Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS129. Berkumpul dan mengobrol


__ADS_3

"Buat apa, Cut?" tanya Adinda, dengan fokus memperhatikan interaksi Adi dan cucunya.


"Tak, deh. Mah, aku mau bersih-bersih dulu. Mau ganti pakek pakaian yang lebih santai." ujarnya dengan berlalu pergi dari kamar orang tuanya.


~


Selepas menunaikan ibadah sholat maghrib, Adi ikut berbaur dengan anak-anak dan istrinya. Mereka semua tengah berkumpul di ruang keluarga, dengan televisi yang menyala.


"Bang Ghava kok tak ikut balik sih, Kak?" tanya Ghavi, yang tengah menikmati makan malamnya.


"Memang Ghava tak bilang kah? Bahwa dia lagi ngurus sawit sama om Edo." ungkap Icut, yang menarik perhatian Adinda.


"Udah, udah bilang sama Papah." sahut Adi, yang duduk di samping istrinya.


Adinda menoleh ke arah suaminya, "Kok Abang tak bilang sama aku? Kek mana pendidikan Ghava di sana?" ujar Adinda kemudian.


"Cuti, cuti 3 bulan. Ghava tertarik sama lahan sawit, kedainya kan Icut yang pegang." jelas Adi, yang membuat Adinda menoleh ke arah Icut.


Icut tersenyum kaku, ia merasa tegang dengan situasi sekarang. Karena ibunya memintanya untuk fokus pada pendidikan dan anaknya saja, tetapi Icut malah bekerja juga.


"Kiban cerita jih?" tanya Adinda, dengan menepuk paha suaminya.


Adi menerima tubuh Hamerra, yang Giska turunkan ke pangkuannya.


"Mau bikin telor ceplok, dua mata sapi." ucap Giska, dengan berjalan ke arah dapur.


"Ceritanya.......


Adi tengah beristirahat, karena adzan dzuhur tengah dikumandangkan.


"Mau beli makanan, apa balik Pah?" tanya Givan yang berjalan ke arahnya.


"Beli aja deh, Mamah tadi pagi bilang mau ke salon sama Canda. Pasti makanannya sisa pagi tadi." jawab Adi, sembari mengipasi wajahnya dengan topi berbahan daun pandan.


"Mau makan apa, Papah?" sahut Givan, dengan meraih botol mineralnya.


"Chicken geprek aja, nasinya double. Sama air mineral yang botol besarnya satu. Nih uangnya, kau juga beli." balas Adi dengan memberikan selembar uang berwarna merah.


"Makannya enak-enak terus." celetuk Givan dengan menerima uang tersebut.


"Mestilah. Uang banyak, ya dinikmati dong. Mobil rusak, beli baru. Cat ngelupas, cat ulang. Makanan tak disiapkan, kita makan di luar. Simple-simple aja, yang penting bersyukur." ungkap Adi yang membuat Givan manggut-manggut dengan tersenyum samar.

__ADS_1


Panutannya, tetap tak berubah sejak Givan mengenal suami baru untuk ibunya. Adi tetap hidup sederhana, tak terlalu berlebihan, meski uangnya sudah tak memiliki tempat lagi.


Ia pernah berpikir, bahwa ayah sambungnya adalah orang yang pelit. Tapi jelas, itu tidaklah benar. Ayahnya hanya mencoba hidup sederhana, membeli sesuatu yang ia butuhkan saja.


"Tak perlu beli jam ratusan juta, mana sampek berantem sama istri. Mending uangnya buat cat rambut istri, buat jajan di pasar malam." sindir Adi yang membuat Givan malu.


"Pamer jam mahal, mau pamer ke siapa? Tetangga lebih panas tengok kita beli kulkas baru, atau TV baru. Dari pada beli jam tangan, yang mereka pun tak selera buat pakeknya." lanjut Adi yang membuat Givan terkekeh geli.


"Seneng betul bikin tetangga panasan." ujar Givan kemudian.


"Yaa... Maksudnya, jam tangan mahal-mahal buat apa? Kerjaan kau kan berladang juga, ketemu mereka yang pakek kaos vaksin sama kaos partai." tutur Adi dengan menunjuk pekerjanya yang berjalan menuju ke kendaraan masing-masing, untuk pulang di jam istirahat ini.


Givan mengangguk, karena ia merasa ucapan ayahnya memang benar. Relasi kerjanya bukan mereka yang berdasi, tetapi mereka yang mengenakan kaos bagian dari lembaga sosial untuk pawai. Namun, malah mereka gunakan untuk bekerja di ladang. Alasannya klasik, mereka akan berkeringat dan bergelut dengan alam. Membuat pakaian mereka akan kotor dan berbau tidak sedap. Sayang, jika mereka mengenakan pakaian mahal.


"Ya, Pah. Aku beli makanan dulu." tukas Givan, dengan berjalan ke arah motor matic rebutan para wanita di rumah.


Adi berangkat ke ladang dengan mengendarai sepeda gunung, berbeda dengan Givan yang malah mengambil alih motor matic untuk kendaraan membeli sayur tersebut.


Adi hendak berjalan menuju ke sumber air, untuk membersihkan tangan dan kakinya. Sekalian ia berniat, untuk mengambil air wudhu dan menunaikan sholat di saung yang tersedia.


