Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS150. Biji kopi


__ADS_3

"Apa, Vi?" tanya Adinda, dengan menerima barang pemberian anaknya.


"Emas, buat nanti aku nikah." jawab Ghavi, yang membuat Adi ingin membenturkan kepalanya ke tembok.


"Yang ngerti lah, Vi. Mamah Papah lagi pusing ini, Nak. Sabarlah dulu nikahnya, kenalin perempuan, kau aja belum pernah." ungkap Adinda frustasi.


"Soe peugah aku mau nikah? Kan aku bilang buat nanti aku nikah. Itu hasil dua bulan ini, labanya aku belikan emas siang tadi. Tabungan aku udah lancar pemasukan, tinggal tabungan emas aja." jelas Ghavi yang membuat mereka bernafas lega.


"Berapa ini?" ujar Adinda dengan memutar-mutar emas di genggamannya.


"100 gram, Mah. Aku beli 75 juta, betul tak ya harganya segitu?" tutur Ghavi, dengan duduk di lantai teras rumahnya.


Ia harus sedikit mendongak, untuk melihat kedua orang tuanya yang duduk di kursi.


"Kalau emasnya 750 ribu, 100 gram ya memang 75 juta." tukas Adi yang ikut menimpali.


"Depositnya banyak dia, Bang. Yang 500 juta, punya 2 rekening dia." ucap Adinda, dengan menunjuk anaknya dengan dagunya.


"Bede sabu ya?" tuduh Adi yang membuat anak dan istrinya terkekeh geli.

__ADS_1


"Kon, lah. Bede ganja." aku Ghavi yang membuat tawa Adinda lenyap seketika.


"Gurau lah, Mah. Bede bubuk kopi. Aku ngambil dari pabrik, aku suplai ke kedai kawan. Siapa sih yang punya pabrik sekarang? Kok ayah Jefri juga yang handle, yang duduk di kursi sekarang. Aku bilang ke ayah, aku minta jatah segini nih perbulan. Ayah kata, ambillah suka-suka kau, punya keluarga kau ini. Kek gitu, Pah." jelasnya yang tidak bisa Adi sahuti.


Adi dan Adinda saling beradu pandang, mereka pun tak mungkin mengatakannya. Saat sang pemilik tidak berada di jangkauannya.


"Papah kah dapat warisan? Sawah yang di sana, tadi pagi diukur. Papah dapat berapa? Papah jual apa Papah olah? Aku mau ambil hasilnya, aku mau jual ke pesantren. Kawan aku yang jadi pengelola di sana, butuh 3000 kilo perbulan. Dia udah dapat 1000 kilo, dari sawah pesantren. Dapat 1000 kilo lagi, dari sawah masyarakat sekitar. Asrama putri nambah 2 gedung, sejak ajaran baru, santri ramai datang dari berbagai pulau. Jadi konsumsi para santri butuh banyak, ladang sayur pun dicarinya buat konsumsi santri tiap hari." ungkap Ghavi, dengan menyalakan ujung rokoknya.


"Sejak kapan kau pakek kretek?" tanya Adi, saat melihat bungkus rokok anaknya.


"Sejak kemarin, uang cuma pegang 20 ribu. Sepuluh buat bensin, 8 ribu buat beli rokok ini. Sisa 2 ribu buat jaga dompet. Malas ke ATM, antri terus." jawab Ghavi, dengan membakar batang rokoknya dengan korek. Ia hanya mengasapi saja, tanpa membuat batang rokoknya terbakar.


"Papah tak dapat sawah. Sawah yang dapat abusyik Akbar sama abusyik Tanjung, anak-anak mereka juga dapat. Papah ladang kopi aja, sama anak-anak Papah." jawab Adi kemudian.


"Lah, terus? Rumah abusyik Papah, sama pabriknya siapa yang dapat? Mereka bilang keluarga Papah yang dapat? Bukan aku minta bagian nih, aku udah pandai cari uang sekarang. Cuma memang mau tau aja, mana tau kan yang punya pabrik abang aku sendiri gitu. Kan aku minta 50 persen hasilnya, buat suplai ke kedai-kedai yang di provinsi kita aja. Dunia mabuk kopi, dari hasil ladang kita. Tapi provinsi kita sendiri, bahkan ada yang belum merasakan kopi di tanah yang mereka pijak setiap hari." ujar Ghavi, membuat Adinda sedikit tidak percaya dengan anaknya sekarang.


