertani aja. Buka wisata, itu kan ide juga usaha dari mamah kau. Bikin spot foto menarik di dalam ladang kopi, bikin jamboe, sampek bikin kedainya si Ghavi yang deket ladang kopi juga itu ide mamah kau. Papah udah tak bisa kerja lain, tak ada ilmu basic lain." jelas Adi yang membuat Givan berpikir keras. Ia baru menyadari, segala usaha baru yang orang tuanya jalani berasal dari ibunya.


"Perternakan juga punya mamah ya, Pah? Tapi aku pernah dengar, katanya Papah pernah jualan roti bakar." tutur Givan setelah terdiam sesaat.


"Lah, kan jualan itu dibayar. Bukan usaha Papah sendiri. Lagian, roti bakar cuma dioles margarin, selai, terus dibolak-balik di atas panggangan aja. Itu ilmu nampak, tak sekolah pun bisa dia dagang roti bakar." tukas Adi yang dari nadanya membuat Givan tertawa renyah.


"Semua usaha lain, ya punya mamak kau semua. Papah ya cuma ladang aja, nambahin ladang paling Papah bisanya. Kalau harus buka usaha lain, Papah tak pernah kepikiran. Karena mikirin ladang, sama anak delapan, plus istri satu aja udah pusing." ungkap Adi yang dapat dimengerti oleh Givan, bahwa ayahnya sudah cukup sibuk dengan ladang dan keluarganya.


"Jadi macam mana, Pah?" tanya Givan kemudian.


"Ya…..


......................


*Jambo : sejenis saung, gubug sederhana.

__ADS_1


Sebenarnya apa sih masalahnya Givan bisa berubah kek gitu? padahal sendirinya memahami keadaan orang tuanya? jadi apa nih kira-kira?


__ADS_2