
"FAR!!! TALAK KAU TURUN!" bentak Adi begitu kuat.
Ghifar merasa bingung, dengan ucapan ayahnya. Namun, kebingungannya tak seberapa dibandingkan dengan amarahnya.
Ia berjalan cepat ke kamarnya, kemudian turun dengan dompet miliknya yang cukup tebal.
"Nih, buat ongkos balik ke orang tua!"
"Lain kali, kalau aku lagi makan. Kau jangan banyak cakap, sesek Fir!!!
Ghifar menaruh lembaran merah di atas meja ruang tamu, sedangkan Fira tengah membersihkan pecahan piring yang Ghifar hantamkan ke tembok.
"Key... Ikut Papah yuk, Nak." Ghifar mengambil alih Mikheyla dari dekapan kakaknya.
"Mau ke mana? Abang mau ajak dia jalan-jalan." Givan seperti tidak rela, saat putri mantan kekasihnya diambil paksa oleh adiknya.
"Cuci mobil. Empluk yang kasih sabun, Papah yang siram ya." jawab Ghifar dengan melangkah ke arah mobil berplat DK, yang terparkir di halaman rumah tersebut.
Ghifar dengan santainya melepaskan kemejanya, menyuguhkan pemandangan untuk istri dari kakaknya. Ghifar terlihat begitu cuek, saat menarik selang air dengan keran yang sudah berputar.
"Nih, Mpluk!" Ghifar memberikan sebuah spons pada Mikheyla.
Mikheyla begitu bahagia, saat air mulai membasahi telapak kakinya. Hanya dua gigi yang ia pamerkan setiap saat, tetapi langkah kakinya sudah begitu cepat.
"Iwi... Wih, wih, wih.. iwi." celotehan Mikheyla, dengan menggosok mobil berwarna putih tersebut dengan spons yang Ghifar berikan.
"CEPET TUH, FIR! KEY LAGI ANTENG." seru Ghifar, dirinya menghadap ke rumah orang tuanya agar Fira bisa mendengar seruannya.
"YAA... LAGI PAMIT SAMA MAMAH PAPAH, BLI." sahut Tika, dari dalam rumah. Karena Tika mengetahui hal itu.
"Sini, Tik." Ghifar memanggil wanita yang tengah hamil tersebut, untuk keluar dari rumah.
Kemben berwarna putih, hanya mampu menutupi setengah perut buncit itu saja. Tika begitu santainya mengenakan hot pants, dipadu dengan kemben yang menutupi dadanya saja.
Fokus Givan beralih pada wanita muda tersebut, sampai tarikan pada bulu lengannya cukup mengejutkannya.
Ia tersentak, kemudian mengusap-usap lengannya.
"Sakit loh, Dek." ucap Givan mendelik tajam pada istrinya.
"Ayo masuk aja lah! Kesel terus aku." ungkap Canda, dengan menarik kaos suaminya.
"Mas mau ke toko, Dek. Semen datang hari ini." ujar Givan, membuat mulut istrinya menyerupai paruh burung kicau kembali.
"Tak boleh! Aku mau Mas ke kamar, temenin aku." paksa Canda, dengan menarik lengan suaminya untuk masuk ke dalam rumah.
Givan hanya mampu menghela nafasnya, ia tak ingin berdebat dengan istrinya pagi ini.
Namun, saat mereka berada di ambang pintu. Mereka berpapasan dengan Fira yang membawa kopernya.
Fira menyunggingkan senyum manisnya pada Givan dan Canda, "Pamit dulu, Bang." ucapnya ramah.
__ADS_1
"Ya." Givan hanya menyahuti seperlunya. Ia masih merasa bingung dengan kedatangan adiknya, dengan membawa tiga wanita tersebut.
Givan melanjutkan langkahnya, dengan istrinya yang masih menarik lengannya tersebut.
Mereka kembali berpapasan, dengan Yoka yang sudah memakai gamis. Namun, belum mengenakan hijabnya.
"Mah... Mamahnya bli Ghifar." panggil Yoka, yang muncul dari lantai atas.
Adinda yang berada di sofa ruang keluarga, langsung mendongakan kepalanya mencari keberadaan seseorang yang memanggilnya.
"Ya, apa?" sahut Adinda kemudian.
"Aku Hindu, boleh gak pakek kerudung besar ini?" mereka semua merasa terheran-heran. Bagaimana bisa Ghifar menikahi perempuan yang tidak satu iman? Itulah yang ada di pikiran Adi, Adinda, Canda dan Givan.
"Boleh, kan si Valak aja pakek tudung." Canda bersuara, Adi dan Adinda serentak menoleh ke arah Givan dan Canda yang berada di ambang pintu kamar mereka.
"Siapa Valak, Kak?" tanya Yoka yang sudah berada di lantai bawah rumah tersebut.
"Itu... Setannya Conjuring." jawab Canda enteng.
"Dia kan Kristen, bukan Hindu. Biarawati kan bertudung, Valak kan modelan biarawati pakaiannya." jelas Givan dengan suara lelahnya.
Mereka semua terkekeh geli, melihat sepasang suami istri tersebut.
"Terserah nyamannya kau aja. Tapi di sini, kalau ke luar rumah mesti bertudung. Tak mesti kerudung atau hijab panjang, kain apa pun tak apa. Yang penting nutupin rambut kau, jangan sampek nampak orang." ungkap Adi lembut, karena ia sudah cukup lelah untuk menyangkal semuanya.
