Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS254. Hampir bertikai


__ADS_3

"Dia mempermalukan dirinya sendiri, Ris. Ngaku mengidap DE, sampek aku periksakan dia. Tes segala macam, dia ini normal. Hormon juga seimbang, tak kekurangan atau kelebihan. Terus... Pas minggu depan suruh berobat lagi, dia mogok. Ditambah udah klop betul sama Kin. Ghifar ini, ngaku DE. Biar skandal di rumah ini tak terendus. Ok, lepas dari tuduhan tentang Ghifar hamilin Canda. Tapi, dia ini coba main aman di rumahnya sendiri sama Kin. Bodohnya anak kau lagi, dia manut betul disetirin Ghifar. Intinya sih... Feeling aku dia ini cuma butuh badan Kin. Karena apa coba? Karena Kin satu-satunya perempuan di rumah ini, yang masuk kategori sempurna. Tinggi, montok, ini itu besar, hidung mancung ramping, dia punya semua itu Ris. Rasanya heran aja, masa tiba-tiba dia ada main sama Kin. Padahal sebelumnya, dia ini tak mau nikah. Udahlah, pikiran aku udah jelek. Kau jemput aja anak kau, dari pada telat malah jadi bahan mainan Ghifar." ungkap Adi kemudian.


"Dari cerita Dinda. Aku ragu nih, kalau anak aku masih utuh. Aku tak mau jemput, kalau Ghifar tak bisa jadi menantu aku. Enak betul anak kau, udah ambil mahkotanya anak aku."


Baru saja membicarakan hal ini, masing-masing pihak sudah dirundung emosi. Pemikiran Adinda ada benarnya juga, tentang kekerabatan mereka akan merenggang jika anak-anak mereka memiliki rasa lebih.


"Aku minta Kin balik, karena aku kasian sama dia. Belajar dari diri aku sendiri. Lepas mesum terlalu jauh ini, terus salah satunya pergi. Lepas itu, perjodohan dimulai. Cekcok tak ada habisnya, terus salah satu jauhin. Tak mau aku mereka begini. Terlalu banyak dosa, terlalu banyak drama. Udah aja ambil anak kita masing-masing. Kau ambil anak kau, aku tahan anak aku." sebetulnya ini hanya prasangka Adi saja. Ia belajar dari pengalamannya. Namun, ia tak belajar bahwa kisah anaknya tak akan mungkin sama dengan kisahnya. Satu kebenaran yang ada di dalam hati Adi.


Ia takut perjuangan Ghifar sia-sia saja.


Karena segala bentuk kemungkinan yang bergelut di otaknya. Tetap ia tidak bisa meyakini tentang perasaan anak-anak itu. Ia berasumsi, bahwa masing-masing pihak hanya memberi status untuk kepentingan mereka pribadi.


Banyak kemungkinan yang berpusat. Kinasya ingin berlindung di bawah kekuasaan anaknya. Karena, Kinasya sudah lelah bekerja. Kinasya pun tak tahu harus pulang ke mana. Karena hanya satu yang Adi pikirkan, Kinasya sungkan untuk pulang ke Haris kembali. Namun, Kinasya sadar tak bisa terlalu lama ikut dengannya. Membuat anak itu memilih Ghifar, untuk menjadi tempatnya bersandar. Bukan hanya masalah uang saja, tapi Kinasya mengetahui bahwa Ghifar adalah ahli waris. Hal itulah yang Adi sangkakan pada Kinasya.


Di lain sisi. Adi berasumsi bahwa anaknya terlalu egois. Ada kepentingan pribadi Ghifar, yang membuatnya memilih Kinasya untuk dijadikan sebagai pasangannya saat ini.


Sebenarnya banyak, semua celah bisa jadi alasan untuk Adi. Karena memang dirinya tidak menyetujui hubungan ini.


"Matikan teleponnya, Dek!" perintah Adi tak terbantahkan.


Setelah melihat Adinda mematikan sambungan telepon tersebut, Adi segera masuk ke dalam rumah mereka.


Ia ingin membicarakan hal ini dengan istrinya. Sudah cukup ia menahan semuanya sendiri. Sudah cukup ia mengunci mulutnya.


"Dah ya, aku balik. Takut aku sama Adi." Sukma terlihat buru-buru, untuk bergegas pergi.


Adinda hanya mengangguk, membiarkan Sukma meninggalkan rumahnya.


"Bang...." Adinda mencari keberadaan suaminya.


"Di kamar, Dek." seruan Adi.

