
"Sialan!!" maki Ghifar lirih, saat Ghava berbelok ke arah kebun pisang milik warga.
Ghifar menghentikan laju motornya, ia menimbang-nimbang sesuatu. Ia tak ingin melihat perzinaan adiknya, tetapi ia pun tak meyakini bahwa adiknya berzina.
Akhirnya Ghifar memutuskan untuk menelpon kakaknya.
"Hallo, Pang. Lagi di mana?" Ghifar sebetulnya hanya berbasa-basi, sebelum mengutarakan tujuannya.
"Di jalan, mau ke toko. Ada apa?" sahut Givan di seberang telepon.
"Naik motor kah?" Ghifar menurunkan standar samping motor tersebut, kemudian berjalan menuju ke sumber suara.
Ia pun sebenarnya sudah berada di kebun pisang, hanya saja ia tak mengikuti Ghava yang mencari jalan pelosok.
"Ya." balas Givan cepat.
"Coba ke sini sebentar. Di.... Kebun pisang, dari blok rumah Ahya, kau ambil kiri Bang." pinta Ghifar kemudian.
"Kau ngapain ke sana? Kau kepatuk ular kah?" Givan tak bisa habis pikir, dengan adiknya yang bermain di kebun pisang.
"Tak lah! Udah cepet ke sini aja." ujar Ghifar, membuat Givan tersenyum samar. Givan malah teringat akan kartun adik-adiknya, yang bermain di kebun pisang milik tuk Dalang.
"Ya, ya. Abang deket kok, Abang udah di jalan sebelah kanan rumah Ahya." Ghifar membuang nafasnya.
Sedekat itu posisinya dan posisi kakaknya, tetapi malah bertelepon.
"Ya, cepat." Ghifar mematikan sambungan teleponnya.
Ghifar bisa menemukan motor milik adiknya yang terparkir di bawah pohon pisang, tapi ia tidak bisa melihat keberadaan adiknya dan wanita yang dibawanya.
Suara motor berhenti tepat di belakangnya, Ghifar menoleh untuk memastikan. Benar saja, Givan sudah sampai dengan senyum mengejeknya.
"Main apa kau di kebun pisang? Tak di kebun pepaya aja?" celetuk Givan bergurau.
"Sini, Bang." Ghifar tak meladeni gurauan kakaknya. Ia menarik kaos yang kakaknya kenakan. Telunjuknya terulur, untuk menunjuk motor milik adiknya.
"Ishhh...." laki-laki memiliki pikiran yang mengacu ke hal negatif lebih dominan. Givan langsung berprasangka buruk pada salah satu adik kembarnya, meski dirinya tak melihat batang hidung adik kembarnya.
"Ke mana bocahnya? Sama betina kah?" tuduhan Givan ternyata tepat sekali.
"Ya, Bang. Tadi aku ikuti dia dari jalan depan, masuk kabun dia bawa betinanya. Kalau tak salah, namanya Winda kata Dafa sih." jelas Ghifar singkat.
Givan mengangguk, langkahnya maju ke depan.
"Ayo, Far. Malu Abang, masa mau mergokin seorang diri. Kan minimal harus ada 4 saksi, buat nuduh seseorang." ujar Givan kemudian.
"Kan memang ada 4, Bang. Aku, kau, kepala bawah kau, kepala bawah aku." Givan menepuk lengan adiknya, kekehan tertahan dari kedua pria dewasa tersebut.
Mereka nekat untuk memergoki adiknya. Setidaknya, mereka berpikir adiknya akan jera kala dipergoki oleh kakaknya sendiri.
__ADS_1
Suara d*s*han tertahan, hingga suara tepuk tangan membuyarkan pikiran laki-laki dewasa tersebut. Givan dan Ghifar saling melempar pandangan, kemudian mereka menahan tawanya kembali.
Pikiran kotornya berkumpul, tetapi malah terlihat lucu karena seting tempatnya di kebun pisang.
Dari balik rindangnya daun pisang, samar-samar terlihat dua sejoli yang membentuk bayangan kursi.
"Gimana nih, Bang?" Ghifar merasa malu sendiri, melihat adegan itu secara langsung.
Posisi Ghifar saat ini, seperti saat mereka kecil dan tersesat di tengah ladang. Ghifar berada di belakang kakaknya, dengan tangannya yang selalu memeluk lengan Givan.
"Biar Abang." tidak salah, jiwa anak sulung Givan bangkit untuk mengayomi adik-adiknya.
"Va.... Abang tau kau di situ." satu kalimat Givan, langsung membuat gaduh dua sejoli tersebut.
"Rapihin pakaian kau, terus antar betina kau balik." lanjut Givan dengan cara yang aman.
Ternyata Givan hanya memastikan saja, ia tidak ingin mempermalukan adiknya sendiri.
"Ya, Bang." sahut Ghava gelagapan.
"Betina Ghava... Betul kau Winda?" satu pertanyaan yang Givan lontarkan pada wanita berhijab, tetapi membuka bagian roknya tersebut.
"Ya, Bang." suara Winda, terdengar seperti tengah menangis.
