Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS114. Jak ba ranub


__ADS_3

"Gini Bu Dinda. Saya sama istri saya, mau ngomongin tentang anak-anak kita." ujar pak Zuhri, dengan memperhatikan istri juragan yang masih mematung tersebut.


"Jak ba ranub kek gitu?" lontaran pertanyaan dari Adinda, dengan menatap tamu-tamunya.


"Bikinin teh manis dulu, Dek. Sama toplesin beberapa cemilan." pinta Adi, dengan menyentuh tangan istrinya.


Adinda mengalihkan pandangannya pada suaminya, "Ya, Bang." sahut Adinda kemudian. Lalu dirinya berlalu pergi, untuk menyuguhkan tamu-tamunya.


"Assalamu'alaikum..." ucap seseorang yang masuk begitu saja ke dalam rumah Adi.


"Wa'alaikum salam." sahut mereka bersamaan, membuat Ahya diam tak bergeming.


Ahya begitu syok, melihat seseorang yang dulu diusir ketika berkunjung ke rumahnya. Sekarang tengah duduk manis, di rumah salah satu keluarganya.


"Bawa apa kau?" tanya Adi, yang membuat Ahya terhenyak keget.


"Ehh, Pah. Ini, anu." jawab Ahya gelagapan.


"Ata nyan, ata jeh." timpal Givan, yang baru datang juga. Dengan diikuti oleh istrinya, yang menggandeng tangannya.


Ahya menoleh ke arah belakang tubuhnya, "Apa sih Abang ini?!" balasnya ketus.


Givan terkekeh geli, lalu ia mengedarkan pandangannya pada orang-orang yang berada di ruang tamu dengan sofa mewah tersebut.


"Ohh... Ketemu mantan. Hate nyeri, da krasa enyoi-enyoian." ungkap Givan, yang bersenandung asal.


"Ya iya, kan? Abang bilang apa. Tak usah ikut lagi. Sampek nyusahin Abang kau, segala bonceng tiga. Macam cabe busuk diobral." lanjut Givan, dengan merangkul pundak adik sepupunya itu.


"Permisi." ucap Canda dengan menundukkan kepalanya, lalu dirinya mengikuti langkah kaki suaminya.


"Itu istrinya Givan, Teungku?" tanya ibu Robiah, yang langsung diangguki Adi.


"He'em, dapat orang Jawa. Jadi Givan yang ke bawa ke sana. Mau adat sini juga, bingung. Jaraknya jauh, belum lagi kurang persiapan." jawab Adi dengan menoleh kembali ke arah ibu dari Zuhdi.


"Kayaknya masih kecil." sahut ibu Robiah, sengaja untuk berbasa-basi dengan keluarga calon besannya.


"Seumuran Giska, entah sih Ghifar. Pokoknya belum dua puluh tahun juga, kuliah baru semester dua." balas Adi dengan memperhatikan Gibran, yang tengah memainkan jari tangannya.

__ADS_1


"Aku sih kesel betul! Punya abang, macam tak punya abang. Mentang-mentang masih pengantin baru, susah betul dihubungi aja. Capek kali aku, tambah gosong kulit aku. Si Gapir juga sok sibuk kali, macam yang iya. Berangkat nguli bareng, pulangnya entah ke mana dia." gerutu seseorang, yang berada di teras rumah Adi. Dengan mengatur nafasnya yang tersengal-sengal tersebut.


"Assalamu'alaikum..." ucapnya dengan berjalan masuk ke dalam rumah.


Ia melebarkan matanya, saat melihat pujaan hatinya ternyata tengah berada di rumahnya.


Telunjuknya terarah pada Zuhdi, "Kau pun sama! Abang sibuk, abang sibuk. Tak taunya, ada di sini kau!" ujarnya dengan urat wajah kesalnya.


Lalu ia melanjutkan langkahnya untuk menuju ke kamarnya.


"Tak salim kau sama Papah? Sama abang kau itu?" tegur Adi, saat anaknya melewatinya begitu saja.


"Hana payah! Lagi marah aku." sahutnya dengan menabrak seseorang yang berlari kencang.


"Ish, tuyul! Tak punya mata kau?!" maki Giska, pada adiknya.


"Akak aja macam mana? Mentang-mentang tinggi menjulang, jalan dongak terus! Ka lage beguganjang." balas Gavin, bernada ngotot pada kakaknya.


"Tau lah! Akak marah...." sahut Giska terpenggal, karena Gavin melanjutkan kalimatnya.


"Terus berubah menjadi big foot. Argghhhhh... Arghhhh...." lanjut Gavin dengan berjalan melewati kakaknya, yang terlihat ingin memakannya tersebut.


Blugh.....


Giska menghela nafasnya kasar, lalu menutup pintu kamarnya dengan bantingan cukup kuat.


"Begitu tuh, Di. Sifat jelek Giska. Kau sudi memperistri dia nanti?" tanya Adi, pada calon menantunya tersebut.


Zuhdi tersenyum mantap, dengan menganggukkan kepalanya.


"Seseorang pasti punya sifat jeleknya. Aku udah tau, Pah. Tentang Giska yang suka ngomel-ngomel kalau capek, yang cengeng dan manjanya poll. Insyaa Allah, aku bisa bimbingnya. Kalau Giska ridho, juga nerima aku buat jadi imamnya kelak." jawab Zuhdi, yang membuat Adi terharu.


"Ini, silahkan diminum. Dicemil-cemil kuenya." Adinda menaruh sajian sedap, yang ia bawa dengan nampan ke atas meja. Lalu ia duduk di sebelah suaminya.


Dengan anak bungsunya, yang masih anteng memainkan jari jemari ayahnya.