"Sejak kapan kau jadi pandai nyuplay?" ucap Adinda yang mendapat senyum kuda Ghavi.


"Sejak Cut Inseuen, kawan aku yang pernah aku bawa balik itu nah Mah. Dia KKN di pelosok provinsi kita, katanya di sana masih ramai orang pakek kopi sachet. Memang sih bukan masalah, tapi menurut Aira, itu harusnya jadi peluang buat kita penyuplai produk kopi. Mereka jual 1 renceng, 10,500 rupiah. Masa kita jual 9 ribu perbungkus, tak mampu dijangkau mereka? Jadi aku, Aira, sama Cut, mikir ke arah situ." sahut Ghavi mendapatkan perhatian penuh dari Adinda. Karena sebelumnya, Adinda pun menekuni bidang tersebut. Ia pernah sukses, membawa produk biji kopi dari kampung halaman Haris.

__ADS_1


"Aira bukannya fokus jualan sepatu ya?" balas Adi, yang teringat akan profesi anak Ayu. Kakak sepupunya, yang memiliki anak kedua seumuran Ghifar. Dengan Hafis, anak pertama Ayu yang lebih tua tiga tahun dari Givan.


"Sepatu juga jalan, aku juga ngambil dari Aira. Aku post ulang, postingan Aira di sosmed aku. Di Aira misalnya 120 ribu, aku jual balik 140. Per item aku ambil 20 ribu." Adinda memahami sekarang, bahwa anaknya menuruni sifatnya dalam mencari keuntungan dengan situasi yang ada.


"Kan, kopi kita gulanya misah. Maksudnya, kita cuma jual bubuk kopinya aja. Sedangkan yang sachet, mereka menang karena sekalian gula. Manusia jaman sekarang, lebih suka yang praktis dan juga ekonomis. Lagian... Papah ngerasa heran. Bubuk kopi dari mana yang 9 ribu itu? Arabica bubuk atau biji, perkilo 215 ribu. Yang arabica luwak liar, udah sejuta kurang seperak aja perkilonya. Jadi kopi apa yang 9 ribu perbungkus itu?" ungkap Adi, tentang ucapan anaknya yang tak dimasuk di akal.


Adinda mengingat kembali harga kopi yang berada di dapurnya, "Mungkin itu per berapa gram, Bang. Per 200 gram kan, harganya 59 ribu yang bubuk." timpal Adinda kemudian.


"Yang kemasan paling kecil, dari pabriknya aja 12,500 Vi. Paling kecil 25 gram itu udah paling kecil, sekali seduh itu. Kau jual berapa gram?" cerca Adi yang membuat wajah Ghavi memiliki semburat malu.


"12 gram." jawab Ghavi dengan tertawa puas.


"Bungkusnya keknya pakek plastik zip sabu itu, Bang." tambah Adinda, yang ikut menyuarakan tawanya.


"Nih... Kopi kita sekali seduh 12,500, Vi. Ya jelas-jelas mereka pada milih kopi sachet, yang 2500 dapat dua sachet. Uang 12,500 mereka bisa beli 1 renceng, malah masih kembali dua ribu. Makanya kenapa kita jual ke pasar dunia, jual ke kedai kopi. Karena mereka yang ngerti cita rasa kopi, yang gila akan kopi. Pasti langsung nyari kedai kopi, coffe shop, tak mungkin dia ke warung terdekat buat beli kopi seduh. Macam kau sama abang kau, pengen ngopi ya keluar rumah, nongkrong sama temen, nyari coffe shop yang penyajiannya menarik, Wifi-nya kenceng. Bukan maksud Papah kopi sachet buat mereka yang menengah ke bawah. Tapi kopi asli itu, macam arak, macam minuman keras. Bagi mereka yang tak doyan, ya apakan aja mereka tak bisa nikmatinya. Beda lagi kalau mereka udah candu betul sama alkohol, arak dan sejenisnya, pasti mereka nyari tempat di mana minuman itu dijual. Segala sesuatu ada wadahnya masing-masing, Vi." jelas Adi panjang lebar, Adinda baru memahami keahlian suami tentang bidangnya sekarang.


"Ya... Memang sih, tak mesti sekali seduh 25 gram. Ada rasionya masing-masing. Tapi coba pikir balik, di pelosok provinsi itu apa ada yang mau beli 9 ribu per 12 gram?" lanjut Adi, dengan memperhatikan wajah anaknya yang tengah berpikir serius.


......................

__ADS_1


*Soe peugah : Siapa bilang


__ADS_2