__ADS_1


Adinda mengecek keadaan rumahnya. Ia merasa heran dengan keadaan menantunya. Canda selalu tertidur lebih awal, padahal sekarang masih pukul sepuluh pagi. Ia khawatir, kondisi kesehatan Canda menurun.


Kemudian Adinda menuju ke kamarnya, menemui suaminya yang tengah berbaring di atas ranjang.


"Ke mana pengantin baru?" Adi memperhatikan istrinya yang mendekatinya.


"Liburan, Giska bawa mobil kita. Zuhdi tak bisa bawa, jadi Giska yang ambil alih."


Adi teringat akan anak perempuannya yang tak memiliki SIM.


"Kena tilang bisa-bisa." ujar Adi kemudian.


"Deket aja katanya, sore balik lagi." jelas Adinda dengan melepaskan hijabnya.


Ia langsung merebahkan diri di sebelah suaminya, lalu tangannya terulur untuk memeluk suaminya.


"Apa? Pengen?" Adi menggoda istrinya.


"Tapi pengen yang bisa getar." Adinda tersenyum penuh harap.


Adi langsung meraup wajah istrinya. Tawa Adinda pun menggema saat itu juga.


"Abang jejelin tanpa pemanasan juga kau!" ancaman Adi menyeramkan.


"Jangan lah, Bang. Nanti teriak-teriak aku." Adinda mengeratkan pelukannya pada suaminya.


"Tapi tuh, Bang." Adinda tengah berangan-angan tinggi.


"Enak kali ya, misalkan aku dikeluarin langsung gitu." Adi menangkap maksud istrinya.


"Terus lepas itu Abang keluar. Terus selesai, kita cebok, terus tidur. Apa enaknya cepet kek gitu? Se*s itu, bukan cuma kebutuhan. Tapi biar kita bisa harmonis terus, ada makna terdalam di hubungan antara kita itu. Pemanasan bentar, keluarin Adek, keluarin Abang, paling setengah jam juga selesai. Tapi kan, kalau lambat, banyak variasi, slow kek gitu kan kita bisa lama. Adek juga tidurnya nyenyak." ungkap Adi kemudian.

__ADS_1


"Aku tidur nyenyak karena kecapean lah! Udah ampun-ampunan, mohon-mohon dengan amat sangat. Tapi selalu dijawab, nikmati aja."


Adi terkekeh geli mendengar penuturan istrinya. Berulang kali mereka membahas ini sepanjang umur mereka. Namun, tetap saja. Pada akhirnya adalah Adi yang memegang kendali.


Bukan masalah untuk Adinda, jika Adi mau menurutinya. Sayangnya, setiap permainan mereka. Adi selalu mempermainkan Adinda. Membuat Adinda merasa kesal bercampur butuh. Ia terpaksa memohon setiap saat, karena rasa tersiksanya dengan rasa nikmat.


"Ya... Tak apa. Laki-laki itu tak bakal kuat lama, kalau pacu terlalu cepat. Apa lagi seusia Abang kek gini. Cepet naik, cepet tidurnya juga." sahut Adi dengan mengusap rambut istrinya.


"Tapi itu udah bukan usia kita lagi, Bang." Adinda menarik kerah baju suaminya.


"Tapi anehnya kita doyan." tambah Adi, membuat tawa mereka berdua meledak.


Cara bercanda mereka sedikit lain, dengan bumbu kemesuman di dalamnya. Tapi itulah mereka, dengan segala kehebatannya mengurus anak-anaknya.


"Nanti malam ya, kalau Adek tak capek." Adinda langsung menyetujui itu. Ia akan mengusahakannya, meski rasa lelah di tubuhnya belum hilang. Satu yang ia pahami, suaminya membutuhkan hal itu. Ia tak mau, jika suaminya sampai mencari pelepasannya di luar rumah.


Adi berpikir, ini adalah waktu yang tepat untuk bertukar pikiran. Ia pun memahami sesuatu, yaitu istrinya sudah mengetahui perihal hubungan anaknya dengan Kinasya.


Tok, tok, tok.


"Mah... Ada paket." suara Tika, memanggil Adinda di luar pintu kamar.


"Ya, taruh aja." Adinda teringat dengan belanjaan onlinenya yang sudah dibayar.


"Tapi nyicip sedikit, tak apa kali Dek." Adi tidak bisa tinggal diam, kala mereka memiliki waktu bersama.


Lamunan Adinda buyar, saat suaminya langsung mengambil posisi di atasnya.


Ia seperti orang bingung, kala tubuhnya kini berada di naungan tubuh suaminya.


......................

__ADS_1


Pak tua 😆


__ADS_2