"Tak usah repot-repot, Bu." sahut pak Zuhri, yang merasa tidak enak hati mendapat jamuan dari juragan tersebut. Sedangkan, dirinya datang hanya membawa sirih, kue tradisional dan beberapa kilo buah yang terjangkau ekonominya.

__ADS_1


"Gimana Pak, Bu?" tanya Adinda dengan tersenyum ramah.


"Iya, Bu. Saya sama istri, mau minta Giska. Buat jadi istri dari anak saya. Gimana menurut Ibu?" ungkap pak Zuhri, yang membuat Adinda menoleh ke arah suaminya.


"Kok Zuhdinya diem aja? Kau lah yang minta, masa bapak kau." ujar Adinda, setelah menoleh ke arah suaminya.


Adi meremas tangan istrinya. Kenapa istrinya menjadi manusia yang tak punya adab? Kalimat itu yang terlintas di pikiran Adi.


Zuhdi mengusap tengkuknya, lalu ia tersenyum lebar pada ibu dari kekasihnya.


"Maklum, Bu. Ini pertama buat saya." sahut Zuhdi. Ia baru pertama kali berinteraksi dengan Adinda, membuatnya dilanda kecanggungan yang luar biasa.


"Saya datang ke sini, sama keluarga saya. Buat minta izin sama Ibu, untuk minta Giska. Syukur-syukur Ibu sama Papah mau restuin saya, buat jadi imam Giska kelak." ungkap Zuhdi dengan pandangannya yang tertuju pada Adi dan Adinda.


"Kau..." Adinda menggantung kalimatnya, karena suaminya memberinya kode dengan meremas jemarinya kembali.


"Jangan nanya berapa centi, diameternya berapa." tegas Adi lirih, dengan melirik istrinya.


Adinda tertawa tertahan, mendengar penuturan suaminya barusan. Adi menurut Adinda seperti menganggap dirinya terlalu bodoh. Itu tak mungkin Adinda lakukan, pada calon menantunya tersebut.


"Kira-kira, Ibu sama Papah mau nerima saya tak? Untuk jadi calonnya Giska. Saya akan berusaha menuhin mahar dan uang sunting, buat nyunting Giska." lanjut Zuhdi, dengan meremas jemarinya sendiri. Karena ia pun dilanda gemetar, juga jemarinya yang terasa begitu dingin.


"Ini... Kau mau nikah langsung, atau nandain Giska dulu?" tanya Adi, yang merupakan pencetus keputusan untuk anaknya.


"Kalau memang keuangan saya cukup, buat nyunting Giska. Saya minta langsung nikah aja, Pah. Tapi, kalau keuangan saya belum cukup. Saya minta buat khitbah Giska dulu, sembari ngusahain jumlah yang ditentukan." jawab Zuhdi perlahan, agar dirinya tak salah berkata.


Adi menghela nafasnya, "Sebetulnya, Papah sama Mamah belum pengen Giska nikah. Tapi, dengan kalian yang kek gini. Papah sama Mamah, jadi takut buat nahan-nahan kalian buat nikah nanti. Kalau memang kau sanggup, dengan yang Papah sama Mamah tentukan. Silahkan gelar acara sesuai adat dan kebiasaan masyarakat sini. Tapi sebelumnya, Papah tetep minta Giska buat lanjutin pendidikannya. Yang artinya, Giska tetep jadi anak Papah, juga harus tinggal di rumah ini sampek dapat gelarnya. Karena masalah pendidikan Giska itu, Papah sebagai orang tua yang tanggung nanti. Jadi gimana menurut kau, Di?" ucap Adi, setelah meminta anak bungsunya untuk bergabung bersama kakak pertamanya. Agar mereka bisa fokus, untuk membicarakan hal ini.


"Biarpun Giska udah jadi istri aku, Pah. Dia tetep anak Papah, aku tak bakal larang dia buat ngunjungin orang tuanya. Kalau kelak nanti, kita udah nempatin rumah sendiri. Memang, untuk mahar dan uang hangus. Papah sama Mamah matok berapa? Makanan sama perhiasannya apa aja? Isi kamar sama kain-kain juga kah? Papah tau keadaan aku, keadaan orang tua aku. Aku mohon, sekiranya yang mampu aku jangkau. Aku pasti usahain, semampu aku berusaha. Tapi, kalau memang aku ngerasa tak mampu dengan yang ditentukan. Mohon pengertiannya, Pah." sahut Zuhdi, yang menyadari derajat mereka.


"Dari awal, Papah kepengen anak Papah dipinang dengan 57 mayam. Dengan uang hangus, 111 juta. Makanan adat aja yang nanti perlu kau bawa. Isi kamar, kain, hantaran, seperangkat perhiasan beratnya semampu kau aja. Gimana menurut kau? Kau sanggup tak?" ungkap Adi, yang membuat Zuhdi melebarkan matanya seketika.


Hening sesaat, karena mendengar nilai yang tak pernah terlintas di pikiran mereka tersebut. Pak Zuhri hanya bisa geleng-geleng kepala, karena merasa menyerah dengan nilai tersebut. Ia pun sudah berjanji pada anaknya, untuk membantu anaknya mengumpulkan biaya pernikahannya. Namun, jika dengan persyaratan awal saja sudah sangat fantastis menurut mereka. Lalu bagaimana mereka akan mengusahakan sebanyak itu?


"Bilang Pah, kalau memang Papah tak setuju Giska sama aku." ujar Zuhdi tiba-tiba, membuat suasana semakin menegang saja.


......................

__ADS_1


Jak ba ranub merupakan prosesi meminang calon pengantin, lamaran.


__ADS_2