"Anak siapa kau?" lanjut Givan, ia masih berada di balik pohon pisang tempat Ghava berbuat tak senonoh.
"Hmm. Cepat!" Givan menarik lengan Ghifar, untuk kembali ke motornya.
"Aduh... Deg-degan aku, Bang." ucap Ghifar, mengikuti langkah kakaknya.
Givan menoleh pada adiknya, menemukan Ghifar yang bermandikan keringat.
"Ish, kan Ghava yang kepergok. Bukan kau!" Givan merasa geli, melihat wajah tegang Ghifar.
"He'em, tapi aku yang ikut deg-degannya aja." sahut Ghifar jujur.
Givan menggelengkan kepalanya berulang, dengan senyum menggelitik.
"Kita tunggu bocah itu keluar, kita ikut anter Winda. Tapi tak usah ngomong langsung orang tuanya, kita obrolin dulu di rumah sama Ghava." Ghifar hanya mengangguk, ia blank seketika karena melihat gambaran Ghava tadi. Bayang-bayang buruk saat Canda terisak dengan pakaian koyak, kembali menyelimuti pandangan Ghifar.
Hal itulah yang membuatnya bermandikan keringat. Ia trauma, jika melihat adegan tersebut. Karena kasus mantan pujaannya dulu, adalah pemerkosaan.
Ghava muncul dengan mengenakan motor besarnya, terlihat Winda tertunduk di belakang tubuh Ghava.
"Jalan dulu, Abang ikut dari belakang." ujar Givan, yang diangguki oleh Ghava.
Ketiga motor tersebut, berjalan berurutan. Beberapa pasang mata, begitu konsisten memperhatikan mereka.
Givan mengerutkan keningnya, saat motor Ghava berhenti di pertigaan jalan.
__ADS_1
Givan mensejajarkan motornya, "Kenapa tak di rumah?" Givan menyadari, bahwa adiknya tak memiliki keberanian untuk mengantar kekasihnya sampai rumah.
"Biasa di sini, Bang." jawabnya tak berani memandang wajah kakaknya.
"Rumah kau di mana, Win? Kau abis pulang sekolah atau kek mana?" bola mata Givan dan Ghifar bergulir pada wanita yang memainkan tali ranselnya.
"Itu, Bang. Abis pulang kuliah." Winda menunjuk sebuah gang kecil.
"Hm, ya udah sana balik." pinta Givan pada Winda.
Winda mengangguk, kemudian menegakkan wajahnya untuk melihat kekasihnya.
"Ya udah balik, nanti Abang telepon." ucap Ghava lirih. Ia tengah tertekan di sini.
Ketiga bersaudara tersebut menjalankan motornya. Memutar jalan untuk kembali ke rumah orang tuanya.
Sesampainya mereka di rumah, Ghava malah berjalan cepat menuju kamarnya.
"Heh! Ghava! Tak sopan kau!" bentak Givan, ia meradang ketika melihat adiknya ngeloyor begitu saja.
Ghava sudah sampai di anak tangga terakhir lantai atas, ia menoleh untuk melihat kedua kakaknya yang berdiri di ruang keluarga.
"Belum lepas karet. Diomongin di kamar aku aja, Bang." mata Givan melebar, mendengar penuturan adiknya barusan.
Givan menoleh pada adiknya yang tengah membuka kancing kemejanya. Kemudian bola matanya bergulir pada istrinya yang tertidur kembali di sofa ruang keluarga.
Givan menghela nafasnya, kemudian menghampiri tubuh istrinya.
"*****! Aku mau lipetin baju, baju yang lipet kau ini sih." gerutu Givan menirukan suara Canda, dengan mengangkat tubuh sintal istrinya.
Ghifar hanya menoleh, kemudian kembali membuang wajahnya ke arah lain. Ia tidak nyaman, melihat pemandangan itu.
Suara pintu kamar tertutup, Givan ke luar dari dalam kamarnya.
"Gimana papah mamah tak melarikan diri. Sulungnya pemerkosaan, gadisnya hamil tanpa suami, putra pertamanya beristri tiga, kembar Nakulanya ngotorin kebun pisang orang." gerutu Givan kembali, dengan menaiki tangga.
Ghifar terkekeh kecil, ia merasa geli dirinya disebut beristri tiga.
Kemudian ia melangkah mengikuti kakaknya, dengan kemeja yang bertengger di bahunya. Ia ingin mencari jalan keluar tentang Ghava, karena dirinya diamanahkan oleh orang tuanya untuk mengatur adik-adiknya.
"Udah?" Ghifar bertanya pada adiknya yang terduduk di lantai, sembari bersandar pada pinggiran ranjangnya.
Kamar bernuansa motor GP, dengan poster idolanya dan sprai kasur bertemakan motor besar.
"Udah, Bang." sahut Ghava lirih, saat menyadari kedua kakaknya masuk ke dalam kamarnya.
Harap-harap cemas, ia lebih takut akan aduan kedua kakaknya pada orang tuanya sebenarnya. Tetapi ia juga amat frustasi, saat melihat wajah serius dari kedua kakaknya yang memiliki selera humor yang baik tersebut.
......................
__ADS_1