"Kaka... Aku disiram bli." mata Adi membulat, saat melihat perut buncit yang basah karena air. Bagian tubuh berbentuk tutup teko pun, terlihat mencetak jelas di balik kemben warna putih itu.
"Ya... Gimana ya?" Yoka menggaruk-garuk kepalanya, ia memandang nanar penampilan adiknya.
"Berapa kali dia gembar-gembor, suruh kita pakai gamis." lanjut Yoka dengan pandangan pasrahnya, saat melihat bayangan Ghifar masuk dengan Mikheyla di gendongannya.
"Gamis dibelikan satu lusinan, buat dipakek setiap hari. Bukan buat berat-beratin koper kalian! Kan udah dibilang, tak usah ikut. Maksa betul! A*eh punya aturan, kalian tak mau manut, ya sana balik ke tempat asal."
"Keknya... Khawatir betul aku lepas tanggung jawab." lanjut Ghifar, setelah memarahi dua orang perempuan yang ia bawa.
Ghifar berbalik badan, kemudian kembali ke luar dari rumah.
"Nurut aja deh, dari pada diusir." Yoka langsung mengenakan kerudung panjang, setelan dari gamisnya tersebut.
"Ayo cepet! Ganti baju!" lanjut Yoka, dengan menarik lengan adiknya untuk masuk ke dalam kamar mereka.
Selepas ruangan itu sepi, Adinda menepuk paha suaminya.
"Bang... Masa kakak beradik dinikahi? Mereka tidur satu kamar pulak. Terus... Fira ditalaknya tadi? Kek mana sih Ghifar ini?" ungkap Adinda kemudian.
Adi membuang nafasnya, "Itulah, Dek. Dia bilang mau bantu urus adik-adiknya. Nampaknya... Masalahnya pun udah seabrek." sahut Adi dengan geleng-geleng kepala.
Ia merasa, beban hidupnya semakin berat saja. Apa lagi, saat mengetahui ternyata orang Bali yang anaknya bawa, masih beragama Hindu.
Siang hari itu, rumah begitu ramai. Apa lagi saat Hamerra bermain bersama dengan Mikheyla. Sahut tangis kian berkejaran, ditambah dengan teriakan Icut yang meminta pertolongan akan anaknya yang selalu ditindas oleh Mikheyla.
__ADS_1
Saat para wanita berkumpul menyaksikan tayangan sinetron Indonesia, Canda kembali menjadi pusat perhatian karena sering menoleh ke arah dapur.
Boka, boka, boka.....
Dj boka, boka, boka.......
Suara musik berderap cepat, dengan ulangan kata tanpa penyanyi tersebut mengusik pendengaran mereka.
"Gak usah dikerjain, Bli. Tidur aja kamu! Gak tenang aku nonton TV, berisik banget!" seru Tika, dengan menoleh ke arah dapur.
"Lapar! Pada tak peka betul! Uang tinggal minta! Tapi tak dibuatin makanan apa pun!" sindir Ghifar dengan derap musik yang keras. Membuat suaranya kalah dengan bunyi-bunyian tersebut.
"Maaaaa.... Mama.... Mama Pika....." Mikheyla berlarian dari ruangan, ke ruangan lainnya.
Ia baru menyadari, ternyata ibunya tak bersamanya sejak tadi.
"Eyooooo..... Heyoooooo......"
"Mama Afrika."
Ghifar bersenandung dengan nada tinggi, mengikuti teriakan Mikheyla yang memanggil ibunya.
"Paaaa... Biiii.... Biii..." teriak Mikheyla berlarian ke arah dapur.
"Dek... Kek anak siapa gitu ya? Perasaan Abang pernah pengalaman, ada anak yang tak bisa diam. Lari-larian terus kek si Key." ungkap Adi yang muncul dari pintu samping rumah tersebut.
"Bhang..... Bhang......" anak umur dua tahun kurang tersebut, berlarian menuju Adi.
"Kakek, Key! Bukan abang!" seru Ghifar, yang mendengar suara Mikheyla.
"Yuk." ajak Adi dengan menggendong tubuh anak perempuan itu.
Mikheyla memiliki pipi yang berisi, dengan tubuh yang kurus tidak, gemuk pun tidak.
"Kit ya?" pandangan Key bergulir pada perban yang menempel di belakang kepala Adi.
"Paaaa.... Paaa....." panggil Hamerra, saat melihat Adi melintas dengan menggendong Mikheyla.
Mikheyla memeluk leher Adi, ia terlihat begitu posesif pada seseorang yang ia sebut kakek tersebut.
Ghifar muncul dengan sepiring makanannya. Bertepatan dengan Kinasya muncul, membawa gitar yang terdapat di punggungnya dan juga kantong plastik berwarna hitam.
"Puadai rekko tongeng mappojiki. Aja mugatungenga lunrana adamu. Rekko memeng dega pappojimmu ri ya. Dememenna umelo urasa mattajeng." Ghifar mencolek dagu Kinasya, yang memiliki wajah sombong tersebut.
"Heh, kau....
......................
*Puadai rekko tongeng mappojiki. Aja mugatungenga lunrana adamu. Rekko memeng dega pappojimmu ri ya. Dememenna umelo urasa mattajeng : Cinta bilang cinta, sayang bilang sayang. Jangan kau gantung aku dengan harapan. Bila kau tak cinta, aku tak mengapa. Bila tak sayang aku tak akan berjuang.
Bahasa Bugis ini ya. Ceritanya Ghifar lagi nyanyi.
__ADS_1