Namun, ia urung melakukannya. Karena ponselnya berdering beberapa kali, disertai getaran yang mengagetkannya.


Adi duduk kembali di saungnya, lalu menerima panggilan telepon tersebut.


"Hallo." ucapnya kemudian.


"Assalamu'alaikum, Pah." ujar Ghava saat mendengar suara ayahnya.


"Wa'alaikum salam, kiban?" tanya Adi langsung. Karena Adi memahami sifat anaknya yang satu ini. Ia tak mungkin menghubunginya, jika tidak memiliki sesuatu hal yang ingin disampaikan.


Bisa dibilang, Ghava terlalu cuek dengan sekitarnya. Ia mencari orang terdekatnya, jika memang ia tengah membutuhkan bantuan.


"Pah... Aku ambil cuti boleh tak? Mau belajar sawit, sama om Edo." ungkap Ghava, yang membuat Adi terdiam sejenak.


"Semester berapa kau sekarang? Perasaan lama betul kau pendidikan, kapan dapat gelar sarjana ekonominya?" tutur Adi yang membuat anaknya terkekeh geli.


"Papah dapat gelar sarjana perladangan memang berapa tahun? Macam pendidikan aku tak umum aja Papah ini." tukas Ghava yang masih terkekeh kecil.


"Empat tahun, 22 tahun Papah udah punya gelar sarjana." ujar Adi mantap.


"Ya nanti aku wisuda pun sama, 22 tahun kalau memang tak cuti." jelas Ghava, yang membuat Adi berpikir keras.

__ADS_1


"Giska kan semester empat, Icut semester enam, kau harusnya semester akhir." ucap Adi yang membuat Ghava melongo di seberang telepon.


"Mana bisa macam itu? Icut lahir lebih dulu, kok bisa dia yang malah semester enam, aku yang semester akhir?" sahut Ghava yang membuat Adi tertawa seorang diri.


Ia amat bingung dengan jenjang usia anak-anaknya. Apa lagi antara Icut, Ghifar dan juga anak kembarnya.


"Ohh, iya-iya. Icut beda tiga bulan di atas Ghifar, kau beda delapan bulan di bawah Ghifar." balas Adi kemudian.


"Nah itu. Icut semester akhir, aku semester enam. Terus, baru Giska semester empat." jelas Ghava, membuat Adi manggut-manggut meski tidak berbicara langsung dengan anaknya.


"Aku mau ambil cuti, mau belajar sawit sama om Edo. Kedai biar Icut yang ambil alih." ungkap Ghava tiba-tiba, membuat Adi memikirkan bayi yang kemarin Icut lahirkan.


"Anak Icut sama siapa?" tanya Adi kemudian.


"Sama Icut lah, Icut cuma datang buat cek kedai sama pembukuan aja. Kan ada staf-stafnya sendiri, Pah." jawab Ghava yang membuat Adi sedikit lega.


"Perasaan Icut kemarin ambil cuti tiga bulan, pas lahiran itu." ujar Adi, yang malah pusing dengan pendidikan anak-anaknya.


"Kan mamah sambungnya Icut orang kaya, otak Icut juga mampu. Bisa dia ngejer materinya, nanti tahun ini dia bisa ikut wisuda." tutur Ghava, yang membuat Adi garuk-garuk kepala.


"Biasanya ada KKN, di sana tak ada kah?" tukas Adi yang membuat Ghava kesal.


"Makanya jangan nanyain kabar terus kalau telepon. Tanya uang saku anaknya masih tak, tanya udah semester berapa, terus lagi belajar apa." kesal Ghava, tersirat begitu jelas dari nada suaranya.


Adi cekikikan seorang diri, "Sebetulnya Papah tak mikirin pendidikan kalian. Buat formalitas tetangga aja, keturunan juragan punya gelar sarjana." ucap Adi yang membuat rahang Ghava terjatuh.


"Tak betul mamah aku milih bibit." celetuk Ghava seperti menggerutu.


Adi terbahak-bahak, mendengar kata yang terlontar dari anaknya tersebut.


"Terserah kau lah. Ambil cuti, tapi pendidikan yang betul. Kejar kemauan kau, yang serius, terus coba kau praktekin ilmu yang kau dapat. Papah sediakan modal, tapi tak boleh gagal. Rugi gue nanti." putus Adi kemudian. Membuat Ghava mengembangkan senyum bangganya, karena memiliki seorang ayah yang selalu mensupport keputusannya.


"I love you, Papah. Aku usahain semampu aku." ujar Ghava kemudian.


"Papah tak I love you sama kau. Papah I love you sama mamah aja. Ya udah, ya. Papah mau ambil wudhu dulu, mau dzuhuran. Jaga lima waktu kau, jangan lupa shodaqoh." tutur Adi dengan mengenakan sendalnya kembali.


"Ya, Pah. Assalamu'alaikum." tukas Ghava yang langsung disahuti oleh Adi.


Kemudian Adi mematikan sambungan telepon tersebut, lalu berjalan menuju ke sumber air yang berada di ladang bagian anak sulungnya.


......................

__ADS_1


__ADS_2